NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: INVERSI MAUT

Udara di dalam laboratorium Level -4 itu terasa statis, dipenuhi oleh dengungan listrik bertegangan tinggi yang membuat bulu kuduk berdiri. Bau ozon yang tajam bercampur dengan aroma amis darah dari dua pengawal yang terkapar di dekat pintu. Di luar dinding kaca antipeluru, suara baku tembak antara Julian dan pasukan keamanan Sanatorium terdengar seperti rentetan kembang api yang diredam, namun setiap dentuman itu mengirimkan getaran ke lantai beton yang kami injak, menandakan bahwa perlindungan kami mulai runtuh.

Sang Ilmuwan gemetar di bawah todongan pisau bedahku. Matanya yang biasanya dingin dan penuh kalkulasi kini membelalak ketakutan, menatap monitor yang menunjukkan hitung mundur penghapusan data: 142 detik.

"Cepat!" bentakku, suaraku parau namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. Aku menariknya berdiri dengan kasar dan mendorongnya ke arah konsol utama yang terhubung dengan dua meja operasi—tempat raga asliku yang beku dan raga Zura yang sedang sekarat karena sakau berada. "Aktifkan protokol inversi. Sekarang, atau kau akan melihat seluruh risetmu berubah menjadi sampah digital!"

"Kau tidak mengerti, Valerie!" Sang Ilmuwan tergagap, jemarinya yang pucat menari di atas papan ketik yang bercahaya biru elektrik. "Prosedur ini butuh waktu stabilisasi enam jam! Jika kita melakukannya sekarang, dalam kondisi tegangan listrik yang tidak stabil karena sistem yang kau retas, risikonya adalah synaptic collapse. Kau bisa terbangun sebagai raga kosong tanpa ingatan, atau lebih buruk lagi... kau akan berbagi satu otak dengan Zura selamanya!"

"Aku lebih memilih menjadi raga kosong daripada terus hidup di dalam penjara daging ini sebagai pion Adrian," balasku tanpa ragu. Aku melirik raga asliku yang terbaring kaku di bawah lampu operasi. Wajah itu—wajah Valerie—tampak begitu tenang, sebuah kontras yang menyakitkan dengan badai yang berkecamuk di dalam kepalaku. "Lakukan, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari ruangan ini hidup-hidup."

Dengan napas yang tersenggal, Sang Ilmuwan memasukkan kode akses darurat. Di atas kami, dua lengan robotik raksasa yang dilengkapi dengan ribuan jarum mikro mulai bergerak turun dari langit-langit. Cahaya biru neon di dalam tabung-tabung inkubasi di sekeliling kami tiba-tiba berdenyut merah darah, menandakan sistem sedang dipaksa bekerja di luar batas amannya.

"Naik ke meja itu," perintah Sang Ilmuwan, menunjuk ke meja operasi di samping raga asliku.

Aku melompat naik, membiarkan kabel-kabel elektroda dipasang kembali ke kulit raga Zura. Rasa dingin dari logam menyentuh pelipisku, mengirimkan gelombang kecemasan yang purba. Saat itulah, aku merasakan sensasi yang paling mengerikan: sebuah tarikan elektromagnetik yang seolah ingin menyedot jiwaku keluar melalui pori-pori kulit.

Di luar, suara ledakan mengguncang ruangan hingga debu-debu jatuh dari plafon. Pintu baja laboratorium mulai penyok akibat hantaman dari luar. Julian berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh desing peluru dan suara alarm yang memekakkan telinga.

"Valerie! Mereka membawa senjata berat! Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi! Kau harus bergegas!"

"Satu menit lagi, Julian! Tahan posisi!" teriakku balik, meski aku sendiri tidak yakin apakah kami punya satu menit itu.

Aku menoleh ke samping. Hanya berjarak tiga puluh sentimeter dariku, raga asliku terbaring. Aku menatap mata yang terpejam itu. Di dalamnya ada jiwa Zura—wanita yang telah mencuri identitas dan kehormatanku.

"Dengarkan aku, Ilmuwan," kataku saat ia mulai memasang masker gas ke wajah raga Zura. "Jika sesuatu terjadi, jika aku tidak bangun... pastikan data yang sudah kuhapus itu tetap musnah. Jangan biarkan Adrian Vane memilikinya."

Sang Ilmuwan tidak menjawab. Ia hanya menatap layar monitor dengan keringat dingin yang mengucur deras hingga membasahi jas laboratoriumnya. "Memulai sinkronisasi saraf dalam... tiga... dua... satu..."

