Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Sore itu, Kaisar benar-benar pulang lebih cepat dari biasanya. Di tangannya ada beberapa bungkus makanan.
Sate ayam, lengkap dengan lontong dan sambal kacang favorit Shelina. Begitu pintu dibuka, aroma sate langsung memenuhi ruang tamu.
“Sate ayam spesial datang!” seru Kaisar setengah bercanda. Shelina yang sejak tadi duduk di sofa langsung bangkit dan berjalan mendekat.
Namun, bukannya terlihat senang, ia malah mengerutkan kening kecil.
“Kamu beli sate?”
Kaisar mengangguk bangga. “Katanya tadi pengen.”
Shelina terdiam sebentar. Lalu dengan wajah sedikit bersalah ia berkata pelan, “Tiba-tiba … aku nggak mau sate.”
Kaisar membeku.
“Hah?”
“Aku pengen soto ayam.”
Kaisar berkedip.
“Soto?”
“Iya, yang di pinggiran jalan menuju kampus. Yang warung kecil itu. Enak banget kuahnya.”
Beberapa detik hening. Kaisar menatap kantong sate di tangannya. Lalu menatap istrinya.
“Kamu serius?”
Shelina mengangguk kecil.
“Baru kepikiran.”
Wajah Kaisar mulai terlihat kesal tipis.
“Shel … ini aku baru beli.”
“Aku tahu…”
“Dan kamu yang minta.”
“Iya…”
“Sekarang nggak jadi?”
Shelina menggigit bibir, sadar situasinya sedikit menyebalkan.
“Maaf…”
Kaisar menghela napas panjang. Sejujurnya ia memang kesal. Bukan karena satenya, tapi karena rasanya seperti usaha kecilnya sia-sia. Namun, saat melihat wajah Shelina yang jarang-jarang meminta sesuatu dengan nada manja seperti itu kekesalannya perlahan mencair.
Selama ini Shelina hampir tidak pernah merepotkannya. Jarang minta dibelikan ini-itu. Kaisar akhirnya mendesah pelan.
“Yaudah.”
Shelina mengangkat wajahnya.
“Serius?”
“Iya, ayo!”
“Kita ke sana?”
“Kita naik motor.”
Wajah Shelina langsung berubah cerah.
“Kamu nggak marah?”
“Sedikit,” jawab Kaisar jujur. “Tapi nggak lama.”
Shelina tertawa kecil, lalu mendekat dan memeluknya cepat.
“Terima kasih.”
Kaisar hanya menggeleng, tapi senyum tipis muncul di wajahnya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di atas motor.
Shelina duduk di belakang, memeluk pinggang Kaisar lebih erat dari biasanya. Motor melaju pelan menyusuri jalan sore yang mulai ramai. Angin menerpa wajah mereka langit mulai berwarna jingga.
“Kamu tiba-tiba kenapa sih pengen soto?” tanya Kaisar sambil tetap fokus ke jalan.
“Pengen aja.”
“Shel…”
“Hm?”
“Besok jangan berubah lagi ya.”
Shelina tertawa kecil di belakangnya.
“Nggak janji.”
Kaisar menggeleng geli.
Motor terus melaju menuju warung soto sederhana di pinggir jalan menuju kampus. Warung kecil dengan lampu kuning temaram dan bangku plastik seadanya. Namun, sore itu tempat sederhana itu terasa istimewa.
Karena di antara rasa kesal yang sebentar dan keinginan yang mendadak, ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan, kehangatan kecil dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Motor berhenti tepat di depan warung soto sederhana yang berdiri di pinggir jalan menuju kampus.
Lampu kuning menggantung di atas tenda biru yang sedikit pudar. Aroma kuah kaldu langsung menyeruak begitu mereka turun.
Begitu masuk,
“Lho, Mbak Shelina!” sapa ibu penjual dengan ramah. “Udah lama nggak kelihatan.”
Shelina tersenyum lebar. “Iya, Bu. Kangen sotonya.”
Kaisar menoleh heran.
“Oh … sering ke sini?” tanyanya pelan.
Shelina hanya tersenyum misterius.
Mereka memilih duduk di meja dekat jendela, menghadap jalan. Dari sana terlihat kendaraan lalu lalang, suara sendok beradu dengan mangkuk, dan obrolan pelanggan lain yang hangat.
Tidak lama, dua mangkuk soto ayam disajikan. Kuahnya bening kekuningan. Irisan ayam lembut, taburan daun bawang dan bawang goreng menguar harum. Shelina langsung meraih sendoknya. Kaisar masih memperhatikan, Shelina menyuap pertama.
Matanya berbinar, ekspresinya bahagia sekali. Kaisar mengernyit.
“Kok kayak nemu harta karun?”
Shelina tertawa kecil. “Enak banget.”
Kaisar ikut mencicipi.
“Hm, enak sih.”
Ia lalu bertanya, “Tapi ini nggak pedas?”
Shelina menggeleng.
“Nggak mau pedas.”
Kaisar makin bingung, biasanya Shelina paling suka sambal. Ia memperhatikan istrinya lebih saksama. Cara makannya pelan, dan entah kenapa, ada sesuatu di wajahnya yang berbeda. Setelah beberapa suap, Shelina meletakkan sendoknya.
“Habis ini beli es krim ya.”
Kaisar menatapnya.
“Es krim?”
“Iya.”
Nada suaranya lembut. Hampir seperti anak kecil yang meminta sesuatu.
Kaisar mengangguk pelan. “Iya.”
Namun, saat Shelina menunduk lagi, Kaisar melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh. Mata Shelina tampak sedikit berkaca-kaca. Bibirnya tersenyum, tapi senyum itu seperti menahan sesuatu.
“Kamu kenapa?” tanya Kaisar pelan.
Shelina cepat menggeleng.
“Nggak kenapa-kenapa.”
Tapi suaranya tipis, Kaisar terdiam. Shelina kembali menyuap sotonya, pelan-pelan.
Beberapa waktu berlalu, setelah malam soto keduanya meninggalkan warung tersebut menuju toko es krim.
Motor berhenti di depan toko es krim kecil yang sudah jadi langganan mereka. Lampu etalase menyala terang, memantulkan warna-warni box es krim di balik kaca freezer.
Begitu turun, Shelina langsung berjalan ke arah box pendingin. Ia membungkuk sedikit, menatap deretan rasa dengan serius.
“Asem banget itu,” komentar Kaisar sambil berdiri di sampingnya.
Shelina tersenyum kecil. “Justru itu.”
Ia mengambil dua box tersebut tanpa ragu. Kaisar membayarnya, lalu menyerahkan kantong plastik pada Shelina. Shelina memegangnya dengan kedua tangan. Menatapnya beberapa detik, senyumnya tipis.
Namun, kali ini, tidak berbinar seperti di warung soto tadi. Saat mereka hendak naik motor kembali, Kaisar tiba-tiba bertanya pelan.
“Shel…”
“Hm?”
“Kamu … kangen Papa ya?” Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti. Shelina yang sudah hendak memakai helm perlahan menoleh. Tatapannya kosong sesaat, lalu berubah nanar. Kaisar langsung tahu ia tidak salah menebak.
Rasa asem, soto hangat, es krim mangga dan nanas. Semua itu makanan favorit ayahnya dulu. Shelina tidak menjawab, bibirnya bergetar tipis. Matanya mulai berkaca-kaca lagi, tapi kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Kaisar melepas helmnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah mendekat dan menarik Shelina ke dalam pelukannya.
Hanya isak kecil yang tertahan di dada Kaisar. Namun, Kaisar bisa merasakannya ada kerinduan yang tertahan di sana.
“Aku cuma…” suara Shelina patah, “tiba-tiba keinget Papa.”
Kaisar mengusap lembut punggungnya.
“Aku tahu.”
“Dulu kalau lagi sedih, Papa selalu ngajak aku makan soto … terus beli es krim asem.”
Tangisnya makin lirih.
“Aku kira udah biasa … tapi hari ini…”
Kaisar menundukkan wajahnya, menempelkan pipinya ke rambut istrinya.
“Kangen ya.” Shelina mengangguk dalam pelukan itu. Ia kehilangan ayahnya tak lama ini. Namun, rindu tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya belajar hidup berdampingan dengannya.
“Aku di sini,” bisik Kaisar pelan. Tangannya mengusap kepala Shelina dengan lembut.
“Kamu nggak sendirian.” Tangis Shelina perlahan mereda. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Namun, pelukan Kaisar tidak dilepas.
Beberapa menit kemudian, Shelina melepaskan pelukan itu. Matanya masih merah, tapi senyumnya kembali muncul.
“Maaf,” katanya pelan.
“Kenapa minta maaf?”
“Jadi cengeng.”
Kaisar menggeleng.
“Kamu cuma kangen.”
Ia mengambil helm dan memakaikannya pelan pada Shelina.
“Kalau mau nangis lagi, nggak apa-apa.”
Shelina menatapnya lembut.
“Terima kasih.” Motor kembali melaju di bawah langit malam. Di tangan Shelina, kantong es krim itu terasa lebih ringan.
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara