Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acc Skripsi
Kamar Kos Ferdy, Pukul 05.17
Subuh masih pekat ketika Ferdy membuka mata. Tidak ada alarm yang berdering—tubuhnya sendiri yang membangunkannya, diprogram oleh tekad baru. Dia melangkah ke wastafel, menyiram wajah dengan air dingin yang menusuk.
Di cermin, matanya yang biasanya masih berkabut kini terlihat tajam, meski ada lingkaran hitam tipis di bawahnya. "Hari ini," katanya pada bayangannya sendiri, "bab 4 harus selesai."
Dari balik bahunya, dalam pantulan cermin yang tak menangkap wujudnya, Dasima tersenyum. Dia duduk di tepi tempat tidur, mengamati ritual pagi Raden-nya yang berubah.
"Semangatmu mengingatkanku padamu saat mempersiapkan perundingan penting dulu. Fokus yang sama."
Ferdy memakai kaos abu-abu lama yang sudah tipis dan celana training. Dia tidak peduli penampilan hari ini. Targetnya jelas: perpustakaan, laptop, dan draft skripsi. Sebelum pergi, dia meletakkan segelas air putih di sudut mejanya. "Buat kamu, Melati. Temenin gue ya hari ini."
Itu sudah menjadi rutinitas. Persembahan kecil, pengakuan kehadiran.
Dasima menghirup esensi air itu, energi hangat mengalir dalam wujudnya. "Selalu, Raden."
---
Perpustakaan Pusat UI, Lantai 3, Ruang Baca Khusus, Pukul 07.45
Ferdy sudah duduk di sudut favoritnya—meja dekat jendela yang menghadap ke pepohonan rindang. Di depannya, laptop, tumpukan buku referensi, catatan-coretan, dan segelas kopi susu hangat dari kantin. Dia memasang headphone noise-cancelling, memutar playlist instrumental lo-fi. Dunia luar tertutup.
Dasima duduk di kursi di seberangnya, tidak mengganggu, hanya hadir. Dia memperhatikan cara Ferdy bekerja: alis berkerut saat membaca teori, jari mengetik cepat saat inspirasi datang, dan wajah frustasi saat mentok.
Saat itu terjadi—Ferdy mendorong kursinya mundur, menarik napas panjang, tangan menengadah ke dahi—Dasima melayang mendekat.
Dia tidak bisa memberikan jawaban akademis. Tapi dia bisa memberikan ketenangan. Perlahan, dia mengulurkan "tangan" energinya, menempatkannya di pundak Ferdy yang tegang. Sensasi sejuk yang menenangkan merembes melalui kaos tipis itu.
Ferdy, yang tadinya menghela napas frustasi, tiba-tiba merasakan otot bahunya rileks.
Tekanan di kepalanya berkurang. Dia tidak melihat apapun, tapi dia tahu. "Makasih," gumamnya pelan, seolah berbicara pada udara. "Lagi buntu nih soal konsep 'visual ethics' dalam konteks bencana lokal."
Dia menatap layar kosong sejenak, lalu tiba-tiba sebuah ide muncul. Bukan ledakan, tapi aliran yang jernih.
"Eh, tapi gimana kalau gue bandingin dengan etika penuturan dalam tradisi lisan Nusantara? Jadi nggak Barat sentris."
Matanya berbinar. Tangannya langsung menari di atas keyboard.
Dasima tersenyum, menarik energinya kembali. Dia tidak memberikan ide, hanya membersihkan jalan bagi pikiran Ferdy sendiri untuk mengalir.
---
Gazebo Fakultas, Pukul 12.30
Teman-teman seperjuangan skripsi—Reza, Siska, Bowo—sudah berkumpul, membuka kotak makan siang mereka. Ferdy datang dengan wajah masih serius, membawa nasi bungkus.
"Woy, Fer! Lo udah kayak robot sejak pameran!" sapa Reza. "Muka lo kaya lagi mau perang."
"Memang lagi perang. Perang sama deadline dan dosen killer," jawab Ferdy, membuka bungkus nasinya. "Gue nggak mau nunda lagi."
"Gue liat Vina kemaren di halte, doi liat lo terus cepet-cepet ilang. Kayak takut," celetuk Siska sambil menyendok sayur.
"Bagus," jawab Ferdy singkat, tanpa penjelasan. Vina dan "pesona" nya sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tidak ingin ia sentuh lagi.
