Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Zahra Sahabat Naura
#
Pagi itu Naura lagi nyuci piring di dapur sambil sesekali ngeliatin Faris yang lagi main mobil mobilan di ruang tamu. Matanya sembab. Dari semalam nangis terus. Zidan udah berangkat kerja jam tujuh pagi tadi. Nggak sarapan. Nggak ngomong apa apa. Langsung pergi.
Tiba tiba bel rumah bunyi. Naura lap tangan pake serbet terus buka pintu.
Di depan pintu berdiri seorang perempuan pakai hijab pink, bawa tas besar, senyum lebar.
"NAURA!"
Naura melotot. "ZAHRA?"
Mereka langsung pelukan sambil teriak teriak kayak anak kecil. Faris yang di ruang tamu kaget terus nangis.
"Ya ampun Zahra! Kamu darimana? Udah berapa tahun nggak ketemu?"
"Iya! Terakhir ketemu waktu kamu nikah kan? Udah empat tahun lebih!"
Mereka masuk sambil masih pegangan tangan. Naura angkat Faris yang nangis terus goyang goyang.
"Ssshh Faris, ini Tante Zahra. Tante sahabat Ibu. Nggak apa apa."
Zahra duduk di sofa sambil ngeliatin rumah Naura. "Wah rumahmu bagus banget Naura! Beda banget dari terakhir kali aku kesana. Dulu kan kamu di kontrakan sempit. Sekarang punya rumah sendiri! Alhamdulillah ya!"
Naura senyum tipis sambil duduk di samping Zahra. "Iya Alhamdulillah. Suamiku lagi beruntung sekarang. Dapat kerjaan bagus."
"Aku dengerin sih dari Bu Mariam. Katanya suamimu jadi partner bisnis pengusaha kaya. Sukses banget. Aku seneng dengerin itu. Kamu pantas dapat kehidupan yang lebih baik."
Naura cuma senyum. Tapi senyumnya nggak sampe ke mata.
Zahra notice. "Eh tapi kamu kenapa? Matamu sembab. Abis nangis ya?"
"Nggak kok. Cuma kurang tidur."
"Naura, kita sahabatan dari SMP. Aku tau kalau kamu bohong. Ada apa sih? Cerita dong."
Naura diem sebentar. Dia bingung mau cerita apa nggak. Malu juga kalau cerita masalah rumah tangga. Tapi hatinya udah penuh banget. Butuh tempat curhat.
"Zahra... boleh aku cerita?"
"Boleh banget. Makanya aku kesini. Pengen ketemu kamu. Udah lama nggak ngobrol."
Naura tarik napas panjang. "Aku... aku takut Zidan berubah."
"Berubah gimana?"
"Dia... dia sekarang beda banget dari dulu. Dulu dia lembut. Sabar. Rajin sholat. Perhatian sama aku. Sekarang... sekarang dia sering marah marah. Bentak aku kalau aku ngingetin dia sholat. Pulang malem terus. Jarang ngobrol sama aku. Jarang main sama Faris."
Zahra dengerin dengan serius sambil pegang tangan Naura.
"Kemarin... kemarin dia bentak aku dengan keras. Pake kata kata kasar. Bilang aku nggak paham. Bilang aku cerewet. Padahal aku cuma ngingetin dia sholat. Itu aja dia udah marah."
Air mata Naura mulai jatuh.
"Aku takut Zahra. Takut dia makin jauh dari aku. Takut dia lupa sama Allah. Takut dia... takut dia nggak sayang lagi sama aku."
Zahra langsung peluk Naura. "Naura... jangan nangis. Mungkin dia cuma stress karena kerjaannya banyak. Orang kalau lagi stress suka marah marah. Nggak bermaksud jahat."
"Tapi Zahra, ini udah berbulan bulan. Bukan cuma sehari dua hari. Dia udah sering banget bolong sholat. Sering pulang malem. Sering belanja barang mahal yang nggak penting. Aku takut dia lupa sama janji janji kita waktu masih susah dulu."
Zahra mikir sebentar. "Naura, coba kamu inget. Zidan sekarang kan udah punya uang banyak. Udah masuk ke lingkungan orang orang kaya. Mungkin dia cuma mau ngikutin gaya hidup mereka biar nggak dikira kampungan. Biar dihargai. Itu wajar kok."
"Tapi kalau sampai ninggalin sholat? Kalau sampai kasar sama istri? Itu wajar juga?"
Zahra diem. Nggak bisa jawab.
"Aku... aku nggak kenal suamiku sekarang Zahra. Rasanya kayak dia orang lain. Bukan Zidan yang dulu nikah sama aku di masjid kampung dengan mahar seperangkat alat sholat. Bukan Zidan yang dulu rela kerja tiga tempat buat cari uang. Bukan Zidan yang dulu selalu peluk aku sambil bilang terima kasih udah mau nikah sama dia yang miskin."
