Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Copet Sialan!
...୨ৎ──── E V A────જ⁀➴...
Aku berada di kedai, mengisi ulang kopi tiap kali lihat cangkir kosong. Aku kepikiran soal setuju buat kencan sama Farris, itu gila.
Iya.
Gila banget.
Dia bisa tahu kalau aku cuma tukang bersih-bersih di perusahaannya dan langsung pecat aku.
Dia bisa tahu kalau aku miskin, dan itu enggak bakal bagus buat citra dia.
Dia bisa tahu kalau Mamaku pecandu narkoba yang cuma menyusahkan hidup aku. Itu pasti bikin dia kabur, kalau pun kita sampai lolos dari kencan pertama.
Aku sudah kepikiran buat membatalkannya, tapi aku enggak pernah berhasil buat melakukannya.
Saat aku taruh teko kopi balik ke meja, HPku mulai bunyi. Aku ambil, dan begitu lihat nama Farris, jantungku mau copot.
Aku jalan ke arah Lulu, aku bilang, "Aku cuma istirahat sebentar. Lima menit."
"Oke."
Aku angkat telepon sambil lari lewat dapur dan keluar ke gang belakang.
...📞...
"Hai."
^^^"Kamu ngangkat."^^^
Farris kedengarannya kaget.
"Ahh ... emangnya enggak boleh?"
Dia tertawa, yang getarannya terasa di telingaku, bikin merinding.
^^^"Gimana kabar kamu?"^^^
"Biasa aja."
Aku lihat ke atas dan ke bawah gang sebelum menendang anak tangga kecil di pintu belakang pakai ujung sepatu.
"Kamu?"
^^^"Aku baik."^^^
Aku dengar dia bernapas, dan itu bikin perasaan aneh muncul di perutku.
Ini gila.
Bagaimana bisa cuma napas seorang cowok saja sudah ngaruh ke aku?
^^^"Kamu di mana?"^^^
"Di kerjaan."
^^^"Kerja di mana?"^^^
Aku masukkan tangan ke saku belakang jeans.
"Enggak bakal aku kasih tahu."
^^^"Oke. Kerja apa?"^^^
Aku tertawa.
"Enggak bakal aku kasih tahu."
Kali ini suaranya dalam dan terdengar seksi.
^^^"Apa yang mau kamu kasih tahu ke aku?"^^^
Pikiranku langsung mencari-cari sesuatu.
"Aku enggak berasal dari keluarga kaya."
^^^"Enggak masalah."^^^
Dia kedengarannya bingung, dan itu membuatku harus menjelaskannya.
"Aku dengar kamu punya banyak uang, dan orang kaya biasanya cuma mau nongkrong di circle tertentu. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku enggak cocok di circle itu."
^^^"Aku juga enggak cocok di kelompok itu."^^^
Dia bilang begitu?
Dan itu membuatku tertawa enggak percaya.
^^^"Kamu enggak percaya sama aku?"^^^
"Enggak penting aku percaya apa enggak."
"Eva!" Aku dengar Poppy memanggil dari dalam.
"Aku harus pergi."
Tanpa menunggu jawaban dari Farris, aku langsung tutup telepon dan lari kembali ke dapur.
Saat Poppy melihatku, dia kasih tatapan peringatan. "Balik ke sana. Lulu sama Nurma enggak bisa nangani tempat kamu!"
"Maaf," gumamku sambil buru-buru melewati dia, dan saat aku lihat betapa penuhnya tempat itu, aku jadi merasa bersalah karena mengangkat telepon tadi.
Kami sibuk selama dua jam berikutnya.
Saat aku lepas celemek, aku sudah capek banget.
Berengsek, yang aku mau cuma rebahan di kasur, tapi aku harus buru-buru ke Jakpus kalau enggak mau telat buat shift malam di perusahaan balet.
Aku ambil Meatloaf sama sayuran yang aku minta ke Tobias waktu aku mulai shift. Jalan ke pintu, aku bilang, "Sampai besok."
