NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbohong

“B-bukan…” ujar Mirea saat tubuhnya dibantu berdiri oleh ketiga kakaknya.

“Buk… bukan begitu…” katanya terbata-bata, menunduk dalam dengan bahu sedikit gemetar, kedua tangannya merapatkan bajunya rapat-rapat seolah masih ketakutan.

“Dik, Mire, jangan takut,” ujar Aren pelan, suaranya dibuat setenang mungkin untuk menenangkan.

“Ceritakan ke kakak… sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Boris bisa sampai seperti itu?” lanjutnya, nadanya lembut tapi jelas menuntut penjelasan.

Mirea membenarkan pakaiannya sekali lagi, lalu menunduk semakin dalam. Wajahnya tampak pucat, matanya sedikit berkaca-kaca, aktingnya nyaris sempurna.

“T-tadi…” suaranya gemetar.

“Dia menyelinap masuk ke kamarku… mau ganggu aku…”

Semua orang langsung terdiam.

“Terus… waktu dia lagi buka celana…” Mirea berhenti sejenak, seolah sulit melanjutkan.

“Tiba-tiba dia berubah aneh. Seperti kepribadiannya terbelah. Dia teriak sendiri, marah sendiri… lalu menampar-namoar wajahnya sendiri…”

Ia mengangkat wajahnya sedikit, ekspresinya polos dan ketakutan.

“Dia… dia malah berkelahi sama dirinya sendiri, kak…”

Sontak Rosse dan Adela saling toleh.

“Hah?”

“Serius…?”

Keduanya terpaku, benar-benar bengong.

“Kakak, aku takut banget…” lanjut Mirea dengan suara merengek, tubuhnya sedikit gemetar seperti gadis lemah yang baru saja mengalami trauma.

“Jadi maksudmu semua luka ini… yang bikin adalah Pak Boris sendiri?” teriak Adela, suaranya campuran kaget dan tidak percaya.

Mirea hanya menunduk, terlihat semakin kecil dan rapuh.

“Cewek lemah seperti aku…” lanjut Mirea dengan suara lirih.

“Ngangkat kursi saja nggak kuat, mana mungkin bisa mukul dia sampai seperti itu…”

Ia menunduk semakin dalam, bahunya sedikit bergetar, benar-benar terlihat seperti gadis rapuh yang ketakutan.

Sementara itu, Rosse perlahan mendekat ke arah Boris yang masih tergeletak di lantai. Wajahnya penuh luka, napasnya berat dan tidak teratur.

“Pak Boris…” panggil Rosse pelan, berjongkok di sampingnya.

“Apa yang dia bilang itu benar?”

Boris hanya menggerakkan kepalanya sedikit. Dari bibirnya keluar suara tawa kecil yang tidak jelas.

“Hah… ha… ha…”

Lalu kepalanya kembali terkulai. Tubuhnya tak bereaksi lagi, setengah sadar, nyaris pingsan sepenuhnya.

Theo yang sejak tadi mengamati akhirnya ikut mendekat. Ia berlutut, lalu dengan kasar memegang wajah Boris, mencengkeram kedua pipinya agar kepalanya terangkat.

“Huh…” gumam Theo dengan ekspresi heran.

“Kalau benar ini perbuatan kepribadian keduanya…”

Matanya menyipit meneliti kondisi Boris.

“Kepribadian kedua ini brutal banget,” lanjutnya pelan.

“Sampai begini keadaannya… hampir nggak berbentuk lagi.”

Theo melepaskan wajah Boris perlahan, lalu berdiri kembali.

“Sudah cacat,” tambah Aren dengan suara dingin.

“Masih berani sentuh adikku.”

Nada suaranya penuh amarah yang ditahan. Sementara itu Noel hanya berdiri kaku, menoleh ke kanan dan kiri, masih tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya campur aduk antara kaget, bingung, dan marah.

“Cepat,” perintah Aren lagi dengan tegas.

“Buang saja dia. Suruh keluarga Saputra menjemputnya.”

Boris yang masih setengah sadar tiba-tiba menggerakkan tangannya. Dengan sisa tenaga, ia menunjuk ke arah Mirea, mulutnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu—namun tak satu pun kata keluar dengan jelas.

Jelas tak ada yang memperhatikan hal itu karna sudah ada beberapa penjaga masuk ke dalam kamar, mengangkat tubuh Boris yang lemas, lalu membawanya keluar menuju aula tanpa banyak bicara.

Di luar kamar, Kael dan Farel yang melihat pemandangan itu sama-sama terdiam.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Farel sambil mengusap dagunya, berpikir keras.

Ia melirik tubuh Boris yang dibawa pergi.

“Dua kepribadian… demi rebutan cewek?” katanya setengah tak percaya.

“Sampai bikin dirinya sendiri cacat begini?”

Sementara itu Kael hanya berdiri diam, menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi datar. Tatapannya kali ini berbeda dari biasanya tidak ada senyum, tidak ada sikap santai. Yang ada hanya sorot mata dingin, seolah sedang menimbang sesuatu.

Di aula, tubuh Boris yang setengah sadar kini sudah terbaring di hadapan banyak tamu undangan. Keributan kecil pun mulai terdengar. Beberapa orang tampak terkejut, sebagian lainnya berbisik-bisik dengan wajah penasaran dan takut.

“Hal seperti ini… aku belum pernah dengar,” gumam Farel pelan, masih menatap ke arah Boris.

Tepat saat itu, pandangan Kael teralihkan.

Dari arah tangga, Mirea terlihat menuruni anak tangga perlahan, dipapah oleh Aren. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya seolah masih gemetar, persis seperti gadis yang baru saja mengalami trauma.

Namun justru pemandangan itulah yang membuat Kael semakin menyipitkan mata.

Belum pernah dengar sama sekali…

Kalau begitu, artinya ada yang sedang berbohong.

Batin Kael masih tertuju pada Mirea, menatapnya dengan sorot mata Yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi tatapan penuh minat, melainkan tatapan tajam seolah sedang menguliti sebuah rahasia.

“Tidak apa-apa,” ujar Aren lembut, menatap adiknya yang terdiam dan terlihat shock.

Mirea hanya mengangguk kecil. Wajahnya tetap tertunduk, terlihat rapuh di mata semua orang. Namun di dalam kepalanya, pikirannya justru berputar cepat.

Tatapan Kael… kenapa berubah?

Aneh. Padahal rencanaku sudah rapi sekali.

Jangan sampai semua ini gagal gara-gara dia.

Tiba-tiba suasana aula pecah.

“Siapa yang memukul anakku?!”

Suara seorang wanita terdengar melengking dari arah pintu masuk. Suaranya penuh amarah dan kepanikan, membuat seluruh tamu spontan menoleh ke sumber suara itu.

Seorang wanita paruh baya dengan riasan mahal dan gaun elegan masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya pucat namun matanya menyala penuh emosi saat melihat Boris terbaring dalam kondisi mengenaskan.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!