Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22. Turnamen Jenius Kekaisaran
Seorang pejabat tua melangkah maju dan membungkuk hormat. “Yang Mulia, persiapan Turnamen Jenius Kekaisaran telah mencapai enam puluh persen. Arena Latihan Utama Kekaisaran Awan Putih hampir rampung. Formasi pelindung telah diperbarui sesuai standar Turnamen Benua.”
Beberapa pejabat mengangguk puas.
“Peserta?” tanya Kaisar.
“Pendaftaran telah dibuka tiga hari lalu,” jawab pejabat itu. “Hingga pagi ini, sudah lebih dari lima ribu kultivator muda mendaftar dari seluruh wilayah kekaisaran. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah.”
Bisik-bisik pelan terdengar di aula.
“Jumlah yang mengesankan.”
“Lebih banyak dari lima tahun lalu.”
Permaisuri Lou Yi tersenyum samar. “Tampaknya generasi muda kita semakin berani.”
Permaisuri Mue Che menimpali dengan suara dingin, “Atau hanya terlalu percaya diri.”
Kaisar Jack Zen mengangkat tangannya, menghentikan percakapan kecil itu. “Turnamen Jenius Kekaisaran bukan sekadar ajang pamer kekuatan. Ini adalah fondasi masa depan kita. Pastikan semuanya berjalan adil dan transparan.”
“Perintah diterima, Yang Mulia.”
...###...
Di balkon kamarnya, Ray Zen berdiri bersandar pada pilar batu putih, kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya tenang, namun di dalam matanya ada kilatan ketertarikan yang sulit disembunyikan.
Turnamen Jenius Kekaisaran.
Acara yang hanya digelar lima tahun sekali.
Ray Zen masih ingat betul bagaimana lima tahun lalu, saat ia masih berusia 13 tahun. Seluruh ibu kota berguncang oleh satu nama.
Mei Zen.
Kakaknya.
Saat itu, Mei Zen baru berusia 16 tahun. Dengan tubuh ramping dan wajah yang masih menyisakan kepolosan remaja, ia melangkah ke arena dan mengalahkan satu demi satu lawannya—para jenius dari sekte besar, keluarga bangsawan, bahkan putra-putri jendral kekaisaran.
Ray Zen masih bisa mengingat sorak sorai penonton, debu yang beterbangan, dan tatapan kagum yang mengiringi setiap langkah kakaknya di atas arena.
“Juara pertama… Mei Zen!”
Nama itu menggema ke seluruh kekaisaran.
Dan sejak hari itu, Mei Zen bukan hanya putri kekaisaran. Ia menjadi simbol. Simbol generasi baru Kekaisaran Awan Putih.
Ray Zen tersenyum kecil tanpa sadar.
“Apa kau memikirkan turnamen jenius kekaisaran ini, Pangeran?”
Suara itu membuat Ray Zen menoleh. Bai Hu berdiri di sampingnya, tubuh berototnya tampak kontras dengan keheningan balkon itu. Wajahnya tetap datar, namun matanya tajam seperti biasa.
“Sedikit, Paman.” jawab Ray Zen santai. "Turnamen Jenius Kekaisaran ini adalah ajang yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang.”
Bai Hu mendengus pelan. “Turnamen ini adalah ajang pembuktian, pangeran. Para kultivator muda pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk menjadi pemenangnya.”
Ray Zen mengangguk. “Dengan begitu, mereka akan melakukan segala cara, paman.”
Bai Hu terdiam sejenak sebelum berkata, “Itulah yang juga aku khawatirkan pangeran.”
Ray Zen meliriknya. Ia tersenyum tipis. “Paman tidak perlu sekhawatir itu. Apapun yang terjadi nanti, kita pasti dapat mengatasinya.”
“Hemp, kau benar pangeran,” jawab Bai Hu. “Aku mendengar," lanjutnya "ketujuh sekte besar mengirimkan murid-murid terbaik mereka. Bahkan ada rumor beberapa jenius yang selama ini bersembunyi akhirnya akan muncul.”
Ray Zen tertarik. “Termasuk Sekte Tangan Besi? Kedengarannya menyenangkan.”
Sekte Tangan Besi adalah sekte yang telah masuk kedalam daftar Tujuh Sekte Besar Kekaisaran Awan Putih, menggantikan Sekte Kumbang Hitam, yang telah di musnahkan oleh Ray Zen. Sekte ini cukup misterius, tetapi kekuatan mereka tidak bisa di remehkan.
Bai Hu menatapnya dalam-dalam. “Pangeran sendiri? Apa akan mengikuti turnamen ini?”
