NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Neraka Tanpa Dasar

Kehancuran sosial hanyalah sebuah hidangan pembuka. Bagi iblis kuno sekelas Sirius, merampas harta benda dan teman-teman seorang manusia fana adalah hal yang terlalu mudah, hampir membosankan.

Karena Lunaris menuntut siksaan yang lebih sadis, sang maestro penderitaan telah menyiapkan menu utama yang sesungguhnya: mengoyak kewarasan Gavin dari dalam, inci demi inci, hingga pemuda itu mengemis untuk ditiadakan dari eksistensi.

Malam harinya, di sebuah kamar indekos sempit, pengap, dan berbau apak yang berhasil Gavin sewa dengan sisa uang recehan di dasar tasnya, teror sesungguhnya dimulai.

Kamar itu sangat berbeda dengan kamarnya di mansion. Tidak ada kasur pegas berlapis sutra, tidak ada pendingin ruangan, dan tidak ada keheningan yang menenangkan. Hanya ada kasur busa tipis yang keras, kipas angin berdengung kasar, dan suara tikus yang berderit di atas plafon yang bocor. Namun, kelelahan mental dan fisik yang luar biasa hebat membuat Gavin tidak peduli lagi. Tangisannya sudah mengering. Begitu kepalanya yang berdenyut hebat menyentuh bantal yang keras dan berbau debu itu, ia langsung tertidur pulas. Kesadarannya tenggelam seketika.

Tapi ia tidak benar-benar beristirahat. Keadilan karma tidak mengenal kata rehat.

Di alam bawah sadarnya, Sirius menyeret paksa jiwa Gavin, menariknya keluar dari kenyamanan tidur menuju dimensi mimpi yang dirancang khusus dari dasar neraka.

Gavin membuka matanya perlahan. Udara yang menyapanya bukan lagi udara pengap dari kamar kosnya, melainkan udara yang sangat dingin, lembap, dan menusuk tulang. Bulu kuduknya meremang seketika. Bau pesing yang tajam, campuran karbol murahan yang menyengat, dan perlahan... aroma anyir darah segar merayap masuk ke rongga hidungnya, membuat perutnya bergejolak mual seketika.

Suara tetesan air menggema di ruangan yang sunyi itu.

Tik... tik... tik...

Gavin menelan ludah yang terasa seperti pasir. Matanya terbelalak liar mengenali ubin putih kusam di bawah kakinya dan deretan cermin berembun di hadapannya. Ia tahu tempat ini. Ini adalah toilet ujung di lantai tiga SMA Sevit. Tempat terkutuk di mana ia dan teman-temannya menjebak, merekam, dan menghancurkan hidup Lunaris.

Napas Gavin mulai memburu. "N-nggak... gue lagi tidur. Ini cuma mimpi. Bangun, Vin... bangun!" gumamnya panik.

Ia mencoba berbalik dan berlari menuju pintu keluar, tapi kakinya terasa seperti terpaku kuat di ubin yang kotor. Otot-ototnya kaku, menolak perintah otaknya. Di atas kepalanya, lampu neon berkedip-kedip redup, mendesis seperti ular, memancarkan cahaya pucat yang mengerikan dan membuat bayangan-bayangan di sudut ruangan tampak hidup.

Lalu, di tengah keheningan yang mencekik itu, terdengar suara derit engsel berkarat yang ditarik paksa.

Kriieeek...

Salah satu pintu bilik toilet di ujung ruangan terbuka sangat, sangat pelan.

Dari dalam kegelapan pekat bilik itu, sesosok bayangan merangkak keluar. Jantung Gavin rasanya berhenti berdetak. Ia ingin berteriak minta tolong, namun suaranya tertahan di tenggorokan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya dari dalam.

Itu Lunaris.

Tapi bukan Lunaris yang lemah dan selalu menunduk yang ia kenal. Penampilan gadis di hadapannya ini adalah inkarnasi dari mimpi buruk terburuk manusia.

Seragamnya compang-camping, robek di berbagai sisi, dan basah kuyup oleh cairan merah gelap berbau busuk yang menetes-netes ke lantai. Rambutnya berantakan, basah dan lepek, menempel di wajahnya yang seputih mayat yang telah berhari-hari tenggelam di dasar sungai.

Namun, yang paling membuat kewarasan Gavin nyaris putus terbelah adalah tatapan mata gadis itu. Mata Lunaris sepenuhnya kosong. Seluruh bagian putih matanya telah berubah menjadi hitam pekat tanpa dasar, memancarkan aura kebencian murni, dendam yang membara, dan kehausan akan darah.

Lunaris tidak berjalan. Tubuhnya melayang beberapa sentimeter dari lantai dengan gerakan patah-patah yang memuakkan—seperti boneka rusak yang ditarik oleh tali-tali tak kasat mata. Semakin dekat... dan semakin dekat.

"Kenapa lo ngelakuin itu, Gavin...?" Suara yang keluar dari bibir pucat Lunaris bukan sekadar suara manusia. Itu adalah distorsi dari puluhan jeritan melengking yang bergema langsung di dalam tempurung kepala Gavin. Suara itu beresonansi, membuat gendang telinganya terasa ingin pecah dan otaknya berdarah.

"Apa kesalahan gue, Gavin?"

Gavin menangis, air mata membasahi wajahnya yang ketakutan setengah mati. "M-maaf... maafin gue... tolong..." rintihnya tanpa suara.

"Kenapa kalian semua jahat banget sama?"

"APA SALAH GUE SAMA LO!?"

Lunaris mengabaikan rintihan itu. Gadis itu mengangkat kedua tangannya yang sangat kurus hingga tulang-tulangnya menonjol.

Kuku-kukunya memanjang secara tidak wajar, menghitam, penuh kotoran, dan patah di ujung-ujungnya. Dalam sekejap mata yang tidak bisa diikuti oleh pandangan, tangan sedingin es balok itu sudah melesat dan mencengkeram leher Gavin.

Cengkeraman itu luar biasa kuat, seolah lehernya dijepit oleh mesin pres hidrolik. Kuku-kuku kotor Lunaris menancap, merobek lapisan kulit leher Gavin. Rasa sakit yang tajam dan membakar menjalar seketika.

Gavin bisa merasakan darah segarnya sendiri mengalir deras, hangat membasahi kerah kemejanya. Ia tersedak hebat, matanya melotot hingga urat-urat merahnya terlihat jelas. Ia meronta dengan sisa tenaga, memukul-mukul lengan Lunaris berulang kali, tapi rasanya seperti memukul tiang besi yang padat dan beku.

Lunaris semakin mendekatkan wajahnya yang hancur ke wajah Gavin. Dari sela-sela bibir gadis itu, cairan kental berwarna hitam—yang berbau seperti bangkai binatang yang membusuk di bawah terik matahari—mulai menetes.

Tetesan pertama jatuh tepat di pipi Gavin. Rasanya seperti air keras. Kulitnya melepuh seketika. Tetesan berikutnya jatuh ke matanya.

Gavin menjerit dalam kebisuan saat rasa panas itu membakar saraf penglihatannya. Udara di paru-parunya habis tak bersisa. Pandangannya mulai menggelap, tertutup oleh darah, air mata, dan cairan hitam itu. Jantungnya berdebar sangat pelan. Ini akhirnya, batin Gavin. Ia sekarat. Ia benar-benar akan mati tenggelam dalam penderitaan.

Tepat di detik rohnya bersiap terlepas dari raga—

"HAAAAAAHH!"

Gavin terbangun dengan jeritan melengking yang membelah keheningan malam. Ia terduduk secara kasar di kasur kosannya, terengah-engah hebat seolah baru saja ditarik dari dasar lautan. Dadanya naik turun dengan liar, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri seluruh tubuhnya, membuat bajunya basah kuyup.

Napasnya masih putus-putus. "Mimpi... cuma mimpi," rapanya dengan bibir gemetar.

Namun, saat tangannya secara refleks meraba lehernya sendiri yang terasa perih... ia membeku. Ujung jari-jarinya basah.

