Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Sepatu Pantofel di Atas Lumpur
Suara deru dari mesin jip dan truk derek yang merayap di jalanan berbatu itu terdengar seperti lonceng kematian yang bergema di lembah Malabar. Adrian Dirgantara berdiri mematung, jemarinya masih memegang erat amplop kotor yang baru saja dijejalkan oleh wanita asing di hadapannya. Udara pegunungan yang biasanya dipuja karena kesegarannya, kini terasa mencekik, membawa aroma tanah basah dan bensin yang bercampur menjadi satu.
Di hadapannya, wanita itu yang belakangan ia ketahui bernama Sekar masih melipat tangan dengan gestur menantang. Sekar tidak tampak terkejut dengan kedatangan iring-iringan kendaraan hitam tersebut. Sebaliknya, ia menatap mereka dengan sorot mata yang letih, seolah-olah drama penyitaan ini adalah rutinitas yang membosankan baginya.
"Kau tidak dengar?" Sekar bertanya lagi, suaranya lebih tajam dari sebelumnya. "Mereka datang untuk mengambil apa yang mereka anggap milik mereka. Dan kau hanya diam berdiri di sana seperti patung pajangan di lobi kantor."
Adrian tidak menjawab. Otaknya yang terbiasa bekerja dengan kecepatan prosesor mutakhir sedang berusaha melakukan sinkronisasi antara kenyataan di Jakarta dan situasi yang ada di depannya. Ia adalah Adrian Dirgantara; pria yang biasanya menentukan nasib perusahaan lain, bukan pria yang berdiri di tengah lumpur sambil menunggu hartanya untuk dirampas.
Tiga jip hitam itu berhenti tepat di belakang Adrian, menciptakan dinding besi yang mengintimidasi. Beberapa pria turun dengan gerakan yang efisien. Mereka mengenakan seragam safari gelap, memegang papan klip, dan memiliki raut wajah dingin yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah terbiasa melakukan pengusiran. Salah satu dari mereka, pria dengan kacamata hitam dan perut yang sedikit buncit, melangkah maju.
"Adrian Dirgantara?" pria itu bertanya dengan nada yang tidak mengandung basa-basi. "Saya Lukman, kepala tim kurator untuk aset jaminan Dirgantara Group. Kami di sini untuk melakukan inventarisasi awal dan pemasangan tanda sita pada aset bangunan utama serta mesin pengolahan."
Adrian berbalik perlahan. Ia berusaha menegakkan bahunya, memanggil kembali aura otoritas yang biasanya membuat bawahannya gemetar. "Kalian melakukan kesalahan. Tanah ini, Dirgantara Tea Estates, adalah aset pribadi yang tidak terikat dengan jaminan korporasi. Pengacara saya, Baskara, sudah memastikan hal itu."
Lukman tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Adrian merasa sangat kecil. "Ah, tanahnya memang aman untuk sementara, Pak Adrian. Karena itu hibah pribadi. Tapi mesin-mesin di dalam pabrik itu? Bangunan rumah panggung itu? Semuanya tercatat sebagai investasi korporasi yang didanai lewat hutang yang sekarang macet. Kami tidak akan menyita tanah Anda. Tapi kami hanya akan menyita semua yang berdiri di atasnya. Jika Anda ingin tanah ini kosong, silakan. Tapi mulai hari ini, semua fasilitas yang ada di sini berada di bawah pengawasan kami."
Adrian merasakan rahangnya mengeras. Ia melirik ke arah rumah panggung yang tampak megah meski tua. Jika bangunan itu disegel, ia bahkan tidak punya atap untuk berteduh malam ini. Ia melihat ke arah pabrik pengolahan yang ada di kejauhan; jika mesin-mesin itu diambil, maka janji untuk memanen teh Grade A hanyalah mimpi di siang bolong.
Sekar tiba-tiba melangkah maju, masuk ke tengah-tengah konfrontasi tersebut. "Pak Lukman, Anda tidak bisa menyegel mesin itu sekarang. Kami sedang dalam siklus pelayuan pucuk terakhir. Jika mesin dimatikan, hasil kerja petani selama seminggu ini akan busuk. Kalian ingin menyita aset bernilai, bukan sampah busuk, kan?" Lukman menatap Sekar dengan pandangan meremehkan. "Nona Sekar, peraturan tetap peraturan. Instruksi kami adalah penghentian operasional total."
"Dan membiarkan ratusan keluarga di bawah sana kelaparan karena bonus panen mereka hilang?" potong Sekar, suaranya bergetar karena amarah. "Pak Adrian ini mungkin tidak tahu apa-apa, tapi Anda seharusnya tahu hukum agrikultur. Barang yang sedang dalam proses pengolahan tidak boleh diganggu hingga siklusnya selesai."
