NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:359.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 : Berkunjung

Sekitar lima belas menit kemudian, Ainur menuruni anak tangga. Penampilannya terlihat segar, rambut setengah basah, kulit badan masih lembab. Dia mengenakan pakaian sebelum diboyong ke hunian Tukiran, yang memang masih banyak ditinggal dalam lemari kamarnya.

Ainur melihat suguhan diatas meja kaca pada ruangan keluarga dibawah tangga. Dua cangkir teh masih mengepulkan uap, ada juga kudapan kue lapis – kesukaannya.

“Manisnya putri ibu, sini nduk. Cicipi minuman sama kue kesukaanmu.” Bu Warti menaruh satu piring pisang goreng, baru saja diangkat dari penggorengan.

Ainur cepat-cepat menuruni tangga, wajahnya sumringah.

Mba Neng menepuk pelan kedua telapak tangan, meminta perhatian.

Bu Warti dan juga Ainur menoleh ke sang pelayan yang sedang menulis di atas kertas.

“Nyonya muda, saya hendak pulang ke kediaman tuan. Banyak pekerjaan harus segera dibereskan.”

“Baik. Tak anter kedepan ya mba, sekalian aku mau minta tolong ke kusir.” Ainur tidak jadi mendekati sofa, di belakangnya bu Warti mengikuti.

“Mang, tolong kalau menyiram tanaman, sekalian kembang Asoka, ya. Jangan banyak-banyak airnya, takutnya bukan subur malah busuk akar,” pinta Ainur sopan. Di hunian Tukiran, dia punya satu tanaman bunga jarum (Asoka) warna kuning.

Sang kusir mengangguk. “Nggeh, nyonya muda.”

Mba Neng berpamitan dengan cara menunduk hormat, lalu naik ke atas kereta.

Sang kusir pun melakukan hal sama, setelahnya bergegas menjalankan kereta Kuda.

“Nduk, ayo masuk. Keburu dingin teh sama kudapannya.” Bu Warti menarik lengan Ainur.

“Nggeh, bu.”

Ketika tiba di ruang keluarga, Ainur bergumam pelan. “Bu, apa tempat penyimpanan celana dalamku dipindah, ya?”

Sudut mata bu Warti menyipit. “Ndak, masih ditempat semula. Nggak ada yang mindahin barang kamu, nduk. Kenapa?”

“Aku cari nggak ada, ini aja belum pakai dalaman. Mau kenakan yang semalam nggak nyaman rasanya. Bantuin aku nyari sebentar ya, Bu.” Gantian Ainur menarik tangan ibunya Dayanti.

“Tapi tehnya nanti keburu dingin, Inur.” Dia kalah tenaga, dalam hati merasa heran – Ainur seperti orang sehat, bukan lemah.

Ainur tetap keukeuh menaiki anak tangga. “Kan bisa direbus lagi air tehnya. Aku beneran ndak nayaman, Bu.”

Pada akhirnya bu Warti mengalah, sambil menahan geram dia berpura-pura terkekeh, seolah gemas melihat sikap manja Ainur.

Benar adanya kalau letak celana dalam Ainur tidak ada pada tempatnya. Laci lemari kosong.

“Lah kok ndak ada ya, nduk? Biasanya kan disini,” Bu Warti merasa heran. Dia membuka laci lainnya, tapi tak ada satupun ditemukan penutup berbentuk segitiga itu.

"Di tempat lipatan baju juga nggak ada, bu. Apa mungkin dipindahkan para pelayan?” Ainur memeriksa ruang khusus pakaian di lipat.

Bu Warti terlanjur penasaran, bersemangat menggeledah, menyibak gantungan baju. Kala tidak menemukan, dia beralih ke laci meja rias, menariknya penuh tenaga.

“Lah disini. Siapa yang mindahin? Kurang penggawean (kerjaan)!” ia setengah emosi, lelah juga menggeledah lemari.

“Terima kasih, Bu.” Ainur memeluk sebentar lengan Warti, lalu mengambil satu dalaman. Dikarenakan dia mengenakan dress bagian bawah mengembang, langsung memakai celana dalamnya disana.

“Ndak perlu berterima kasih. Ibu jadi terkenang masa lalu sewaktu kamu masih kecil, suka sekali minta bantuan nyari kaos kaki, bando, dan hal-hal menyenangkan lainnya.”

Ainur tersenyum sumringah. Menurut saat tangannya digandeng agar mengikuti langkah Warti.

Baru juga menuruni anak tangga keempat dari atas. Suara pekikan bu Warti mengagetkan wanita yang tengah menyeruput teh hangat.

“Dayanti! Buang, lepeh, muntahkan!” Dia tidak memperhatikan langkah kaki, matanya terbelalak melihat gelas berisi teh telah dicampur dengan larutan darah kotornya.

"Apaan sih, buk? Aku haus, badanku pun pegal-pegal. Makanya izin pulang, malas seharian di puskesmas, kenapa _”

Akhhh!

“Aduh! Aduh!” suara wanita paruh baya itu putus-putus. Dia tergelincir dari anak tangga kelima dari bawah. Berguling-guling sampai lantai.

“Ibu!”

“Ibu!”