Dengan tangan gemetar hebat, Gavin mengangkat jari-jarinya ke depan wajahnya di bawah cahaya remang-remang kamar kos. Ada darah segar di sana. Darah sungguhan. Dan saat ia meraba kembali, ia bisa merasakan ada goresan luka bekas kuku yang dalam tertinggal di lehernya. Cekikan di dimensi ilusi itu merobek kulitnya di dunia nyata.

"T-tolong... siapapun... tolong," Gavin merintih, menangis histeris seperti anak kecil. Ia mundur, meringkuk di sudut kasur yang menempel ke dinding, memeluk kedua lututnya dengan tubuh gemetar hebat. Malam itu, ia tidak berani memejamkan mata walau hanya sedetik.

Namun, mimpi buruk itu tidak datang hanya sekali. Kengerian itu menolak memberinya ampun.

Selama berhari-hari berikutnya, teror itu bermutasi menjadi siksaan keabadian dalam bentuk mikro. Setiap kali Gavin memejamkan mata—bahkan saat ia hanya berkedip sedikit lebih lama karena kelelahan—ia akan kembali ditarik secara brutal ke toilet itu. Kembali melihat Lunaris yang membusuk. Kembali dicekik. Kembali merasakan kulitnya robek, napasnya putus, dan cairan hitam itu membakar wajahnya. Dan tepat di ambang kematiannya, Sirius akan membangunkannya kembali ke dunia nyata. Berulang-ulang. Puluhan kali dalam sehari.

Kurang tidur ekstrem dan siksaan magis yang tak berkesudahan itu dengan cepat menghancurkan fisik serta mental Gavin.

Dalam kurun waktu kurang dari seminggu, Gavin telah berubah wujud menjadi sesosok mayat hidup yang berjalan. Kantung matanya menghitam pekat dan sangat cekung, seolah matanya akan segera melesak masuk ke dalam tengkoraknya. Kulit tubuhnya pucat pasi, kering, dan bersisik. Bibirnya pecah-pecah parah, mengeluarkan darah setiap kali ia berbicara. Tatapan matanya menjadi sangat liar, kosong, dan dipenuhi paranoia tingkat tinggi. Setiap kali ia berjalan, ia selalu menoleh ke belakang dengan panik, mengira ada bayangan yang mengikutinya.

Sikapnya berubah sangat drastis dan mengerikan. Ia kehilangan fungsi kognitifnya sebagai manusia normal.

Puncaknya terjadi pada suatu hari di tengah kelas matematika. Gavin, yang entah bagaimana berhasil menyeret tubuhnya ke sekolah karena takut sendirian di kamar kosnya, duduk di pojok belakang dengan tubuh bergetar dan kepala tertunduk di atas meja.

Tiba-tiba, seorang siswa di barisan depan tidak sengaja menjatuhkan buku cetak tebal ke lantai. BRAK!

Suara benturan itu memicu respons PTSD yang fatal di otak Gavin yang sudah rusak. Gavin melompat dari kursinya sambil menjerit histeris. Ia melempar kursinya sendiri hingga menghantam papan tulis, membuat seluruh kelas dan guru terlonjak kaget.

"JANGAN DEKETIN GUE! PERGI! PERGI LU SEMUA BANGSAT!" Gavin memaki-maki udara kosong dengan bahasa yang kasar dan tidak teratur.

Teman-teman sekelasnya, termasuk Bracia dan Arthur, menatapnya dengan perpaduan antara jijik, kaget, dan ngeri yang luar biasa.

Namun kengerian itu belum selesai. Gavin tiba-tiba menatap lengan bawahnya sendiri dengan mata melotot ngeri. Di matanya, yang telah dimanipulasi oleh halusinasi kutukan, kulit lengannya tampak bergelombang.

Ratusan belatung putih gemuk berlumuran darah terlihat merayap, merobek, dan memakan dagingnya dari dalam kulitnya sendiri.

"Arrrgh! Panas! Ulat! Ada ulat di kulit gue!" jerit Gavin kesetanan.

Tanpa mempedulikan sekelilingnya, Gavin mulai menggaruk-garuk lengannya sendiri dengan kuku-kukunya secara brutal. Ia menggaruk begitu keras hingga kulit aslinya benar-benar terkelupas. Darah segar mengucur deras dari lengannya, menetes ke lantai kelas, namun ia tidak berhenti menggaruk "belatung" yang tidak pernah ada itu.

