Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama dibalik Tirai Putih
Gavin menaruh gue di atas brankar UKS dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah gue adalah porselen retak yang gampang hancur. Wajahnya masih pucat, napasnya belum teratur. Dia duduk di kursi plastik sebelah brankar, memegangi tangan gue erat-erat seolah takut gue bakal lari kalau dilepas.
"Lyn, bangun dong... jangan bikin gue gila," bisiknya lirih. Gue bisa ngerasain ibu jarinya mengusap punggung tangan gue dengan gemetar.
Tiba-tiba, pintu UKS terbuka kasar. Rizky masuk dengan wajah nggak kalah khawatir, membawa teh hangat di tangannya.
"Gimana kondisinya?" tanya Rizky, suaranya berusaha tetap tenang tapi ada nada desakan di sana.
Gavin langsung berdiri, badannya menghalangi jalan Rizky. "Lo ngapain ke sini? Belum puas bikin dia drop gara-gara proyek lo itu?"
Rizky menghela napas, menatap Gavin dengan berani. "Gue cuma mau mastiin dia baik-baik saja, Vin. Nggak usah berlebihan. Kita berdua tahu Odelyn emang punya asma dan GERD."
"Dan gue yang lebih tahu gimana cara jagain dia!" bentak Gavin, suaranya meninggi sampai penjaga UKS melirik. "Lo itu cuma orang baru yang tiba-tiba dateng dan sok pahlawan. Gue yang kenal dia lebih lama!"
"Tapi lo yang manggil dia 'Memey' dan ngeremehin dia selama ini, kan?" skakmat dari Rizky bikin Gavin bungkam seribu bahasa. "Gue menghargai dia sebagai Odelyn. Lo? Lo cuma suka dia pas dia udah tampil beda kayak gini."
Gavin mengepalkan tangannya, siap meledak. "Lo nggak tahu apa-apa soal perasaan gue, Ky! Gue... gue emang brengsek dulu, tapi liat dia sakit kayak gini, liat dia lebih milih diskusi sama lo daripada dengerin gue... itu bikin gue sadar."
Gavin berbalik ke arah gue—yang masih pura-pura pingsan—lalu dia berlutut di samping brankar, nggak peduli lagi ada Rizky di sana.
"Gue nggak mau kehilangan lo, Lyn. Gue nggak mau lo deket-deket sama cowok ini atau cowok mana pun lagi. Gue sayang sama lo, denger nggak?!" Gavin teriak frustrasi sambil membenamkan wajahnya di sisi brankar, tepat di dekat tangan gue.
Mendengar itu, Rizky cuma bisa mematung. Keheningan yang sangat canggung menyelimuti ruangan itu.
Gue memutuskan ini saatnya "bangun". Gue perlahan membuka mata, memberikan ekspresi bingung dan sayu yang paling sempurna. "Vin...? Kak Rizky...?"
Gavin langsung mendongak, matanya berkaca-kaca. "Lyn, lo udah sadar? Mana yang sakit? Gue panggil dokter ya?"
Gue menatap mereka bergantian, lalu suara gue bergetar seolah mau nangis. "Kalian... kalian berantem karena gue ya? Maafin gue... gue emang cuma beban..."
"Nggak, Lyn! Lo bukan beban!" Gavin langsung memotong cepat, suaranya melembut drastis. Dia menoleh ke Rizky dengan tatapan dingin tapi penuh kemenangan. "Ky, lo mending keluar dulu. Odelyn butuh tenang sama gue."
Gavin kembali menatap gue, tangannya sekarang mengusap rambut gue pelan. "Apa yang harus gue lakuin, Lyn? Apa yang harus gue lakuin biar lo nggak deket-deket sama cowok itu lagi? Gue bakal lakuin apa aja, asal lo cuma liat ke gue."
Gue menatap Gavin yang masih berlutut di samping brankar. Matanya yang merah penuh harap itu bener-bener pemandangan yang memuaskan. Di belakangnya, Rizky masih berdiri dengan wajah kaku—terluka, tapi tetap berusaha menjaga wibawanya.
Gue menarik napas pendek, lalu perlahan menarik tangan gue dari genggaman Gavin. Gue duduk bersandar di bantal, menatap Gavin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo tanya apa yang harus lo lakuin biar gue nggak deket-deket Kak Rizky lagi, Vin?" suara gue lirih, tapi tajam.
Gavin mengangguk cepat. "Apa aja, Lyn. Sebutin aja."
Gue melirik Rizky sebentar, lalu kembali ke Gavin. "Gue suka cowok yang punya visi. Gue suka cowok yang berpengaruh. Selama ini, gue ngerasa Kak Rizky jauh lebih layak buat ada di samping gue karena dia Ketua Senat. Dia punya power, dia punya tanggung jawab."
Gavin terdiam. Gue bisa liat harga dirinya tersenggol.
"Kalau lo mau gue cuma liat ke lo," gue menjeda kalimat gue, memberikan senyum tipis yang penuh tantangan. "Buktikan kalau lo lebih layak dari dia. Geser posisi Kak Rizky di pemilihan Ketua Senat periode tahun ini. Rebut tahta itu, Vin. Kalau lo bisa jadi nomor satu di kampus ini, gue bakal pikirin lagi soal kita."