Adrian terkejut melihat bagaimana Sekar membelanya atau lebih tepatnya, membela kebun itu. Lukman tampak ragu sejenak. Ia melihat ke arah jam tangannya, lalu ke arah pabrik. "Baiklah," ucap Lukman akhirnya. "Kami beri waktu dua puluh empat jam. Besok pagi, segel akan dipasang. Pak Adrian, saya sarankan Anda segera mencari tempat tinggal lain. Dan satu lagi, jangan coba-coba memindahkan barang apa pun dari dalam rumah itu. Semua sudah difoto dan diinventarisasi semalam oleh tim pendahulu kami."
Iring-iringan jip itu tidak pergi jauh. Mereka hanya bergerak mundur dan parkir di area gerbang masuk, mendirikan tenda darurat seolah-olah sedang mengepung sebuah benteng. Adrian merasa seperti seorang raja yang baru saja kehilangan kerajaannya dan kini sedang diawasi oleh penjajah di halaman rumahnya sendiri.
"Ikut aku!" perintah Sekar singkat tanpa melihat ke arah Adrian.
Adrian menyeret kopernya, mengikuti langkah bot karet Sekar menuju rumah panggung. Jalan setapak itu semakin curam dan licin. Sepatu pantofel mahalnya kini sudah benar-benar kehilangan bentuk; lumpur cokelat pekat menempel hingga ke pergelangan kaki, merusak kulit domba berkualitas tinggi yang ia beli di Milan. Ia ingin mengeluh, tapi melihat bagaimana Sekar berjalan dengan tangguh di depannya, ia menelan kembali kata-katanya.
Mereka sampai di teras rumah panggung. Papan kayu jati kuno itu berderit saat Adrian menginjakkan kakinya. Interior rumah itu luas namun berdebu, dengan langit-langit tinggi dan aroma kayu tua yang dicampur dengan wangi teh kering yang samar. Tidak ada furnitur mewah, hanya ada meja panjang dan beberapa kursi rotan yang sudah kendur.
Sekar menunjuk ke arah amplop yang masih digenggam Adrian. "Buka sekarang. Itu alasan kenapa aku tidak membiarkanmu diusir begitu saja oleh mereka." Adrian merobek amplop kotor itu. Di dalamnya terdapat tumpukan surat kaleng dan satu dokumen resmi yang sudah lecek. Surat-surat itu berisi ancaman dari pihak yang menamakan diri mereka "Persatuan Aliansi Pengembang". Isinya jelas: mereka telah membeli utang-utang kecil para petani dan berniat melakukan eksekusi lahan secara paksa jika Dirgantara Tea Estates tidak segera menyerahkan sertifikat tanahnya.
Namun, yang membuat mata Adrian terbelalak adalah dokumen resminya. Itu adalah laporan audit internal yang ditandatangani oleh mendiang ayahnya sebulan sebelum kematiannya. Di sana tertulis: Aset Malabar memiliki deposit mineral langka “Logam Tanah Jarang” di bawah lapisan tanah teh. Nilai potensialnya sepuluh kali lipat dari seluruh Dirgantara Group.
Adrian terduduk di kursi rotan yang berderit. Otak bisnisnya segera berputar. Ayahnya tidak sedang mencoba menyelamatkan kebun teh karena sentimentalitas; ayahnya sedang mencoba menyembunyikan "tambang emas" di bawah kaki mereka agar tidak jatuh ke tangan konsorsium yang menghancurkan perusahaannya.
"Kau sudah membacanya?" tanya Sekar, ia berdiri di ambang pintu, cahaya matahari sore menciptakan siluet di tubuhnya. "Itulah kenapa mereka begitu bernafsu menyita tempat ini. Bukan karena utang, Adrian. Tapi karena apa yang ada di bawah tanah yang sedang kau injak dengan sepatu mahalmu itu." Adrian menatap Sekar dengan tajam. "Jika kau tahu ini, kenapa kau tidak memberitahu pihak berwenang? Atau menjual informasi ini?"
Sekar tertawa pahit. "Dan membiarkan tempat ini berubah menjadi lubang tambang yang mati? Menghancurkan sumber air bagi tiga desa yang ada di bawah sana? Tidak, Adrian. Aku mencintai tanah ini lebih dari aku membenci keluargamu. Aku memberikan itu padamu karena sekarang kau adalah pemilik sahnya. Kau punya dua pilihan: Menjadi pahlawan yang melindungi tanah ini, atau menjadi pengkhianat yang menjualnya demi kembali ke kursi empukmu yang ada di Jakarta."