Pertanyaan itu membuat Ray Zen terdiam sejenak.
Turnamen ini terbuka untuk usia 15-20 tahun. Dan Ray Zen berada tepat di batas itu.
Ia tersenyum tipis. “Aku hanya penonton.”
Bai Hu mengangkat alis. “Pangeran yakin?” seolah meragukan ucapan Ray Zen. Ia tahu betul sifat Ray Zen, yang akan selalu tertarik dengan hal-hal seperti ini.
“Untuk saat ini,” jawab Ray Zen ringan, meski dalam hatinya, sebuah api kecil mulai menyala.
...###...
Kabar tentang Turnamen Jenius Kekaisaran menyebar seperti angin ke seluruh wilayah Kekaisaran Awan Putih.
Di kota-kota besar, papan pengumuman dipenuhi poster turnamen. Di desa-desa terpencil, para tetua desa membicarakannya di balai pertemuan. Sekte-sekte kecil mulai mengumpulkan murid-murid muda terbaik mereka, sementara sekte besar menutup gerbang dan memperketat pelatihan.
Di sebuah desa kecil di perbatasan barat, seorang pemuda berambut kusut, menggenggam sepasang pedang kembarnya dengan tangan gemetar.
“Ini kesempatanku,” gumamnya. “Jika aku bisa masuk kedalam peringkat tiga puluh besar saja… hidupku dan hidup keluargaku pasti akan berubah.”
Di sisi lain kekaisaran, seorang gadis bangsawan menatap bayangannya di cermin, matanya penuh ambisi. “Tahun ini, giliran namaku yang akan diingat.”
Nama-nama jagoan mulai bermunculan.
Putra Tertua Klan Wei.
Murid inti Sekte Mawar Es.
Putri tunggal Jenderal Ke-3 Kekaisaran.
Dan tentu saja, bisik-bisik tentang seorang “pangeran kekaisaran” yang belum pernah menunjukkan kekuatannya secara terbuka. Pahlawan yang selalu muncul disaat-saat yang penting.
Ray Zen.
Meski tidak pernah mengklaim apa pun, namanya tetap menjadi bahan pembicaraan.
...###...
Di taman belakang istana, Ray Zen berjalan santai di bawah pohon bunga awan yang sedang bermekaran. Kelima pengawalnya—Bai Hu, Han Yu, Bear, Tiger, dan Trile—mengikutinya dengan jarak beberapa langkah.
“Ramai sekali,” ujar Bear sambil menoleh ke arah luar istana, tempat suara rakyat yang berlalu-lalang terdengar samar.
“Turnamen selalu seperti ini, Bear.” jawab Bai Hu. “Tapi kali ini terasa lebih… panas.”
Tiger tertawa kecil. “Tentu saja. Semua orang ingin membuktikan diri, mereka pasti akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.”
Ray Zen berhenti melangkah. “Justru itu yang membuatku penasaran.”
Han Yu bertanya, “Penasaran tentang apa, Nak?”
“Siapa yang benar-benar layak disebut Jenius,” jawab Ray Zen. “Kekuatan sejati sering muncul di saat seperti ini, kakek Han.”
Bai Hu menatap lurus ke depan. “Jika perang dengan Kekaisaran Awan Kuning benar-benar terjadi, kekuatan mereka semua pasti sangat membantu.”
Ucapan itu membuat suasana sejenak hening.
Ray Zen menghela napas pelan, lalu tersenyum. “Kalau begitu, turnamen berlangsung diwaktu yang tepat.”
“Benar, pangeran.” sahut Bai Hu. “Dengan begitu peluang kemenangan kita akan semakin besar.”
Ray Zen melangkah kembali, senyum tipis masih terpatri di wajahnya. “Semakin menarik saja.”
Malam itu, di ruang pribadinya, Ray Zen berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke ibu kota. Lampu-lampu lentera berkilauan seperti bintang di darat.
“Sepuluh hari lagi,” gumamnya.
Di benaknya, terbayang arena luas, sorak sorai penonton, benturan kekuatan kultivasi, dan nama-nama baru yang akan terukir dalam sejarah.
Ia teringat kembali kata-katanya di Aula Utama seminggu lalu.
“Kekaisaran Awan Putih bisa berdiri di atas kakinya sendiri.”
Turnamen ini akan menjadi buktinya. Entah ia akan tetap menjadi penonton… atau melangkah ke arena dan mengubah segalanya.
Di kejauhan, angin malam berhembus pelan, membawa aroma perubahan. Dan seluruh Kekaisaran Awan Putih menahan napas, menunggu sepuluh hari yang akan menentukan Jenius Kekaisaran mereka tahun ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru