Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 : Matikan hati nurani
“Kangmas, uruslah si bodoh itu. Biar saya mengawasi para Monster ini mengeksekusi Wesa,” ujarnya lemah lembut. Ia bisa melakukan telepati dengan ki Ageng.
"Mengganggu kesenangan saja!” gerutu ki Ageng seraya melangkah lebar, wajahnya merah padam.
Dua orang kesatria mengikuti sang tuan, dua nya lagi tetap di ruangan ini.
Begitu tidak terdengar langkah kaki, bi Neng memblokir telepati yang terhubung bersama ki Ageng, agar dia bisa berkomunikasi dengan sang keponakan.
Ya, mba Neng memiliki kelebihan itu, bisa membuka, menutup ilmu kebatinannya.
“Inilah wujud kedua putrimu, Ainur. Mereka dijadikan layaknya Monster, senjata ampuh mengendalikan para pengikut ki Ageng yang sudah menunjukkan tanda-tanda mau kabur demi menyelamatkan diri. Sebagian dari manusia gelap mata itu menyadari bahwa jalan mereka pilih adalah salah. Berniat mengakhiri, tanpa mereka tahu sedari awal tak ada namanya jalan kembali jika sudah terikat kontrak jiwa dengan ki Ageng,” ucapnya tenang, dalam hati.
Dibalik rak, tubuh Ainur sudah luruh. Menangis dalam diam, meremas dadanya sendiri. ‘Ternyata benar mereka buah hatiku. Ikatan batin ini tak bisa dimanipulasi. Meskipun belum pernah melahirkannya, tapi aku bisa merasakan tali kasih penghubung.’
Lewat cela kawat besi rak, Ainur menyaksikan sebuah kapak membelah bagian intim Wesa yang sudah tak bernyawa.
Monster kedua berguling-guling di genangan darah sambil menghisap minumannya itu. Bukan makanan utama, tapi cukup melegakan dahaga.
Putri pertama Ainur menarik usus hingga terburai. Dia tidak makan organ tubuh, tapi suka memainkannya.
Selang beberapa menit kemudian, setelah kedua monster bosan mencacah bagian badan Wesa. Mba Neng memberikan titah menggunakan tulisan di atas kertas. “Angkut dia! Masukkan kedalam sel para pembunuh lainnya!”
“Baik, Ndoro.” Kedua pemuda menunduk hormat, lalu membungkuk memungut usus, jantung, potongan kaki dan tangan, dijadikan satu dalam sebuah karung yang memang selalu tersedia di pojok ruangan.
Mba Neng menunggu sampai kesatria menjauh, barulah dia berjalan ke sela sempit, melihat Ainur menangis menutupi wajahnya.
"Tak ada waktu menangisi yang sudah terlanjur terjadi. Tugasmu sekarang – bunuh sisi kemanusiaan, agar jalan kedepan tak lagi berperang melawan hati nurani! Sebentar lagi, Inur … hanya menunggu waktu berlalu tak sampai tiga pekan,” ucapannya menggantung.
Mba Neng berbalik badan, melirik sekilas kedua keponakannya yang tertidur terlentang di bekas genangan darah masih basah. “Setelah mendengar bantingan pintu, bergegas keluarlah!”
Sementara di luar, jauh dari pintu keramat – Ki Ageng bersedekap tangan, menonton dengan raut puas.
Pada ujung lorong buntu, Citranti menjerit-jerit ketakutan. Akibat rasa penasaran, sekarang dia mengalami luka samar goresan kuku pada pipi, lengan, dan dalam keadaan nyaris telanjang.
Dua bayi setan peliharaan ki Ageng, mengajaknya bermain dengan cara kasar. Merobek dress, menjambak rambut, mencakar apa saja yang terjangkau oleh tangan. Mereka dilarang membunuh, tapi dibiarkan sedikit melukai, memberikan hukuman.
“Ampun, Ki! Tolong suruh mereka pergi! Aku janji tidak akan mencari tahu tentang apa yang sudah dilarang!” Citranti bersimpuh, kedua tangan tertangkup.
Sambil menahan mual dikarenakan tengah hamil muda. Dia terus memohon – air matanya bercampur dengan keringat dan darah segar.
Salah satu bayi setan berwarna merah, bertanduk, menduduki pundak Citranti. Tangan berkuku runcing itu hendak menusuk kulit kepala, tapi dilarang oleh ki Ageng.
“Berhenti!” Ki Ageng memberikan kode ke kroconya. “Masukkan dia ke dalam satu ruangan bersama mayat suaminya. Agar lain kali bisa berpikir seribu kali sebelum berbuat ulah.”
“Baik, ki Ageng!” seru dua orang pemuda, lalu mendekati wanita yang sekujur badannya menggigil.
para bayi setan berdecak tak senang, mereka menghilang, menembus tembok tanah.
