Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkena musibah
Lampu monitor tua itu akhirnya meredup saat El menekan tombol Log Out. Di dalam benak bocah itu, wajah Cakra Ardiwinata sudah tersimpan rapat, lebih kuat dari memori angka-angka yang biasa ia hapal. Ada kepuasan yang membuncah, seperti sebuah potongan puzzle yang selama lima tahun ini hilang, kini telah ia temukan.
"Ayo Ghazi, kita harus bergegas pulang" bisik El penuh semangat. "Misiku selesai. Sekarang aku tahu siapa lawanku di papan catur ini."
"Lawan? Itu Ayahmu, El, bukan musuh!" Ghazi menggeleng-geleng heran melihat tingkah sahabatnya yang terlalu jenius itu.
"Justru karena dia Ayahku, aku harus punya strategi buat ketemu dia tanpa bikin Bunda ku menangis," jawab El mantap.
Tepat saat mereka melangkah keluar dari bilik warnet, suara adzan Ashar mulai berkumandang dari masjid desa, membelah udara sore Banyuwangi yang mulai sejuk.
"Hey bocah, maksudku El... Kau berhutang cokelat ya sama Kak Ros!" teriak Kak Ros dari balik meja kasir, sambil melambaikan tangan.
El menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dengan cengiran khasnya. "Tenang saja Kak, yang penting Kak Ros tidak mengadu sama Bunda Hana ya!"
"Siap, kau tenang saja... Rahasiamu dijamin aman!" sahut Kak Ros sambil mengedipkan sebelah mata.
"Assalamu’alaikum, Kakak Cantik!" seru El dan Ghazi kompak sebelum berlari kencang meninggalkan area warnet.
Sesampainya di persimpangan lapangan bola, El melambaikan tangannya pada Ghazi yang rumahnya berlawanan arah. "Sampai besok, Ghazi! Besok kita susun rencana tahap dua!"
El pun berlari sendirian, memotong jalan melewati aspal hitam yang masih terasa hangat sisa terik siang tadi. Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana cara mengirim pesan kepada pria berjas hitam di foto tadi. Namun, lamunannya buyar seketika saat suara raungan mesin motor sport terdengar dari arah tikungan.
Ckiiiiiiitttt!
Braakk!
"Aduhh!" El terjerembap ke aspal. Tubuh mungilnya terseret beberapa sentimeter. Rasa panas menjalar di lutut dan siku tangannya. Celana pendek kesayangannya robek, menampakkan luka lecet yang mengeluarkan darah segar. El yang biasanya tegar, tak sanggup menahan perih yang menyengat. Tangisnya pecah di tengah jalan yang sepi itu.
Seorang pria berjaket kulit hitam segera turun dari motor besarnya dengan wajah pucat pasi. Ia langsung berlutut di samping El, tampak sangat panik.
"Adik kecil, kamu tidak apa-apa? Tolong maafkan Om ya! Om tadi tidak melihatmu keluar dari balik pohon," ucap pria itu dengan suara berat yang bergetar. Ia segera menggendong tubuh El yang gemetar. "Tahan ya, kita ke Puskesmas sekarang. Om akan tanggung jawab."
Sementara itu, di teras rumah, Hana mondar-mandir dengan wajah gelisah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit.
"Bude, El belum pernah telat seperti ini. Dia janji pulang waktu Ashar," ujar Hana pada Bude Minah dengan suara gemetar. Rahma, sepupu sekaligus sahabat Hana, keluar dari juga dari rumahnya yang berada di sebelah dengan raut wajah yang sama cemasnya.
"Mungkin dia asyik main layangan, Han. Ayo, kita susul ke lapangan," ajak Rahma.
Hana dan Rahma pun bergegas berjalan cepat menuju arah lapangan bola. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Pak RT yang terlihat terburu-buru.
"Mbak Hana! Cari El, ya?" tanya Pak RT tertahan.
"Iya, Pak. Apa Bapak lihat El?"
Wajah Pak RT berubah muram. "Tadi saya mendapatkan kabar, ada anak kecil keserempet motor sport di dekat lapangan. Katanya dibawa ke Puskesmas oleh pengendaranya. Sepertinya itu El, Mbak..."
Jantung Hana seolah berhenti berdetak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia langsung berlari sekuat tenaga menuju Puskesmas, diikuti Rahma yang berusaha menenangkannya. Pikirannya kalut, namun satu hal yang ia takutkan melebihi luka fisik putranya adalah bertemunya El dengan Ayah kandungnya, entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa Cakra, alias mantan suaminya terus mencari keberadaannya dan juga Putranya hingga saat ini
Napas Hana memburu saat kakinya menapaki lantai ubin Puskesmas yang dingin. Bau khas antiseptik menyambutnya, namun pikirannya hanya tertuju pada satu nama, yakni El Barack. Di belakangnya, Rahma berusaha mengimbangi langkah Hana yang setengah berlari.