Adrian terdiam. Ia melihat ke luar jendela, ke arah hamparan hijau yang kini tampak berbeda di matanya. Di bawah keindahan itu, tersimpan kekayaan yang bisa mengembalikannya ke puncak dunia dalam sekejap. Ia hanya perlu menelepon beberapa relasi lamanya, menjual hak tambang, dan ia akan kembali menjadi miliarder sebelum minggu ini berakhir.
Namun, ia juga melihat para petani yang ada di kejauhan, yang sedang memetik pucuk teh dengan punggung melengkung, bekerja dengan harapan bahwa pemilik baru mereka yaitu dirinya bisa membawa perubahan. "Berapa banyak waktu yang kita punya sebelum mesin-mesin itu benar-benar diambil?" tanya Adrian, suaranya kini terdengar lebih fokus.
"Dua puluh empat jam untuk mesin pelayuan. Tapi untuk kebun ini? Mungkin tidak sampai seminggu sebelum 'pengembang' itu datang dengan preman dan buldoser," jawab Sekar. "Kau punya rencana, Tuan CEO? Atau kau masih sibuk berduka atas jasmu yang kotor?" Adrian berdiri. Ia membuka laptopnya yang untungnya masih memiliki sisa baterai, meski tidak ada sinyal internet sama sekali, jari-jarinya menari di atas keyboard seolah sedang menyusun rencana perang. Ia mulai mengetikkan sesuatu, menyusun struktur pertahanan hukum dan strategi bisnis yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Ini bukan lagi soal saham tapi ini soal perang gerilya agrikultur.
Malam mulai jatuh di Malabar. Kabut tebal merayap masuk ke dalam rumah melalui celah-celah kayu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Adrian mencoba menyalakan lampu, namun tidak ada listrik. Ia hanya memiliki cahaya dari layar laptopnya yang meredup. "Listrik mati setiap jam enam sore," suara Sekar terdengar dari arah dapur. Ia membawa sebuah lampu petromak dan meletakkannya di atas meja. "Selamat datang di kehidupan nyata, Adrian Dirgantara."
Adrian melihat Sekar yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu di dapur sederhana mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat jauh dari rumah, namun entah kenapa, ia merasa lebih "hidup" daripada saat ia berada di pesta lantai 50. Ia kembali menatap dokumen rahasia ayahnya. Namun, saat ia membalik halaman terakhir, ia menemukan catatan tangan kecil di pojok kertas yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Tulisan tangan ayahnya yang khas, miring dan tegas.
Adrian, maafkan Ayah. Jangan percaya pada siapa pun di Malabar. Bahkan pada mereka yang terlihat paling setia pada tanah ini. Kuncinya ada di bawah pohon teh induk, di titik nol koordinat. Adrian merasakan dingin yang berbeda merayap di punggungnya. Ia menoleh ke arah Sekar yang sedang membelakanginya, memotong sesuatu dengan pisau dapur yang berkilat di bawah cahaya petromak. Wanita itu terlalu tahu banyak. Ia terlalu peduli untuk seseorang yang mengklaim hanya sebagai agronomis bayaran.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar di pintu depan rumah panggung. Bukan ketukan ramah, melainkan gedoran yang menggunakan benda tumpul. "Pak Adrian! Saya tahu Anda di dalam!" suara itu bukan suara Lukman si kurator. Itu adalah suara yang berat, serak, dan penuh ancaman. "Kami datang untuk menagih janji Ayah Anda. Jangan buat kami harus menjemput Anda dengan cara kasar!"
Adrian menatap pintu, lalu menatap Sekar. Sekar tidak tampak terkejut, namun ia menggenggam pisau dapurnya lebih erat. Di luar, bayangan beberapa pria besar terlihat melewati jendela, mengepung rumah panggung yang rapuh itu. Adrian menyadari bahwa malam pertamanya di Malabar tidak akan berakhir dengan tidur nyenyak. Ia terjebak di sebuah rumah tanpa listrik, di tengah hutan, dengan wanita yang mungkin menyembunyikan agenda sendiri, dan sekelompok pria misterius yang menuntut janji dari ayahnya yang sudah tiada.
Siapakah para pria itu, dan janji apa yang telah dibuat ayahnya yang mempertaruhkan nyawa Adrian di tengah gunung yang sunyi ini?
Ketika gedoran di pintu semakin keras dan bayangan orang-orang di luar mulai merusak gerendel pintu, Adrian baru menyadari bahwa dokumen yang ia pegang bukan hanya peta kekayaan, melainkan sebuah kontrak mati. Apa sebenarnya yang terkubur di "titik nol" perkebunan teh itu, dan apakah Sekar benar-benar berada di pihaknya atau justru dialah yang memanggil orang-orang tersebut untuk menuntaskan kesepakatan lama?
semangat update terus tor..