Tiba-tiba, suara dengungan mesin berubah menjadi pekikan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Aku merasakan seolah-olah ribuan jarum panas ditusukkan langsung ke pusat saraf tulang belakangku. Pemandangan di depanku mulai pecah menjadi ribuan fragmen memori yang tumpang tindih secara kacau.

Aku melihat masa kecilku di perpustakaan ayahku yang berdebu.

Lalu, tiba-tiba aku merasakan rasa panas dari sendok yang digunakan Zura untuk membakar dosis narkobanya di sebuah gang gelap.

Aku melihat wajah pasien pertama yang gagal kuselamatkan, namun di saat yang sama aku merasakan kepuasan jahat Zura saat ia merampas dompet seorang pria mabuk.

Memori kami mulai bertabrakan tanpa kendali. Rasanya seperti jiwaku sedang diperas melalui saluran yang terlalu sempit. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah kurasakan—lebih buruk dari sakau, lebih menyiksa dari peluru. Aku merasa seolah-olah kepalaku akan meledak menjadi jutaan serpihan cahaya.

"Sistem tidak stabil! Arus balik! Arus balik!" teriak Sang Ilmuwan panik. "Sinkronisasinya beradu! Ada perlawanan dari raga asli!"

Lampu-lampu di laboratorium mulai meledak satu per satu akibat beban berlebih. Kegelapan menyergap, hanya menyisakan pendar darurat berwarna merah dari mesin-mesin yang masih berjuang melakukan pemindahan paksa ini. Di tengah kegelapan itu, aku merasakan sebuah kehadiran.

Bukan di luar, tapi di dalam sirkuit saraf yang sedang terhubung.

Siapa kau? Sebuah suara serak dan penuh kebencian menggema di dalam kesadaranku. Itu suara Zura.

Aku adalah pemilik sah dari wajah yang kau pakai, jawabku dalam keheningan mental yang mencekam.

Tidak... raga ini milikku sekarang! Aku sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi terhormat, Valerie! Aku tidak akan kembali ke tubuh sampah itu!

Aku merasakan jiwa Zura mencoba mendorongku kembali. Ia mencengkeram memori-memori Valerie—apartemenku di pusat kota, gelarku, rasa hormat yang kuterima dari rekan kerja—seolah-olah itu adalah miliknya sejak lahir. Kami bertarung di dalam ruang hampa antara dua raga yang terhubung oleh kabel-kabel optik. Ini adalah perang batin yang paling murni; perebutan hak untuk eksis.

"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan apa yang telah kubangun dengan tangan kotormu," desisku dalam pikiran, mengumpulkan setiap sisa kemauan intelektualku untuk memukul mundur kesadarannya.

Tepat saat itu, pintu laboratorium meledak terbuka dengan kekuatan yang luar biasa.

Sesosok pria melangkah masuk menembus asap tebal. Bukan penjaga biasa, melainkan Adrian Vane sendiri. Ia tidak membawa senjata api, namun kehadirannya jauh lebih mengancam. Ia menatap ke arah meja operasi dengan senyum tenang yang mengerikan, melihat Sang Ilmuwan yang panik dan dua tubuh yang sedang kejang hebat di bawah kilatan listrik statis.

"Hentikan prosesnya," perintah Adrian, suaraku rendah namun menggema di seluruh ruangan.

"Tuan Vane, saya tidak bisa! Jika saya memutus arusnya sekarang, mereka berdua akan mengalami strok otak permanen!" Sang Ilmuwan berteriak histeris.

Adrian melangkah maju, mendekati raga asliku yang masih terhubung dengan mesin. Ia mengabaikan peringatan Ilmuwan itu. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam terangkat, hendak mencabut kabel sinkronisasi utama.

"Kau salah langkah, Valerie," bisik Adrian, suaraku terdengar seperti lonceng kematian. "Kau pikir kau bisa menggunakan ilmumu untuk melawanku? Kau lupa siapa yang mendanai seluruh riset ini. Aku tidak peduli jiwa siapa yang ada di raga mana, asalkan aku memiliki kendali atas keduanya."

"Jangan..." gumamku melalui mulut raga Zura yang masih kuisi setengah, suaraku nyaris tak terdengar karena otot tenggorokanku sedang kaku.

"Selamat tinggal, Dokter. Mungkin di kehidupan selanjutnya kau akan belajar untuk tidak terlalu sombong," kata Adrian sambil mencengkeram kabel itu.

Namun, sebelum ia sempat menariknya, sebuah tembakan menyalak dari sudut ruangan. Peluru itu tidak mengenai Adrian, melainkan menghancurkan konsol daya tepat di sampingnya, memicu ledakan bunga api yang besar.

