Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 Cengkeraman Terakhir
"Dokter! Tekanan darahnya hilang!" teriak perawat. Dokter kembali melakukan kompresi dada dengan keringat bercucuran. Di luar, Gus Azkar memegang kepalanya, ia merasa dunianya seolah akan runtuh untuk kedua kalinya.
Rina sudah hampir terbawa oleh cahaya itu. Kakinya sudah melayang. Namun tiba-tiba, sebuah tangan yang terasa keriput namun sangat hangat memegang pergelangan tangan Rina yang satunya.
"Rina... Cucu Nenek..."
Rina menoleh. Kali ini bukan Kakek, melainkan Neneknya yang sudah lama meninggal. Nenek menatap Rina dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh kasih sayang. Nenek menahan tubuh Rina agar tidak terseret lebih jauh oleh cahaya itu.
"Nenek... lepasin Rina, Kek. Rina mau ikut dia. Rina nggak mau balik lagi ke sana. Capek, Nek..." isak Rina sambil mencoba melepaskan pegangan Neneknya.
Namun, Nenek tidak melepasnya. Ia justru mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Rina, sebuah kalimat yang membuat jantung Rina di dunia nyata bergetar.
"Nak, di sana ada seseorang yang sedang belajar mencintaimu lewat jalur langit. Dia menyebut namamu di setiap sujudnya, memohon maaf atas setiap luka yang dia beri. Kalau kamu pergi sekarang, kamu tidak akan pernah melihat bagaimana indahnya dunia saat seseorang mencintaimu karena Allah, bukan karena paksaan."
Nenek tersenyum tipis. "Pria itu (Gus Azkar) sedang berdiri di depan pintu, menyerahkan seluruh egonya hanya untuk satu tarikan napasmu. Jangan pergi sebagai orang yang kalah, Rina. Kembalilah, dan buatlah takdirmu sendiri."
Cahaya itu masih menarik lengan Rina, namun bisikan Nenek membuat tekad Rina goyah. Rina berhenti meronta. Ia menatap ke arah "pintu" dunia yang gelap, di mana ia bisa merasakan kehadiran Gus Azkar yang sedang bersujud sambil menangis.
"Tapi Rina takut, Nek..."
"Nenek akan menjagamu dari sini. Kembalilah... tunjukkan pada dunia bahwa kamu kuat."
Nenek memberikan satu dorongan terakhir yang sangat lembut namun bertenaga. Rina terlepas dari cengkeraman cahaya itu dan terlempar kembali ke dalam raganya.
Di Ruang ICU
BIP... BIP... BIP...
Irama monitor jantung itu perlahan stabil kembali. Napas Rina kembali muncul, meskipun sangat tipis. Ia tidak langsung bangun, tapi ia sudah "pulang".
Dokter menyeka keringat di dahinya. "Ini keajaiban. Dia sempat lewat, tapi dia kembali lagi."
Gus Azkar yang melihat dari balik kaca langsung lemas dan terduduk di lantai. Ia terus mengucap istighfar. Ia tahu, Rina baru saja bertarung hebat dengan maut, dan ia berjanji di dalam hatinya: Demi Allah, jika dia membuka matanya lagi, aku tidak akan membiarkan setetes air mata kesedihan pun jatuh karena perbuatanku.
___________________________________________________
Rina masih dalam masa pemulihan setelah "pertarungan" di alam bawah sadar.
____________________________________________________
Suasana di dalam ruang ICU kini lebih tenang namun penuh dengan rasa haru yang menyesakkan. Dokter dengan cekatan memasang selang oksigen ke hidung Rina untuk membantu pernapasannya yang masih sangat pendek. Tubuh mungil itu tampak sangat kontras di antara peralatan medis yang besar dan dingin.
Meskipun mata Rina masih tertutup rapat dan kesadarannya belum pulih sepenuhnya, sesuatu yang mengharukan terjadi. Dari sudut matanya yang terpejam lemas, setetes air mata bening jatuh dan mengalir perlahan melewati pipinya yang pucat.
Air mata itu seolah menjadi saksi bisu atas pertarungan batin yang baru saja dialami Rina di alam bawah sadar—tentang cahaya yang mengajaknya pergi dan bisikan Nenek yang memintanya bertahan.
Gus Azkar, yang akhirnya diizinkan masuk oleh dokter setelah kondisi Rina stabil, duduk di samping ranjang. Ia terpaku melihat air mata yang mengalir di pipi istrinya. Dengan tangan yang masih bergetar, Azkar menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata itu dengan sangat lembut, seolah takut kulit Rina akan hancur jika ia menekannya terlalu keras.