"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 12. Mencoba melarikan diri. [RUKMINI]
Setelah Rukmini mandi, dia di beri teh manis hangat agar tubuh nya tidak menggigil. Ibunya sibuk memilih pakaian apa yang akan Rukmini gunakan malam ini, karena tamu nya kali ini memberi bayaran lebih mahal.
"Bu, tadi aku di perkosa di hutan." Ucap Rukmini, dia buka suara..
"Apa!!?" Ibunya terkejut dan menatap Rukmini, Rukmini sedikit tersenyum melihat ibunya khawatir padanya.
"Koe ndak manut sama ibu sih! Kan sudah ibu bilang, jangan kemana - mana, sekarang badanmu iki mahal! Koe di kasih duit ndak!?" Ucap ibunya, seketika senyum Rukmini hilang sambil menggelengkan kepalanya.
"Ke enakan orang itu dapet gratisan!" Ucap ibunya Rukmini, Rukmini pun akhir nya diam.
Ibunya marah bukan karena khawatir anak nya telah di lecehkan tapi dia marah karena tidak dapat uang sebab tubuh Rukmini di pakai gratisan.
"Pokoke nanti malam koe ndak boleh teriak - teriak koyo semalam, ibu sama bapak ada di luar. Tugasmu bikin tamu nya koe pulang dengan puas, supaya jadi langganan." Ucap ibunya, sungguh entah dimana hati nurani nya.
"Bu.. Badan Mini sakit semua." Ucap Rukmini.
"Iyo masih awal - awal, nanti lama - lama terbiasa juga koe ikut ke enakan, wong pekerjaan enak kok, percaya sama ibu." Ucap Ibunya, Rukmini akhir nya menangis.
"Ndak usah nangis! Salahmu dewe sampe di perkosa wa Parto! Setidak nya sekarang koe di bayar, ndak di pake gratisan!" Ucap ibunya, lagi - dan lagi membahas gratisan.
Rukmini lalu merebahkan badan nya di ranjang nya dan memutar membelakangi ibunya, ibunya tidak peduli sama sekali. Setelah ibunya memilihkan pakaian yang akan Rukmini kenakan, ibunya lalu keluar.
"Tidur saja dulu, nanti nek sudah jam nya ibu bangunin koe." Ucap ibunya, Rukmini hanya diam sambil menghapus air mata nya.
Rukmini lagi - lagi hanya bisa pasrah, malam itu lagi dan lagi dia melayani pria asing yang ibunya bilang "Tamu" untuk nya. Meski memang laki - laki yang datang malam itu tidak memperlakukan Rukmini dengan kasar tapi Rukmini tetap saja merasa jijik dan sakit, sakit di hatinya.
Setelah selesai melayani pria itu, kemudian Rukmini di tinggal di kasur nya dengan keadaan yang sama, hanya di tutup kain jarik dengan air mata yang meleleh..
Setiap malam selalu ada yang datang, setiap malam juga Rukmini harus pasrah menerima apapun yang para pria itu lakukan padanya. Kadang ada yang menjambak nya karena kesal Rukmini terus menangis, ada juga yang bermain dengan kasar, Bagai boneka tanpa nyawa Rukmini hanya bisa diam tanpa melawan.
'Aku benci bapak dan ibu.' Batin Rukmini, kini dia benar - benar kecewa.
Ke esokan harinya..
Rukmini bangun pagi - pagi buta sebelum ibu dan bapak nya bangun, tubuh nya rasanya remuk semua, kedua kakinya sakit terutama di bagian paha. Rukmini melihat di luar hujan, tapi dia tidak peduli.. Dia pergi diam - diam dan lari.
Ya, Rukmini melarikan diri di pagi - pagi buta itu. Jika siang hari dia tidak aman maka malam hari pasti aman. Rukmini lari menerabas deras nya hujan dan licin nya tanah jalan setapak, dia terus lari kedepan tanpa menoleh lagi ke belakang..
Sementara ibunya yang baru bangun dan berjalan menuju ke dapur, dia terkejut melihat pintu belakang rumah nya terbuka.
"Heh! kok pintu nya kebuka!?" Ibunya Rukmini menghampiri pintu nya dan menoleh kesana - kemari.
"Opo ada maling!?" Ucap nya lalu pergi ke kamar membangunkan suaminya.
"Pak! Pak! Pintu belakang kok mbuka? Jangan - jangan ada maling, pak!" Ucap ibunya Rukmini, bapak nya Rukmini pun bangun.
"Sing bener bu!?" Ucap ayah Rukmini, lalu bergegas bangun sambil lalu mengambil parang dari kolong ranjang nya.