Ainur dan Dayanti sama-sama berteriak, tergesa-gesa hendak menolong.

“Pinggangku!” bu Warti merintih kesakitan, pinggangnya terasa mau patah.

"Sakit, bu?” tanya Ainur dengan ekspresi lugu.

“Ya sakit lah!” dibalas nada mengegas. Dia menerima uluran tangan Ainur dan Dayanti, berusaha berdiri.

“Pelan-pelan, bu.” Dayanti memapah ibunya ke sofa.

Saat sudah duduk, wanita masih meringis menahan sakit itu bertanya. Suaranya naik satu oktaf. “Kenapa kamu minum teh nya Ainur? Khusus buat Ainur?!”

Wajah Dayanti seketika seperti tidak dialiri darah, pias. Matanya melotot, dan tiba-tiba perut mual. Dia paham penekanan serta pengulangan nama Ainur.

Hueg!

Hueg!

Dayanti pergi ke kamar mandi yang dekat dapur. Menghempaskan pintunya, lalu jari telunjuk masuk ke dalam mulut, mengorek-ngorek tenggorokan.

Air teh tadi dimuntahkan berikut satu potong kue lapis.

Hueg.

“Jijiknya! Akhh!” wajah Dayanti merah padam, matanya pun memerah dan berair. Dia tak mampu mengusir kenangan saat sang ibu mencelupkan celana dalam terdapat noda merah pekat kedalam gelas.

“Mba Dayanti kenapa, bu? Kok muntah-muntah?” Ainur berdiri di samping bu Warti.

“Biasalah lagi hamil muda. Kamu mana bisa merasakannya, wong belum pernah mengalami,” jawabnya ketus. Kali ini dia kesulitan mengontrol emosi dan mengendalikan diri.

"Ada apa ini?” pak Sugianto baru saja pulang dari memeriksa para pekerja dikebun tembakau nya. Merasa heran melihat kehadiran sang putri kandung. “Kamu kesini sama siapa, nduk? Sejak kapan?”

Ainur mendekati pria memakai topi bulat bertali, kaos kebesaran, celana panjang. Dia salim punggung tangan yang dulu sering menepuk-nepuk lengannya ketika kesulitan tidur.

“Tadi diantar kusir dan mba Neng, pak. Di rumah sedang ada kemalangan _”

“Kemalangan opo (apa)?” pak Sugianto memotong kalimat putrinya.

Perhatian Ainur teralihkan. Dayanti sedang berjalan mendekat. “Gimana perasaannya, mbak? Sudah lebih baik belum?” sorot matanya penuh rasa prihatin, tapi hatinya tertawa puas.

‘Enakkan rasa kotoran ibumu sendiri Dayanti?’

Hem.

Dayanti yang masih lemas, malas menjawab. Dia duduk di sofa panjang. Menatap marah pada sang ibu.

“Ada apa to? Bapak nanya, Inur!” tegurnya bernada lembut.

Ainur menceritakan tentang kejadian dirumah keluarga Tukiran, dan juga di hunian ki Ageng.

“Kok ya bisa kecolongan berkali-kali? Bodohnya kebangetan,” hina bu Warti, memiliki kesempatan melampiaskan kekesalan.

“Nanti bapak tak kesana. Nanya detailnya, dan apa rencana mereka untuk pencegahan kedepannya. Kalau misal masih seadanya, lebih baik kamu tinggal disini lagi, Inur. Ndak terima bapak, kalau dirimu tidak dilindungi dengan baik.”

Dulu, Ainur akan menitikkan air mata haru, kali ini sama, tapi dengan perasaan berbeda – benci, muak. Ia tahu bahwa Sugianto sedang berakting.

“Nggeh, pak. Aku tak istirahat di kamar dulu. Kepalaku sedikit pusing.” Ainur mengurut pelipisnya, dia membawa piring berisi pisang goreng, dan mengambil kue lapis tiga potong.

Sebelum naik ke lantai dua, Ainur pergi ke dapur mengambil air putih di dalam botol.

Dayanti, Warti – memandang benci punggung Ainur.

***

Ainur menutup lagi pintu kamar, dan menguncinya. Saat berbalik, ia terpekik pelan, ternyata ….

.

.

Bersambung.

1
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
imau
lebih baik dikasih singkong daripada nasi basi
imau
dilarang pingsan kamu, Sas 😄
imau
beeeh rameee
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukum karma berlaku
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
Aprisya
karma itu nyata ya pak gi🤣🤣🤣🤣
ora
Siapa juga yang bakal nolongin😂😂
ora
Haduh ... nambah-nambahi kejahatan ....
neni nuraeni
lnjuut
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
mantap ih suka deh 🤭
FiaNasa
wadawwww...minum air campur kotoran anjing hiiiii
Gadis misterius
Baru 1x dikacih minum dicampur kotoran sugianto sdh marah2 apa lagi ainur yg puluhn tahun
.
...Smua dpt giliran dan tdk boleh ada yg selamat
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tapi benar juga sih, setan lebih menggemaskan dari pada mereka manusia² b4ngs4t yg tengah ketakutan menanti hukuman😏
lyani
bukan anak Ainur kan y?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!