Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Menenangkan Orang Tua
Revan melanjutkan, tidak memberi waktu bagi mereka untuk menenangkan diri.
“Dia menikah diam-diam. Tanpa membicarakan dengan siapa pun di keluarga. Tanpa restu siapa pun. Semua dilakukan dengan caranya sendiri.”
Mama Reni menutup mulutnya. “Renan… menikah diam-diam?” Nada suaranya campuran antara shock, marah, dan terluka.
Papa Herman menarik napas panjang, matanya mengeras.
“Siapa gadisnya? Dari keluarga mana? Apa latar belakangnya? Dan siapa yang berani merencanakan ini di belakang kita?”
Pemikiran pertama mereka.
Renan dimanfaatkan.
Renan ditipu.
Renan dijebak.
Dan mungkin, wanita itu sudah merencanakannya sejak lama. Banyak hal seperti itu terjadi dikalangan mereka.
Namun Revan menggeleng pelan.
“Gadis itu bukan siapa-siapa,” katanya pelan.
Papa Herman menatapnya tajam. “Apa maksudmu?”
“Dia yatim piatu. Tidak punya orang tua. Tidak punya dukungan keluarga."
Mama Reni menegang.
Dalam sekejap, bayangan ‘wanita licik’ runtuh.
Digantikan sesuatu yang jauh lebih berat.
Revan menelan ludah, lalu berkata lebih pelan.
“Dan dia… sebenarnya tidak ingin menikah.”
Keheningan jatuh lagi.
Mama Reni membeku.
Papa Herman perlahan memutar tubuhnya, menatap Revan dengan tatapan yang semakin serius.
“Jelaskan.”
Revan mengambil napas panjang. “Renan memaksanya. Gadis itu tidak menolak secara terbuka, tapi itu bukan karena dia benar-benar ingin. Dia tidak punya siapa pun untuk melindunginya. Dalam posisi itu, satu-satunya pilihan yang bisa dia lakukan hanyalah menurut.”
Nada suaranya lembut, tapi terasa seperti mengiris.
Mama Reni terdiam lama. Tangan di pangkuannya mengepal tanpa sadar.
Papa Herman menutup mata sebentar, kemudian tertawa pelan, hambar.
"He he he... itu benar-benar sesuatu yang akan dilakukan anak itu.”
Bukan tertawa karena lucu.
Tapi karena pahit.
Karena dia tahu.
Karena dia menyadari.
Karena ini memang Renan.
Anak yang keras kepala.
Egois.
Memaksakan kehendak ketika menginginkan sesuatu.
Mama Reni akhirnya berkata pelan. “Jadi, bukan gadis itu yang jahat.”
Dia tidak memanfaatkan, bukan pula yang menjebak.
Sebaliknya, Putra mereka yang dengan egoismenya menciptakan masalah.
Namun Revan tidak berhenti di situ. “Ada satu hal lagi yang harus Papa Mama tahu.” Suaranya semakin serius.
“Mau bagaimanapun, Renan bukan hanya melakukan ini karena keras kepala.” Matanya melembut.
“Dia benar-benar mencintai gadis itu.”
Mama Reni tersentak kecil. “Cinta?” bisiknya. Dia tidak percaya putranya yang egois itu bisa jauh cinta.
Revan mengangguk. “Untuk pertama kalinya aku melihatnya seperti itu. Dia bukan hanya posesif. Dia takut kehilangan. Takut gadis itu pergi. Takut gadis itu terluka.”
Ia menatap orang tuanya dalam-dalam. “Itulah kenapa aku memanggil Papa Mama pulang lebih awal. Aku harus memperingatkan.”
Nada suaranya berubah penuh ketegasan. “Tolong jangan mempermalukan gadis itu. Jangan membuatnya takut. Jangan menyudutkannya.”
“Karena kalau kalian menyakitinya meski hanya dengan kata-kata, Renan tidak akan tinggal diam. Dan aku takut dia bisa benar-benar kehilangan kendali.”
"Sudahkah kamu bertemu dengannya?" tanya Mama Reni penasaran.
Revan menggeleng, "Tidak. Dia sedang istirahat saat aku kembali. Heri bilang dia gadis yang sangat cantik."
“Anak nakal itu! Pasti dia tertarik hanya karena gadis itu cantik!” Papa Herman mendesis marah, wajahnya memerah menahan emosi.
Revan sempat ragu sebelum akhirnya membuka suara, “Yang lebih penting, sepertinya adik ipar sedang hamil.” Dia mengubah panggilannya agar orang tuanya tahu dia telah menerima istri Renan bergabung dengan keluarga mereka.