"Pintu nya kebuka, pak!" Ucap ibunya Rukmini, mereka kembali keluar.
Ayah Rukmini langsung mengecek seisi rumah tapi tidak ada siapapun, dan lagi.. Rumah itu tidak memiliki benda berharga apapun selain radio. Ibunya Rukmini memeriksa uang hasil kerja Rukmini pun masih utuh dan tidak berubah sedikitpun dari tempat nya.
Tapi kemudian ibunya Rukmini masuk ke dalam kamar Rukmini dan terkejut mendapati Rukmini tidak ada di kamar nya.
"Rukmini!" Panggil ibunya, barulah ayah nya yang di luar pun masuk.
"Pak, Rukmini hilang!" Ucap Ibunya, bapak nya terkejut.
"Ayo cari!!" Ucap bapak nya, tidak peduli apa.
Kembali ke sisi Rukmini, Rukmini masih berlari di tengah hutan. Dia sudah jatuh berkali - kali sampai sekujur tubuh nya penuh lumpur bahkan rambut nya pun juga penuh lumpur.
"Hh! Hh! Hh! Hhh!" Rukmini tidak berhenti berlari, dia tidak sedikitpun menoleh ke belakang.
Tapi.. Rukmini tidak tahu kenapa, sejak tadi dia lari tapi dia seperti tidak pernah sampai di tujuan nya. Seharus nya di seberang atau di ujung hutan itu ada desa lain, dia berencana pergi ke desa itu karena di sana masih ada kerabat nya.
Rukmini berencana meminta tolong agar dia di lindungi dan tidak di paksa melakukan pekerjaan itu lagi, tapi sejak tadi dia lari rasanya tidak pernah sampai. Seharus nya satu jam pun sudah sampai di ujung hutan, tapi dia seperti masih di tengah - tengah hutan.
"Kok aku ndak sampe - sampe, hiks! Hiks!" Rukmini menangis sambil menangis.
"Brugh!!" Rukmini kembali terjatuh tapi kali ini lebih keras dan kepala nya membentur akar pohon besar.
Saat Rukmini terkapar bersimbah darah di bawah pohon besar itu, Rukmini merasakan pusing yang luar biasa, dia juga tidak bisa melihat dengan jelas karena tetesan air hujan terus mengguyur nya. Tapi saat itu juga Rukmini mendengar suara - suara ramai.
"Darah.."
"Darah.."
"To.. Long.." Ucap Rukmini, dia lemas.
"Tolong, aku.."
"Makan.."
"Darah nya manis!"
Itu yang Rukmini dengar, tapi dia tidak bisa melihat siapa yang bicara. Pelan tapi pasti Rukmini akhir nya tidak sadarkan diri, dia telentang dengan kepala berdarah dan kaki kanan nya menekuk dan sekujur tubuh nya kotor dengan tanah..
Deras nya hujan menjadi saksi merah nya darah yang keluar dari kepala Rukmini, warna nya membaur dengan air hujan di tanah.
...\=\=\=\=\=...
Rukmini membuka matanya pelan - pelan, dia masih merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya dan pusing sampai mata nya panas. Tubuh nya demam tinggi..
"Sudah bangun?"
Rukmini tertegun mendengar suara ibunya, ya.. Rukmini di temukan oleh ibu dan ayah nya, dia di bawa kembali ke rumah, pelarian nya selama ber jam - jam itu berakhir sia - sia. Rukmini kecewa karena sudah lari sejauh itu tapi masih bisa di temukan oleh orang tua nya.
"Bagus koe yo! Kabur - kabur dari rumah, kenapa?!" Ucap ibunya, air mata Rukmini meleleh.
"Mini sakit, bu." Ucap Rukmini, dia sangat lemas.
"Yo salahmu dewe kabur hujan - hujanan! Sekarang sakit baru tau rasa." Ucap ibunya, Rukmini terisak pelan.
"Mini ndak mau kerja begitu bu, Mini sakit." Ucap Rukmini, ibunya makin kesal mendengar rengekan Rukmini.
"Kan sudah ibu bilang! Sekarang sakit nanti juga lama - lama ndak! Lama - lama kamu akan terbiasa, wes kamu tidur saja jangan bikin ibu marah, awas nek kabur lagi." Ucap ibunya, lalu keluar.
"Hiks! Hiks! Hiks! Aku sakit, bu.. Hiks.. Hiks.." Ucap Rukmini lirih.
...BERSAMBUNG!...
menarik dan makin penasaran...🤔🤔