"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27
Mendengar semua kalimat yang di ucapkan Sofia, membuat Keyla hanya bisa diam mematung di balik punggung Arlan dengan air matanya tak bisa lagi dibendung.
"Lihat dirimu, Arlan. Melindungi gadis kecil yang bahkan tidak tau cara menghapus air matanya sendiri dengan benar," sindir Sofia. "Apa yang kamu harapkan dari dia? Teman diskusi bisnis? Atau hanya sekadar pemuas ego karena kamu merasa hebat bisa menguasai anak yang belum tau kerasnya dunia?"
"Ibu, cukup! Jangan merendahkannya!" suara Arlan menggelegar, namun Sofia tidak gentar sedikit pun.
Wanita itu melangkah maju, melewati Arlan dan berdiri tepat di hadapan Keyla. Ia menatap Keyla dengan tatapan yang sangat menghina. "Dengar ya, Nona Keyla. Kamu itu tidak lebih dari sekadar kerikil di sepatu Arlan. Saat ini mungkin dia merasa tidak terganggu, tapi lama-kelamaan, kamu akan membuatnya lecet, menghambat langkahnya, dan akhirnya dia akan membuangmu ke selokan."
"Aku... Aku bukan kerikil," ucap lirih Keyla.
"Bukan?" Sofia tertawa hambar. "Kamu adalah beban. Karena kamu, Arlan berkelahi seperti preman. Karena kamu, citra perusahaan yang kami bangun puluhan tahun hancur dalam semalam. Kamu hanyalah parasit cantik yang menempel pada inang yang salah. Apakah Papamu tidak mengajarimu cara memiliki harga diri? Atau jangan-jangan... Papamu memang sengaja menjajakanmu pada putraku demi menyelamatkan bisnisnya yang hampir karam itu?"
"Ibu, cukup! Jangan bawa-bawa orang tuanya!" Arlan berteriak, napasnya tersenggal. Matanya merah padam. "Ibu boleh menghinaku, tapi jangan pernah sentuh Keyla atau keluarganya!"
"Oh, lihatlah pahlawan kita," Sofia melipat tangan di dada. "Pilih sekarang, Arlan. Jika kamu masih bersamanya, besok pagi aku akan mencabut seluruh aksesmu ke Dirgantara Group. Dan untukmu, Keyla... aku akan pastikan besok pagi Papamu menerima surat kebangkrutan. Aku punya kekuasaan untuk itu, dan kamu tau aku tidak pernah main-main."
"Jangan perdulikan Ibuku. Ayo pergi, Key," Arlan menarik tangan Keyla dengan kasar, membawanya menuju mobil. Ia tidak ingin Keyla mendengar satu kata pun lagi dari ibunya.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak sepatah katapun keluar dari bibir Arlan maupun keyla. Yang ada hanya suara isakan Keyla yang berusaha ia redam dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Arlan menyetir dengan kecepatan tinggi, emosinya tidak stabil. Setiap kali ia melirik Keyla, hatinya seperti diremas. Ia merasa gagal melindungi gadis yang ia cintai dari ibunya sendiri.
Dan begitu sampai di depan rumah Keyla, suasana masih sangat sepi. Arlan mematikan mesin, namun Keyla tidak segera turun.
"Om..." suara Keyla pecah. Ia menoleh ke arah Arlan. "Kita... kita udahan aja ya?"
Arlan tersentak, ia menoleh cepat. "Apa kamu bilang?"
"Kita putus, Om. Aku nggak bisa," tangis Keyla meledak lagi. "Tante Sofia bener. Aku cuma beban. Aku nggak mau Papa hancur gara-gara aku. Aku nggak mau Om kehilangan perusahaan Om gara-gara aku. Aku masih kecil, Om... aku nggak kuat kalau harus lawan orang sehebat Tante Sofia."
Arlan mencengkeram bahu Keyla, memaksanya untuk menatap matanya. "Lihat aku, Keyla! Tatap mataku!"
Keyla menggeleng lemah, terus menangis.
"Keyla! Aku tidak akan pernah melepaskanmu hanya karena ancaman kosong itu! Dirgantara Group bukan segalanya bagiku, tapi kamu adalah segalanya!" ucap Arlan dengan nada penuh emosi.
"Tapi Papa, Om! Papa bisa kehilangan segalanya!"
"Aku yang akan menjaganya! Aku punya kekuatan sendiri, Keyla. Aku bukan lagi bocah yang bisa diatur-atur oleh Ibuku!" Arlan menarik Keyla ke dalam pelukannya dan mendekapnya begitu erat. "Jangan pernah katakan kata putus lagi. Jangan pernah. Aku akan melawan dunia untukmu, tapi tolong... jangan akhiri hubungan ini."
"Tapi, Om. Aku takut..."
"Aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan Ibuku menyentuhmu atau Papamu sedikit pun. Percaya padaku, Keyla. Tolong, satu kali ini saja, tetaplah di sampingku."