NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Istri Pengganti

Mengejar Cinta Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"

Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.

Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Pilihan di Ujung Dermaga

Hujan semakin deras, menciptakan tirai air yang mengaburkan pandangan. Shena menatap Adrian dengan ragu. Tawaran untuk pergi ke Singapura adalah tiket emas menuju kehidupan yang benar-benar baru, tempat di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai "istri pengganti" atau "jaminan hutang".

"Kenapa Anda melakukan ini, Tuan Adrian?" tanya Shena, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menghantam atap seng.

"Anda rekan bisnis Mas Devan. Membantu pelarianku bisa merusak hubungan kalian."

Adrian melangkah maju, sedikit menutup jarak agar payungnya bisa melindungi Shena dari percikan air. "Karena aku melihat apa yang tidak dilihat Devan, Shena. Aku melihat ketulusan yang disia-siakan. Devan adalah teman lama saya, tapi dia pria yang terlalu sombong untuk mengakui bahwa dia butuh diselamatkan. Aku tidak ingin melihatmu hancur hanya untuk menunggu dia sadar."

Shena menunduk, menatap sandal jepitnya yang sudah berlumpur. "Aku tidak ingin berhutang budi pada siapapun lagi, Tuan."

"Ini bukan hutang budi. Ini investasi untuk masa depanmu. Aku punya perusahaan desain di sana, dan aku tahu kau punya bakat terpendam yang selama ini terkubur oleh bayang-bayang Sarah. Pikirkanlah, Shena. Mobil sudah menunggu di ujung gang. Kita bisa ke bandara sekarang."

Sementara itu, hanya terpaut beberapa kilometer dari sana, Devan menghentikan mobilnya dengan kasar di depan "Warung Bu Siti" yang sudah hampir tutup. Ia turun tanpa payung, membiarkan setelan jas mahalnya basah kuyup dalam sekejap.

"Di mana gadis yang mengantar nasi tadi siang?" tanya Devan pada Bu Siti yang sedang merapikan kursi.

Bu Siti terkejut melihat pria yang tampak seperti model majalah namun basah kuyup dan terlihat kalut itu. "Siapa? Shena? Dia sudah pulang ke kos-kosannya di gang sebelah, Mas. Ada apa ya?"

Tanpa menjawab, Devan langsung berlari menuju gang yang ditunjuk. Jantungnya berdegup kencang. Firasatnya mengatakan bahwa dia hampir sampai, namun ia juga merasa waktu seolah sedang mengejarnya. Ia melewati lorong-lorong sempit yang becek, mengabaikan tatapan heran para penghuni pemukiman padat itu.

"Shena! Shena!" teriak Devan. Suaranya pecah, bercampur dengan deru badai.

Di teras kos, Shena sudah memegang gagang koper kecilnya. Ia menatap Adrian, lalu menatap kamar kos sempitnya yang baru ia tempati selama dua hari. Ia merasa lelah harus terus melarikan diri, tapi ia juga takut jika harus kembali ke neraka yang sama.

"Baiklah, Tuan Adrian. Aku iku—"

"SHENA!"

Langkah Shena terhenti. Suara itu. Suara bariton yang dulu selalu memerintahnya dengan dingin, kini terdengar penuh dengan keputusasaan dan rasa sakit. Shena berbalik dan melihat sosok pria berdiri di ujung gang. Devan Adiguna, dengan rambut yang lepek menutupi dahi dan pakaian yang melekat di tubuhnya karena basah, berdiri terengah-engah.

Mata mereka bertemu di antara rintik hujan. Untuk pertama kalinya, Shena tidak melihat amarah di mata suaminya. Yang ia lihat adalah kehancuran.

Adrian sedikit mengernyit, ia tidak menyangka Devan akan sampai secepat ini. "Devan, kau terlambat," ucap Adrian dengan tenang.

Devan melangkah maju dengan perlahan, matanya tidak lepas dari Shena. "Jangan pergi, Shena... Kumohon."

Shena mencengkeram erat gagang kopernya. "Untuk apa, Mas? Untuk menjadi cadangan Sarah lagi? Untuk menjadi jaminan hutang ayahku lagi? Aku sudah tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu."