Kabar itu sontak membuat Papa Herman dan Mama Reni terdiam. Ada secercah kebahagiaan muncul, namun segera saja digantikan oleh rasa cemas yang berat.
Pernikahan itu terjadi begitu tiba-tiba, tanpa restu, tanpa persiapan. Lalu, bagaimana dengan anak itu?
“Benar-benar kurang ajar!” Papa Herman menggebrak sandaran tangan kursi. “Anak itu semakin tidak tahu aturan. Dia harus diberi pelajaran! Revan, kau tidak bisa terus memanjakannya. Kalau nanti Pap sendiri yang turun tangan, jangan menghalangi!”
Melihat putra sulungnya hendak membela Renan, Mama Reni segera menahan.
“Sudahlah, yang sudah terjadi tidak bisa diputar kembali. Sekarang tugas kita mencari jalan terbaik.” Suaranya lembut namun tegas.
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan keluarga pihak laki-laki. Kalau dia melihat kita memperlakukannya dengan baik, mungkin hatinya akan luluh.” Mama Reni menatap suaminya.
“Mereka sudah menikah. Apa kita mau membiarkan Renan jadi duda?”
Jika gadis itu baik, mereka akan menerimanya. Tapi bila gadis itu licik, maka Papa Herman sendiri yang akan menangani.
Namun bagi Papa Herman, satu hal tetap jelas. “Kalian berdua terlalu memanjakannya!” bentaknya pada kedua ibu dan anak itu. Inilah kenapa dia tidak bisa mendisiplinkan Renan hingga menjadi pembuat onar seperti ini.
Revan merasakan seseorang menatapnya.
Ia mendongak, Renan berdiri di balkon lantai dua, bersandar pada pagar besi, menatap ke bawah dengan senyum tipis.
Revan tahu arti tatapan itu.
Renan menyerahkan segalanya padanya, kemarahan orang tua, pertanyaan, bahkan masa depan pernikahannya.
Sejak kecil, Renan selalu seperti itu. Diam ketika mempercayakan, keras ketika mempertahankan.
Dia mengalihkan pandangannya dan menatap orang tuanya pelan-pelan berbicara, suaranya tenang namun penuh keyakinan. “Aku rasa Renan benar-benar menyukai gadis itu. Mungkin setelah menikah dia akan menetap dan berhenti main-main. Bukankah kalian juga bilang seorang pria akan lebih dewasa setelah menikah?”
Di lantai atas, Renan hanya terkekeh pelan mendengarnya.
Renan tahu kakaknya sedang berdiri di depannya, menanggung semua kemarahan yang seharusnya jatuh padanya.
Dan untuk sesaat, dadanya terasa sesak.
Ia berutang terlalu banyak pada Revan
“Revan, adikmu itu sudah dewasa. Kamu tidak bisa selalu membelanya seperti ini!” Papa Herman kembali mengomel.
Namun Mama Reni tidak setuju. “Memangnya salah kalau dua saudara saling melindungi? Kamu mau seperti keluarga lain yang saling beradu demi harta?” Nada suaranya tajam tapi penuh luka.
Papa Herman hanya mendengus kesal.
Saat suasana mulai mereda, Heri melangkah maju dengan hati-hati.
“Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap. Tuan Muda Kedua bilang, Nyonya Muda Kedua tidak boleh dibiarkan lapar.”
Ucapan itu membuat Papa Herman dan Mama Reni saling pandang.
Ya, bagaimanapun juga, menantu mereka sedang mengandung. Tidak seharusnya dibiarkan kelaparan.
“Baiklah, kita makan bersama nanti,” kata Mama Reni.
“Siapkan amplop. Bibi Meli, ambilkan gelang di kamar. Kita harus menyambutnya dengan baik. Walaupun anak itu tidak punya sopan santun, kita sebagai orang tua tidak boleh lupa etika.”
Revan baru teringat sesuatu.“Karena semua ini mendadak, aku belum sempat menyiapkan hadiah, kalau begitu rumah disebelah saja yang aku berikan padanya. Gadis yang tumbuh tanpa orang tua, yang paling dia butuhkan adalah rumah. Tempat berlindung yang benar-benar bisa ia sebut ‘rumah’.”
Ucapan itu membuat Mama Reni mengangguk pelan, matanya tampak berkaca. “Anak itu pasti sudah melalui banyak hal.”
Di sisi lain, Papa Herman hanya mendengus, tidak sepenuhnya setuju, namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi membantah.
Karena jauh di dalam hatinya, ia juga tahu.
Gadis itu kini adalah bagian dari keluarga mereka.
Dan apa pun yang terjadi, keluarga Morris harus bertanggung jawab.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta