Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemandirian Di balik Cincin Emas
Kehidupan setelah pesta pernikahan ternyata tidak semerah jambu yang digambarkan dalam novel-novel picisan. Ketika gaun pengantin sudah digantung kembali di dalam lemari dan bunga-bunga dekorasi mulai layu, aku dan Mas Aris dihadapkan pada realitas yang sangat konkrit: kehidupan domestik di bawah atap yang sama. Rumah baru kami kini bukan lagi sekadar benteng pertahananku, melainkan ruang negosiasi antara dua kepala yang memiliki latar belakang berbeda.
Mas Aris adalah pria yang tumbuh dalam keluarga yang stabil, di mana seorang pria adalah pelindung mutlak. Sementara aku? Aku adalah wanita yang dibentuk oleh kerasnya jalanan, bau bawang yang menyengat, dan ketidakpercayaan pada siapapun kecuali pada nominal di buku tabunganku sendiri. Kemandirian bagiku bukan sekadar pilihan, melainkan insting bertahan hidup yang sudah mendarah daging.
Bulan pertama pernikahan, kami duduk di meja makan , meja yang sama di mana dulu aku dan Bayu sering menghitung sisa uang makan kami. Mas Aris mengeluarkan beberapa lembar amplop. Ia ingin mengambil alih seluruh biaya operasional rumah, termasuk cicilan bank yang selama ini menjadi "napas" hidupku.
"Maya, sekarang kamu istri saya. Biarlah cicilan rumah ini, biaya obat Ayah, dan belanja Ibu menjadi tanggung jawab saya. Kamu simpan saja gajimu untuk keperluan pribadimu atau tabungan masa depanmu sendiri," ucapnya dengan nada yang sangat lembut, bermaksud melindungi.
Namun, alih-alih merasa lega, jantungku justru berdegup kencang karena rasa panik yang aneh. Bagiku, membiarkan orang lain membayar cicilan rumah ini terasa seperti menyerahkan kunci kemerdekaanku. Aku takut jika suatu saat terjadi sesuatu, aku tidak lagi memiliki hak atas rumah ini. Trauma diusir oleh Paman di masa lalu membuatku selalu ingin memiliki kendali penuh atas properti yang kupijaki.
"Mas, aku menghargai niat baikmu. Tapi rumah ini adalah perjuanganku dan Bayu dari awal. Aku ingin tetap membayar porsiku. Aku tidak ingin menjadi penonton di rumahku sendiri," jawabku dengan suara yang mungkin terdengar sedikit terlalu keras.
Mas Aris terdiam. Ia menatapku dengan tatapan bingung. "Bukan begitu maksudku, Sayang. Aku hanya ingin kamu tidak terlalu lelah. Aku ingin kamu punya waktu untuk bernapas, untuk healing, untuk menikmati hidup tanpa harus dikejar target lembur setiap hari."
Perbedaan pandangan ini menjadi pematik konflik kecil di antara kami. Mas Aris mulai menyarankan agar aku mengurangi jam kerjaku, atau bahkan berhenti dan mencari pekerjaan yang lebih santai. Ia melihat betapa seringnya aku terbangun tengah malam karena mimpi buruk, dan ia beranggapan bahwa stres di kantor memperburuk kondisi mentalku.
"Kamu sudah berjuang sejak SD, Maya. Apa tidak cukup? Sekarang ada aku. Izinkan aku menjadi dindingmu," bujuknya suatu malam saat aku sedang sibuk di depan laptop menyelesaikan laporan keuangan kantor.
Aku menutup laptop dengan kasar. "Dinding bisa runtuh, Mas! Dinding rumah Nenek dulu juga kokoh, tapi aku tetap hancur di dalamnya. Aku tidak bisa menggantungkan hidupku sepenuhnya pada orang lain. Kalau aku berhenti kerja, dan sesuatu terjadi padamu atau hubungan kita, aku akan kembali menjadi gadis kecil yang tidak punya apa-apa. Aku tidak mau itu terjadi lagi!"
