Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Jarak yang Dipilih
(POV: Noah)
Alice tidak datang ke bengkel selama dua hari setelah malam itu.
Dan anehnya, aku tidak merasa ditinggalkan.
Aku tetap membuka pintu bengkel seperti biasa.
Mesin-mesin tua masih menunggu sentuhan. Kota masih berjalan dengan ritme pelannya. Norden tidak berubah hanya karena satu orang datang kembali ke hidupku.
Tapi aku berubah.
Ada kesadaran baru saat aku menutup pintu bengkel setiap sore—bahwa aku tidak lagi hidup dalam mode menunggu. Jika Alice datang, ia datang. Jika tidak, aku tetap di sini.
Hari ketiga, ia muncul.
Tidak ragu. Tidak terburu-buru.
Ia berdiri di ambang pintu bengkel, mengamati ruangan seperti seseorang yang ingin memahami, bukan mengklaim.
“Kau sibuk?” tanyanya.
“Selalu,” jawabku. “Tapi tidak sepenuhnya.”
Ia tersenyum tipis dan masuk. Duduk di bangku kayu dekat pintu, seperti dulu—tapi terasa berbeda. Tidak ada kepemilikan dalam kehadirannya. Tidak ada tuntutan.
Hanya pilihan.
“Aku dapat kabar dari galeri,” katanya pelan.
“Mereka ingin membuka cabang kecil di utara.
Tidak langsung. Masih wacana.”
Aku mengangguk. “Dan kau?”
“Aku bilang aku tertarik. Tapi tidak menjanjikan apa pun.”
Jawaban itu jujur.
Dan aku menghargainya.
(POV: Alice)
Aku memperhatikan Noah bekerja.
Bukan dengan rasa rindu yang meluap, tapi dengan ketenangan seseorang yang akhirnya melihat orang lain apa adanya—bukan sebagai penyelamat, bukan sebagai pelarian.
Ia lebih diam sekarang. Lebih mantap.
“Kau tidak bertanya kenapa aku kembali,” kataku.
Ia tidak menoleh. “Karena jawabannya bisa berubah.”
Aku tersenyum kecil. “Dan kau tidak takut aku pergi lagi?”
Ia berhenti sejenak, lalu menjawab, “Takut bukan alasan yang cukup untuk menahan siapa pun.”
Kalimat itu menusuk dan menenangkan sekaligus.
Aku sadar sesuatu saat itu: jika aku tinggal di Norden, itu harus karena aku memilih hidupku sendiri—bukan karena ingin berada di dekat Noah.
Dan justru karena itu, keberadaannya terasa lebih berarti.
(POV: Noah)
Kami berjalan ke dermaga sore itu.
Langit kelabu, laut tenang. Beberapa nelayan sedang merapikan jaring. Kota tidak memperhatikan kami, dan itu terasa tepat.
“Aku mungkin akan tinggal lebih lama,” kata Alice, menatap laut. “Bukan karena galeri. Bukan karena kau.”
Aku menoleh padanya. “Karena apa?”
“Karena aku ingin tahu seperti apa hidup jika aku tidak terus lari.”
Aku mengangguk. “Norden tempat yang buruk untuk lari.”
Ia tertawa kecil. “Itu sebabnya aku di sini.”
Kami berdiri berdampingan. Tidak saling menyentuh. Tidak juga menjaga jarak berlebihan.
“Kau tidak menawarkan apa pun,” katanya.
“Aku tidak tahu apa yang pantas ditawarkan,” jawabku.
Ia menoleh dan menatapku lama. “Itu jawaban terbaik yang bisa kudengar.”
(POV: Alice)
Malam itu, aku kembali ke penginapan dengan langkah ringan.
Aku tidak membawa kepastian.
Tapi aku membawa sesuatu yang lebih jujur:
ruang untuk bernapas.
Aku menulis pesan singkat sebelum tidur.
Aku akan tinggal beberapa bulan. Kita lihat nanti.
Balasannya datang tidak lama kemudian.
Baik. Norden tidak ke mana-mana.
Aku mematikan ponsel dan menatap langit-langit kamar.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti ancaman atau janji palsu.
