Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-1
Suara alarm dari ponsel tua dengan layar retak itu memekakkan telinga tepat pukul 04.00 pagi. Elisa terbangun, mengerjapkan matanya yang masih terasa berat. Kamar kontrakan berukuran 3x4 meter itu masih gelap, hanya diterangi lampu jalan yang merangsek masuk melalui celah ventilasi.
Di sampingnya, sang adik, Aris (10 tahun) masih terlelap. Adiknya itu tidur meringkuk, memeluk guling yang sudah kempes isinya. Elisa tersenyum tipis, mengusap dahi Aris perlahan agar tidak mengusik mimpi bocah kelas 4 SD itu.
"Satu hari lagi, Lis. Demi Aris," gumamnya pada diri sendiri.
Elisa bergegas ke kamar mandi umum di ujung lorong kontrakan. Air dingin yang menusuk tulang langsung menyambar kulitnya, seolah menamparnya agar sadar sepenuhnya. Hari ini jadwalnya padat. Setelah mencuci pakaian milik tetangga yang ia ambil sebagai sampingan, ia harus bersiap untuk shift pagi di gerai ayam goreng Crispy Joy, lalu lanjut menjadi kurir makanan freelance di sore hari.
Pukul 06.00, Elisa sudah berkutat di dapur kecilnya. Hanya ada nasi putih dan satu butir telur yang ia dadar tipis-tipis, dibagi dua untuk sarapan Aris dan bekal sekolah adiknya.
"Kak, hari ini Aris pulang jam satu. Boleh aris main bola dulu sebentar di lapangan?" tanya Aris yang sudah rapi dengan seragam putih-merahnya.
Elisa mengoleskan sedikit margarin ke nasi hangat Aris. "Boleh sayang, tapi jangan sampai telat makan siang ya. Di meja makan nanti sudah Kakak siapkan tempe goreng. Jangan lupa ganti baju dulu kalau mau main."
"Siap, Bos!" Aris memberi hormat dengan riang.
Elisa menatap punggung adiknya yang menjauh menuju sekolah. Ada rasa sesak yang sering muncul di dadanya. Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka dua tahun lalu, Elisa terpaksa membuang impiannya untuk kuliah. Beasiswa yang ia dapatkan sia-sia karena tidak ada yang bisa membiayai hidup Aris jika ia fokus belajar. Baginya, melihat Aris bisa tetap sekolah dan tidak merasa kekurangan adalah prioritas tunggalnya.
_______
Sementara itu, di sebuah mansion megah yang terletak di kawasan elit perbukitan, Kalandra baru saja menyelesaikan rutinitas olahraganya. Tubuhnya yang atletis bersimbah keringat, dan memantulkan cahaya lampu kristal di ruang gym pribadinya.
Kalandra adalah definisi kesempurnaan yang dingin. Sebagai putra tunggal dari keluarga Mahendra, konglomerat nomor satu di negeri ini, ia memikul beban ekspektasi yang besar. Namun, Kalandra bukanlah tipikal anak manja. Ia tegas, disiplin, dan cenderung menutup diri, terutama dari wanita.
"Lan, sarapan dulu. Papa dan Mama tunggu di meja makan," suara lembut namun berwibawa milik Ny. Siska, ibunya, terdengar dari balik pintu.
Kalandra mengangguk singkat. "Lima menit lagi, Ma."
Di meja makan yang panjangnya bisa menampung dua puluh orang itu, suasana terasa hangat namun tenang. Tuan Mahendra, sosok pria paruh baya yang masih terlihat gagah, sedang membaca koran digitalnya.
"Perusahaan di Singapura meminta laporan audit minggu depan. Papa mau kamu yang berangkat, Lan," ucap Tuan Mahendra tanpa basa-basi.
"Baik, Pa. Semua sudah siap di meja kerja saya," jawab Kalandra datar.
Siska menghela napas. "Lan, sesekali bawalah teman. Atau setidaknya, bergaullah sedikit. Usiamu sudah tidak muda lagi Nak. Mama dengar kemarin malam kamu melewatkan pesta ulang tahun putri rekan Papa hanya untuk memeriksa gudang?"
Kalandra menghentikan gerakan sendoknya. "Gudang itu lebih penting daripada basa-basi tidak berguna, Ma."
Siska dan suaminya saling pandang. Mereka adalah orang tua yang sangat demokratis dan tidak pernah memandang status sosial siapapun. Mereka hanya khawatir pada putra mereka yang seperti robot. Kalandra tidak pernah membiarkan wanita mendekat lebih dari jarak profesional.
"Kami hanya ingin kamu bahagia, bukan hanya kaya, kami juga ingin kamu menikah Landra. Usiamu sudah masuk kepala tiga!”pungkas Tuan Mahendra tegas.
🍂🍂🍂
Siang itu, matahari sangat terik. Elisa menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang dikalungkan di leher. Ia baru saja menyelesaikan shift di gerai ayam. Sekarang, ia mengenakan jaket hijau dari aplikasi ojek online miliknya.
Ting!
Sebuah pesanan masuk. Lokasinya adalah Hotel Grand Aurora, hotel bintang lima paling mewah di pusat kota.
"Wah, tip-nya pasti besar kalau ke sini," gumam Elisa dengan mata berbinar. Ia tidak tahu bahwa pesanan makanan yang ia ambil hanyalah awal dari benang merah yang akan mengikat hidupnya dalam penderitaan dan takdir yang rumit.
Elisa memacu motor tuanya, membawa sekotak makanan mewah yang dipesan seseorang di kamar 1001. Di saat yang sama, di dalam hotel tersebut, Kalandra sedang terjebak dalam sebuah pertemuan bisnis yang diam-diam telah direncanakan oleh rival bisnis ayahnya untuk menjatuhkannya dengan cara yang kotor melalui sebuah minuman yang sudah dibubuhi zat perangsang dosis tinggi.
Langkah mantap Elisa menuju lift, dan langkah limbung Kalandra menuju kamarnya, sedang berada di garis waktu yang akan bersinggungan secara tragis.
_____________
Bagaimana kelanjutannya?…
Ikuti ceritanya terussss🙏🏻