Bowo, yang peka, memperhatikan Ferdy. "Lo kayak… beda, Fer. Bukan cuma fokus. Tapi lebih… tenang di dalam. Padahal tekanan kan sama."
Ferdy mengunyah, lalu tersenyum kecil. "Mungkin karena akhirnya gue nemu alasan buat buru-buru kelar. Dan… ada yang nemenin."
"Whoa, ada yang nemenin? Cewek baru? Kirana?" tanya Reza penasaran.
"Bukan cewek," jawab Ferdy, lalu tertawa melihat ekspresi mereka. "Maksud gue, motivasi dari dalam. Dan… mungkin kepercayaan diri karena project foto jalan."
Teman-teman mengangguk, meski masih penasaran. Mereka tidak melihat sosok perempuan dengan kebaya biru yang duduk di pinggir gazebo, mendengarkan dengan senyum bahagia.
---
Kamar Kos, Pukul 20.00 – Grup WhatsApp "Project PAMOR"
Setelah seharian di perpustakaan, Ferdy memeriksa ponselnya. Grup project mereka ramai.
Andika: "Bro, ada email dari klien majalah travel. Mau kita bikin foto-foto heritage buildings di Jakarta Old Town buat edisi spesial. Budget oke!"
Roni: "Ada juga tawaran dari brand skincare lokal buat product photography dengan nuansa 'artisan & history'. Katanya tertarik sama aesthetic kita!"
Andika: "List project kita mulai numpuk nih. Gue bikin trello board ya buat manage."
Ferdy tersenyum. Momentum memang sedang baik. Lalu, pesan baru muncul.
Andika: "Oh iya, Kirana tadi chat gue. Dia minta ijin masuk ke grup WA kita. Katanya biar lebih gampang koordinasi untuk project-project yang dia bisa bantu koneksikan. Gimana?"
Ferdy membaca pesan itu beberapa kali. Memasukkan Kirana ke dalam grup intim mereka artinya dia akan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, bukan hanya kontak profesional. Itu langkah yang lebih personal.
Roni: "Gue sih setuju aja. Dia helpful banget."
Ferdy mengetik, berhati-hati.
Ferdy: "Secara profesional, oke. Dia emang ngebantu. Tapi kita tetep harus keep boundary ya. Jangan sampe project kita jadi terlalu bergantung sama satu orang."
Andika: "Setuju. Gue undang ya?"
Ferdy: "Oke."
Beberapa detik kemudian, notifikasi: Kirana telah bergabung ke grup.
Kirana: "Halo semua! Makasih undangannya. Saya coba bantu pantau dan kasih koneksi jika ada yang sesuai. Mohon bimbingannya ☺️"
Roni: "Wih, welcome Kirana!"
Andika: "Siap! Kita lagi bahas project heritage buildings nih."
Percakapan langsung bergerak cepat. Kirana langsung memberikan value: merekomendasikan nama fixer di Kota Tua yang reliable, memberikan tip mengurus perizinan shooting yang lebih mudah, bahkan menawarkan untuk pinjamkan kartu akses ke beberapa gedung tua milik kenalan keluarganya.
Ferdy mengamati. Kirana efisien, informatif, dan tidak mencoba mengambil alih. Dia benar-benar berperan sebagai fasilitator. Sulit untuk tidak menghargainya.
Dasima, yang melihat layar dari balik bahu Ferdy, merasakan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia senang Raden-nya mendapatkan bantuan yang konkret. Di sisi lain, kehadiran Kirana yang semakin dekat membuat naluri berjaraknya aktif. Tapi sejauh ini, tidak ada energi negatif. Kirana versi ini tampak murni ingin membantu.
"Kau harus bijak, Raden," bisik Dasima.
"Terima bantuannya, tapi tetaplah jadi pemimpin bagi timmu sendiri."
Ferdy, seolah mendengar bisikan itu, mengetik di grup.
Ferdy: "Makasih banyak infonya, Kirana. Untuk project heritage, kita sebagai tim yang tentuin konsep dan executenya. Tapi bantuan akses dan tipnya sangat berguna."
Pesan itu jelas: terima kasih, tapi kami yang memegang kendali kreatif.
Kirana: "Pasti! Kreatifitas sepenuhnya di tangan kalian. Saya cuma buka jalan 😊"
Respon yang sempurna. Ferdy menganggak, sedikit lebih lega.
