Seorang gadis bernama Sabrina adelia, dia cewek tomboy, cuek, suka yang gratisan dan juga ringan lidah, namun terkadang juga memiliki lidah pedas jika di usik, mendadak terbangun di dunia novel kerajaan modern. Novel yang dia buat sendiri. Sabrina adalah seorang penulis terkenal, namun ketika dia merilis novel terbaru, banyak para penggemarnya yang marah. Karena kehidupan pemeran utama wanita yang tragis bernama kayana. Dimana pemeran utama wanita yang lemah, di jodohkan oleh pria tokoh utama, pria terkaya dan dingin bernama Pangeran Xavier Maheswara. Namun pangeran xavier telah memiliki kekasih bernama Aruna Lauren, aruna sang figuran yang seharusnya menjadi pelengkap di puja bagaikan tokoh utama wanita.
Sang pemeran utama wanita juga harus menyamar sebagai pria, karena kehidupan yang terancam. Dengan modal otak encer, dan sedikit nekat, dia merubah alur novel yang di buatnya. Hingga menarik perhatian pangeran xavier sang pemeran utama pria dan membuatnya sangat terobsesi dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Pangeran Xavier Yang Mulai Tumbuh
Pangeran xavier tidak membiarkan kayana pergi. Dia duduk di samping kayana, dia ingin mencari tahu tentang noah, lebih tepatnya kayana calon istrinya. Pangeran xavier telah mengetahui noah adalah kayana, karena suara, parfum dan jari-jemari tangannya yang dia pegang di waktu malam pertemuan pertamanya. Di saat dia menggandeng tangannya di masuk ke perusahaan dia tambah yakin.
Tetapi dia tidak akan terburu-buru membongkar penyamaran calon tunangannya. Seringai tipis muncul di sudut bibirnya, dia merasakan sensasi kegembiraan yang baru, ada gairah aneh ketika calon tunangannya bersusah payah penipunya sebagi laki-laki.
Pangeran xavier menatap kayana intens, membuat kayana memicingkan matanya curiga. "Kenapa?" Tanyanya disela memakan makanannya.
"Kamu tampak-- Gagah dan tampan hari ini." Ucapnya dengan nada sengaja di beratkan, mengandung intonasi yang hanya bisa di mengerti oleh dirinya.
Mata kayana melebar, dan gugup." Lah, ini pangeran xavier benar-benar belok, Karena kata-katanya penuh makna." Batinnya bergidik ngeri dan gugup.
Pangeran xavier menahan senyuman, melihat mata calon tunangannya yang matanya melebar dan ada kilatan gugup, yang calon tunangannya berusaha sembunyikan di balik tatapan beraninya. Pangeran xavier memutuskan mengikuti permainan calon tunangannya. Dia ingin melihat calon tunangannya, sampai kapan bisa bertahan. Sebelum dia sendiri yang nanti akan meruntuhkan penyamarannya.
Pintu ruangan pangeran xavier terbuka tanpa peringatan dan tanpa ketukan yang biasa menjadi tata krama dasar. Aruna masuk dengan topeng kelembutan dan kebaikannya. dengan wajah yang di hiasi senyuman tipis, yang tampak begitu tulus dan lemah lembut. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya.
"Pangeran xavier." Panggilnya lembut dengan suara merdu. Namun bagi kayana suaranya bagaikan jelly yang bergoyang-goyang. "Pangeran, ini aku bawakan bekal makanan untuk mu." Ucapnya masih terdengar sangat lembut bagaikan nyanyian tidur.
Kayana tersenyum tipis. "Pas sekali, klop bangat. Pulu-pulu dan--" Tatapan kayana menatap pangeran xavier dengan senyuman tipis. "Setres." batinnya berbisik."
Pangeran xavier langsung menatap kayana tajam. "Ups." Kayana langung menutup mulutnya cekikikan.
"Noah, jika kamu terus cekikikan seperti itu, maka jangan salahkan aku, jika kamu aku cium saat ini juga." Bisiknya dengan nada terdengar tidak main-main.
Deg..
"Situ belok, pangeran." Bisiknya dengan suara bergetar.
"Menurut mu, bagaimana?" bisiknya datar. "Bagaimana jika aku masukan tangan mu, ke sangkar xavier mini sekarang, agar kamu tahu. dia di pegang oleh mu yang pria, dia bangkit atau tidak." Bisiknya kembali dengan senyuman tipis.
"Gila." Jawab noah refleks langung menutup mulutnya.
"Jika kamu tidak ingin melihat kegilaan ku, maka diam, hmm. jangan berbicara dan berpikir yang tidak-tidak." Jawabnya dengan nada santai namun penuh ancaman.
Kayana langsung menggerakkan tangannya, bagaikan mengunci bibirnya.
Aruna menatap tanda tanya, melihat pangeran xavier dan noah yang terlihat begitu dekat dan saling bisik.
"Pangeran xavier." Panggilnya kembali dengan suara mendayu-dayu.
Kayana ingin tersenyum tetapi takut dengan pangeran xavier. Pangeran xavier menatap tajam aruna, hingga mampu menyayat keberanian siapapun yang melihatnya. membuat hati aruna ciut.
Mata pangeran xavier masih berkilat amarah yang tertahan, rahangnya mengeras menciptakan garis tegas yang mengerikan di wajahnya. Baginya kedatangan aruna yang tanpa izin bukan sekedar interupsi. Melainkan sebuah tantangan terang-terangan terhadap otoritasnya.
