NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 11

BAB 11 — Gaun Pinjaman

Kilatan lampu blitz fotografer sewaan menyambar-nyambar seperti badai petir di dalam ruangan tertutup. Musik orkestra beralih dari Moonlight Sonata ke lagu pop jazz yang lebih upbeat, menandai dimulainya sesi ramah tamah.

Mayang masih merasakan hangatnya lengan jas Vino di telapak tangannya. Namun, momen itu tidak bertahan selamanya.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu metalik—Ayah Vino, Pak Hermawan, pemilik konglomerasi properti—melambaikan tangan dari area VIP yang dibatasi tali beludru merah.

Vino berhenti melangkah. Dia menepuk punggung tangan Mayang pelan.

“Tugas negara memanggil,” gumam Vino, matanya menatap ke arah ayahnya dengan ekspresi datar. “Gue harus ke sana. Salam tempel sama kolega Bokap.”

“Iya, Kak. Pergilah,” kata Mayang. Dia menarik tangannya. Tiba-tiba dia merasa dingin, seolah selimut pelindungnya ditarik paksa.

“Tunggu di sini. Dekat pilar ini. Jangan keluyuran ke area makanan berat, di sana medan tempur ibu-ibu lapar. Ambil minum aja,” instruksi Vino.

“Berapa lama?”

“Sepuluh menit. Paling lama lima belas kalau ada yang nanya soal nilai saham.”

Vino merapikan kerah jasnya, lalu berjalan menjauh menuju area VIP. Punggung tegapnya segera ditelan oleh kerumunan orang-orang penting yang berebut ingin menyapanya.

Mayang berdiri sendiri di samping pilar marmer raksasa.

Tanpa Vino, sihir itu pudar. Dia kembali menjadi gadis miskin dengan gaun hitam kuno di tengah lautan gaun putih modern. Syal sutra hitam di lehernya memang membantunya terlihat chic, tapi tatapan mata orang-orang di sekitarnya tidak bisa dibohongi.

Mereka menatapnya seperti menatap noda tinta di kertas putih.

Mayang bergerak mundur, mencari sudut yang lebih gelap. Dia berdiri di dekat meja panjang berisi deretan gelas minuman berwarna-warni.

“Sendirian aja?”

Suara itu terdengar di samping telinganya.

Mayang menoleh. Naufal berdiri di sana. Wajahnya masam. Dia memegang segelas Cola.

“Naufal. Kirain kamu masih foto-foto,” sapa Mayang, mencoba tersenyum.

Naufal tidak membalas senyum itu. Matanya terkunci pada leher Mayang. Pada syal hitam yang terikat rapi di sana.

“Itu punya Vino, kan?” tanya Naufal. Nadanya bukan bertanya, tapi menuduh.

Mayang memegang simpul syal itu refleks. “Iya. Tadi... ada insiden kecil di pintu masuk. Kak Vino minjemin ini.”

“Insiden apa? Kenapa lo nggak nunggu gue? Gue nyariin lo di lobi, tau nggak?”

“Kamu ditarik Vivie lewat depan, Fal. Aku diarahkan lewat samping. Tadi Tante Siska ngira aku pelayan. Kak Vino cuma bantuin jelasin.”

Naufal mendengus kasar. Dia meminum colanya dengan tegukan besar.

“Selalu Vino. Dia selalu muncul jadi pahlawan, padahal dia yang bikin aturan main di sekolah ini jadi kaku.”

“Dia nggak salah, Fal.”

“Lo belain dia sekarang?” Naufal menatap Mayang tajam. “May, lo sadar nggak sih? Vino itu cuma manfaatin lo buat show off. Dia suka jadi pusat perhatian dengan cara yang nyeleneh. Bawa cewek miskin ke pesta elit itu cuma cara dia bilang ke semua orang kalau dia rebel.”

Kata-kata Naufal menusuk. Cewek miskin. Naufal jarang bicara kasar, tapi kecemburuan membuatnya kehilangan filter.

“Aku tahu posisi aku, Fal,” kata Mayang pelan. “Nggak usah diperjelas.”

Naufal tersadar. Wajahnya melembut, menyesal.

“Sori, May. Gue nggak bermaksud gitu. Gue cuma... kesel. Harusnya gue yang gandeng lo masuk tadi. Gue udah siapin jas ini biar cocok sama lo.”

Naufal meletakkan gelasnya. Dia mulai melepas jas putihnya.

“Lepas syal itu,” kata Naufal.

“Hah?”

“Lepas syal Vino. Pake jas gue aja. Dingin kan di sini? Jas gue lebih anget daripada kain tipis itu.”

Naufal menyodorkan jas putihnya.

Mayang mundur selangkah. Menolak.

“Nggak usah, Fal. Nanti kamu kedinginan. Lagian ini syal pinjeman, harus dijaga biar nggak ilang.”

“May, lo lebih milih pake barang dia daripada barang gue?”

Suasana menjadi canggung. Mayang melihat Naufal yang memegang jas putihnya dengan tangan menggantung di udara. Ditolak.

“Bukan gitu... cuma...”

“Hai, Guys! Lagi drama korea ya?”

Suara melengking memotong percakapan mereka.

Vivie datang. Ratu pesta malam ini. Di belakangnya ada Sarah, Oline, dan beberapa siswi kelas lain yang memegang gelas mocktail.

Vivie menatap Naufal yang memegang jas, lalu menatap Mayang.

“Aduh, Naufal. Effort banget sih lo. Udah ditolak masih aja maksa,” sindir Vivie.

Naufal memakai jasnya kembali dengan kasar. Wajahnya merah padam. “Berisik lo, Vie.”

Vivie mengabaikan Naufal. Dia beralih ke Mayang. Dia berjalan mengelilingi Mayang satu putaran penuh, seolah sedang memeriksa barang dagangan di etalase.

Tangannya terulur, menyentuh bahan beludru di lengan Mayang.

“Hmm,” gumam Vivie. “Teksturnya kasar ya. Ini beludru sintetis kiloan Tanah Abang?”

Teman-temannya tertawa kecil.

Mayang menarik lengannya. “Ini baju Ibu saya.”

“Oh, Vintage?” Vivie meniru nada bicara Vino tadi di pintu masuk. “Vino bilang ini Vintage. Tapi di mata gue, ini cuma... baju bekas.”

Vivie mendekatkan wajahnya ke bahu Mayang. Mengendus.

“Dan baunya...” Vivie menutup hidung dengan kipas tangannya. “Bau kamper. Tahu nggak bau lemari kayu yang udah lapuk dimakan rayap? Baunya persis kayak gitu.”

“Iya ih, bau apek,” tambah Sarah, ikut-ikutan mengibas tangan di depan hidung. “Bikin bersin.”

Mayang diam. Dia tahu bajunya memang disimpan di lemari tua Budhe yang penuh kapur barus untuk mengusir ngengat. Bagi dia, itu bau rumah. Bagi mereka, itu bau kemiskinan.

“Mayang, Mayang,” Vivie menggeleng-gelengkan kepala. “Lo boleh aja dipakein syal mahal sama Vino. Tapi baunya nggak bisa bohong. Lo nggak cocok di sini.”

Vivie mengambil segelas sirup berwarna merah dari meja di belakang Mayang.

“Nih, minum,” Vivie menyodorkan gelas itu. “Sirup Marjan rasa Cocopandan. Cocok buat lidah lo. Jangan minum yang di sana,” Vivie menunjuk gelas kristal berisi cairan kuning berbuih, “itu Sparkling Cider impor. Nanti lo kaget rasanya asem.”

Penghinaan verbal yang dibungkus dengan senyum manis. Vivie memberi Mayang minuman "kelas bawah" di pesta "kelas atas".

Mayang menatap gelas sirup itu. Dia haus. Sangat haus karena gugup.

Dia menerima gelas itu.

“Terima kasih, Vivie,” kata Mayang datar. “Sirup ini manis. Saya suka yang manis. Hidup saya sudah cukup pahit, nggak perlu Cider asam.”

Jawaban Iceberg. Mayang tidak marah. Dia membalikkan hinaan itu menjadi pernyataan fakta yang menyedihkan sekaligus kuat.

Vivie terdiam sejenak, kehilangan kata-kata untuk membalas.

“Cih. Dasar melankolis,” cibir Vivie. “Yuk, Girls. Kita ke photobooth. Di sini udaranya terkontaminasi.”

Vivie dan gengnya pergi, meninggalkan aroma parfum menyengat yang bercampur dengan bau "kamper" yang mereka tuduhkan.

Naufal menatap Mayang iba.

“May, ayo pulang aja. Gue anter. Ngapain sih lo tahan dihina kayak gitu?”

Mayang meminum sirupnya sedikit. Manisnya menyakitkan gigi.

“Aku nunggu Kak Vino, Fal. Dia nyuruh aku tunggu di sini.”

