Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: RAGE MODE
#
Mereka berlari lewat koridor yang gelap, napas tersengal, kaki hampir gak kuat lagi tapi tetep lari karena di belakang sana terdengar suara tembakan. Banyak. Bertubi tubi.
Ayahnya masih di sana. Ayahnya yang baru aja kembali dari kematian sekarang mungkin mati lagi. Dan kali ini mati beneran.
"Kita harus balik," kata Arjuna sambil berhenti tiba tiba. Berbalik. "Aku gak bisa ninggalin dia di sana sendirian. Aku gak bisa..."
"Arjuna dia bilang pergi!" Pixel pegang lengannya kuat. "Dia bilang ini pertarungannya! Kita harus hormati..."
"AKU GAK PEDULI APA YANG DIA BILANG!" Arjuna dorong Pixel sampe teman nya itu jatuh ke lantai. "Itu ayahku di sana! Ayahku yang udah mati sekali buat aku! Dan kau mau aku tinggalin dia mati lagi?!"
Sari berdiri di antara mereka. Wajahnya basah air mata tapi matanya keras.
"Maka kita balik bersama," katanya. "Kita selamatkan dia bersama. Atau mati bersama. Tapi kita gak ninggalin keluarga."
Pixel berdiri lagi. Lap darah di bibirnya dari jatuh tadi. "Oke. Tapi kita butuh rencana. Gak bisa cuma lari balik kayak orang gila dan..."
Suara tembakan berhenti.
Hening total.
Hening yang lebih menakutkan daripada suara tembakan.
"Tidak," bisik Arjuna. "Tidak tidak tidak..."
Dia lari. Lari secepat yang dia bisa. Balik ke koridor tadi. Sari dan Pixel ikut di belakangnya.
Sampe di ruangan dimana Hendrawan terakhir kali mereka lihat, Arjuna berhenti di depan pintu. Tangannya gemetar buka pintunya.
Dan apa yang dia lihat bikin dunianya runtuh untuk ketiga kalinya.
Hendrawan terbaring di lantai. Tubuhnya penuh lubang peluru. Darah dimana mana. Mata yang tadi nya coklat sekarang udah gak ada cahaya apapun lagi.
Mati.
Beneran mati kali ini.
Di sebelahnya, Adrian juga terbaring. Tapi dia masih napas. Napasnya berat, terputus putus. Tangannya pegang perutnya yang berdarah.
Bodyguard bodyguardnya pada mati semua. Hendrawan berhasil bunuh mereka sebelum dia jatuh.
"Ayah," Arjuna jatuh berlutut di samping tubuh Hendrawan. Tangannya gemetar menyentuh wajah ayahnya yang udah dingin. "Ayah kumohon bangun. Kumohon jangan tinggalin aku lagi. Kumohon..."
Tapi Hendrawan gak gerak. Gak napas. Gak ada apa apa lagi.
Cuma mayat. Cuma cangkang kosong dari orang yang Arjuna sayang.
"Kau... kau bilang kita akan hidup bareng setelah ini selesai," bisik Arjuna sambil nangis di dada ayahnya. "Kau janji. Kau janji Yah..."
Di seberang ruangan, Adrian batuk. Batuk darah. Tapi dia masih bisa ketawa. Ketawa yang terdengar basah dan menyakitkan.
"Dia mati... dia mati sebagai pahlawan," katanya. Suaranya pelan tapi masih bisa terdengar. "Mati seperti yang dia mau. Sementara aku... aku mati sebagai penjahat."
Arjuna perlahan berdiri. Perlahan berbalik natap Adrian yang terbaring di lantai dengan darahnya sendiri.
Dan ada sesuatu di mata Arjuna yang bikin bahkan Sari mundur satu langkah.
Sesuatu yang gelap. Yang berbahaya. Yang terlihat kayak... kayak kehilangan semua kemanusiaannya.
"Kau," bisik Arjuna. Suaranya rendah. Gemetar karena menahan emosi yang terlalu besar untuk ditahan. "Kau ambil segalanya dariku. Kau ambil desaku. Kau ambil masa kecilku. Kau ambil ayahku. Dua kali. Kau ambil... kau ambil kehidupan yang seharusnya aku punya."
Dia jalan pelan ke Adrian. Setiap langkah seperti langkah orang yang udah gak peduli mati atau hidup.