"Ya Tuhan! Gavin! Berhenti!" teriak Bu Guru panik, mundur ketakutan melihat darah yang berceceran. Beberapa siswa perempuan menjerit dan menutup mata mereka karena mual melihat daging lengan Gavin yang terkoyak oleh tangannya sendiri.

Gavin benar-benar telah menjadi orang gila seutuhnya. Ia tersungkur di lantai kelas, menangis meraung-raung sambil terus mencakari tubuhnya, mengemis pada hal-hal yang tidak kasat mata untuk melepaskannya.

Sedangkan di mejanya yang sejajar dengan meja Gavin sekarang. Meja paling belakang dibarisan tengah, dua sosok berdiri berdampingan, mengamati mahakarya penderitaan itu dalam diam.

Lunaris duduk diam setelah menoleh sebentar saat suara Gavin yang histeris terdengar dan seluruh kelas ribut. Gadis lebih memilih menyibukkan dirinya mencatat materi dari buku paket.

Jika beberapa hari yang lalu matanya masih memancarkan keraguan dan ketakutan, kini tidak ada lagi emosi manusia di sana.

Mata hijaunya menatap tajam pemandangan menyedihkan di dalam kelas itu tanpa sedikit pun kilat simpati, belas kasihan, atau penyesalan. Sebaliknya, ada kepuasan kelam, gelap, dan sangat dingin yang menari-nari di balik manik matanya.

Di sebelahnya, Sirius duduk dengan postur santainya yang arogan. Pangeran iblis bermata perak itu menyeringai lebar, raut wajahnya terlihat sangat menikmati pertunjukan itu. Aroma keputusasaan, darah, keringat dingin, dan ketakutan murni yang menguar dari tubuh Gavin adalah anggur berkualitas tinggi yang termanis bagi indra penciuman Sirius.

"Dia sudah berada di ambang batas kewarasannya," gumam Sirius dengan suara bisikan yang dalam dan menggoda, memecah keheningan di antara mereka berdua.

"Otaknya sudah melepuh. Sedikit lagi tekanan, dan kewarasan itu akan benar-benar hancur menjadi debu yang tak bisa disatukan lagi. Kau menyukainya, Lunaris?"

Lunaris berhenti menulis dan tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Matanya masih menatap lekat-lekat pada tubuh Gavin yang kini sedang diseret oleh dua orang petugas keamanan sekolah menuju ruang kesehatan, sementara pemuda itu terus meronta-ronta dan menjerit memanggil nama ibunya.

Lunaris menoleh perlahan menatap sang iblis kuno di sebelahnya. Saat ia bergerak, delapan garis sayatan di lengan kirinya berdenyut nyeri. Kutukan itu memakan sebagian energi hidupnya, menuntut harga. Namun, anehnya, Lunaris mulai menyukai rasa sakit itu.

Denyutan perih itu adalah sebuah pengingat abadi bahwa ia tidak lagi menjadi pihak yang diinjak.

"Gak cukup," bisik Lunaris akhirnya. Suaranya terdengar sangat tenang, namun sedingin es di kutub utara yang sanggup membekukan aliran darah pendengarnya.

Sirius menaikkan sebelah alis kesempurnaannya, tertarik. Seringainya semakin lebar memperlihatkan deretan gigi yang terlalu rapi dan tajam. "Oh? Belum cukup? Hatimu ternyata lebih pekat dari yang aku duga, Manusia."

Lunaris tidak mempedulikan sindiran itu. "Bikin dia lebih menderita lagi, Sirius," pinta Lunaris tanpa ragu. Kilat matanya menatap tepat ke dalam mata perak Sirius, memancarkan aura kegelapan yang kini mulai menyamai hawa membunuh sang iblis.

"Gue mau terornya lebih kejam," lanjut Lunaris penuh penekanan. "Lebih menjijikkan dari sebelumnya. Buat dia ngerasain sakit fisik dan mental sampai ke sumsum tulang-tulangnya. Siksa jiwanya sampai dia ngerasa mau mati hari ini juga... tapi buat dia terlalu lumpuh oleh rasa takut yang luar biasa untuk sekadar bunuh diri. Gue mau dia tersiksa di nerakanya sendiri, terjebak di dalam tubuhnya yang membusuk, sampai dia sadar bahwa kematian adalah kemewahan yang nggak pantes dia dapetin."

