NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 - Perkenalkan Nama Saya Arthur

Gerbang Keluarga yang Ditinggalkan

Rombongan Arthur yang sudah bersiap-siap dari jauh-jauh hari segera berangkat saat matahari belum sepenuhnya naik. Dua puluh knight berpengalaman berkuda membentuk formasi rapi tidak terlalu rapat, tidak terlalu longgar. Mereka bukan pasukan penyerang, melainkan unit pengawal yang tahu kapan harus bertahan dan kapan harus membuka jalan.

Arthur menunggang kuda di tengah barisan. Di sisi kanannya, Pelayan baru nya Toxen berkuda sejajar, matanya tak pernah benar-benar berhenti bergerak.

“Kau seperti Hendry, selalu tidak terlihat gugup, Toxen” kata Arthur tanpa menoleh.

Toxen menjawab pelan,

“Karena aku diajarkan harus seperti itu, tuan muda.”

Arthur mengangguk kecil. Ia mulai memahami menjadi pelindung berarti menekan rasa sendiri, demi membaca dunia dengan jernih.

Jalan Menuju Wilayah Florence

Wilayah Tirpen terbentang luas. Ladang-ladang gandum yang dulu pernah mendapat bantuan Fireloren kini tampak terawat terlalu terawat. Jalan-jalan batu halus menunjukkan bahwa Florence tidak kekurangan dana.

“Florence membangun citra dengan rapi, hmm...” gumam salah satu knight senior.

Arthur mendengar, tapi tidak berkomentar.

Ia teringat kata Norvist: keluarga perbatasan tidak butuh pengakuan, mereka butuh kekuatan.

Di Penginapan Tiga Pilar

Malam pertama, rombongan berhenti di sebuah penginapan tua bernama Tiga Pilar bangunan batu dengan atap rendah dan lampu minyak yang menyala hangat.

Arthur turun dari kuda… lalu berhenti.

Di halaman penginapan, sudah ada tiga rombongan lain.

Masing-masing membawa beberapa knight terlatih.

Toxen menyipitkan mata.

“Ini kebetulan.”

Tiga Orang Misterius

Ketiganya berdiri terpisah, seolah sudah saling mengenal namun sengaja menjaga jarak.

Yang pertama seorang pria berambut perak, wajahnya tenang namun menyimpan kewaspadaan. Ia mengenakan mantel hijau tua dengan lambang Count Valeris yang disamarkan.

Yang kedua seorang wanita muda berambut gelap, sorot matanya lembut namun tajam. Lambang Baron Liorant tersemat sederhana di sabuknya.

Yang ketiga seorang pria bertubuh tinggi, bahu lebar, wajahnya keras seperti pernah terlalu sering berperang. Ia membawa tanda Viscount Brackenford.

Arthur mengenali lambang-lambang itu.

Termasuk dalam Daftar Tiga dari tujuh keluarga yang dulu berpihak pada ayahnya.

Pertemuan.

Pria berambut perak melangkah lebih dulu.

“Arthur, putra dari Marquis Moren Fireloren, yaa?” katanya pelan.

“Aku Elrian Valeris.”

Arthur menunduk sopan.

“Senang bertemu dengan penerus dari Count Valeris.”

Wanita itu menyusul.

“Seren Liorant, Arthur” katanya singkat.

“Kami mendengar kau akan menghadiri pertemuan di Florence.”

Pria terakhir menyilangkan tangan.

“Gareth Brackenford, dan tentu saja” katanya.

“Ayahmu pernah menyelisonku dari tiang gantungan.”

Arthur terkejut.

Gareth tersenyum tipis.

“Tenang. Aku tidak keberatan itu hal biasa dahulu kala hahaha.”

Percakapan di Bawah Cahaya Lampu

Mereka duduk terpisah dari rombongan lain. Tanpa formalitas berlebihan.

“Alasan kami datang bukan sebatas atas undangan Marquis Florence saja, Arthur” kata Elrian.

“Kami datang karena nama Ayahmu muncul dan sering disebutkan oleh Ayah kami, dan aku sampai muak dengan cerita-cerita itu.”

Arthur mengerutkan kening.

“Nama Ayah ku?”

Seren menatap gelasnya.

“Nama Moren masih memiliki gema.”

Gareth mencondongkan badan.

“Dan gema itu membuat beberapa orang gelisah.”

Arthur menatap mereka satu per satu.

“Apakah kalian di sini untuk membantuku… atau memastikan aku tidak mengacaukan sesuatu?”

Elrian tersenyum samar.

“yah, mungkin keduanya.”

Kebenaran yang Tidak Utuh

Seren berbicara pelan.

“Seperti nya Florence akan memaksamu berbicara. Bukan dengan kata tapi dengan situasi.”

Gareth menambahkan,

“Lalu si New Gate akan menguji keberanianmu. Dan Polein akan menguji kesabaranmu.”

Arthur menghela napas.

“Serta kalian?”

Elrian menatap api lampu.

“Kami ingin tahu… apakah kau akan menjadi seperti ayahmu juga.”

Arthur mengepalkan tangan.

“Atau belajar dari hal ini, Arthur” lanjut Elrian.

Keheningan jatuh.

Toxen Membaca Ruangan

Toxen akhirnya bicara.

“Jika kalian benar-benar berpihak pada Keluarga kami, mengapa tidak membantu saat kamu diserang oleh mereka?”

Gareth terkekeh pelan.

“Karena keluarga kami hanya ingin memastikan.”

“Kepercayaan tanpa kesiapan… hanya doa kosong.”

Arthur menatap Toxen dan Toxen mengangguk pelan.

Percakapan Terus Berlanjut Hingga.

Malam semakin larut. Mereka berpisah tanpa kesepakatan tertulis.

Namun sebelum beranjak pergi, Seren berhenti di depan Arthur.

“Di aula Florence nanti, Arthur” katanya pelan,

“Jangan berdiri sendirian terlalu lama.”

Arthur mengangguk.

“Dan satu hal lagi, Btw” tambahnya.

“Jika seseorang menawarkan perlindungan… tanyakan harga yang tidak mereka sebutkan.”

Ketika Arthur kembali ke kamarnya, ia menyadari satu hal:

Ia tidak lagi berjalan sendirian.

Namun semakin banyak orang di sekitarnya,

semakin sulit membedakan

siapa yang melindungi dan siapa yang menunggu saat ia jatuh.

Di kejauhan, wilayah Marquis Florence menanti.

Dan aula besar itu bersiap menyambut

bukan seorang anak yang akan dewasa,

melainkan sebuah nama yang terlalu berbahaya untuk diabaikan.

Kemudian besok pagi mereka pergi melintasi wilayah hutan nostradus terkenal sangat berbahaya bagi para kafilah dagang atau para knight.

Selama 2 hari melakukan perjalanan menuju kediaman Marquis Florence di seberang hutan nostradus.

Mereka beristirahat dan membangun kamp kecil untuk makan-minum agar mengisi energi.

Selama waktu yang damai seperti itu, dalam kegelapan hutan yang diselimuti sedikit kabut malam hari, seorang Senior knight merasakan sesuatu yang berbahaya mulai mengintai kelompok mereka dari kegelapan.

Kemudian! Muncul 167 ekor serigala merah dan sang big boss nya berukuran 3× lipat lebih besar dari manusia biasa.

Arthur lalu menggunakan teknik yang telah diajarkan oleh Masternya, Sir Asean.

Tubuh-tubuh serigala merah tergeletak berserakan, darah hangat masih meresap ke tanah berlumut. Aroma besi memenuhi udara cukup kuat hingga membuat beberapa kuda para knight meringkik gelisah.

Arthur berdiri di tengah medan kecil itu, napasnya teratur, pedangnya masih bergetar pelan seolah menolak untuk benar-benar tenang. Cahaya senja menembus sela pepohonan, memantul di bilah senjata yang kini ternodai darah.

Tiga sahabatnya menatapnya tanpa kata.

Pemuda dari keluarga Valeris, bernama Elrian Valeris, akhirnya memecah keheningan.

“Tiga puluh lima…”

Ia menelan ludah.

“Kau membunuh tiga puluh lima sendirian, Aa-Arthur.”

Arthur menghela napas, menurunkan pedangnya.

“Aku hanya… tidak memberi mereka waktu untuk mengepung saja.”

Seren Liorant dari keluarga Baron Liorant, tersenyum miring senyum seseorang yang tahu ia baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak biasa.

“Teknikmu itu… bukan teknik biasa.”

Si berotot Gareth Brackenford mengangguk pelan.

“Gelombangnya tidak berhenti. Seperti laut yang terus menghantam pantai.”

Arthur terdiam sejenak, lalu menjawab jujur.

“Masterku Sir Asean menyebutnya sebagai Seven Deadly Wave. Bukan soal kekuatan… tapi ritme.”

Ketika kawanan menyerang, ketiga sahabat itu juga menunjukkan jati diri mereka.

Elrian Valeris menggunakan teknik warisan keluarganya:

Iron Oath – First Form: Unbroken Line

Pedangnya bergerak lurus dan berat, setiap tebasan seolah bersumpah untuk tidak meleset.

Seren Liorant memanipulasi bayangan dan kecepatan dengan teknik:

Veilstep Mirage

Tubuhnya menghilang muncul, meninggalkan ilusi yang membingungkan musuh.

Si berotot Gareth Brackenford, paling tenang di antara mereka, mengaktifkan teknik:

Silver Breath: Lunar Guard

Pertahanannya membentuk pola setengah lingkaran, melindungi para knight di belakangnya.

Namun tetap saja mereka bertiga tahu Arthur adalah pusat badai itu.

Peringatan Dari Para knight

Seorang knight senior keluarga Arthur, Sir Galren Holt, maju dengan wajah serius.

“Tuan Muda, kita harus pergi sekarang.”

Arthur mengangguk.

“Kenapa?”

“Kawanan Serigala merah Nostradus tidak hidup sendiri. Bau darah akan memanggil yang lain.”

Para knight bergerak cepat. Tidak ada sorak berlebihan hanya tatapan hormat yang jauh lebih dalam.

Namun ketika mereka mulai berkemas, bisikan mulai terdengar.

“Lihat sang Genius…”

“Di usia segitu dia…”

“Tak heran tuan Moren...”

Arthur mendengar potongan kalimat itu, lalu berhenti.

Ia menoleh pada Toxen.

Toxen kepala pelayan sekaligus pelindung barunya menatapnya dengan ekspresi tenang, namun matanya menyimpan kebanggaan yang tak ia ucapkan.

“Jangan dengarkan semuanya. Kekuatan seperti ini… selalu mengundang perhatian.”

Arthur mengangguk pelan.

Ia tahu itu.

Kemudian Malam setelah pertarungan

Malam itu, mereka berpindah lebih dalam ke jalur aman, menyalakan api kecil yang terjaga.

Tawa kembali terdengar lebih pelan, lebih hangat.

Elrian menepuk bahu Arthur.

“Jika ini berada di pertemuan para penerus…

rasanya wilayah Tirpen akan SEDIKIT berisik setelah ini ya.”

Seren menyeringai.

“Atau berdarah, Elrian.”

Si berotot Gareth menatap api unggun.

“Atau mungkin juga berubah?”

Arthur memandang nyala api yang menari.

“Ayahku pernah berkata… jika perubahan besar selalu dimulai sebelum orang sadar.”

Ketiganya saling pandang.

Mereka belum tahu apa yang menunggu di rumah Marquis Florence nantinya.

Namun satu hal sudah pasti:

Arthur bukan lagi sekadar bocah pewaris biasa dari keluarga Fireloren.

Ia mulai memperlihatkan taringnya pada dunia meski dunia belum sepenuhnya menoleh.

Di kejauhan, jauh di balik pepohonan Nostradus, sepasang mata lain mengamati jejak darah itu.

Dan perlahan tersenyum saat melihat Arthur...

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!