NovelToon NovelToon
Dinikahi Sahabat Ayah

Dinikahi Sahabat Ayah

Status: tamat
Genre:Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.

Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun di Dalam Gelas Emas

Rumah sakit terasa seperti lorong tanpa ujung bagi Katya. Setelah ayahnya dilarikan ke ruang ICU akibat serangan jantung mendadak, dunianya terasa semakin remuk. Namun, di tengah kesedihan itu, Katya sadar bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia melihat Ian berdiri di kejauhan, di lorong rumah sakit, menatap jendela dengan punggung yang kaku.

Katya menguatkan hati. Jika Ian adalah kunci dari segala kekacauan ini, maka ia harus mencoba menyentuh sisi kemanusiaan pemuda itu. Ia mendekat dengan langkah perlahan, membawa segelas kopi panas yang baru saja ia beli dari kantin.

"Ian," panggil Katya lembut.

Pemuda itu berbalik. Matanya yang tajam tampak lelah, namun sorot permusuhannya tidak memudar. "Apa lagi, Tante? Mau pamer kesedihan karena ayahmu sakit?"

Katya menggeleng, ia duduk di kursi tunggu dan memberi isyarat agar Ian ikut duduk. "Aku tidak ingin berperang, Ian. Aku tahu kamu marah, dan kamu punya hak untuk itu. Mas Donny mungkin melakukan kesalahan besar di masa lalu, tapi Arkan dan Aisha tidak bersalah. Mereka adik-adikmu."

Ian tertawa sinis, namun ia akhirnya duduk di ujung kursi, menjaga jarak. "Adik? Mereka adalah bukti bahwa Papa bisa bahagia tanpa aku. Mereka adalah simbol pengabaiannya terhadapku."

"Itu tidak benar," potong Katya. "Mas Donny sering melamun sambil melihat ke arah luar negeri. Sekarang aku sadar, dia memikirkanmu. Ian, mari kita mulai dari awal. Aku akan bicara pada Mas Donny agar dia memberikan apa yang menjadi hakmu, asalkan kita bisa menjadi keluarga."

Ian terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah gelas emas—termos kecil berisi teh herbal yang dibawa Katya dari rumah untuk Donny, yang kini diletakkan di meja antara mereka. Sebuah ide licik melintas di benak Ian. Ia melihat sosok Donny muncul di ujung lorong, berjalan cepat ke arah mereka.

"Kau ingin damai, Tante?" tanya Ian dengan nada yang tiba-tiba melunak, namun sangat palsu. "Baiklah. Berikan aku minuman itu. Aku haus."

Katya tersenyum tipis, mengira upayanya berhasil. "Tentu, ini teh herbal untuk Mas Donny, tapi kamu boleh meminumnya sedikit."

Saat Katya menyodorkan gelas itu, Ian sengaja menggenggam tangan Katya dengan sangat keras hingga Katya memekik kesakitan. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terencana, Ian menarik tangan Katya sehingga isi teh panas itu tumpah ke wajah dan dada Ian sendiri, lalu Ian menjatuhkan dirinya ke lantai marmer sambil berteriak kesakitan yang luar biasa.

"AAARGH! PANAS! KENAPA KAU MELAKUKAN INI?!" teriak Ian histeris.

Katya terpaku, tangannya masih memegang gelas yang kosong. "Ian? Apa yang... aku tidak..."

"KATYA!" suara menggelegar Donny membelah sunyi lorong rumah sakit.

Donny berlari dan langsung berlutut di samping Ian. Wajah Ian tampak memerah karena siraman air panas, dan ia berakting seolah-olah matanya terkena cairan tersebut.

"Papa... aku hanya ingin bicara padanya... tapi dia... dia bilang aku tidak pantas ada di keluarga ini. Dia menyiramku!" rintih Ian sambil memegangi wajahnya.

Donny menoleh ke arah Katya dengan tatapan yang belum pernah dilihat Katya sebelumnya. Tatapan penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. "Katya! Apa yang kau lakukan? Dia anakku!"

