Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Istri yang Dibutuhkan
Setelah Nina pergi, ruangan kembali hening.
Reza duduk bersandar di ranjang. Map berisi dokumen tergeletak di pangkuannya. Semua sudah ia baca dan tanda tangani.
Ia menghela napas.
“Aku bisa makan sendiri. Minum sendiri. Baca dan tanda tangan dokumen,” gumamnya pelan.
Tatapannya jatuh pada tangan kirinya. Gips putih itu masih membungkus lengan hingga siku. Berat. Kaku.
“Tapi…” rahangnya mengeras. “Aku tetap nggak bisa mandi sendiri. Nggak bisa ke toilet sendiri.”
Reza menghela napas kasar.
Di kantor, ia bisa duduk seharian di balik meja. Mengatur orang. Memberi perintah. Tapi begitu ingin ke toilet?
"Sial."
Tangannya mengepal, lalu memukul kasur pelan, frustrasi.
“Aku benci ini,” desisnya.
Bukan pada rasa sakitnya. Bukan pada lukanya. Tapi pada satu kenyataan yang tak bisa ia bantah. Ia… bergantung pada Ayza.
Pintu kamar terbuka.
Ayza masuk dengan dua botol air mineral di tangannya. Reza menoleh. Tatapan mereka bertemu.
“Besok ikut aku ke kantor,” ucap Reza tiba-tiba.
Ayza berhenti melangkah. “Ke kantor?”
“Iya.”
“Buat apa? Berapa lama?” tanyanya.
“Tentu saja bekerja,” jawab Reza datar.
“Maksudmu… seharian?” Ayza memastikan.
Reza membuang napas kasar. “Kerjaan aku numpuk. Ada meeting yang tertunda. Mana mungkin cuma sebentar.”
“Jadi aku nemenin kamu di kantor?” suara Ayza tetap tenang, meski matanya sempat berkedip pelan.
“Kalau kamu nggak ikut,” sahut Reza ketus, “siapa yang bantuin aku ke toilet?”
Ayza tersenyum tipis di balik cadarnya. Bukan karena setuju, tapi karena sudah paham posisinya.
"Aku hanya dibutuhkan saat diperlukan," batinnya getir.
“Terus… rumah?” tanyanya kemudian, lebih hati-hati. “Siapa yang ngurus?”
“Aku bayar ART sementara,” jawab Reza cepat. “Nggak lama. Cuma sampai tangan ini sembuh.”
Ayza terdiam. Ia menatap gips itu. Lalu menatap wajah Reza.
“Kalau itu yang kamu mau,” katanya akhirnya. “Aku ikut.”
Tak ada senyum. Tak ada nada senang. Hanya persetujuan.
Reza mengangguk singkat, seolah keputusan itu sepenuhnya logis. "Bagus," batinnya, senang.
Tak ada yang tahu… bahwa bagi Ayza, kalimat aku ikut terasa lebih seperti tugas, bukan pilihan.
***
Sore itu, setelah tiga hari dirawat inap, akhirnya Reza diizinkan pulang.
Di rumah, Ayza menyeka tubuh Reza lebih dulu sebelum menyiapkan makan malam. Gerakannya cekatan, tenang, seolah tiga hari di rumah sakit tak pernah menguras tenaganya.
Setelah makan malam tersaji, Reza duduk di meja makan. "Akhirnya bisa makan masakan dia," batinnya. Ia melirik Ayza sekilas. "Makanan di rumah sakit membuat selera makanku hilang."
Suara motor terdengar memasuki halaman.
"Dia pulang?" Reza berdecak pelan dalam hati. "Tiga hari aku di rumah sakit. Gak sekali pun dia datang." Matanya menyipit. "Gak mungkin 'kan dia gak tahu aku kecelakaan?"
Pintu rumah terbuka. Langkah kaki itu langsung menuju ruang makan. Mata Fahri berbinar begitu aroma masakan menyambutnya, apalagi saat melihat hidangan tersaji rapi di atas meja.
"Akhirnya dia masak lagi," batinnya.
Tiga hari terakhir Ayza hanya menyiapkan sarapan sederhana. Siang dan malam Fahri terpaksa makan di luar. Ia merindukan masakan itu, meski gengsi membuatnya tak pernah mengaku.
Tanpa ragu ia menarik kursi.
“Cuci tangan dulu.”
Suara Ayza terdengar datar, tanpa menoleh.
Fahri mengembuskan napas kasar, tapi tak membantah. Ia berbalik ke wastafel.
Alis Reza terangkat tipis. "Dia nurut? Tanpa melawan?"
Pandangan Reza beralih ke Ayza yang duduk tenang di kursinya.
"Fahri sudah bisa dia tangani?" Reza menggeleng pelan, hampir tak terlihat. "Nggak mungkin. Pasti karena malas berdebat yang ujung-ujungnya kalah. Sama kayak aku."