Ia hanya… terbuka.
(POV: Noah)
Beberapa hari kemudian, Alice memindahkan barang-barangnya ke kamar kecil dekat stasiun.
Tidak ke villa.
Tidak ke rumahku.
Dan itu membuatku menghormatinya lebih dari sebelumnya.
Kami bertemu ketika ingin. Berpisah ketika perlu.
Tidak ada aturan tak tertulis yang membebani.
Suatu pagi, aku melihat salju turun tipis—tidak cukup untuk menutup tanah.
Hanya cukup untuk mencair perlahan.
Aku tersenyum sendiri.
Mungkin inilah yang disebut berhenti.
Bukan berhenti mencintai.
Bukan berhenti berharap.
Tapi berhenti memaksa.
(POV: Noah)
Ada jenis keheningan yang tidak menenangkan.
Ia tidak bising, tidak juga gelap—hanya terasa seperti sesuatu yang belum selesai.
Aku merasakannya pagi itu saat membuka bengkel. Alice sudah tiga hari tinggal di kamar kecil dekat stasiun. Kami bertemu hampir setiap hari, tapi selalu dengan jarak yang dipilih, bukan kebiasaan yang dipaksakan.
Dan aku tahu, jarak yang dipilih bisa menjadi hal paling jujur—atau paling berbahaya.
“Kau datang sore ini?” tanyaku malam sebelumnya.
“Jika tidak hujan,” jawabnya.
Tidak hujan.
Tapi Alice tidak datang.
Aku tidak mengirim pesan. Tidak menelepon. Aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat dari biasanya dan berjalan pulang dengan perasaan yang sulit dinamai.
Bukan cemas.
Lebih seperti sadar.
Bahwa kedekatan kami sekarang tidak dibangun di atas janji—dan itu berarti setiap kehadiran adalah keputusan aktif.
Di rumah, aku duduk lama tanpa menyalakan lampu. Norden gelap lebih cepat akhir-akhir ini.
Musim bergerak pelan ke arah yang tidak bisa diburu.
Ponselku bergetar.
Maaf. Aku butuh waktu sendiri malam ini.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu membalas.
Tidak apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya sejak Alice kembali, aku benar-benar memastikan kalimat itu jujur.
(POV: Alice)
Aku menghabiskan malam itu berjalan tanpa tujuan jelas.
Norden kecil, tapi selalu punya ruang untuk seseorang yang ingin berpikir tanpa ditanya.
Aku menyusuri jalan menuju laut, lalu berbelok ke kawasan lama—rumah-rumah kayu tua, sebagian kosong, sebagian masih bertahan dengan penghuninya yang sama selama puluhan tahun.
Aku berhenti di depan rumah bercat putih yang hampir runtuh.
Aku pernah berdiri di sini sebelumnya.
Bertahun-tahun lalu, bersama seseorang yang mengajariku bahwa cinta bisa terasa seperti kurungan yang dibungkus kemewahan.
Aku menutup mata.
Telepon dari ibu siang tadi kembali terngiang.
“Pulanglah,” katanya. “Semua sudah siap. Kita bisa memperbaiki ini.”
Tidak ada yang rusak.
Hanya aku yang pergi.
Aku menyadari sesuatu malam itu: aku tidak takut kehilangan Noah.
Aku takut jika suatu hari aku tinggal, tapi tidak benar-benar memilih—hanya bertahan karena terasa aman.
Dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
(POV: Noah)
Hari berikutnya, Alice datang ke bengkel pagi-pagi.
Lebih awal dari biasanya.
Ia berdiri lama di pintu sebelum akhirnya masuk.
“Aku minta maaf soal kemarin,” katanya.
Aku menggeleng. “Kau tidak berutang penjelasan.”
“Aku ingin menjelaskan tetap.”
Aku meletakkan alat-alat dan duduk di bangku seberangnya.
“Ibuku menghubungiku,” katanya. “Dia ingin aku kembali. Bukan hanya pulang—tapi kembali menjadi versi diriku yang dulu.”
Aku tidak menyela.
“Dan untuk pertama kalinya,” lanjutnya, “aku tidak langsung menolak.”