"Mas, tidak! Dia berbohong! Dia menarik tanganku, dia menyiram dirinya sendiri!" bela Katya dengan suara gemetar. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Percayalah padaku, Mas. Aku mencoba berdamai dengannya!"

"Berdamai dengan menyiram air panas ke wajahnya?!" bentak Donny. Suaranya membuat beberapa perawat menoleh. "Aku tahu kamu tertekan karena Ayahmu, tapi menyerang Ian bukan caranya, Katya! Dia hanya anak muda yang mencari ayahnya!"

"Dia bukan anak kecil, Mas! Dia serigala!" Katya berteriak frustrasi. Ia mencoba mendekati Donny, mencoba memegang lengan suaminya untuk menjelaskan kebenaran. "Mas, lihat mataku! Sejak kapan aku menjadi orang yang kejam seperti itu? Dia menjebakku!"

Ian terus merintih, menambah drama di tengah ketegangan itu. "Sakit, Pa... perih sekali..."

Donny semakin kalap. Di satu sisi, ia merasa sangat bersalah pada Ian selama dua puluh tahun, dan di sisi lain, ia mencintai Katya. Namun, bukti di depan matanya—gelas di tangan Katya dan luka di wajah Ian—membuat logikanya tumpul.

"Cukup, Katya! Pergi dari sini!" perintah Donny.

"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kamu sadar bahwa kamu sedang ditipu!" Katya menarik bahu Donny, memaksa suaminya untuk berdiri. Suasana menjadi sangat kacau. Ian tiba-tiba bangkit dan mencoba mendorong Katya menjauh dari Donny, berpura-pura ingin melindungi ayahnya.

"Jangan sentuh Papa! Kamu wanita jahat!" teriak Ian sambil menyentakkan tangan Katya dengan kasar.

Katya yang kehilangan kendali emosi mencoba menepis tangan Ian kembali. "Lepaskan aku, anak haram!"

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Katya karena rasa sakit hati yang memuncak. Donny, yang sangat sensitif dengan status Ian karena rasa bersalahnya, merasa harga dirinya sebagai ayah diinjak-injak.

Dalam kekacauan gerakan saling dorong dan teriakan itu, Donny bermaksud menyentakkan tangan Katya agar berhenti menyerang Ian. Namun, karena emosi yang tidak stabil dan gerakan Katya yang tidak terduga...

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di lorong rumah sakit yang sunyi.

Dunia seolah berhenti berputar. Kepala Katya terlempar ke samping. Rasa panas menjalar di pipi kirinya, namun rasa sakit yang lebih hebat menghujam jantungnya.

Donny terpaku, tangannya masih melayang di udara, gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Katya yang kini memegangi pipinya dengan mata yang membelalak tidak percaya.

Katya menatap Donny dengan pandangan yang kosong, seolah pria di depannya bukan lagi suami yang ia cintai. Tanpa sepatah kata pun, setetes air mata jatuh melewati bekas kemerahan di pipinya. Di belakang Donny, Ian sedikit menurunkan tangannya dari wajah, memperlihatkan sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis dan dingin, tepat sebelum Katya berbalik dan berlari meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi.

"Katya... tunggu..." suara Donny tercekat, namun langkahnya tertahan oleh tangan Ian yang mencengkeram kemejanya erat.

1
Agriphina Amoretta
keren 👍😍
Luwi Utami
maju terus.. restu udah di depan mata Donny.. usia bukan jd masalah dlam. suatu hubungan..
Luwi Utami
menarik sih judulnya.. baru mulai baca.. seru juga mnikah sm sahabat ayahnya
Perempuan
Ceritanya cukup mendebarkan
Perempuan
Gak ada kelanjutannya yaa?
Erna Na
sangat Bagus
awesome moment
sll bgitu kn?
awesome moment
g salah koq. p lg tanpa ikatan darah
Alvaraby: 👌👌👌 ok lanjut kak bacanya. selamat menikmati
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!