Mendengar permintaan yang begitu kelam dan sempurna itu, Sirius tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat maskulin dan elegan, namun di saat yang bersamaan, menyimpan ancaman mematikan dan resonansi kuno yang sanggup meruntuhkan sebuah peradaban.

Sang iblis mencondongkan tubuh tegapnya, mendekatkan wajah tampannya ke arah Lunaris hingga ia bisa membisikkan kata-kata kutukan mematikan itu tepat di dekat telinga sang gadis.

"Sesuai perintahmu, Tuan Puteri," bisik Sirius, suaranya mengalun seperti melodi kematian. "Jika itu yang kau inginkan, maka malam ini... kita akan membuat kulit dan dagingnya membusuk hingga rontok dari tulangnya, saat jantungnya masih berdetak dan ia masih bernapas."

Dan sang iblis menepati janjinya.

Malam itu, di kamar kos yang kini terasa seperti peti mati yang sempit, siksaan Gavin mencapai puncaknya—titik absolut dari kegilaan manusia.

Setelah pihak sekolah memaksanya pulang dan memperingatkan agar Gavin dibawa ke psikiater, pemuda itu hanya meringkuk di bawah selimut tipisnya yang bau. Ruangan itu gelap gulita. Gavin tidak berani menyalakan lampu, tidak berani menutup mata, dan bahkan takut untuk bernapas terlalu keras.

Namun, di tengah kesunyian jam dua pagi, hidungnya menangkap sesuatu. Bau manis yang sangat busuk. Bau daging yang terkena nekrosis.

Gavin mulai mengendus sekitarnya dengan panik. "B-bau apa ini...?"

Ia mencium tangannya sendiri, dan matanya terbelalak. Bau bangkai itu berasal dari tubuhnya sendiri.

Tiba-tiba, rasa gatal yang luar biasa panas menyerang seluruh pori-pori kulitnya. Rasanya seolah ada jutaan semut api yang disuntikkan ke bawah aliran darahnya. Gavin mengerang kesakitan, berguling-guling di atas lantai yang kotor, mencoba menggesekkan tubuhnya ke lantai untuk meredakan rasa gatal dan panas yang membakar.

Ia merangkak terseok-seok menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Dengan tangan gemetar parah, ia menyalakan sakelar lampu bohlam yang remang-remang dan menatap pantulan dirinya di cermin retak yang kotor.

Apa yang ia lihat menghancurkan sisa-sisa terakhir dari akal sehatnya.

Di dalam cermin itu, wajahnya tidak lagi berbentuk wajah manusia normal. Kulit wajahnya mulai menghitam dan melepuh seperti daging yang dipanggang di atas bara api. Beberapa bagian kulit pipi dan lehernya terlihat mengelupas, memperlihatkan otot dan pembuluh darah yang berdenyut di baliknya. Cairan kuning bernanah dan darah kehitaman merembes keluar dari pori-porinya.

Gavin menjerit dengan suara yang sudah serak dan nyaris tak terdengar. Ia menyentuh pipinya sendiri. Dan saat jarinya menyentuh kulit pipinya, daging itu benar-benar rontok dan menempel di tangannya, jatuh ke wastafel dengan suara plap yang menjijikkan.

"AAAAAAAARRRGGGHHH!"

Gavin berteriak memanggil kematian. Ia memukul cermin itu hingga pecah berantakan. Serpihan kaca menancap di punggung tangannya, menambah penderitaan fisiknya. Halusinasi kutukan itu kini sepenuhnya menyatu dengan sistem saraf aslinya, mengirimkan sinyal rasa sakit dari daging yang membusuk langsung ke otaknya, padahal secara fisik wujud aslinya masih utuh.

Gavin jatuh berlutut di lantai kamar mandi yang basah. Ia memandangi pecahan kaca di tangannya. Otaknya yang hancur meneriakkan satu-satunya jalan keluar: Bunuh diri. Akhiri semua rasa sakit ini. Iris nadimu dan matilah.