Sangat kasar perlakuan para antek ki Ageng, menarik kuat tangan Citranti, menyeretnya hingga terseok-seok.
"Jangan! Aku minta maaf, ki Ageng! Jangan masukkan aku kesana!” suaranya bergetar, ia benar-benar ketakutan.
Ini Kali pertama Citranti masuk ke dalam ruang bawah tanah. Tadi dia penasaran kala mendengar suara menyeramkan. Anehnya, sang ibu tidak juga terjaga, padahal sudah diguncang bahunya.
***
Ainur berusaha berdiri dengan berpegangan pada celah-celah rak besi. Kakinya lemas sekali, sampai berjalan pun membutuhkan sandaran.
Air mata Ainur tumpah ruah, kejadian tadi mengoyak jiwa keibuannya. Kini menyaksikan dua batita tidur beralaskan tanah setelah mereka mandi darahnya Wesa.
Ibu mana yang tak gila menyaksikan anak yang diyakini pernah menghuni rahimnya, dijadikan seperti monster.
“Nak, tunggu sebentar lagi nggeh. Ibu pasti membebaskan kalian dari rasa sakit ini. Membalas mereka semua. Sabar ya putri-putrinya ibu.”
Brak!
Ainur mendengar kode itu. Dengan berat hati melangkah pergi, sebelum keluar – kembali memandangi nanar batita yang tertidur pulas.
“Aku harus kuat, berani, dan tak memiliki hati nurani. Mereka lebih dari pantas mendapatkan pembalasan tak kalah sadis.” Kedua tangannya mengepal, janjinya telah terikar.
Kali ini langkah kakinya lebih mantap, setiap pijakan memompa darah. Takkan dia lupakan apa yang tadi disaksikan, akan dia buat sebagai cambukan kalau merasa kasihan kepada calon korbannya nanti.
Ainur telah sampai di pintu penghubung ruang bawah tanah. Menarik tuas tertanam pada dinding – caranya berhasil, pintu bergeser.
Cepat-cepat Ainur kembali ke kamar, melewati beberapa kamar tertutup. Saat sudah sampai di depan pintu, dia buka pelan … Daryo masih pulas.
‘Akhirnya kamu juga mengalami rasanya tidur seperti orang mati, kan?’ Ia terkekeh sinis. Menyadari kalau Daryo terkena sirep, sehingga tidak mendengar kegaduhan tadi.
Bukan hal sulit menebak, sebab dirinya tengah berada di hunian dukun gila.
‘Tapi kenapa Citranti bisa lolos dari ilmu sirep itu? Apa karena dia tengah mengandung anakku?’ Ainur mulai menerka lagi, meyakini dugaannya kali ini pun benar.
Sebelum merebahkan badan, terlebih dahulu Ainur mengelap telapak kaki dan tangannya menggunakan kain jarik kumal dijadikan keset.
***
Pagi hari.
“Citra! Citranti!” bu Mamik panik, saat bangun tidur tidak mendapati putrinya. Sudah dicari ke semua tempat, sosok wanita dewasa itu entah kemana.
Tukiran terbangun, merasa terganggu oleh teriakan sang istri. Dia turun dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar. “Ada apa, bu?”
“Citranti hilang, pak!” bu Mamik histeris, wajahnya memerah.
“Lah kok bisa?” Tukiran heran.
“Ndak tahu. Sewaktu ibu bangun tidur, dia sudah tidak ada. Tak tanya penjaga, katanya suruh nanya ki Ageng. Apa dia buat ulah lagi ya, pak?”
Tukiran meradang, putrinya memang bebal kalau sudah menyangkut tentang cinta.
“Dia ada di dalam penjara bawah tanah. Semalam berencana mau membebaskan pengkhianat itu.” Ki Ageng duduk di kursi kayu teras samping, sedang menikmati secangkir kopi dan sepiring ubi jalar goreng.
“Goblok!” maki Tukiran, antara marah dan juga cemas.
Bu Mamik mulai menangis, dia tahu tentang ruang bawah tanah. Pernah sekali pergi kesana saat penasaran wujud anaknya Ainur.
“Bangunkan Ainur! Suruh pelayan mu mengantarkannya ke hunian Sugianto. Dia ndak boleh tahu mayat-mayat di rumah kalian belum dibereskan!” titah ki Ageng.
“Baik, Ki.” Tukiran berencana mencari keberadaan mba Neneng.
Tanpa dicari, mba Neng sudah mendekati pasangan suami istri yang kalut memikirkan nasib putri mereka.
“Ketuk pintu kamar tamu. Bangunkan Daryo biar dia mengurus si dungu itu!” bu Mamik memberikan perintah.
Tok!
Tok!
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??