Ruangan UKS mendadak terasa makin dingin. Rizky terkejut, dia nggak nyangka gue bakal jadiin jabatan dia sebagai bahan taruhan. Sedangkan Gavin? Matanya berkilat. Ego dan ambisinya terbakar seketika.
"Ketua Senat?" Gavin mengulang, lalu dia berdiri tegak. Dia menoleh ke arah Rizky dengan senyum sinis yang penuh kemenangan. "Oke. Kalau itu yang lo mau, gue bakal lakuin. Gue bakal bikin semua orang di kampus ini lupa kalau Rizky pernah memimpin."
Gavin menatap gue lagi, kali ini dengan intensitas yang berbeda. "Tunggu tanggal mainnya, Odelyn. Gue bakal bawa jabatan itu ke depan lo, dan setelah itu, nggak ada lagi alasan buat lo berpaling ke cowok lain."
Gavin langsung keluar dari UKS dengan langkah lebar, penuh energi baru. Dia bahkan nggak peduli lagi kalau gue masih "lemes". Dia cuma fokus sama satu hal: Kekuasaan.
Setelah Gavin hilang di balik pintu, gue menatap Rizky yang masih mematung.
"Lyn... kenapa kamu ngelakuin ini?" tanya Rizky kecewa.
Gue cuma tersenyum manis ke arah Rizky. "Karena dunia kampus terlalu membosankan kalau nggak ada kompetisi, Kak. Kakak nggak takut kalah sama Gavin, kan?"
Gavin benar-benar termakan umpan. Dalam waktu seminggu, dia sudah membentuk tim sukses paling mewah sepanjang sejarah kampus. Gue menawarkan diri jadi "Konsultan Bayangan"-nya.
"Vin, kalau mau menang dari Rizky, lo nggak bisa cuma modal tampang. Lo harus kelihatan dermawan dan berkelas," ucap gue sambil menyesap kopi di kafe mahal, tentu saja Gavin yang bayar.
Gue menyarankan dia buat bikin acara-acara besar: seminar nasional gratis dengan pembicara kelas atas, bagi-bagi merchandise premium, sampai sewa billboard di depan gerbang kampus. Gavin, dengan egonya yang setinggi langit, mengeluarkan uang pribadinya sampai ratusan juta demi menuruti "strategi" gue. Dia nggak sadar kalau gue sengaja bikin finansialnya terkuras untuk hal-hal yang nggak terlalu efektif buat suara akar rumput.
"Lo tenang aja, Lyn. Gue bakal buktiin siapa yang lebih layak di sini," ucapnya ambisius, matanya mulai terlihat lelah karena kurang tidur.
Di saat Gavin lagi sibuk rapat tim sukses sampai larut malam, gue justru ada di sebuah perpustakaan kota yang tenang bersama Rizky. Tapi kali ini bukan buat bahas proyek, melainkan ngedate yang dibungkus diskusi buku.
Rizky tampil sangat gentle. Dia membawakan gue bunga lily putih kecil. "Buat Olyn, karena lily itu tenang, kayak kamu," ucapnya manis.
Kami makan malam di restoran fine dining yang tersembunyi. Di sana, gue memainkan peran sebagai "Double Agent".
"Kak, Gavin lagi nyiapin strategi buat nyerang kebijakan Kakak soal dana ormawa tahun lalu. Kakak harus siapin data tandingan sekarang," bisik gue sambil menyentuh tangannya lembut.
Rizky menatap gue dengan penuh rasa syukur. "Makasih, Lyn. Gue nggak tahu apa jadinya gue tanpa masukan lo. Lo beneran mau kan, kita tetep bareng setelah pemilihan ini selesai?"
Gue cuma tersenyum manis—senyum yang Rizky artikan sebagai "iya", padahal itu adalah senyum "lo cuma pion gue". Gue kasih dia info-info kunci tentang kelemahan kampanye Gavin, memastikan persaingan mereka tetap seimbang dan makin panas. Gue pengen mereka saling menghancurkan satu sama lain.
Malamnya, gue balik ke "posisi" gue sebagai pendukung Gavin. Gue kirim pesan ke grup tim suksesnya.
Odelyn: "Vin, gue denger Rizky udah tahu soal rencana serangan dana ormawa kita. Kayaknya ada mata-mata di tim lo. Lo harus lebih agresif lagi, mungkin lo perlu bikin acara yang lebih besar lagi buat nutupin ini?"
Gavin langsung membalas dengan emosi.
Gavin: "Brengsek! Oke, kita bikin konser amal minggu depan. Gue bakal keluarin dana lagi. Gue nggak mau kalah!"
Gue menaruh HP, lalu maskaran sambil dengerin lagu klasik. Gavin makin bangkrut dan stres, Rizky makin bergantung sama info dari gue.
Besok adalah hari debat perdana calon ketua senat. Dan gue sudah menyiapkan satu pertanyaan yang bakal bikin salah satu dari mereka—atau keduanya—malu di depan seluruh mahasiswa.
...