Ia mengambil kepingan kaca yang paling tajam. Ia mengarahkannya ke pergelangan tangannya sendiri. Tangan Gavin bergetar hebat. Air mata dan darah bercampur di wajahnya.

Namun, tepat saat ujung kaca itu menyentuh nadinya... suhu ruangan mendadak turun drastis hingga napasnya mengeluarkan uap putih. Bayangan di cermin yang pecah itu bergerak sendiri. Di setiap kepingan kaca, ia melihat puluhan mata hitam pekat Lunaris menatapnya, diiringi seringai iblis bermata perak di belakang gadis itu.

"Jika kau mati, jiwamu akan kami siksa di neraka yang jutaan kali lebih menyakitkan dari ini untuk selama-lamanya," sebuah bisikan gaib yang sangat berat dan dingin bergema di dalam kepalanya, membekukan jantung Gavin.

Gavin menjatuhkan pecahan kaca itu. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Ketakutan yang absolut, ketakutan yang melampaui logika manusia, mengambil alih dirinya. Ia benar-benar lumpuh. Ia terlalu tersiksa untuk hidup menanggung rasa sakit dari dagingnya yang "membusuk", namun nyalinya terlalu kecil dan terlalu pengecut untuk menjemput kematian.

Ia terjebak di tengah-tengahnya. Di dalam neraka ciptaannya sendiri.

Gavin hanya bisa meringkuk membentuk posisi janin di atas genangan darah, air mata, keringat dinginnya sendiri di lantai kamar mandi, menangis melolong dalam keheningan tanpa ada satupun yang mendengar, menanti sisa umurnya dihabiskan dalam kegilaan.

Di waktu yang sama, jauh di dalam kamar tidurnya yang tenang, Lunaris sedang duduk di tepi ranjang. Ia menyingkap lengan kemeja tidurnya.

Dengan senyum tipis yang mematikan, ia melihat salah satu dari delapan garis sayatan berdarah di lengannya nyaris memudar namun masih ada, meandakan salah satu dendamnya hampir terbayar lunas.

Lunaris menatap keluar jendela ke arah bulan purnama yang bersinar dingin. "Satu hampir selesai. Tujuh lagi. Bersiaplah, Bracia. Giliran Lo akan datang cepat atau lambat."

1
Yani Sri
rasanya pendek sangat.... next cepet kak
Lucient Night: 2k kata masih belum cukup panjang kah? 😭🙏🏻
total 1 replies
Yani Sri
lanjut sebanyak-banyaknya kakak
Lucient Night: okayyy
total 1 replies
Draggnel
perasaan prolognya udah saya baca dan komen. kok hilang? apa error ya nt? btw ayo kita saling support. mampir juga di novel saya kalau berkenan 🤝
Draggnel: oh saya kira hilang atau error. sip, sama2. nanti saya baca lagi
total 2 replies
Draggnel
pas baca episode ini langsung berasa banget feelnya, beda sama prolognya.

lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
Yani Sri
yg like sangat sedikit kak, padahal cerita sebagus ini

berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
Lucient Night: hehe iya nih, makasih udah mampir 🤗
total 1 replies
Yani Sri
5 bunga bermekaran untukmu, kak
Yani Sri
😍💪💪💪
Yani Sri
bab ini terasa lebih panjang dari sebelum2nya....

walau sebagian tentang kilas balik...

segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭
Yani Sri
lanjut kakak,,,
Yani Sri
wow
Yani Sri
lanjut kak, aq kasih kopi untuk semangat
Yani Sri
boom like ya kak
Lucient Night: makasih 🥹🥹
total 1 replies
Yani Sri
setelah sekian lama tidak buka novel Toon, alhamdulillah nemu cerita sebagus ini, segera lanjut, ya Kak... bagus ceritanya...
Yani Sri
kapan lanjut?
Lucient Night: aku lanjut hari ini kok
total 1 replies
Yani Sri
cerita sebagus ini, kenapa like sedikit sih?
Jerryaw
mampir ketempat aku juga kk
Lucient Night: okayy, makasih udh mampir kak
total 1 replies
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!