“Vino lagi! Vino lagi!” Naufal meledak. “Lo tahu Vino di mana sekarang? Tuh liat!”

Naufal menunjuk ke arah area VIP yang posisinya agak tinggi seperti balkon mezzanine.

Di sana, terlihat Vino sedang berdiri memegang gelas. Dia tidak sendirian.

Dia sedang berbicara dengan seorang gadis cantik bergaun putih sutra. Gadis itu tertawa anggun, memegang lengan Vino akrab. Vino tidak menepis. Vino bahkan terlihat tersenyum sopan.

“Itu Clarissa,” kata Naufal. “Anak rekan bisnis bokapnya. Lulusan sekolah di London. Setara. Selevel. Wangi. Nggak bau kamper.”

Naufal menatap Mayang lekat-lekat.

“Itu dunia dia, May. Lo cuma mainan barunya pas dia bosen sama dunia elitnya. Sadarlah.”

Mayang menatap ke atas. Melihat Vino yang bersinar di bawah lampu kristal. Melihat gadis cantik itu.

Lalu Mayang melihat bayangannya sendiri di pantulan kaca jendela gelap. Gaun hitam kuno. Syal pinjaman. Gelas sirup murahan.

Rasa percaya dirinya yang tadi dibangun susah payah, runtuh seketika.

“Kamu bener, Fal,” bisik Mayang. Suaranya serak.

“Ayo pulang,” ajak Naufal lagi, kali ini lebih lembut. Dia mengulurkan tangan.

Mayang menatap tangan Naufal. Tawaran keselamatan. Tawaran untuk kembali ke zona nyaman di mana dia tidak perlu berpura-pura.

Tapi kemudian, dia melihat Vino di atas sana menoleh. Vino melihat ke bawah. Ke arah pilar tempat Mayang berdiri. Mata mereka bertemu dari kejauhan.

Vino tidak melambai. Dia hanya mengangkat gelasnya sedikit. Kode: Stay there.

Mayang menarik napas panjang. Dia tidak menyambut tangan Naufal.

“Maaf, Fal. Aku belum mau pulang. Makanannya belum keluar. Sayang kalau dilewatin.”

Alasan bodoh. Mayang bahkan tidak lapar.

Naufal menarik tangannya kembali. Kecewa berat. Sakit hati.

“Terserah lo, May. Gue mau gabung sama anak-anak basket. Kalau lo butuh tumpangan, cari gue. Kalau lo masih inget gue ada.”

Naufal berbalik dan pergi, menghilang di kerumunan.

Kini Mayang benar-benar sendirian.

Dia berdiri di pojok, memegang gelas sirup yang mulai berembun. Kakinya pegal karena sepatu hak yang jarang dipakai. Musik pesta terasa semakin bising. Tawa orang-orang terdengar seperti ejekan.

Dia merasa kerdil.

“Sepuluh menit,” gumam Mayang melihat jam dinding. “Dia janji sepuluh menit.”

Sudah dua puluh menit berlalu. Vino masih di atas sana, terjebak dalam obrolan dengan Clarissa dan ayahnya.

Mayang merasa sesak. Oksigen di ruangan ini seolah disedot habis oleh ego ratusan orang kaya.

Dia butuh udara.

Mayang meletakkan gelas sirupnya di meja. Dia melihat pintu kaca besar yang tertutup tirai tipis di sisi kanan ruangan. Pintu menuju balkon luar.

Dia berjalan ke sana, menyelinap di antara para tamu. Berharap tidak ada yang melihat gaun hitamnya lagi.

Dia mendorong pintu kaca yang berat itu.

Angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Panas, tapi bebas.

Mayang melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya. Suara musik pesta teredam, berganti dengan suara klakson kendaraan dari jalan raya Senayan di kejauhan.

Dia berjalan ke pinggir balkon, memegang pagar besi dingin.

Dia menunduk, melihat ke bawah. Ke jalanan di mana mobil-mobil mewah antre masuk lobi.

“Apa yang aku lakuin di sini?” tanya Mayang pada angin. “Budhe bener. Emas tetep emas. Tapi aku bukan emas. Aku cuma kerikil yang dicat kuning.”

Mayang melepas syal hitam Vino dari lehernya. Dia merasa tidak pantas memakainya. Syal itu terlalu halus, terlalu suci untuk lehernya yang berkeringat.

Dia melipat syal itu rapi. Berniat mengembalikannya nanti, lalu pulang naik ojek.

Tiba-tiba, dia mencium aroma asap rokok. Tipis. Aroma tembakau mahal bercampur menthol.