Tepat di depan ruang tindakan, seorang pria dengan jaket kulit hitam dan sisa debu di celananya sedang duduk menunduk, menautkan jemarinya dengan gelisah. Hana yakin, inilah pria yang dimaksud oleh Pak RT.
Dengan emosi yang meluap, Hana menghampirinya tanpa basa-basi. "Jadi... jadi Anda orang yang telah menabrak anak saya?"
Pria itu tersentak, menoleh, dan segera bangkit dari tempat duduknya. Tatapan matanya menunjukkan rasa penyesalan yang dalam. "Maaf, apakah Anda ibunya El?"
"Iya betul! Kau orang yang telah menabrak putraku, kan?" suara Hana meninggi, menarik perhatian beberapa perawat yang melintas.
Pria itu mengangguk cepat, suaranya terdengar tulus. "Saya benar-benar minta maaf. Saya Tama. Tadi saya sedang melintas dan tiba-tiba El muncul dari balik pohon. Saya sudah berusaha mengerem, tapi..."
Belum sempat Tama menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang tindakan terbuka. El keluar dengan langkah agak pincang, lutut dan sikunya sudah tertutup perban putih. Melihat ibunya, El langsung mendekat.
"Bunda! El tidak apa-apa," potong El cepat sebelum ibunya kembali mencecar pria itu. "Aku baik-baik saja Bunda. Om Tama sudah bertanggung jawab sama aku, dia langsung bawa aku ke sini. Jadi Bunda jangan memarahinya lagi ya! El juga tadi lari kurang hati-hati."
Hana terpaku. Amarahnya sedikit mereda mendengar pengakuan putranya, namun kekhawatiran masih jelas di matanya. Ia berlutut, memeriksa perban di kaki El dengan tangan gemetar.
"Ibumu itu khawatir sekali El sama kamu!" sambung Rahma sambil mengusap bahu Hana.
El menunduk, merasa bersalah. "Iya Aunty, maafkan El ya, karena sudah membuat semuanya khawatir!"
Saat Hana bangkit berdiri, ia mendapati Tama sedang menatapnya dengan lekat. Ada binar ketertarikan yang tak sengaja terpancar dari mata pria itu. Ketika Hana memergokinya, Tama sempat tersenyum tipis sebelum akhirnya Hana membuang muka dengan ketus.
Rahma yang menyadari suasana itu langsung menyikut pelan lengan Hana dan berbisik, "Han, pria yang nabrak El lumayan juga ya. Dia sepertinya bukan warga sini, dari penampilannya seperti orang kota!"
Hana mengeraskan rahangnya. "Sstttt... Jangan pernah tertipu dengan penampilan seseorang, Rahma. Karena di balik itu semua, ada kasta yang membedakan status. Kita harus tahu diri bahwa kita tidak sederajat dengan mereka!" jawabnya pelan namun tajam.
Pikiran Hana melayang ke masa lalu. Bayangan Cakra kembali muncul, pria kaya yang dulu memuja namun akhirnya meninggalkannya dalam luka. Nasihat mendiang ibunya terngiang kembali. "mencintai pria dari kasta atas seperti punguk merindukan bulan." Hana sudah cukup belajar, ia membenci dunia yang diwakili oleh pria-pria seperti Tama.
"Ini ada sedikit uang untuk biaya pengobatan dan ganti rugi, Mbak. Saya juga bisa mengantarkan kalian sampai ke rumah," ucap Tama sambil menyodorkan beberapa lembar uang merah yang cukup banyak.
Hana menatap uang itu dengan tatapan menghina. "Simpan uang Anda. Anak saya sudah diobati dan kami bisa pulang sendiri. Terima kasih atas 'tanggung jawab' Anda, tapi kami tidak butuh bantuan lebih jauh."
Tama tertegun, tangannya menggantung di udara. "Tapi Mbak, ini murni niat baik saya..."
"Saya bilang tidak, ya tidak," potong Hana dingin. Ia langsung menggandeng tangan El dan mengajak Rahma pergi. "Ayo, El. Kita pulang."
Tama hanya bisa berdiri mematung, menggeleng-gelengkan kepala melihat ketegasan atau mungkin keangkuhan wanita desa itu yang begitu kontras dengan wajah cantiknya. Ia terus memandangi punggung Hana yang menjauh hingga hilang di tikungan jalan.
Tama kemudian merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel pintarnya, dan menghubungi sebuah nomor.
"Halo, Pah? Aku sudah di Banyuwangi. Tapi ada kejadian kecil tadi... dan aku bertemu dengan seseorang yang sangat menarik. Aku harus secepatnya lapor sama Papah."
POV: Wiratama Yuda
Bersambung...