NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepatu Merah dan Tragedi di Garis Finish

Dunia masa kecilku tidak selalu berisi tentang rindu yang syahdu atau perjuangan ekonomi yang berat, terkadang, ia juga berisi tentang tragedi konyol yang membuat mukaku memerah setiap kali diingat. Kejadian ini terjadi saat aku duduk di bangku TK B, sebuah momen yang membuktikan bahwa tekad sekuat baja sekalipun bisa kalah oleh panggilan alam yang mendesak.

Pagi itu, aku bangun kesiangan. Akibat terburu-buru memakai seragam kotak-kotakku, aku melewatkan ritual penting, buang hajat. Aku pikir perutku akan berkompromi, namun ternyata aku salah besar. Di tengah pelajaran, saat teman-temanku sibuk mewarnai, sebuah gelombang mulas yang dahsyat menyerang tanpa ampun.

Rasa sakit dan mulas itu menyatu menjadi sebuah badai. Aku duduk dengan gelisah, bergeser ke kiri dan ke kanan karena bulu kudukku sudah berdiri semua. Rasanya sesuatu di dalam sana sudah berada di "ujung" dan meronta-ronta ingin segera melihat dunia.

"Duh, jangan sekarang... jangan sekarang..." bisikku pada diri sendiri.

Pelajaran masih berjalan, tapi aku sudah tidak sanggup lagi. Dengan keberanian yang dipicu oleh rasa darurat, aku maju ke depan kelas tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu.

"Bu Guru, aku mau pulang dulu. Perutku sakit," kataku singkat dengan wajah pucat pasi.

Sebelum Bu Guru sempat menjawab atau memberiku izin, aku langsung menyambar tas, berbalik, dan lari tunggang langgang keluar kelas. Aku tidak peduli dengan tata krama lagi, ini adalah masalah hidup dan mati.

Di luar kelas, kerumunan ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anaknya menatapku dengan heran. Beberapa dari mereka mencoba bertanya, "Loh, kenapa pulang duluan?" tapi aku tidak menyahut. Aku terus berlari, menuruni jalanan desa yang terjal.

Sepatu merah pemberian Ajan, sepatu kebanggaanku, menapaki jalanan tanah dan bebatuan dengan lincah. Aku berlari seperti atlet lari gawang, melompati kerikil, menahan setiap goncangan yang membuat perutku semakin melilit.

"JANGAN DULU! HAMPIR SAMPAI!" teriakku dalam hati saat melihat atap rumah kami sudah menyembul di balik pepohonan.

Rumah sudah di depan mata. Hanya tinggal beberapa meter lagi menuju garis finish. Namun, malang tak dapat ditolak, benteng pertahananku akhirnya jebol tepat di depan halaman rumah. Sesuatu yang hangat dan tak terbendung meluncur begitu saja, mengotori celana dan kaki mungilku.

Ibu, yang kebetulan sedang berada di luar rumah, menatapku dengan dahi berkerut. Awalnya ia heran melihatku pulang sambil berlari kencang, namun ketika ia melihat "sesuatu" yang tiba-tiba keluar dari celanaku, matanya langsung membelalak. Ia bangkit dari duduknya dan berlari menghampiriku.

"Ya Allah, Nok! Kamu ini kenapa?!" seru Ibu sambil memegangi bahuku.

Tanpa banyak bicara, Ibu langsung menuntunku masuk ke dalam rumah. Dengan cekatan dan sedikit mengomel, ia membantuku membersihkan diri, membuang ampas yang memaksa keluar tadi, dan mengganti pakaianku.

"Kenapa tidak bilang guru kalau mau buang air besar? Kenapa harus lari sampai rumah?" tanya Ibu sambil menyiramkan air ke kakiku.

Aku hanya diam, menatap lantai dengan perasaan malu yang luar biasa, namun juga lega yang tak terkira. Perutku yang tadinya mulas seperti diremas-remas kini terasa sangat enteng dan damai. Kehampaan yang kurasakan kali ini bukan karena rindu, tapi karena ampas itu benar-benar sudah pergi.

"Lain kali bilang, jangan lari-lari begitu, nanti kalau jatuh bagaimana?" sambung Ibu lagi.

Aku tetap bungkam. Mau dijawab bagaimana pun, kejadian ini sudah telanjur terjadi. Aku tahu, mulai hari ini, kisah tentang "pelari maraton yang kebobolan" ini akan menjadi bahan candaan abadi bagi Ibu dan Ayah. Sebuah momen memalukan yang akan mereka ceritakan kembali di setiap kumpul keluarga sampai aku besar nanti.

Di balik rasa malu itu, aku belajar satu hal penting, tidak semua hal dalam hidup ini bisa ditahan, dan rumah adalah tempat terbaik untuk "melepaskan" segalanya, dalam arti yang paling harfiah sekalipun.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!