"Jangan datang shift pagi!" kata Poppy saat aku lewat meja kasir tempat dia lagi menghitung uang.
Aku langsung berhenti. "Kenapa?"
"Karena aku harus kasih shift tambahan ke beberapa karyawan lain. Semua orang butuh uang saat musim liburan."
Aku mengangguk dan keluar dari kedai, sementara pikiranku terus kelayapan.
Sial, aku butuh uang tambahan, atau musim hujan ini bakal panjang dan dingin tanpa pemanas.
...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...
Aku naik busway ke Jakpus, aku terus-terusan khawatir soal keuangan, yang mana itu bukan hal baru buat aku. Ya, aku harus cari pekerjaan ketiga.
Saat keluar dari busway, aku enggak memperhatikan sekitar, aku berjalan ke tempat kerja.
Tiba-tiba, seseorang menyambar tas aku. Bahkan sebelum aku sadar bahuku sakit, seorang pria sudah berlari membawa tas itu.
"Hei!" teriakku sambil mengejar si bego itu. "Balikin tas aku!"
Begitu sadar dia lebih cepat dari aku, aku berhenti, lepas sepatu, dan lempar ke dia. Sepatu itu kena punggungnya, tapi enggak bikin dia berhenti, dia malah menghilang di tikungan.
"Bego bangsad!" teriakku sekencang- sekencangnya. "Semoga kamu mati, babi anjing!"
Aku marah banget, sampai badanku gemetar waktu jalan ke tempat sepatuku yang tergeletak di trotoar.
Setelah mengambil dan pakai lagi, aku sadar orang-orang sedang memperhatikanku, dan itu membuatku nyolot, "Apa sih yang kalian lihat? Acaranya udah selesai!"
Aku tarik HP dari saku, cari nomor bank, lalu menelepon mereka biar bisa memblokir rekeningku, kalau-kalau si bego itu coba pakai kartuku buat nyolong sisa uangku yang sedikit itu.
Aku jalan ke kerjaan sambil memikirkan semua yang harus aku ganti, dan itu membuatku makin kesal.
Hari ini benar-benar kacau!
Saat mendekati perusahaan balet, aku lihat sekeliling buat memastikan aku enggak lihat mobil Farris. Karena enggak ada di mana pun, jadi aku masuk ke gedung.
"Hai, Cacha!" kataku sambil berhenti di mejanya. "Ada orang bego yang nyolong tas aku."
"Parah banget," gumamnya. "Mam Hadibroto lagi ngamuk, jadi mending kamu langsung kerja!"
"Makasih infonya," gumamku sebelum jalan ke belakang, tempat loker karyawan.
Sambil aku pakai celemek, HPku mulai berbunyi dan aku cepat-cepat tarik dari saku.
Begitu lihat nama Nasrin, aku jawab.
...📞...
"Hei, ada apa?"
^^^"Dua cowok lagi ngendus-ngendus sekitar apartemen kamu dan nanya soal Sahara."^^^
Aku langsung jongkok dan mengusap telapak tangan ke dahi.
"Pelacur itu. Aku bakal bunuh dia pas ketemu lagi."
^^^"Enggak bakal, kalau mereka yang nemuin dia duluan. Orang-orang itu serius, Girl. Hati-hati kamu kalau pulang."^^^
"Iya."
Kami menutup telepon, dan aku duduk di lantai, sementara rasa putus asa memenuhi dadaku. Banyak hal yang bisa aku tahan, tapi hari ini mulai mengalahkan aku.
Untungnya, pintu terbuka dan Rebecca Hadibroto memergoki aku lagi duduk di lantai.
Aku langsung berdiri, tapi sudah telat.
Dia menatapku dengan kesal. "Aku enggak bayar kamu buat duduk santai kayak gini! Kerja yang bener!"
"Iya, Bu."
"Ambil pel. Salah satu gadis muntah."
Ya Tuhan, kenapa kamu benci banget sama aku?
JD penasaran Endingnya