---
Ruang Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Pukul 10.08, Dua Hari Kemudian
Ini hari H. Ferdy berdiri di depan pintu ruang dosen pembimbingnya, Dr. Arief Widodo, M.Hum.—legenda hidup di fakultas dengan reputasi "killer" tapi sangat dihormati.
Jantung Ferdy berdebar kencang. Draft bab 4 yang telah diperbaiki total ada di dalam tasnya, bersama dengan presentasi singkat yang telah ia latih berulang kali.
Dia mengenakan kemeja lengan pendek garis-garis biru muda yang paling rapi yang ia miliki, dan celana chino. Rambutnya disisir rapi. Penampilan penting untuk membuat kesan pertama yang baik.
"Kamu bisa, Fer," bisiknya pada diri sendiri.
"Loe udah kerja keras. Ini cuma tinggal dijual."
Dari sampingnya, Dasima berdiri dengan ekspresi serius. Wujudnya terlihat lebih solid, seolah berkonsentrasi penuh. "Aku di sini, Raden. Aku akan memberimu kekuatan."
Ferdy mengambil napas dalam-dalam, dan mengetuk pintu.
"Masuk!"
Suara berat dari dalam. Ferdy membuka pintu.
Dr. Arief adalah pria berusia lima puluhan, berkacamata tebal, dengan wajah yang secara permanen terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius. Ruangannya berantakan dengan buku, jurnal, dan asbak berisi puntung rokok. Dia sedang menatap layar komputernya ketika Ferdy masuk.
"Selamat pagi, Pak. Saya Ferdy, bimbingan Bapak untuk skripsi."
Dr. Arief mengangkat mata, matanya menatap Ferdy dari balik kacamata. "Ferdy. Iya. Duduk." Tangannya menunjuk kursi di seberang meja yang juga penuh tumpukan kertas.
Ferdy duduk dengan tegak, mengeluarkan draft dan laptop. Dasima melayang berdiri di belakang kursinya, seperti seorang penasihat spiritual yang tak terlihat.
"Berikan saya progress terbaru. Dan jelaskan dengan singkat, saya tidak punya banyak waktu," kata Dr. Arief tanpa basa-basi.
"Baik, Pak." Ferdy membuka laptop, menampilkan slide presentasi singkat. Suaranya awalnya bergetar, tapi dia mengingat ketenangan yang ia rasakan pagi tadi, dan seolah ada yang menenangkannya dari dalam.
"Penelitian saya membahas visual naratif dalam fotografi jurnalistik bencana di Indonesia, dengan studi kasus pada coverage Gempa Palu dan Tsunami Selat Sunda. Saya menganalisisnya melalui lensa teori etika visual dan konsep trauma culture."
Dr. Arief mendengarkan, tangannya menopang dagu. "Lanjut."
Ferdy menjelaskan kerangka teori, metodologi, dan temuan sementara di bab 4. Dia menyoroti kritiknya terhadap pendekatan Barat-sentris dalam etika fotografi dan mengusulkan integrasi dengan nilai-nilai lokal seperti "tepa slira" dan etika penuturan dalam tradisi lisan.
Dr. Arief tidak banyak bicara, hanya sesekali mengangguk atau mengerutkan kening. Suasana tegang.
Saat Ferdy selesai, ruangan menjadi hening. Dr. Arief mengambil draft kertasnya, membalik-balik halaman dengan cepat. Beberapa kali dia berhenti, membaca lebih detail, membuat coretan kecil dengan pulpen merah.
Ferdy menahan napas. Ini saat-saat yang menentukan.
Dasima, di belakangnya, memusatkan energinya. Dia tidak bisa mempengaruhi pikiran dosen, tapi dia bisa memperkuat aura ketenangan dan keyakinan Ferdy.
Dia "membungkus" Ferdy dengan energi yang menenangkan, seperti perisai tak kasatmata dari kecemasan.
Dr. Arief akhirnya meletakkan draft itu. Dia mendongak, menatap Ferdy. Wajahnya masih sulit dibaca.
"Analisis bab 4 ini…" dia mulai, dan Ferdy bersiap untuk hantaman kritik.
"…cukup tajam. Pendekatan kontekstualisasi dengan nilai lokal itu segar. Masih ada kelemahan di bagian pembahasan mengenai regulasi media, kurang mendalam. Tapi secara keseluruhan, arahnya sudah benar."
Ferdy hampir tidak percaya dengan telinganya.
"Revisi minor. Perkuat bagian regulasi, tambahkan referensi terbaru tentang kebijakan redaksi di dua media online yang Anda jadikan sampel. Saya beri waktu dua minggu."
"T-Terima kasih, Pak!" Ferdy hampir terbata.
"Dan," Dr. Arief menatapnya lebih dalam, "dengan progress ini, saya bisa mengajukan Anda untuk jadwal sidang skripsi dalam… tiga bulan ke depan. Jika revisi-revisi akhir lancar. Bersedia?"
Tiga bulan. Itu jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun, termasuk Ferdy sendiri. Biasanya antrian sidang bisa sampai enam bulan atau lebih.
"Sangat bersedia, Pak! Terima kasih banyak!" jawab Ferdy, suaranya penuh rasa syukur yang meluap.
"Kerja bagus. Pertahankan. Sekarang keluar, saya ada meeting," kata Dr. Arief sambil sudah kembali menatap komputernya, mengakhiri pertemuan dengan khasnya yang blak-blakan.
Ferdy keluar dari ruangan dengan langkah yang hampir melayang. Dia menutup pintu, berdiri di koridor yang sepi, dan melepaskan napas yang selama ini tertahan.
Dia berhasil. Tidak hanya lolos, tapi dipersilahkan untuk sidang dengan jadwal dipercepat. Ini seperti mimpi.
Dia menoleh ke samping, ke ruang kosong di sebelahnya. "Kita berhasil, Melati," bisiknya, mata berkaca-kaca. "Bab 4 acc. Sidang tiga bulan lagi."
Tidak ada jawaban. Tapi sebuah pelukan hangat tak kasatmata tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuhnya dari belakang, erat, penuh kebanggaan dan sukacita. Wangi melati membanjiri indranya, begitu kuat dan manis.
Ferdy membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu sejenak, di tengah koridor fakultas yang bisa saja ada orang lewat. Dia tidak peduli.
"Makasih," bisiknya lagi, suaranya bergetar.
"Gue nggak bisa bayangin bisa sampe sini tanpa… tanpa perasaan ditemenin."
Pelukan itu terasa semakin hangat, dan seolah ada bisikan di jiwanya: "Kau yang melakukannya, Raden. Kau kuat. Aku hanya… menyemangati."
Ferdy mengangguk, menyeka sudut matanya dengan cepat. Dia berjalan keluar gedung, menghirup udara pagi yang segar. Di
ponselnya, dia mengetik di grup skripsi.
Ferdy: "GUYS! BAB 4 ACC! REVISI MINOR! DOSEN AJAKIN SIDANG 3 BULAN LAGI! 🎉🎉🎉"
Respons langsung meledak. Ucapan selamat membanjiri chat. Di grup Project PAMOR, Andika dan Roni juga ikut merayakan. Kirana mengirim satu pesan:
Kirana: "Selamat, Ferdy! Luar biasa! 🎊"
Dia membalas semua dengan singkat, rasa bahagia yang begitu penuh hingga dadanya terasa sesak.
Perjalanan pulang di atas motor kali ini terasa berbeda. Jakarta yang biasanya terasa panas dan bising, hari ini terasa cerah. Dia bukan lagi Ferdy yang hanya berjuang sendirian. Dia punya tim project yang mulai solid, punya prospek lulus yang nyata, dan… dia punya sebuah kehadiran setia yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Dan Dasima, duduk di jok belakang dengan senyum paling bahagia, memandangi punggung Ferdy. Dia menyaksikan pangerannya tidak hanya bertahan, tetapi menaklukkan tantangan dunia barunya. Ini adalah kemenangan kecil lain. Dan dia ada di sana untuk menyaksikannya, untuk merasakannya, untuk menjadi bagian darinya.
Babak baru benar-benar dimulai. Dengan fokus yang seperti laser, format hidup yang mulai terstruktur, dan garis finish bernama "sidang skripsi" yang sekarang terlihat jelas di ujung pandang. Dan di setiap langkah menuju sana, akan selalu ada wangi melati dan pelukan tak kasatmata yang siap menjadi penyemangat, pelindung, dan saksi bisu dari perjuangan seorang Ferdy Wicaksono—dan jiwa Raden Wijaya yang hidup di dalamnya.