Mayang menoleh ke sudut balkon yang gelap.

Ada seseorang di sana.

Duduk di kursi rotan, tersembunyi dalam bayangan pilar. Satu titik api merah menyala di ujung jari tangannya.

“Berisik,” suara itu terdengar dari kegelapan.

Mayang terlonjak. Dia kenal suara itu.

Bukan Vino.

Vino tidak merokok. Mayang tahu itu (Vino atlet renang, dia sangat menjaga paru-paru). Lalu siapa?

Sosok itu condong ke depan, terkena bias cahaya lampu taman.

Seorang laki-laki. Memakai jas hitam (bukan putih). Wajahnya mirip Vino, tapi lebih... keras. Matanya lebih liar. Ada luka parut kecil di alis kirinya.

Dia menatap Mayang dengan tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Lo ngalangin pemandangan gue,” kata cowok itu.

Mayang mundur selangkah. “Maaf. Saya kira sepi.”

“Siapa lo? Pelayan yang lagi bolos?” tanya cowok itu, melihat gaun hitam Mayang.

“Bukan. Saya tamu.”

Cowok itu tertawa. Tawa yang kering dan sinis. Dia mematikan rokoknya di asbak dengan gerakan memutar yang kuat.

“Tamu pake baju gembel gini? Pasti charity case-nya si Vivie ya?”

Mayang tersinggung. “Mulutmu dijaga.”

Cowok itu berdiri. Tingginya menjulang, lebih tinggi dari Vino. Dia berjalan mendekati Mayang.

“Galak. Gue suka.”

Pintu kaca balkon terbuka lagi.

Cahaya terang dari dalam ruangan tumpah keluar.

Vino berdiri di ambang pintu. Napasnya sedikit terengah, sepertinya dia habis berlari atau berjalan cepat.

Matanya langsung mencari Mayang. Lalu beralih ke sosok cowok berjas hitam itu.

Wajah Vino menegang. Rahangnya mengeras seketika.

“Rio,” panggil Vino dingin.

Cowok berjas hitam itu—Rio—menoleh. Dia menyeringai lebar. Senyum yang mirip Vino, tapi versi iblisnya.

“Halo, Adik manis,” sapa Rio. “Lama nggak ketemu. Masih jadi anak baik-baik Ayah?”

Mayang bingung. Adik? Rio? Vino tidak pernah bilang dia punya kakak laki-laki. Dia bilang adiknya di asrama militer.

Vino berjalan cepat, berdiri di antara Mayang dan Rio. Melindungi Mayang.

“Ngapain lo di sini? Lo nggak diundang,” desis Vino.

“Ini pesta keluarga, Vin. Gue kan bagian dari keluarga. Anak haram juga anak, kan?” Rio tertawa, menepuk bahu Vino keras-keras.

Vino menepis tangan itu kasar.

“Mayang,” kata Vino tanpa menoleh ke belakang. “Masuk.”

“Tapi, Kak...”

“Masuk!” bentak Vino. Keras.

Mayang kaget. Vino belum pernah membentaknya sekeras itu.

Rio menatap Mayang, lalu menatap syal hitam yang dipegang Mayang.

“Oh, jadi ini mainan baru lo? Selera lo turun drastis, Vin. Dulu sukanya model, sekarang sukanya... upik abu?”

Vino mencengkeram kerah jas Rio.

“Jangan sentuh dia. Jangan bicara sama dia. Atau gue panggil sekuriti.”

“Panggil aja. Biar Ayah malu liat dua anaknya ribut di pesta kolega.”

Ketegangan di antara mereka begitu pekat, bisa dipotong dengan pisau.

Mayang mundur ketakutan. Dia melihat sisi lain Vino yang belum pernah dia lihat. Sisi yang penuh amarah, kebencian, dan... ketakutan?

Apa yang Vino takutkan dari Rio?

“Masuk, Mayang,” ulang Vino, kali ini suaranya bergetar menahan emosi. “Tunggu aku di lobi. Kita pulang.”

Mayang mengangguk gemetar. Dia berlari masuk ke dalam ballroom, meninggalkan dua saudara itu di balkon yang dingin.

Di dalam, musik pesta masih berdentum riang. Orang-orang tertawa. Tidak ada yang tahu bahwa di luar sana, perang saudara baru saja dimulai.

Mayang mendekap syal hitam itu di dadanya. Malam ini bukan hanya soal gaun pinjaman. Tapi soal rahasia kelam keluarga "sempurna" Vino yang mulai terkuak.

Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!