Julian berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan tubuh yang bersimbah darah. Senjatanya masih berasap. "Vane... jika kau menarik kabel itu, aku akan memastikan peluru berikutnya masuk ke kepalamu."

Adrian berbalik perlahan, menatap Julian dengan kejijikan yang mendalam. "Kau masih hidup, Detektif? Kau benar-benar sulit mati."

"Aku punya alasan untuk tetap hidup," jawab Julian, suaraku tersengal. "Aku ingin melihat bagaimana kau jatuh dari tahtamu."

Situasi terkunci dalam kebuntuan yang mematikan. Mesin inversi terus meraung, lampu peringatan berkedip semakin liar, dan aku merasakan jiwaku terombang-ambing di antara dua tubuh.

Tiba-tiba, terjadi lonjakan arus listrik yang luar biasa. Layar monitor menunjukkan pesan error: CRITICAL FAILURE - PARTIAL NEURAL OVERLAP.

Cahaya putih meledak di depan mataku. Saat cahaya itu memudar, aku tidak lagi merasa melayang. Aku merasakan berat badan. Aku merasakan udara dingin menyentuh kulitku. Aku mencoba membuka mata, namun kelopak mataku terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh lem.

Aku berhasil membukanya sedikit. Aku melihat langit-langit laboratorium. Aku melihat tangan yang terikat di sampingku. Tangan yang halus. Tangan Valerie.

Aku berhasil? pikirku.

Namun, saat aku mencoba menggerakkan tangan itu, tanganku tidak bergerak. Justru, aku mendengar suara dari mulutku sendiri—suara Valerie yang jernih—tapi kata-kata yang keluar bukan milikku.

"Lepaskan aku, Adrian! Bunuh pengkhianat ini!"

Suara itu adalah suaraku, tapi nada bicaranya, intonasinya... itu adalah Zura.

Horor yang amat sangat menjalar di sumsum tulangku. Aku mencoba berteriak, tapi lidahku tidak mau menuruti perintahku. Di dalam kepalaku, aku bisa mendengar tawa Zura yang parau.

Kau pikir kau bisa mengusirku, Valerie? bisiknya di dalam labirin pikiranku sendiri. Mesinnya rusak. Sekarang aku punya raga cantikmu, tapi kau masih tertinggal di sini sebagai penumpang. Kita satu sekarang.

Aku terperangkap. Proses inversi gagal di tengah jalan. Jiwa Zura berhasil masuk ke raga Valerie, tapi jiwaku tidak terbuang ke raga Zura. Sebaliknya, jiwaku terseret kembali dan kini kami berdua menghuni satu tempurung kepala yang sama.

Di luar, Adrian Vane menatap raga Valerie yang kini mulai duduk. Ia menyipitkan mata, mencoba mengenali siapa yang sedang menatapnya.

"Zura? Atau Valerie?" tanya Adrian dengan nada waspada.

Zura (menggunakan tubuhku) tersenyum lebar, senyuman yang tidak pernah kuberikan pada siapa pun. "Ini aku, Adrian. Si pecandu kesayanganmu. Dokter ini terlalu lemah untuk melawan."

Adrian tertawa, suara yang membuatku ingin muntah. "Sempurna. Ternyata kegagalan Ilmuwan ini memberikan hasil yang jauh lebih menarik."

Julian menatapku—menatap raga Valerie—dengan kebingungan yang menyakitkan. "Valerie? Kau di sana?"

Aku berjuang sekuat tenaga. Aku memusatkan seluruh energi mental psikolog-ku untuk merebut kendali atas otot pita suaraku. Rasanya seperti mencoba menggerakkan gunung.

"J-Julian..." bisikku, suaraku terdengar sangat tipis dan bergetar, memotong tawa Zura. "Lari... d-dia bukan aku..."

Wajah Zura di cermin batiniahku langsung mengeras. Diam kau, jalang! ia memaki di dalam kepalaku.

Adrian Vane menyadari apa yang terjadi. "Dua jiwa dalam satu wadah. Menarik sekali. Ilmuwan! Amankan raga ini. Aku ingin tahu bagaimana cara memisahkan mereka—atau lebih baik lagi, bagaimana cara menghapus sisi Valerie secara permanen."

Aku harus melawan. Di luar, Adrian sedang mendekat untuk membiusku kembali. Di dalam, Zura sedang mencengkeram kendali motorikku. Jika aku kalah di sini, Valerie akan hilang selamanya, dan dunia hanya akan mengenal Zura dengan wajahku.

"Julian!" teriakku lagi, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar hingga tubuhku kejang. "Hancurkan... k-konsolnya!"

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!