Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PILIHAN MUSTAHIL
#
Tapi Adrian belum mati.
Matanya yang hampir tertutup terbuka sedikit. Napas yang hampir berhenti masih ada, walau tipis sekali.
"Belum," gumamnya. Suaranya nyaris gak kedengaran. "Belum... selesai."
Arjuna yang masih dipeluk Sari mengangkat kepalanya. Menatap Adrian yang entah gimana masih bertahan.
"Kenapa kau gak mati aja," bisik Arjuna. Bukan dengan benci lagi. Tapi dengan... dengan kelelahan. "Kenapa kau gak biarkan ini berakhir."
"Karena..." Adrian batuk lagi. "Karena aku masih punya satu kartu terakhir."
Tangannya yang gemetar ambil ponsel dari saku celananya. Layar ponsel itu retak tapi masih nyala. Dia ketik sesuatu dengan jari yang nyaris gak bisa gerak.
"Apa yang kau lakukan," tanya Pixel waspada.
Adrian gak jawab. Cuma terus ketik. Lalu dia tekan enter.
Ponsel semua orang berbunyi bersamaan. Notifikasi. Arjuna ambil ponselnya yang retak dari saku. Buka notifikasinya.
Itu video. Video live yang lagi broadcast sekarang ke seluruh media sosial.
Video dari dalam markas rahasia Adrian yang lain. Markas yang lebih dalam lagi dari gedung Axion ini.
Dan di video itu ada puluhan orang. Mungkin ratusan. Diikat. Ditutup matanya. Di ruangan yang penuh dengan... dengan bahan peledak.
"Tidak," bisik Sari sambil lihat layar ponsel Arjuna. "Tidak dia gak akan..."
"Aku akan," potong Adrian. Dia tersenyum walau senyumnya penuh darah. "Kalau dalam sepuluh menit aku gak masukin kode untuk cancel, semua bom itu akan meledak. Dan semua orang di sana akan mati."
"Berapa banyak orang," tanya Arjuna dengan suara yang hampir gak keluar.
"Dua ratus lima puluh tiga orang," jawab Adrian. "Terdiri dari keluarga orang orang yang pernah lawan aku. Istri. Suami. Anak. Orang tua. Semua yang aku kumpulin selama bertahun tahun sebagai... sebagai insurance."
"Kau gila," kata Pixel. "Kau bener bener udah gila total."
"Mungkin," Adrian batuk lagi. "Tapi aku gila yang masih bisa bunuh ratusan orang dengan satu klik. Jadi... jadi dengerin tawaranku."
Dia natap Sari. Cuma Sari. Matanya yang hampir gak bisa fokus sekarang fokus cuma ke anaknya.
"Kau," bisiknya. "Kau ikut aku. Kau rawat aku. Kau jadi anakku yang beneran. Dan sebagai gantinya... aku akan lepas semua orang di sana. Aku akan kasih kode cancel. Aku akan... akan pergi dari negara ini dan gak pernah balik."
"Tidak," kata Arjuna cepat. Terlalu cepat. "Tidak. Sari gak akan kemana mana denganmu."
"Maka dua ratus lima puluh tiga orang akan mati," kata Adrian santai. Terlalu santai untuk orang yang lagi sekarat. "Darah mereka akan di tanganmu. Di tangan kalian semua. Karena kalian pilih satu orang daripada ratusan."
Sari berdiri pelan. Lepas dari pelukan Arjuna.
"Sari apa yang kau lakukan," tanya Arjuna. Ada sesuatu di suaranya yang terdengar kayak... kayak panik. "Sari jangan. Jangan pikirin apa yang dia bilang. Dia bohong. Dia pasti bohong tentang..."
"Dia gak bohong," potong Sari. Dia natap layar ponsel yang masih menunjukkan video live itu. "Aku kenal ayahku. Aku tau dia gak pernah ngancam kosong. Kalau dia bilang dia akan bunuh mereka, dia akan bunuh mereka."
"Maka kita cari markas itu," kata Pixel sambil buka laptopnya cepat cepat. "Kita lacak lokasi dari broadcast ini. Kita..."
"Kalian punya delapan menit," kata Adrian sambil lihat jam di ponselnya. "Delapan menit untuk lacak, sampai ke sana, dan jinakin bom yang diprogram sama expert. Kalian pikir kalian bisa?"
Pixel menatap layar laptopnya. Jarinya ngetik cepat tapi kemudian berhenti. Wajahnya pucat.
"Signal nya... signal nya dipantulkan lewat dua puluh server beda di dua puluh negara beda," bisiknya. "Butuh minimal tiga jam untuk lacak lokasi aslinya. Dan itu kalau aku gak kena trap."
"Tiga jam," ulang Adrian. Senyumnya melebar. "Sementara mereka cuma punya delapan menit sekarang. Tujuh menit lima puluh detik untuk lebih tepatnya."
Sari berbalik natap Arjuna. Matanya basah tapi ada sesuatu di sana yang terlihat kayak... kayak udah mutusin sesuatu.
"Jangan," bisik Arjuna. Dia berdiri cepat. Jalan ke Sari. "Jangan bilang apa yang aku pikir kau mau bilang."
"Aku harus," jawab Sari. Tangannya pegang wajah Arjuna. Lembut. Penuh cinta. "Aku harus pergi dengannya."
"Tidak," Arjuna menggeleng keras. "Tidak. Kita akan cari cara lain. Kita akan..."
"Gak ada cara lain," potong Sari. Air matanya jatuh sekarang. "Dan kau tau itu. Aku tau kau tau itu."
"Aku gak peduli," Arjuna pegang tangannya yang di wajahnya. Pegang erat. "Aku gak peduli berapa banyak orang yang harus mati. Aku gak akan lepas kau. Aku gak akan..."
"Kau HARUS peduli," kata Sari keras. "Karena itu yang bikin kau beda dari dia. Yang bikin kau beda dari ayahku. Kau peduli sama orang lain. Kau gak bisa cuma pikirin dirimu sendiri."
"Tapi kau bukan orang lain," bisik Arjuna. Suaranya pecah. "Kau... kau segalanya bagiku. Kau alasan aku masih hidup setelah ayahku mati. Kau alasan aku gak jadi monster tadi. Kalau aku kehilangan kau, aku... aku gak tau aku masih bisa jadi manusia atau gak."
Sari tersenyum. Senyum yang paling sedih yang pernah Arjuna lihat.
"Maka kau harus jadi manusia untuk aku," bisiknya. "Kau harus hidup baik untuk aku. Untuk semua orang di sana yang gak bersalah. Untuk..."
"Enam menit," kata Adrian dari lantai. "Enam menit sebelum mereka semua jadi abu."
"DIAM!" Arjuna berteriak ke arahnya. "DIAM ATAU AKU AKAN BUNUH KAU SEKARANG!"
"Maka bunuh aku," jawab Adrian. "Dan biarkan mereka semua mati. Buktiin kalau kau gak beda dari aku."
Arjuna mau lari ke Adrian. Mau pukul dia lagi. Mau hancurkan wajahnya sampe gak bisa senyum lagi.
Tapi Sari pegang tangannya. Tahan dia.
"Jangan," katanya. "Jangan biarkan dia menang. Jangan biarkan dia bikin kau jadi kayak dia."
"Tapi kalau kau pergi..."
"Aku akan balik," potong Sari. Matanya natap mata Arjuna dengan yakin. Yakin yang mungkin dipaksain tapi tetep yakin. "Aku janji aku akan cari cara untuk balik padamu. Entah butuh sebulan, setahun, sepuluh tahun. Aku akan balik."
"Kau gak bisa janji itu," bisik Arjuna. "Kau gak tau apa yang dia akan lakuin padamu di luar sana. Kau gak tau..."
"Maka percaya padaku," Sari pegang wajahnya dengan dua tangan sekarang. "Percaya aku cukup kuat untuk bertahan. Percaya aku cukup pintar untuk cari jalan keluar. Percaya aku... percaya aku cinta kau cukup untuk gak nyerah."
Arjuna menatap matanya. Mata yang dia cinta. Mata yang udah jadi alasannya untuk bangun setiap pagi sejak mereka ketemu.
Dan dia tau. Dia tau gak ada pilihan.
Biarkan Sari pergi atau biarkan ratusan orang mati.
Pilihan yang gak ada yang bener.
Pilihan yang akan hancurkan dia apapun yang dia pilih.
"Lima menit," kata Adrian.
"Aku benci kau," bisik Arjuna sambil peluk Sari. Peluk sekuat yang dia bisa. "Aku benci kau karena bikin aku harus pilih. Aku benci kau karena kau terlalu baik. Terlalu... terlalu sempurna."
"Aku gak sempurna," Sari peluk balik. Wajahnya di dada Arjuna. "Aku cuma... cuma coba lakuin yang bener. Walau itu sakitin."
Mereka pelukan dalam diam. Pixel berdiri di pojok, natap mereka dengan mata yang juga basah. Dia gak bilang apa apa. Gak ada yang bisa dikatakan.
"Empat menit," kata Adrian. "Empat menit untuk putuskan. Sari ikut aku dan semua orang selamat. Atau Sari tetap di sini dan semua orang mati. Termasuk... termasuk anak umur lima tahun yang ada di video itu. Anak yang gak tau kenapa dia di sana. Yang cuma nangis panggil ibunya."
Sari lepas pelukan. Natap Arjuna terakhir kali.
"Aku cinta kau," bisiknya. "Aku cinta kau lebih dari apapun di dunia ini. Dan karena aku cinta kau, aku harus pergi. Karena aku tau kalau aku gak pergi, kalau ratusan orang mati karena aku, kau gak akan pernah bisa maafin dirimu sendiri."
"Sari..."
"Dan aku gak akan pernah bisa maafin diriku sendiri juga," lanjutnya. "Jadi kumohon. Kumohon biarkan aku pergi. Biarkan aku lakuin satu hal baik di hidup yang penuh dengan hal buruk ini."
Arjuna mau bilang sesuatu. Mau bilang jangan. Mau bilang mereka akan cari cara lain.
Tapi kata kata itu gak keluar. Karena dia tau gak ada cara lain.
Dia cuma bisa ngangguk. Ngangguk pelan sambil air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Sari berbalik ke Adrian. Jalan ke ayah biologisnya yang terbaring di lantai dengan darah dimana mana.
"Aku akan ikut," katanya. "Tapi dengan syarat. Kau lepas semua orang di sana. Sekarang. Di depan kami. Biar kami tau kau gak bohong."
Adrian tersenyum. Tangannya yang gemetar ketik di ponselnya. Beberapa detik kemudian, di video live itu terdengar bunyi. Bunyi pintu terbuka. Orang orang di sana mulai dibebaskan satu per satu.
"Puas?" tanya Adrian.
"Belum," jawab Sari. "Kau juga harus nonaktifin The Protocol. Permanently. Gak ada backdoor. Gak ada cara untuk aktifin lagi."
"Itu akan bikin aku gak punya power lagi," kata Adrian.
"Tepat," jawab Sari dingin. "Itu pointnya. Kau mau aku atau kau mau power. Pilih."
Adrian menatapnya lama. Lalu dia ketawa. Ketawa yang berubah jadi batuk darah.
"Kau bener bener anakku," katanya. "Kau punya keberanian yang sama. Ketegasan yang sama."
Dia ketik lagi di ponselnya. Layar berubah. Muncul interface yang rumit. Dia masukkin password panjang. Lalu tekan satu tombol besar.
"SHUTDOWN PROTOKOL PERMANEN," tulisan di layar.
"Selesai," kata Adrian. "The Protocol mati. Selamanya. Sekarang... sekarang bantuin aku berdiri. Kita harus pergi sebelum polisi datang."
Sari membantu Adrian berdiri. Pria itu hampir jatuh lagi tapi Sari tahan. Mereka jalan pelan ke pintu.
Arjuna cuma bisa berdiri di sana. Berdiri dan nonton orang yang dia cinta pergi dengan monster yang hancurkan hidupnya.
Di pintu, Sari berhenti. Noleh ke belakang. Natap Arjuna terakhir kali.
"Tunggu aku," bisiknya. Tapi Arjuna gak tau dia denger atau gak karena jaraknya udah jauh.
Lalu mereka pergi. Pintu ditutup.
Dan Arjuna jatuh berlutut lagi. Kali ini bukan karena marah. Tapi karena kakinya gak kuat lagi.
"Dia pergi," bisiknya. "Dia... dia pergi."
Pixel duduk di sebelahnya. Pegang bahunya.
"Dia akan balik," katanya. "Sari gak akan nyerah. Dia akan cari cara untuk balik."
"Atau dia gak akan," jawab Arjuna. "Atau Adrian akan bikin dia lupa tentang aku. Tentang kita semua. Seperti dia bikin dia jadi orang lain."
Di lantai, tubuh Hendrawan masih terbaring. Dingin. Mati.
Ayahnya mati.
Cinta hidupnya pergi.
Dan Arjuna tinggal sendirian di ruangan penuh mayat dengan pilihan yang dia buat.
Pilihan yang akan dia sesalin setiap hari untuk sisa hidupnya.
Tapi setidaknya ratusan orang di luar sana hidup.
Setidaknya dia gak jadi pembunuh.
Setidaknya dia masih manusia.
Walau menjadi manusia di saat kayak gini rasanya lebih sakit daripada mati.