Fahri kembali. Tanpa basa-basi, ia langsung menyendok nasi dan lauk. Cara makannya rakus, jelas menikmati.
Reza berdecak pelan. “Kau tak bertanya gimana keadaanku. Apalagi menjenguk ke rumah sakit.”
Fahri tertawa pendek, sinis. “Gue sibuk. Mau masuk kuliah. Ngapain repot-repot nanyain kondisi orang yang lagi kena karma.”
Rahang Reza mengeras. “Kau—”
“Apa?” Fahri memotong cepat. “Lo ngarep gue nengok lo sambil bilang, ya Allah, kenapa jadi begini?”
Ia tersenyum miring.
“Tangan yang suka nyentuh yang nggak halal, ya wajar aja kena azab.”
Ia tertawa pendek. Puas.
Reza menunjuk Fahri. “Kau—”
“Sudah.” Ayza memotong. Suaranya tenang, tapi tegas. “Jangan berdebat di meja makan. Cepat makan.”
Ia menarik napas berat. Pandangan Ayza tertuju ke piringnya sendiri, tapi pikirannya bergejolak.
Fahri selalu bicara dengan isyarat. Tidak pernah menyebut langsung. Tidak menuduh terang-terangan.
"Aku gak bisa menebak. Apalagi menebak yang buruk," batinnya. "Bukankah khusnuzan, berprasangka baik, itu yang diajarkan? Dan su’uzan… harus dihindari." Ayza menghela napas pelan. "Atau sebenarnya aku hanya sedang menutup mata?"
***
Fahri baru membuka pintu kamarnya sedikit ketika suara ketukan di pintu kamar tamu terdengar.
“Ayza, aku mau ke toilet. Cepetan.”
Nada Reza terdengar mendesak.
Fahri terdiam di balik pintu yang masih terbuka sedikit. “Emang toilet di kamarnya rusak?” gumamnya lirih, hampir seperti berbisik.
Tak lama, pintu kamar Ayza terdengar dibuka.
“Ayo,” kata Ayza, datar seperti biasa.
Dari celah pintu, Fahri mengintip. Ia melihat Reza bergegas kembali ke kamarnya, Ayza mengekor di belakangnya.
Dahi Fahri mengerut. "Apa maksudnya?" gumamnya lirih. "Jangan bilang dia… astaga…"
Dadanya terasa panas. Bukan karena nyeri, tapi karena sesuatu yang lebih mengganggu.Ia menarik napas pendek lewat hidung.
"Dia benar-benar sudah keterlaluan."
Tangannya mencengkeram handle pintu erat hingga buku jarinya memutih.
Malam telah larut saat Fahri ke dapur hendak minum. Lampu utama dapur yang menyatu dengan meja makan masih menyala. Ayza ada di sana, sedang menuang air ke dalam teko.
Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki.
“Kau belum tidur?” tanyanya. Suaranya terdengar lebih lembut, tak se-datar biasanya.
“Belum,” jawab Fahri sambil membuka kulkas, lalu meneguk air dingin.
“Jangan suka begadang. Nggak baik buat kesehatan,” ujar Ayza, kemudian melangkah hendak kembali ke kamarnya.
“Kak—”
Suara Fahri membuat Ayza menghentikan langkahnya. Bukan karena terkejut dipanggil, tapi karena panggilan itu.
Kak.
Ayza menoleh. Tatapannya menyiratkan ketidakpercayaan. Bibirnya hampir terbuka, namun Fahri lebih dulu bicara.
“Kau bantu dia di toilet?” Nada suaranya berbeda dari biasanya. Tak cuek, apalagi sinis.
Ayza mengangguk. “Iya. Kakakmu nggak bisa ke toilet sendiri dengan kondisi tangannya seperti itu.”
Fahri tertawa pendek. Entah pahit, entah muak. “Kenapa kau bisa se-total ini jadi istri yang baik dan bertanggung jawab,” katanya pelan, tapi menusuk.
“Sedangkan dia nggak pernah anggap kamu sebagai istri. Dari awal tidur terpisah. Diperlakukan kayak pembantu. Dan sekarang…” Fahri tertawa lagi. “Kamu nggak layak buat laki-laki bastard macam dia.”
Ia menatap Ayza tajam.
“Berhentilah diperbudak rasa tanggung jawab.”
...🔸🔸🔸...
...“Ada luka yang lebih menyakitkan dari patah tulang, ketika harga diri runtuh dan seseorang yang kau abaikan menjadi satu-satunya yang kau butuhkan.”...
...“Ia tidak ikut karena ingin, tapi karena ia terbiasa bertanggung jawab bahkan atas hati yang tak pernah dijaga.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Ayza akan bersanding dengan Kaisyaf