NovelToon NovelToon
Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Kultivasi : Menilai Kecantikan, Meningkatkan Kekuatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Timur / Action / Fantasi Isekai / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)

Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.

Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.

Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.

Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 : Suara dari Air Mata Kehidupan.

[PoV Lin Jie]

Aku terbangun sebelum benar-benar sadar kenapa.

Bukan karena mimpi buruk, bukan pula suara dari luar rumah. Sensasinya lebih halus, seperti sentakan kecil yang datang dari dalam dada. Getaran lembut merambat di kulit leherku, tepat di tempat liontin naga tergantung.

Saat aku membuka mata, kegelapan kamar tidak sepenuhnya gelap.

Liontin itu berpendar.

Cahaya perak samar keluar dari ukiran naga kuno, naik turun perlahan seolah mengikuti napasku. Aku langsung duduk. Rasa kantuk menguap, digantikan kewaspadaan yang sudah lama tertanam di tulangku sebagai pewaris warisan ini.

Liontin naga tidak pernah menyala tanpa alasan.

Aku bangkit dari dipan dan melangkah ke rak kayu di sudut ruangan. Tanganku menemukan gulungan tua yang sudah kuhafal letaknya sejak kecil. Saat lentera kunyalakan, api kecilnya bergoyang, dan bayangan huruf-huruf kuno menari di dinding.

Aku membuka gulungan itu, membiarkan ingatanku menyatu dengan teks yang telah berkali-kali kubaca, tapi jarang benar-benar ingin kupahami.

Bagian tentang Komunikasi Rohani.

Mataku berhenti pada satu kalimat.

“Keturunan dengan Biji Cahaya yang terbangun sempurna mungkin mengalami komunikasi dengan roh penjaga lembah, terutama jika darah naga dalam diri mereka mulai aktif.”

Aku membaca kalimat itu perlahan. Lalu mengulanginya.

Jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya.

Bayangan pagi tadi muncul tanpa diminta. Shen Yu, dengan suara bayi yang belum utuh, mengatakan satu hal yang membuatku mengernyit saat itu.

Suara.

Saat itu aku menenangkan diri, mengatakan bahwa bayi sering bereaksi pada Qi lingkungan. Tapi sekarang, dengan liontin ini bergetar dan kalimat itu terpampang jelas di hadapanku, rasionalisasi terasa rapuh.

Aku menggulung kembali naskah itu dan berdiri.

“Mei,” bisikku sambil membuka pintu kamar adikku dan menyentuh bahunya. “Bangun. Ada sesuatu yang harus kita periksa.”

Dia membuka mata dengan cepat, membaca ekspresiku tanpa perlu penjelasan panjang.

Kami keluar rumah bersama, langkah kami ringan tapi tergesa. Udara malam lembah dingin dan jernih, Qi alam terasa lebih padat dari biasanya. Di atas kami, bulan purnama menggantung utuh, cahayanya menyelimuti lembah dengan warna perak yang nyaris tidak nyata.

Setiap langkah menuju mata air kehidupan membuat dadaku semakin berat.

Di tepi mata air itu, kami melihatnya.

Shen Yu terjaga.

Dia duduk sendirian di dekat air, tubuh kecilnya diam, matanya menatap permukaan mata air yang tenang seolah sedang berbincang dengan sesuatu yang tak terlihat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” suara Mei terdengar lebih rapuh dari yang ingin ia akui.

Shen Yu menoleh. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seorang bayi.

“Cuala,” katanya pelan. “Dali ail.”

Aku dan Mei saling memandang. Tidak ada senyum canggung, tidak ada upaya menertawakan keadaan. Hanya pengakuan diam-diam bahwa kami memikirkan hal yang sama.

Aku berlutut di samping Shen Yu dan mengeluarkan liontin nagaku. Cahaya peraknya semakin kuat, seolah merespons kedekatan dengan mata air.

“Suara seperti apa?” tanyaku, menjaga nadaku tetap lembut.

“Pelabuhan,” jawabnya setelah jeda singkat. “Cedih. Lilang … henjaga.”

Napas yang kutahan akhirnya keluar.

Aku tahu apa yang harus kulakukan, bahkan sebelum pikiranku selesai merangkai kemungkinan akibatnya.

Dengan gerakan perlahan, aku mencelupkan liontin naga ke dalam mata air kehidupan.

Saat itu juga, Qi di sekeliling kami berubah.

Air yang biasanya biru jernih mulai memantulkan cahaya perak, bukan sebagai pantulan bulan, tapi dari dalam dirinya sendiri. Riak-riak kecil menyebar dari titik sentuhan liontin, membentuk pola bercahaya di permukaan air.

Pola itu melebar.

Melengkung.

Menjadi sayap naga.

Udara bergetar. Rambut di tengkukku berdiri. Mei menahan napas di sampingku, dan Shen Yu menatap air tanpa rasa takut, seolah ini adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi.

Lalu suara itu muncul.

Bukan di kepalaku. Bukan hanya di hatiku.

Suara itu bergetar di udara, keluar dari mata air, jelas dan penuh beban waktu.

Keturunan Ling … akhirnya kalian kembali …

Dan pada saat itu, aku tahu.

Lembah ini tidak pernah benar-benar diam.

1
^_^
tampar balik aja wajahnya (๑˃ᴗ˂)ﻭ
Aku Suka Plagi, Kamu Diam
aku nunggu adegan insectnya kk
Auzora Taraka Vesta
yang komentar Ironside semua /Sweat//Sweat//Sweat/
Auzora Taraka Vesta: Tapi bagus tuh...bang yoga jadi ada reader setia /Proud//Smile/
total 5 replies
Ironside
/Doge/
Ironside
owalah, kukira timeskip
Ironside
Gak sadar, udah lima tahun aja 🗿
Lin Mei: kecepatan kalo timeskip lima tahun, Pace slow-burn ini bg Leo 🗿
total 1 replies
Ironside
Tidak bisa dipungkiri, memakai antithesis itu enak /Chuckle/
Ironside: bentuk keren dari penolakan
total 2 replies
Ironside
👀
Ironside
Dongjua /Tongue/
Lin Mei: ahh iya typo njrr
total 1 replies
Ironside
Pengungkapannya kurang bagus menurutku, sebenarnya bisa tunjukkan lewat deduksi Malingseng aja 👀
Lin Mei: iyasih seharusnya MC yg ambil kesimpulan soal mata saktinya, tapi yg tahu soal seluk beluk dunia itu cmn si ibu 😭
total 1 replies
Ironside
Mana mesumnya? 🥀💔
Lin Mei: belum 🗿
total 1 replies
Ironside
Mirip-mirip nih novel Fantim Ucok, gak pakai dinkus.
Lin Mei: fantim emang aku ambil referensi dari Ucok, termasuk pecah bab juga
total 1 replies
Ironside
kyknya ini lupa tanda petik
Lin Mei: jirr iyaa 🗿
total 1 replies
Ironside
Chapter ini mengingatkanku dengan satu karakter wanita berambut pink itu /Chuckle/
Lin Mei: hentikaaaan bg Leo /Curse/
total 1 replies
Ironside
Kebiasaan malingseng dengan elipsisnya
Lin Mei: aowkaowkaok hampir setiap dialog, bahkan narasi pun /Facepalm/
total 1 replies
Ironside
Yey ... susu itu kembali
@Xiao Han (GG) ୧⍤⃝🍌 : SUSU!!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!