Itu membuat dadaku mengencang.
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena aku lelah berlari ke arah yang berlawanan. Aku ingin tahu apakah aku bisa memilih—bukan hanya menolak.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku tidak tahu apa artinya ini untuk kita,” katanya jujur.
“Kita belum mendefinisikan ‘kita’,” jawabku.
Ia tersenyum tipis. “Itu membuatku lega.”
(POV: Alice)
Kami tidak membicarakan hubungan kami setelah itu.
Sebaliknya, kami melakukan hal-hal kecil.
Minum kopi. Berjalan tanpa tujuan. Duduk berdampingan tanpa harus saling menenangkan.
Dan justru di situlah, perasaan-perasaan yang lebih dalam mulai muncul—tanpa diundang.
Suatu sore, aku ikut Noah mengantar mesin ke kapal nelayan tua. Laut berbau asin, angin dingin menggigit pipi.
“Kau pernah ingin pergi dari Norden?” tanyaku.
Ia berpikir sejenak.
“Pernah,” katanya. “Tapi bukan untuk menjadi orang lain. Hanya untuk memastikan aku memang ingin tetap menjadi diriku di sini.”
Aku mengangguk.
“Aku rasa aku melakukan kebalikannya,” kataku.
“Aku pergi untuk menjadi orang lain.”
“Kau berhasil?”
Aku tersenyum pahit. “Aku menjadi versi diriku yang tidak pernah benar-benar duduk.”
Ia tidak menjawab.
Dan itu sudah cukup.
(POV: Noah)
Beberapa hari kemudian, tawaran itu datang.
Surat elektronik singkat dari perusahaan perkapalan di selatan—mereka membutuhkan teknisi tetap. Gaji besar. Fasilitas lengkap. Kota besar.
Aku membaca surat itu lama.
Dulu, aku akan langsung menolaknya.
Sekarang, aku tidak.
Aku tidak memberi tahu Alice hari itu.
Bukan karena menyembunyikan.
Tapi karena aku ingin memastikan satu hal terlebih dahulu:
Jika aku pergi, apakah aku lari?
Atau memilih?
(POV: Alice)
Aku menemukan amplop cokelat di bawah pintu kamarku.
Undangan resmi. Acara keluarga. Tanggal sudah ditentukan.
Tanganku gemetar saat membacanya.
Aku berjalan tanpa sadar menuju bengkel Noah.
Aku tidak mengetuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu.
Ia menoleh dan langsung tahu.
“Ada apa?” tanyanya.
Aku mengangkat amplop itu.
Ia membaca sekilas, lalu mengembalikannya padaku.
“Kau akan pergi?” tanyanya, suaranya tenang.
“Aku tidak tahu,” jawabku. “Tapi aku akan ke sana.”
Ia mengangguk.
“Aku juga mungkin akan pergi,” katanya.
Aku menatapnya tajam. “Ke mana?”
“Selatan.”
Kami diam.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kepanikan.
Hanya kesadaran bahwa pilihan-pilihan mulai menuntut jawaban.
(POV: Noah)
Kami duduk di tangga bengkel saat matahari tenggelam.
“Aku tidak ingin menahanmu,” kataku.
“Aku juga tidak ingin ditahan,” jawabnya.
Kami tertawa kecil. Bukan karena lucu—karena pahit yang bisa diterima.
“Mungkin ini saatnya kita melihat apakah apa yang kita bangun cukup kuat,” katanya.
“Atau cukup jujur,” tambahku.
Ia menoleh dan menatapku lama.
“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “aku ingin kau tahu—aku di sini bukan untuk bersembunyi lagi.”
Aku mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa takut dengan cara yang sehat.
(POV: Alice)
Malam itu, salju turun sedikit lebih tebal.
Masih belum cukup untuk menutup tanah.
Tapi cukup untuk meninggalkan jejak.
Aku berdiri di jendela kamarku, memandangi kota kecil ini—tempat yang tidak pernah memintaku menjadi siapa pun.
Dan aku sadar: akar tidak selalu terlihat.
Tapi begitu mereka tumbuh, mereka tidak bisa diabaikan.