"Aruna, apa kamu tidak memiliki etika, masuk tanpa mengetuk pintu? Atau kamu sengaja melakukan tantangan terhadap peraturan ku?" Tanyanya dengan nada dingin dan tatapan masih tajam.
Hati aruna benar-benar merasa kecil dan takut melihat kemarahan pangeran xavier, tetapi di hatinya yakin pangeran xavier hanya marah sesaat, karena dia tahu pangeran xavier adalah orang yang sangat perhatian kepadanya. "Maaf pangeran, bukannya kemarin-kemarin aku juga seperti ini, anda tidak marah. Tetapi kenapa sekarang abda marah." Ucapnya dengan nada lembut.
"Cakep." Sambung kayana.
Pangeran xavier menatap kayana tajam. "Ups sorry." Jawab kayana santai.
"Noah, apa kata-kata ku tadi terdengar main-main, hmm. Setelah masalah ini selesai maka aku akan melakukan apa yang tadi kita bicarakan." Ucapnya dengan nada dingin.
Deg..
"Eh, Lah kok gitu, aku kok jadi kena sasaran sih. Kan aku tidak mengatakan apa-apa." Jawabnya dengan nada kesal, namun tubuhnya bergetar ngeri membayangkan semuanya.
"Pangeran aku minta maaf ya, aku tadi bahagia sekali ingin membawakan kamu bekal buatan ku, tadi aku lupa kasih. Mobil mu sudah melaju pergi dengan cepat." Ucapnya dengan nada masih lembut dan seperti merajuk.
"Aku bosan disini, apa lagi menyaksikan drama pulu-pulu dan si pangeran bucin stres. Lebih baik menghindar, cari alasan atau cara." Gumamnya berpikir. Akhirnya dia memiliki ide.
"Pangeran maaf menggangu, kekasih anda sudah datang, aku meminta izin ketoilet. Kebelet." Ucapnya dengan nada terdengar sungguh-sungguh.
Pangeran xavier memicingkan matanya curiga. "Benarkah kebelet noah?" Tanyanya dengan nada curiga.
"Lah iya lah, lagi pula kan sudah ada kekasih anda yang menemani anda." Jawaban dengan nada santai.
"Hmm, baiklah kamu boleh pergi." Ucap panther xavier tersenyum tipis.
Senyuman kayana mengembang merasa terbebas dari drama percintaan pangeran bucin dan pulu-pulu. "Akhirnya." batinnya senang.
Kayana langsung berdiri dan melangkah keluar, namun baru sampai pintu suara bariton pangeran xavier menghentikannya. "Noah, mau kemana kamu?" Tanyanya dengan seringai tipis.
Deg..
Noah, berbalik dengan raut wajah kesal. "Aku ingin keluar, ingin pergi ke toilet." Jawabnya dengan suara mulai ngegas.
Pangeran xavier sangat puas melihat wajah marah kayana, yang menurutnya sangat lucu. Dia sampai lupa kehadirannya aruan.
Tangan aruna mengepal erat merasa tidak di pedulikan pangeran xavier. Pangeran xavier yang bisa merasakan kemarahan aruna, menatap sekilas tangan aruna yang terkepal.
"Jika kamu ingin pergi ke toilet pergi ke kamar pribadi ku, disana ada toilet." Jawabnya dengan nada menahan tawa, melihat wajah kayana masam seperti cuka tahunan.
"Ya ampun pangeran, aku ini hanya sopir. S, O, P, I, R. sopir." Ucapnya dengan nada menekan kata sopir, mengingatkan pangeran xavier.
Pangeran Xavier duduk dengan wajah santainya. "Aku tahu, tetapi aku yang memerintahkan kamu." Ucapnya dengan tatapan intens. "Kenapa? mau menentang perintah ku, hmm?" Tanyanya kembali dengan wajah dingin, namun menahan tawanya.
Kayana menghentakkan kakinya kelantai, sementara tangannya menyilang di dada. Dia menekuk bibirnya hingga membentuk lengkungan yang masam yang ketara. Alisnya bertaut rapat, berusaha keras menunjukkan bahwa dia berada di puncak kekesalannya. Dia pergi menuju toilet yang di perintahkan pangeran xavier tanpa bertanya lagi karena kesal.
Suara tawa tertahan terdengar dari pangeran xavier, Aruna sangat terkejut melihat tawa yang di tahan pangeran xavier, saat bersamanya tidak pernah pangeran xavier memperlihatkan wajah tertawa dan tersenyum. Dia tambah mengepal tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Pipinya sampai mau meledak begitu." batin pangeran xavier, merasa terhibur dengan sikap kayana yang berbeda dari wanita lainnya. "Kamu yang sekarang tambah berbeda, dari kamu yang masih kecil sayang, aku sangat menyukai mu yang sekarang, sifat mu benar-benar berubah." Batinnya berbisik. "Dan aku tidak akan pernah melepaskan kamu sayang." Bisiknya dengan kilatan mata penuh obsesi.
Bagi pangeran xavier, ada kepuasan gelap yang merayap melihat wajah kayana yang sangat menggemaskan. Obsesi yang mulai tumbuh subur, wajah menggemaskan kayana adalah anggur yang memabukkan, dia tersenyum dengan senyuman yang penuh teka-teki, sementara degup jantungnya mengikuti irama obsesi yang kian mendalam.
Aruna berusaha mengontrol kemarahannya, dia tidak mau topeng lembutnya pecah di hadapannya pangeran xavier.
lebih baik hukuman ciuman dripda siksaan...hahahahah🤣🤣
lanjut kak....
langsung di basmi aja lah...hihihu...
smngt terus kak...💪💪