Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe di Ujung Jalan
Pagi itu datang dengan biasa saja.
Alvaro duduk di kursi yang sama seperti sehari sebelumnya, dekat jendela besar kafe kecil di akhir jalan itu. Matahari baru saja terbit, sinarnya lembut, belum terasa panas. Jalan di luar masih sepi, hanya ada beberapa sepeda motor yang lewat, sesekali ada mobil yang melintas dengan pelan.
Di depannya, secangkir americano mengeluarkan uap perlahan.
Alvaro membuka laptopnya, menaruh kamera di samping tasnya, lalu menarik napas dalam-dalam. Ada perasaan nyaman yang aneh setiap kali ia duduk di sini. Walau kafe ini tidak terlalu istimewa. Meja kayu sederhana, kursi sedikit berderit, cat tembok tidak sempurna. Namun, justru hal-hal itulah yang memberikan suasana yang hidup.
Ia mulai mengedit foto-foto dari hari sebelumnya. Bangunan tua yang hampir ambruk, dinding berlumut, jendela yang retak. Jarinya bergerak pelan di trackpad, menyesuaikan kontras, memperjelas bayangan, dan mengurangi highlight. Ia bekerja dalam keheningan, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya terfokus.
Sesekali, ia melirik ke arah kasir.
Aurellia.
Wanita itu sangat sibuk. Ia bolak-balik antara mesin kopi dan rak gelas, dari meja ke kasir. Gerakannya cepat tetapi tetap teratur. Rambutnya diikat lebih tinggi hari ini, membuat lehernya tampak lebih panjang. Ia memakai apron yang sama seperti sehari sebelumnya, sedikit kotor dengan noda kopi.
Kafe mulai dipenuhi pengunjung.
Dua mahasiswa masuk, duduk di sudut, dan langsung membuka laptop. Seorang pria paruh baya memesan kopi hitam dan roti bakar. Tak lama, sepasang ibu-ibu datang sembari berbincang pelan.
"Pesanan siapa dulu? " tanya Aurellia sambil melihat catatan kecil yang ada di tangannya.
“Yang latte panas, Kak,” jawab salah satu mahasiswa.
“Baik. Silakan ditunggu ya.”
Alvaro memperhatikan dari kejauhan. Ia tidak bermaksud mendengarkan, namun suasana kafe membuat semua suara terasa begitu dekat. Suara mesin kopi, dentingan sendok, langkah kaki, dan suara Aurellia yang tenang—tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut.
Ia kembali menatap layar laptopnya.
Beberapa menit berlalu.
Alvaro menekan tombol save, lalu bersandar pada kursi. Ia mengangkat cangkir kopinya, menyesap pelan. Rasanya masih pahit, namun entah mengapa terasa pas.
"Kak Alvaro. "
Ia menoleh.
Aurellia berada di dekat mejanya, membawa kain lap kecil. "Aku mau bersihkan jendela, boleh? "
"Oh, iya. Silakan. "
Alvaro sedikit menggeser kursinya. Aurellia mulai membersihkan kaca jendela dari sisi dalam. Gerakannya sederhana, tetapi Alvaro mendapati dirinya kembali memperhatikan hal-hal kecil—cara tangannya bergerak, dan bagaimana ia sedikit berjinjit untuk mencapai bagian atas.
“Kakak lagi edit foto? ” tanya Aurellia tanpa menoleh.
“Iya,” jawab Alvaro. “Foto bangunan tua. ”
“Yang kakak foto kemarin itu? ”
“Iya. ”
Aurellia mengangguk pelan. “Aku suka bangunan-bangunan tua. Rasanya kayak menyimpan banyak cerita. ”
Alvaro tersenyum kecil. “Itu juga yang aku rasain. ”
Aurellia berhenti sejenak dari mengelap, lalu menoleh ke arahnya. “Kakak foto buat kerja, atau cuma hobi? ”
“Dua-duanya,” jawab Alvaro dengan jujur. “Kadang buat klien, kadang buat diri sendiri. ”
“Aku nggak paham fotografi,” kata Aurellia sambil tersenyum, “tapi aku suka liat orang yang menikmati pekerjaannya. ”
Pernyataan itu sederhana, tetapi cukup membuat Alvaro tertegun sejenak.
“Oh... gitu yaa,” katanya singkat. “Makasih. ”
Aurellia kembali mengelap jendela. Tak lama kemudian, seorang pelanggan memanggil dari kasir.
“Kak, pesanannya belum datang. ”
“Iya, tunggu sebentar, Pak. ”
Aurellia berjalan cepat ke arah mesin kopi. Alvaro menatap punggungnya sejenak, lalu kembali fokus pada laptop. Kali ini, ia berusaha benar-benar berkonsentrasi.
Ia membuka gambar lainnya. Cahaya pagi yang menerangi dari jendela kafe memantulkan sinarnya di layar komputernya. Ia melakukan penyesuaian warna dan mempertajam detailnya. Di tengah itu, pikirannya melayang kembali pada percakapan singkat yang baru saja terjadi.
Tidak berat. Tidak dalam.
Namun terasa nyata.
Beberapa saat setelah itu, Aurellia kembali berjalan bolak-balik. Kafe semakin padat. Suara mesin kopi mulai terdengar lebih sering. Alvaro sesekali mengangkat pandangannya, memastikan tas dan kameranya dalam keadaan aman, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Hampir satu jam berlalu.
"Kak, mau tambah kopi? "
Alvaro menoleh lagi. "Boleh. Tapi yang kecil saja. "
"Siap. "
Tak lama, secangkir baru diletakkan di atas mejanya. Kali ini, Aurellia tidak langsung pergi.
"Kakak biasanya edit foto apa saja? " tanyanya.
"Bermacam-macam. Pernikahan, produk, kadang foto jalan. "
"Foto orang juga ya? "
"Iya. " Alvaro berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Tapi aku lebih suka foto yang alami, nggak dipose. "
"Kenapa? "
"Lebih tulus. "
Aurellia mengangguk perlahan, seolah mengerti. "Kayaknya Kakak tipe orang yang nggak suka ribet. "
Alvaro tertawa kecil. "Mungkin. "
Aurellia juga tersenyum, lalu kembali ke kasir ketika pelanggan lain datang. Percakapan mereka terhenti begitu saja, tanpa salam perpisahan, tanpa penutup. Namun, itulah yang membuatnya terasa wajar.
Siang mulai menghampiri.
Cahaya matahari semakin terang. Jalanan di luar kafe mulai ramai. Alvaro menutup laptopnya sejenak, memijat lehernya yang mulai pegal.
Ia mengamati sekeliling.
Kafe itu tetap seperti semula. Tak ada yang berubah sejak pagi. Namun suasananya terasa berbeda dibandingkan kemarin. Lebih hidup, lebih hangat. Mungkin karena suara orang-orang. Mungkin juga karena ia sudah mulai merasa menjadi bagian kecil dari tempat ini.
"Kak Alvaro," panggil Aurellia dari balik kasir. "Kalo lama di sini, nanti aku kasih diskon dikit. "
Alvaro tertawa. "Wah, makasih banyaknloh. Tapi nggak usah juga gapapa. "
"Biar betah," jawab Aurellia dengan santai.
Alvaro mengangguk. "Aku emang betah. "
Pernyataan itu keluar begitu saja. Aurellia menatapnya sejenak, lalu tersenyum.
Menjelang sore, kafe mulai sedikit sepi. Beberapa pelanggan pergi dan digantikan wajah-wajah baru. Alvaro membuka laptopnya lagi untuk menyelesaikan edit terakhirnya.
Akhirnya, saat ia menutup laptop dan memasukkan kameranya ke dalam tas, Aurellia sedang merapikan gelas di rak.
"Udah mau pulang? " tanyanya.
"Iya. Besok mungkin dateng lagi. "
"Oh. Dateng lagi gapapa. " Aurellia memberikan senyuman kecil. "Aku tunggu. "
Alvaro berdiri, mengangguk pelan. "Pulang dulu yaa, Aurellia. "
"Iyaa kak Alvaro. Hati-hati di jalan. "
Suara bel pintu berbunyi saat Alvaro melangkah keluar.
Kafe itu kembali pada ritmenya sendiri. Namun bagi Alvaro, tempat sederhana di ujung jalan itu perlahan-lahan berubah menjadi lebih dari sekadar tempat untuk ngopi.
Dan tanpa ia sadari, kedekatan itu berkembang—perlahan, tenang, tanpa paksaan.
Malam itu, Alvaro pulang ke kos dengan perasaan yang lebih ringan dari biasanya. Ruangan kecil yang biasanya hanya berfungsi sebagai tempat tidur dan bekerja tiba-tiba terasa berkesan. Ia menaruh tas kameranya di kursi, melepaskan sepatu sembarangan, lalu terjatuh di kasur sambil melihat ke langit-langit.
Senyum kecil muncul tiba-tiba dan semakin lebar tanpa ia sadari. Ia teringat potongan-potongan obrolan sederhana di kafe—cara Aurellia menyebut namanya, nada suaranya ketika memberikan kopi, tawa ringan yang menghiasi kesibukan. Hal-hal kecil, namun entah kenapa memenuhi pikirannya.
Alvaro berdiri, menyalakan laptopnya, berencana untuk melanjutkan editan. Namun jarinya justru terhenti di trackpad. Ia membuka kembali folder foto dari kafe itu dan menatap beberapa gambar yang sempat diambil. Bukan foto Aurellia yang jelas—hanya bayangan, cahaya, dan suasana. Namun hatinya terasa hangat. “Gila,” ucapnya sambil tertawa pelan.
Selama ini, berbicara dengan wanita selalu terasa canggung, penuh dengan jeda dan kebutuhan untuk terlihat menarik. Kali ini berbeda. Ia tidak berusaha berpura-pura jadi orang lain. Ia hanya menjadi dirinya, dan itu sudah cukup.
Ia memasak mie instan, makan sambil berdiri, lalu kembali duduk di kasur. Ponselnya di tangan, tetapi tidak ada pesan yang benar-benar ingin ia baca. Pikirannya masih terperangkap di kafe di ujung jalan, di pagi yang damai dan siang yang mulai ramai. Alvaro menyadari sesuatu dengan tulus: ia sangat bahagia. Bukannya bahagia yang berlebihan, tetapi perasaan senang yang tenang baru saja hinggap.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin menanti hari esok—ingin kembali ke kafe itu, duduk di meja yang sama, dan melanjutkan obrolan yang terputus kemarin. Dan perasaan sederhana tapi mendalam itu membuatnya terlelap dengan senyum yang tak sempat ia hapus.