"Dan sekarang," lanjutnya sambil jongkok di samping Adrian. Tangan mencengkeram kerah baju Adrian yang penuh darah. "Sekarang aku akan ambil satu satunya yang kau punya. Nyawamu."
"Arjuna jangan," kata Pixel dari belakang. "Jangan jadi kayak dia. Jangan..."
"DIAM!" Arjuna berteriak tanpa noleh. "Kalian gak ngerti! Kalian gak kehilangan apa yang aku kehilangan! Kalian gak merasakan sakit yang aku rasain!"
Dia angkat tinjunya. Pukul wajah Adrian. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Terus menerus sampe tangannya berdarah dan wajah Adrian jadi bubur.
Tapi Adrian masih ketawa. Bahkan dengan wajah yang hancur dia masih ketawa.
"Bagus," gumamnya lewat bibir yang pecah. "Bagus. Sekarang kau jadi kayak aku. Sekarang kau tau gimana rasanya... rasanya jadi monster."
"AKU BUKAN MONSTER!" Arjuna pukul lagi. Lebih keras. "AKU GAK KAYAK KAU! AKU..."
"Kau persis kayak aku," bisik Adrian. "Kita sama. Kita berdua kehilangan orang yang kita sayang dan jadi... jadi ini. Jadi orang yang cuma tau cara balas dendam."
Arjuna berhenti. Tangannya masih di udara. Napasnya berat kayak habis lari marathon.
"Aku... aku gak kayak kau," bisiknya. Tapi suaranya gak yakin lagi.
"Maka buktiin," kata Adrian. "Buktiin dengan gak bunuh aku. Dengan biarkan aku hidup. Dengan jadi lebih baik dari aku."
Arjuna menatap wajah Adrian yang hancur. Menatap mata pria yang udah hancurkan hidupnya.
Dan untuk sedetik, dia mau. Dia mau biarkan Adrian hidup. Mau buktiin kalau dia beda.
Tapi kemudian dia ingat. Ingat desa yang terbakar. Ingat anak anak yang mati. Ingat ayahnya yang terbaring di belakang sana dengan tubuh penuh peluru.
Dan sesuatu di dalemnya patah.
"Tidak," bisiknya. "Tidak. Kau gak pantas hidup. Kau gak pantas napas udara yang sama dengan orang yang kau bunuh."
Dia ambil pistol yang jatuh di lantai. Pistol Adrian. Arahkan ke kepala Adrian.
"Arjuna JANGAN!" Sari berteriak. Dia lari mau hentikan tapi Pixel tahan dia.
"Biarkan dia," kata Pixel pelan. "Biarkan dia... dia butuh ini."
"Dia gak butuh ini!" Sari berontak. "Dia butuh kita hentikan dia sebelum dia jadi seperti Adrian! Sebelum dia..."
KLIK.
Suara pistol di cock.
Arjuna jari di pelatuk.
Adrian menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di mata Adrian yang terlihat seperti... seperti takut.
"Kumohon," bisiknya. "Kumohon jangan. Aku... aku mau berubah. Aku mau jadi lebih baik. Aku..."
"Terlambat," kata Arjuna. "Kau udah punya kesempatan. Banyak kesempatan. Dan kau sia siain semua."
Jarinya mulai menarik pelatuk.
Tapi tiba tiba ada suara lain. Suara pistol lain yang di cock.
Arjuna noleh.
Sari berdiri di sana. Pistol di tangannya. Tapi pistol itu gak diarahin ke Adrian.
Pistol itu diarahin ke kepala Sari sendiri.
"Sari apa yang kau lakukan?!" Arjuna langsung berdiri. "Turunin pistolnya!"
"Tidak," jawab Sari. Tangannya gemetar tapi tetep pegang pistol itu kuat. "Tidak sampai kau turunin pistolmu."
"Sari ini gak ada hubungannya dengan kau. Ini antara aku dan dia. Ini..."
"Ini ADA hubungannya dengan aku!" Sari berteriak. Air matanya jatuh tapi wajahnya tegas. "Karena aku cinta kau! Karena aku gak mau lihat orang yang aku cinta jadi pembunuh! Jadi monster kayak ayahku!"
"Dia pantas mati," kata Arjuna. Tapi suaranya mulai gak sekeras tadi. "Dia bunuh ayahku. Dia bunuh ratusan orang. Dia..."