"Bukan!" teriak Devan, air matanya kini luruh bersama air hujan. "Aku tidak peduli pada hutang itu lagi. Aku sudah menyita seluruh aset ayahmu bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk memastikan dia tidak bisa menjualmu pada siapapun lagi. Aku mencarimu bukan karena aku butuh istri pengganti..."

Devan berhenti tepat dua meter di depan Shena. Ia berlutut di atas tanah yang becek, mengabaikan martabatnya sebagai seorang Adiguna di depan orang-orang miskin yang menonton dari balik jendela mereka.

"Aku mencarimu karena rumah itu terasa seperti kuburan tanpamu. Aku mencarimu karena aku baru sadar bahwa yang aku cintai selama ini bukan Sarah, tapi kehadiranmu yang sabar... Aku mencarimu karena aku mencintaimu, Shena."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Shena. Kata-kata "aku mencintaimu" yang dulu sangat ia dambakan, kini terdengar seperti belati sekaligus obat bagi lukanya.

Adrian menyela, "Jangan percaya padanya, Shena. Dia hanya takut kehilangan kendali atas dirimu. Ikutlah denganku, dan kau akan benar-benar bebas."

Shena menatap Adrian, lalu kembali menatap Devan yang masih bersimpuh di depannya. Pria yang dulu begitu angkuh, kini tampak begitu kecil di bawah kakinya.

"Mas..." suara Shena bergetar. "Kau tidak bisa memperbaiki kaca yang sudah kau banting hingga hancur berkeping-keping hanya dengan kata maaf."

"Aku tahu," sahut Devan tersedu. "Maka biarkan aku memunguti kepingannya satu per satu, meskipun tanganku harus berdarah. Beri aku satu kesempatan untuk menjadi suami bagi Shena, bukan untuk suami dari pengganti Sarah."

Shena melepaskan gagang kopernya. Ia melangkah mendekati Devan, namun ia tidak membantunya berdiri. Ia berdiri di depan suaminya, membiarkan dirinya ikut basah oleh hujan.

"Jika aku kembali," bisik Shena, "aku tidak akan kembali ke kamar tamu itu. Aku tidak akan kembali sebagai tawanan. Aku akan kembali sebagai wanita yang punya hak untuk meninggalkanmu kapan saja jika kau menyakitiku lagi. Apakah kau siap, Devan?"

Devan mendongak, matanya memancarkan harapan yang redup. "Apapun, Shena. Apapun."

Adrian hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu ia telah kalah dalam pertempuran ini, bukan karena ia kurang baik, tapi karena hati Shena memang sudah tertinggal di rumah besar itu, terikat pada pria yang paling menyakitinya.

Shena menoleh pada Adrian. "Terima kasih, Tuan Adrian. Tapi sepertinya, aku harus menyelesaikan badai ini di tempat ia dimulai."

Adrian mengangguk hormat, lalu berbalik menuju mobilnya.

Devan berdiri dengan gemetar, ia mencoba meraih tangan Shena. Saat jari-jari mereka bersentuhan, Devan menarik Shena ke dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang terasa berbeda—tidak ada paksaan, hanya ada rasa takut kehilangan yang mendalam.

"Pulanglah denganku, Shena," bisik Devan di telinganya.

Shena tidak membalas pelukan itu dengan erat, namun ia juga tidak menolaknya. Ia tahu, perjalanan untuk benar-benar memaafkan Devan akan jauh lebih panjang daripada perjalanan ke Singapura.

Namun, saat mereka berjalan meninggalkan gang sempit itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Devan yang masih menyala di sakunya. Sebuah pesan dari Sarah:

"Kau pikir drama ini sudah selesai, Dev? Kau belum tahu apa yang sebenarnya direncanakan ayah kita berdua tentang pernikahan ini. Selamat datang di neraka yang sesungguhnya."

Shena belum tahu, bahwa kepulangannya ke kediaman Adiguna malam itu bukan akhir dari penderitaannya, melainkan awal dari konspirasi yang jauh lebih gelap yang melibatkan masa lalu ibunya, Ratna.

...****************...

1
Kostum Unik
🤭🤭🤭...
Kostum Unik
🤣🤣🤣
MayAyunda
keren 👍👍
😍
Marine
semangat author! ceritanya bagus
Veline: makasih 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!