Naura nangis makin keras. Zahra ikut nangis sambil peluk sahabatnya erat.
"Naura, mungkin ini cuma perasaanmu aja. Mungkin Zidan masih sama kayak dulu. Cuma caranya nunjukin sayang yang beda. Dia kan sekarang sibuk. Jadi wajar kalau nggak seromantis dulu."
"Tapi Zahra, dia bahkan nggak pernah nanya aku udah makan belum. Nggak pernah tanya Faris udah tidur belum. Pulang langsung main handphone. Terus tidur. Pagi bangun langsung pergi. Kayak aku ini pembantu di rumah sendiri."
Zahra usap punggung Naura. "Udah. Jangan terlalu dipikirin. Nanti kamu stress. Nanti sakit. Coba kamu ngomong baik baik sama Zidan. Bilang kamu butuh perhatian dia. Butuh waktu berdua sama dia. Mungkin dia nggak sadar kalau kamu ngerasa kesepian."
"Aku udah coba Zahra. Berkali kali. Tapi dia selalu bilang aku cerewet. Bilang aku nggak ngerti bisnis. Bilang aku cuma di rumah aja nggak tau susahnya cari uang."
"Dia bilang kayak gitu?"
"Iya. Kemarin. Pake nada tinggi. Pake kata kata kasar."
Zahra geleng geleng kepala. "Naura, aku nggak mau judge suamimu. Tapi kalau emang kayak gitu, kamu harus tegas. Jangan diem aja. Jangan nurut terus. Kamu istri dia. Bukan budak dia. Kamu punya hak buat dihargai. Buat diperhatiin. Buat dicintai."
"Tapi gimana caranya? Setiap aku ngomong dia malah marah."
"Coba kamu tunggu dia lagi mood bagus. Terus ngobrol serius. Bilang apa yang kamu rasain. Bilang kamu butuh dia. Kalau dia sayang sama kamu, dia pasti dengerin."
Naura mengangguk pelan sambil lap air matanya. "Iya. Aku akan coba."
Mereka ngobrol sampai siang. Zahra cerita tentang kehidupannya. Dia sekarang kerja jadi guru di SD swasta. Belum nikah. Masih jomblo.
"Aku iri sama kamu Naura. Udah punya suami. Punya anak. Punya rumah sendiri. Aku masih sendiri."
"Nggak usah iri. Kehidupanku nggak seindah yang kamu liat. Di balik semua ini, aku kesepian Zahra. Kesepian banget."
"Mudah mudahan cuma perasaanmu aja. Mudah mudahan Zidan cuma lagi sibuk. Nanti juga balik normal kayak dulu."
Naura senyum tipis. "Aamiin. Semoga."
Sore itu Zahra pulang. Naura antar sampai pintu sambil pelukan lama.
"Terima kasih udah dateng Zahra. Terima kasih udah dengerin curhatan aku. Aku ngerasa lebih ringan sekarang."
"Sama sama. Lain kali aku dateng lagi ya. Kita ngobrol lagi. Jangan sungkan sungkan kalau mau curhat. Aku selalu ada buat kamu."
"Iya. Terima kasih."
Setelah Zahra pergi, Naura duduk di sofa sambil meluk Faris yang lagi main. Hatinya sedikit lebih tenang. Setidaknya dia udah cerita ke seseorang. Nggak sendirian lagi.
Tapi di sudut hatinya, dia tau perubahan Zidan bukan cuma perasaannya. Ini nyata. Ini beneran terjadi.
Dan dia takut. Takut banget.
Takut suaminya akan terus berubah sampai nggak bisa balik lagi.
Takut keluarganya akan hancur.
Takut dia akan kehilangan Zidan selamanya.
Malam itu, waktu Zidan pulang jam sepuluh, Naura udah tidur. Dia capek banget. Fisik sama mental.
Zidan masuk kamar pelan pelan. Liat istrinya tidur sambil meluk bantal. Wajahnya keliatan capek. Mata sembab.
Sekilas dia ngerasa bersalah. Tapi cuma sekilas.
Dia ganti baju terus tidur di samping istrinya. Nggak peluk. Nggak cium kening kayak dulu. Cuma tidur.
Dan jarak di antara mereka makin lebar.
Jarak yang dulunya cuma sejengkal.
Sekarang jadi sejutaan mil.
Jarak yang akan terus melebar.
Sampai suatu hari nanti...
Mereka jadi dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Tapi untuk malam ini, mereka masih di kasur yang sama.
Masih di rumah yang sama.
Masih dalam ikatan pernikahan yang sama.
Meski hati mereka udah mulai terpisah.
Pelan.
Tapi pasti.