NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Topeng yang Retak di Balik Menara

Langit di atas Pesantren Al-Ikhlas mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, menandakan pergantian waktu menuju magrib. Namun, suasana di belakang gudang asrama timur terasa jauh lebih dingin dari udara sore itu. Pepohonan bambu yang tumbuh rapat di area tersebut saling bergesekan, menciptakan suara gemerisik yang menambah kesan mencekam.

Fikri, seorang santri senior yang selama ini dikenal pendiam dan rajin di bagian tata usaha, berdiri mematung. Map plastik di tangannya gemetar hebat. Ia mengira akan menghadapi wanita lemah yang bisa ia intimidasi, namun yang berdiri di depannya sekarang adalah sosok Gus Hannan—pria yang paling ia segani sekaligus ia takuti di seluruh pesantren ini.

Hannan melangkah perlahan, setiap gesekan sandalnya di atas tanah kering terdengar seperti lonceng kematian bagi nyali Fikri. Wajah Hannan yang biasanya teduh saat mengajar kitab suci, kini tampak seperti panglima perang yang siap menghancurkan lawannya.

"Fikri," suara Hannan rendah namun memiliki resonansi yang menggetarkan udara. "Sejak kapan pengabdianmu di pesantren ini berubah menjadi profesi pemeras?"

Fikri mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya terasa kering seperti gurun. "G-Gus... ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Saya hanya... saya hanya ingin melindungi pesantren dari pengaruh buruk."

Hannan tertawa, sebuah tawa dingin yang tidak sampai ke mata. "Melindungi pesantren dengan cara mengancam istri saya? Dengan cara mencuri privasi masa lalunya yang sudah ia tinggalkan jauh di belakang? Kamu menyebut itu perlindungan, atau keserakahan?"

Hannan kini berdiri tepat satu jengkal di depan Fikri. Perbedaan tinggi badan dan wibawa membuat Fikri tampak sangat kecil. Hannan mengulurkan tangannya, meminta map plastik itu tanpa kata-kata. Dengan tangan gemetar, Fikri menyerahkannya.

Hannan membuka map itu. Di dalamnya terdapat salinan foto-foto Amara saat masih di California—Amara yang mengenakan pakaian terbuka di pesta-pesta mewah, Amara bersama teman-temannya yang membawa gelas minuman. Foto-foto itu diambil dari sudut-sudut tersembunyi, sangat jelas bahwa seseorang telah mengintai Amara sejak lama.

"Dari mana kamu mendapatkan semua ini, Fikri? Jangan berbohong, karena aku sudah tahu ke mana aliran dana dari tabunganmu mengalir dalam seminggu terakhir," desak Hannan.

Fikri akhirnya luruh. Ia jatuh berlutut di tanah, menyentuh kaki Hannan dengan penuh penyesalan yang terlambat. "Ampun, Gus... ampun. Seseorang menghubungi saya lewat internet. Dia mengaku bernama Bastian. Dia bilang dia adalah mantan kekasih Mbak Amara. Dia mengirimkan dokumen-dokumen itu dan menjanjikan uang besar jika saya bisa membuat Mbak Amara tidak betah di sini atau setidaknya membuat Gus membencinya."

Mendengar nama Bastian, rahang Hannan mengatup rapat. Nama itu adalah luka lama yang terus-menerus mencoba merusak kebahagiaan yang ia bangun dengan susah payah. Ternyata, meskipun Bastian berada jauh di luar negeri, dia masih memiliki tangan-tangan gelap untuk menyusup ke dalam benteng suci pesantrennya.

"Bastian memanfaatkan kemiskinanmu, Fikri. Dia tahu kamu butuh uang untuk biaya pengobatan ibumu di desa, bukan?" suara Hannan tiba-tiba melunak, namun tetap tegas. "Tapi itu bukan alasan untuk mengkhianati guru dan saudaramu sendiri."

Fikri terisak hebat. "Saya khilaf, Gus. Dia terus mengancam akan mengirimkan foto-foto itu langsung ke Kiai Abdullah jika saya tidak bekerja sama. Saya hanya tidak ingin pesantren ini hancur karena skandal."

"Yang menghancurkan pesantren bukan masa lalu Amara, tapi pengkhianatanmu," ucap Hannan dingin. Ia kemudian memberi isyarat ke balik pepohonan bambu. "Kang Anwar, bawa dia ke kantor keamanan.

Sita semua alat komunikasinya. Pastikan tidak ada satu pun foto ini yang tersisa di perangkat mana pun."

Tiga santri keamanan senior muncul dari kegelapan dan membawa Fikri pergi. Suasana kembali hening.

Hannan berdiri sendirian, menatap foto-foto di tangannya. Ia mengeluarkan korek api dari sakunya, lalu satu per satu foto itu ia bakar hingga menjadi abu yang terbang terbawa angin sore.

Hannan kembali ke ndalem dengan beban pikiran yang sangat berat. Saat memasuki kamar, ia mendapati Amara sedang menyusui Zahra di kursi goyang dekat jendela. Sinar lampu kuning memberikan aura keibuan yang sangat cantik pada wajah Amara.

Melihat kedatangan suaminya, Amara segera memperbaiki posisinya. "Mas... bagaimana? Siapa orang itu?"

Hannan tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berlutut di depan Amara, dan menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya—posisi yang sangat jarang ia lakukan namun sangat ia butuhkan saat ini.

"Mas?" Amara mengelus rambut Hannan dengan cemas.

"Sudah selesai, Amara. Orang itu sudah diamankan. Dia hanya santri yang tersesat karena godaan uang. Tapi..." Hannan menjeda, ia mendongak menatap mata Amara. "Bastian masih terus mencari celah, Sayang. Dia tidak akan berhenti sebelum melihat kita hancur."

Tubuh Amara menegang. Nama Bastian selalu menjadi pemicu trauma baginya. "Dia akan ke sini, Mas? Dia akan mengambil Zahra?"

Hannan segera berdiri dan memeluk Amara beserta Zahra ke dalam dekapannya. "Selama nafas ini masih ada, dia tidak akan pernah menyentuh kalian. Mas sudah menyiapkan pengamanan lebih ketat. Mulai besok, Mas akan mengganti semua kru tata usaha dan keamanan dengan orang-orang yang Mas pilih sendiri."

Amara menangis di dada Hannan. "Maafkan aku, Mas. Karena aku, hidupmu yang tenang jadi penuh bahaya. Harusnya dulu aku tidak usah kembali saja..."

Hannan melepaskan pelukannya, memegang pipi Amara dengan kedua tangan agar istrinya menatapnya. "Jangan pernah bicara begitu. Kamu adalah anugerah terindah, bukan bencana. Justru Bastian yang harus takut sekarang. Karena dia sudah membangunkan sisi singa dalam diriku yang selama ini aku tekan."

Malam itu, romansa mereka sedikit diwarnai ketegangan. Hannan tidak bisa tidur. Ia terus berjaga di samping tempat tidur, memandangi istri dan anaknya. Ia menyadari bahwa cinta mereka bukan sekadar kata-kata manis di bawah sinar bulan, melainkan sebuah peperangan yang harus ia menangkan setiap harinya.

Di sisi lain, di sebuah apartemen mewah di kota besar, seorang pria menatap layar monitor yang menampilkan berita tentang Pesantren Al-Ikhlas. Ia tersenyum sinis sambil memutar-mutar gelas berisi cairan merah.

"Nikmati waktumu, Hannan. Ini baru permulaan dari permainan panjang yang aku siapkan untuk menjemput milikku kembali," gumam pria itu—Bastian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!