"Dan kau pikir dengan bunuh dia kau akan merasa lebih baik?" tanya Sari. "Kau pikir ayahmu akan seneng lihat kau jadi pembunuh?"
"Ayahku mati!" Arjuna hampir berteriak sekarang. Tubuhnya gemetar. "Dia mati dan dia gak akan pernah tau apa yang aku lakukan atau gak lakukan!"
"Tapi aku tau," bisik Sari. "Aku tau dan aku... aku gak bisa hidup kalau kau jadi orang yang beda. Kalau kau jadi orang yang bunuh dengan dingin kayak gini."
"Maka jangan lihat," kata Arjuna sambil berbalik lagi ke Adrian. "Tutup matamu dan jangan lihat."
"Kalau kau bunuh dia," kata Sari pelan. "Aku akan bunuh diriku sendiri. Di sini. Sekarang."
Arjuna berhenti. Tubuhnya kaku.
"Kau... kau gak akan," bisiknya.
"Coba aku," jawab Sari. Pistolnya ditekan lebih kuat ke pelipisnya sendiri. "Coba aku Arjuna. Tarik pelatukmu dan lihat apa aku akan tarik pelatukku."
Hening.
Hening yang panjang dan menyiksa.
Arjuna menatap Adrian yang terbaring di bawahnya. Lalu menatap Sari yang berdiri dengan pistol di kepalanya sendiri.
Pilihan.
Pilihan yang gak ada yang benar.
Bunuh Adrian dan kehilangan Sari.
Atau biarkan Adrian hidup dan kehilangan diri sendiri karena gak bisa balas dendam untuk ayahnya.
"Kumohon," bisik Sari. Suaranya pecah sekarang. "Kumohon Arjuna. Jangan buat aku lakuin ini. Jangan buat aku kehilangan kau bahkan kalau kau masih hidup."
Arjuna natap pistol di tangannya. Pistol yang terasa berat. Terlalu berat.
Lalu dia natap ke belakang. Ke tubuh Hendrawan yang terbaring di sana.
Dan dia ingat kata kata terakhir ayahnya. Kata kata yang dia bilang sebelum mati yang pertama kali.
"Jaga Sari. Jaga dia seperti ayah gak bisa jaga ibumu. Cintai dia seperti ayah cinta kau. Dan hidup. Hidup bahagia."
Hidup bahagia.
Bukan hidup dengan balas dendam.
Bukan hidup jadi pembunuh.
Hidup bahagia.
Pistol jatuh dari tangannya. Jatuh ke lantai dengan bunyi yang keras di ruangan yang hening.
Arjuna jatuh berlutut. Tangannya menutupi wajahnya. Dan dia nangis. Nangis kayak anak kecil yang kehilangan. Nangis dengan suara yang rawung dan penuh kesakitan.
"Maafkan aku Yah," raungnya. "Maafkan aku karena aku gak bisa balas dendam untukmu. Maafkan aku karena aku... karena aku lemah."
Sari turunkan pistolnya. Lari ke Arjuna. Peluk dia dari belakang. Peluk erat sambil nangis juga.
"Kau gak lemah," bisiknya. "Kau paling kuat. Karena kau pilih cinta daripada benci. Pilih hidup daripada mati."
Mereka pelukan di lantai yang penuh darah. Pelukan di ruangan yang penuh mayat. Pelukan di tengah kehancuran total.
Tapi setidaknya mereka masih punya satu sama lain.
Setidaknya mereka masih manusia.
Adrian menatap mereka dari lantai. Napasnya makin lemah sekarang. Darahnya makin banyak keluar.
"Kau... kau menang," bisiknya ke Arjuna. "Kau menang karena kau punya sesuatu yang aku gak punya. Kau punya orang yang cinta kau cukup untuk hentikan kau jadi monster."
Dia batuk darah lagi. Tubuhnya mulai dingin.
"Rawat dia," katanya terakhir. "Rawat putriku. Jadi ayah yang aku gak pernah bisa jadi."
Lalu napasnya berhenti.
Adrian Mahendra mati.
Bukan dibunuh oleh peluru Arjuna.
Tapi mati karena luka yang dia dapat dari Hendrawan.
Mati sendirian. Tanpa ada yang pegang tangannya. Tanpa ada yang nangis untuknya.
Mati seperti cara dia hidup.
Sendirian.