Kalimat itu meluncur begitu saja, tajam dan menyakitkan. Aris tampak terluka. Ia menyadari bahwa cinta dan komitmennya belum cukup kuat untuk menghapus ketakutan yang sudah tertanam selama belasan tahun. Ia akhirnya mengalah, namun suasana di rumah menjadi sedikit kaku selama beberapa hari.
Di sisi lain, kehadiran Mas Aris memberikan dampak positif bagi Ayah. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di teras sore hari. Aris dengan sabar mendengarkan cerita-cerita lama Ayah, sesuatu yang terkadang sulit kulakukan karena rasa lelahku. Aris memperlakukan Ayah dengan sangat hormat, seolah-olah Ayah adalah pahlawan, bukan pria yang pernah membiarkan anak-anaknya menderita.
Melihat kedekatan mereka, hatiku seringkali teriris. Aku merasa bersalah karena masih menyimpan sedikit dendam pada Ayah, sementara suamiku bisa begitu tulus menyayanginya. Aris seolah menjadi jembatan yang menghubungkan kembali retakan-retakan di keluarga kami yang tidak bisa kusatukan sendiri.
"Mas Aris itu orang baik, May. Kamu beruntung," ujar Ibu suatu hari saat kami sedang mencuci piring bersama. "Jangan terlalu keras padanya. Tidak semua laki-laki seperti Pamanmu atau... seperti Ayah dulu."
Aku terdiam. Aku menyadari bahwa aku seringkali memperlakukan Aris sebagai "ancaman" bagi kemandirianku, padahal ia hanya ingin menjadi pasangan yang mendukung. Aku mulai belajar untuk menurunkan sedikit egoku.
Suatu malam, aku menghampiri Aris yang sedang membaca buku di ruang tengah. Aku duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya—sebuah tindakan yang mulai kubiasakan untuk melatih rasa percayaku.
"Mas, maaf soal kemarin. Aku hanya takut kehilangan kendali atas hidupku sendiri," bisikku.
Aris meletakkan bukunya dan merangkulku erat. "Aku mengerti, Maya. Aku tidak akan memintamu berhenti kerja lagi. Tapi tolong, biarkan aku berbagi beban cicilan itu. Bukan karena aku ingin menguasai rumah ini, tapi karena aku ingin kita membangun masa depan bersama. Bagaimana kalau gaji kamu kita tabung khusus untuk renovasi atau pendidikan anak-anak kita nanti? Sementara cicilan bank rutin, biarlah aku yang pegang."
Setelah diskusi panjang, kami akhirnya mencapai kesepakatan. Aku tetap bekerja, namun aku mulai mengurangi jam lembur yang tidak perlu. Kami membagi pengeluaran dengan sangat transparan. Rasa takutku mulai memudar, berganti dengan rasa aman yang baru. Aku menyadari bahwa menjadi mandiri bukan berarti harus memikul segalanya sendirian sampai hancur.
Malam itu, aku melihat ke sekeliling rumah baru kami. Ada sentuhan-sentuhan baru di sana; foto pernikahan kami di dinding, tanaman hias yang dibelikan Aris, dan aroma kopi kesukaannya yang memenuhi ruangan. Rumah ini bukan lagi sekadar pelarian dari masa lalu, tapi sudah mulai menjadi tempat persemaian harapan baru.
Cicilan bank masih berjalan, dan luka di jiwaku mungkin masih butuh waktu lama untuk benar-benar menutup. Namun, dengan Aris di sisiku, beban itu terasa jauh lebih ringan. Aku mulai belajar bahwa "rumah" yang sesungguhnya bukan hanya soal sertifikat tanah atau dinding beton, tapi soal siapa yang tetap berdiri di sampingmu saat kamu merasa paling rapuh.
Aku adalah Maya. Wanita yang dulunya hanya percaya pada keringatnya sendiri, kini mulai belajar untuk percaya pada genggaman tangan suaminya. Dan itu, ternyata, adalah bentuk kesuksesan yang jauh lebih manis dari pada angka di saldo tabunganku.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..