Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuma orang mati yang di sujudi
“Siapa yang mukul anakku?!”
Teriakan itu menggema di seluruh aula, memotong suara obrolan para tamu. Beberapa orang refleks menoleh, sebagian bahkan berdiri dari kursi mereka karena kaget.
Bu Santi, ibu Boris Johnson, berlari masuk dengan wajah panik. Napasnya terengah, matanya langsung tertuju pada satu sosok di tengah ruangan. Begitu melihat tubuh Boris terbaring di lantai, ia seketika menjatuhkan diri di sampingnya.
“Boris! Nak! Bangun, Boris!”
Tangannya mengguncang bahu Boris berulang kali, suaranya bergetar antara panik dan histeris. Ia menepuk pipi anaknya, menarik wajahnya agar menatap ke atas, tapi tubuh Boris tetap lemas tak bereaksi.
Aren yang berdiri tak jauh dari sana melangkah maju. Posturnya tegak, wajahnya dingin. Satu tangannya masih menopang Mirea di sisinya, seolah memberi isyarat bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekat terlalu jauh.
“Kebetulan banget kamu datang,” ujar Aren dingin.
Bu Santi menoleh. Begitu mendengar nada suara Aren, ia langsung berdiri dari posisi berlututnya. Wajahnya berubah total, panik berganti amarah. Tatapannya tajam, penuh tudingan.
“Anakmu sudah gangguin adikku,” lanjut Aren tegas.
“Keluarga Johnson harus kasih penjelasan.”
Ia melangkah satu langkah lebih dekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. Suasana di antara mereka terasa menekan, seperti udara di ruangan mendadak menipis.
Namun alih-alih merasa terintimidasi, Bu Santi justru tersenyum miring. Senyum yang tidak mengandung empati sedikit pun, lebih mirip senyum meremehkan.
“Kau mau aku kasih penjelasan apa?” bentaknya.
“Dia itu cuma anak orang kaya baru! Anakku, Boris, mau sama dia itu justru keberuntungan buat kalian!”
Tangannya terangkat, menunjuk ke arah keluarga Rothwell satu per satu. Gerakannya kasar, penuh penghinaan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah tamparan terbuka.
Ucapan itu langsung membuat wajah ketiga kakak Mirea mengeras. Rahang Aren mengatup, urat di leher Theo tampak menegang, sementara Noel mengepalkan tangan tanpa sadar.
Bu Santi lalu menoleh lagi ke arah Boris yang terbaring di lantai aula. Gaun mahalnya terseret sedikit saat ia melangkah mendekat, lalu ia berbalik menghadap semua orang dengan mata merah karena emosi.
“Sekarang lihat anakku!” teriaknya.
“Dia sampai nggak sadarkan diri begini, dan kalian masih berani nuduh anakku?!”
Suasana aula mendadak sunyi. Beberapa tamu yang tadi berbisik kini terdiam, menahan napas, menunggu kelanjutan drama yang semakin panas.
Bu Santi kembali menatap Aren tajam. Tatapannya penuh tuduhan, seolah semua kesalahan di dunia ini ada di pihak mereka.
“Kamu bilang anakku yang godain dia?”
“Menurutku justru adikmu itu yang godain anakku!”
Jarinya terangkat, menunjuk lurus ke arah Mirea. Gerakan itu membuat beberapa tamu refleks menoleh mengikuti arah tunjukannya.
“Bu Santi, jelas-jelas anakmu yang salah duluan!” Theo akhirnya meledak.
“Kenapa malah limpahin kesalahan ke adik kami?!”
Nada suara Theo keras, bergetar menahan amarah. Langkahnya maju setengah, seolah siap berdiri paling depan jika situasi berubah jadi lebih buruk.
Sementara itu, Mirea sendiri hanya menunduk, berdiri di balik Aren. Bahunya sedikit gemetar, rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Dari luar, ia terlihat rapuh seolah benar-benar ketakutan, seperti korban yang terpojok di tengah pertengkaran orang-orang dewasa yang saling menyalahkan.
Di sudut aula, Kael hanya meneguk minumannya pelan. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya tak lepas mengamati keributan di tengah ruangan itu, seolah sedang menilai sesuatu.
Bu Santi mendengus meremehkan.
“Anakku itu biasa ketemu cewek-cewek dari keluarga elit,” katanya sinis. “Mana mungkin dia tertarik sama cewek kampungan.”
Ia kembali menunjuk Mirea, jarinya terangkat tajam.
“Menurutku dia yang menggoda anakku! Makanya Boris sampai jadi kayak gini!” “Keluarga Rothwell harus tanggung jawab penuh!”
Suasana aula langsung riuh. Para tamu mulai berbisik-bisik, sebagian saling menoleh, sebagian lagi menatap Mirea dengan pandangan penasaran dan menghakimi.
Rosse, yang sejak tadi menunggu celah, akhirnya tersenyum tipis.
“Boris itu pewaris keluarga elit,” ujarnya lantang, suaranya sengaja diperkeras. “Mana mungkin dia mau sama anak orang kaya baru.”
Adela di sebelahnya ikut mengangguk, menimpali dengan nada yakin. “Kami juga lihat sendiri, Mirea yang duluan mendekati Boris.”
Mendengar itu, Noel tak bisa menahan diri lagi.
“Kalian ngomong apa sih?!” bentaknya, emosinya meledak. Ia langsung menyingkap lengannya, melangkah cepat ke arah Rosse dan Adela seolah hendak meninju—
Tapi Aren dan Theo segera menariknya dari kedua sisi, menahan tubuh Noel sebelum situasi benar-benar berubah jadi perkelahian. Nafas Noel memburu, dadanya naik turun, sementara tatapannya masih tajam mengarah ke Rosse dan Adela.
“Lihat kan?” Bu Santi langsung memanfaatkan situasi, suaranya meninggi. “Bahkan mau main kasar juga. Memang tipikal orang kaya baru.”
Kata-katanya menggema di aula yang sudah tegang.
Bisik-bisik para tamu makin ramai, seperti gelombang kecil yang saling bersahutan.
“Perkataan Bu Santi ada benarnya…” “Kelihatan temperamental…”
Rosse dan Adela saling pandang. Sudut bibir mereka terangkat, senyum tipis penuh kepuasan—seolah berhasil menyalakan api di tengah kerumunan.
Bu Santi lalu mengangkat tangannya, menunjuk lurus ke arah Mirea.
“Cepat bawa anakku ke rumah sakit!” “Dan suruh dia bersujud minta maaf ke anakku!”
Mirea menggenggam tangannya erat. Kepalannya mengepal, kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri sampai memutih. Bahunya sedikit bergetar, bukan karena takut—melainkan karena menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.
Perlahan, wajahnya terangkat.
“Yang perlu disujudi…” ucapnya pelan. Suaranya tenang, terlalu tenang, tapi setiap katanya terasa berat dan menekan, “cuma orang mati.”
Seolah seseorang mematikan suara di aula.
Seluruh ruangan langsung terdiam.
Tiga kakaknya menoleh bersamaan ke arahnya, ekspresi mereka berubah serempak.
“Kamu bilang apa?” tanya Bu Santi, matanya membelalak.
Mirea menatapnya lurus. Wajahnya datar, tak ada senyum, tak ada ragu.
“Aku bilang,” ulangnya pelan, nadanya tetap dingin, “yang pantas disujudi… cuma orang mati.”