Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Malam harinya.
Lin Xiao tidak tidur. Dia memanen semua sisa Rumput Roh Api—total ada 450 batang.
"Jika dijual mentah, ini harganya sekitar 500 Poin Kontribusi. Lumayan, tapi tidak cukup untuk membeli teknik pedang tingkat tinggi atau bahan menempa tubuh tahap kedua," hitung Lin Xiao.
"Sebagai Alkemis, menjual bahan mentah adalah kebodohan."
Lin Xiao mengeluarkan Tungku Sembilan Awan.
Dia mulai bekerja. Bukan membuat pil (karena dia belum punya bahan pelengkap lain), tapi melakukan Ekstraksi Murni.
Dia melelehkan 10 batang rumput menjadi satu botol kecil cairan merah pekat. Cairan Esensi Api (Fire Essence Liquid). Fungsinya: Membantu kultivator elemen api mempercepat kultivasi 3x lipat selama 2 jam, atau bisa dioleskan ke senjata untuk memberi efek api sementara.
Ini produk yang sangat dicari oleh murid luar yang ingin cepat naik tingkat.
Menjelang tengah malam, Lin Xiao telah menghasilkan 40 botol cairan.
"Sekarang, waktunya mencari pembeli."
Lin Xiao mengganti pakaiannya dengan jubah hitam longgar yang menutupi seluruh tubuh. Dia mengenakan topeng kayu polos yang dia buat sendiri.
Dia menyelinap keluar dari kebun, bergerak seperti hantu di antara bayangan pohon, menghindari patroli malam sekte.
Tujuannya: Pasar Hantu (Ghost Market).
Pasar ini terletak di hutan bambu di perbatasan antara area Murid Luar dan Murid Dalam. Ini adalah pasar gelap tidak resmi yang ditoleransi oleh sekte, tempat murid bertransaksi barang-barang tanpa potongan pajak sekte, atau barang hasil "jarahan".
Sesampainya di sana, suasana cukup ramai meski sunyi. Ratusan murid berjubah hitam dan bertopeng berlalu-lalang. Tidak ada yang bicara keras. Transaksi dilakukan dengan bisikan atau isyarat tangan.
Lin Xiao mencari tempat kosong di sudut, menggelar kain lapak, dan meletakkan sepuluh botol Cairan Esensi Api.
Dia tidak menulis harga. Dia hanya meletakkan papan kayu bertuliskan: Murni 90%. Barter dengan Inti Monster atau Batu Roh. Tidak terima Poin Sekte.
Baru lima menit dia duduk, seorang murid bertopeng serigala mendekat. Dia merasakan aura botol itu.
"Murni 90%? Kau bercanda," cibir murid itu. "Cairan terbaik di Paviliun Alkimia hanya 70%."
"Coba saja. Gratis satu tetes," kata Lin Xiao dengan suara disamarkan menjadi berat.
Murid itu ragu, lalu membuka satu botol. Bau obat yang kuat dan panas langsung menyengat hidung. Dia meneteskan sedikit ke tangannya. Kulitnya terasa terbakar hangat, aliran Qi-nya bergejolak gembira.
Mata di balik topeng serigala itu membelalak. "Asli! Dan sangat kuat!"
"Berapa harganya?" tanya murid itu buru-buru.
"5 Batu Roh per botol," jawab Lin Xiao. (Harga normal cairan biasa hanya 2 Batu Roh).
"Mahal sekali! Tapi... dengan kualitas ini..." Murid itu menggertakkan gigi. "Aku ambil dua!"
Transaksi pertama berhasil.
Setelah itu, berita menyebar cepat di pasar kecil itu. "Ada penjual cairan api murni di pojok!"
Dalam satu jam, lapak Lin Xiao dikerumuni pembeli.
"Aku ambil lima!" "Sisakan untukku!"
Tepat saat Lin Xiao hendak menjual botol terakhir, kerumunan pembeli tiba-tiba membelah. Tiga orang berjubah merah dengan lambang pedang di dada mereka berjalan mendekat.
Aura mereka sombong dan menekan. Fraksi Pedang Darah.
Pemimpin mereka, seorang pemuda dengan bekas luka di mata, menendang lapak Lin Xiao hingga botol-botol kosong berserakan.
"Siapa yang mengizinkanmu jualan di sini tanpa membayar upeti pada Fraksi Pedang Darah?" tanya pemuda itu dingin.
Suasana pasar menjadi tegang. Semua orang tahu Fraksi Pedang Darah menguasai proteksi di Pasar Hantu.
Lin Xiao mendongak perlahan di balik topeng kayunya.
"Upeti?" Lin Xiao berdiri. Tingginya setara dengan preman itu. "Aku tidak ingat ada aturan sekte tentang upeti preman."
"Aturan sekte tidak berlaku di sini, Nak. Di sini, aturannya adalah kepalan tangan kami," pemuda itu menyeringai, meletakkan tangan di gagang pedangnya. "Serahkan semua hasil penjualanmu, dan mungkin kami akan membiarkanmu pergi dengan kaki utuh."
Lin Xiao menghela napas panjang. "Kenapa ke mana pun aku pergi, selalu ada lalat yang minta dipukul?"
Di balik jubah hitamnya, tangan Lin Xiao mengepal. Api Roh Ungu berdesir pelan di nadinya, siap untuk membakar.
Malam ini, nama "Master Misterius" akan mulai dikenal di pasar gelap. Bukan hanya karena obatnya, tapi karena kekejamannya.
Suasana di Pasar Hantu yang remang-remang menjadi tegang seketika. Ratusan pasang mata dari balik topeng menatap ke arah sudut pasar, tempat seorang penjual misterius berjubah hitam sedang dikepung oleh tiga anggota Fraksi Pedang Darah.
Si pemuda berparut wajah—pemimpin preman itu—tertawa meremehkan. "Lihat, dia ingin melawan! Saudara-saudara, ajari dia tata krama Pasar Hantu. Patahkan kedua tangannya agar dia tidak bisa meracik obat lagi!"
Dua anak buahnya maju serentak. Mereka adalah kultivator Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 7. Di mata mereka, penjual obat ini hanyalah sasaran empuk.
Salah satu preman mengayunkan gada besi ke arah bahu Lin Xiao, sementara yang lain mencoba menjegal kakinya.
Lin Xiao mendengus pelan di balik topeng kayunya.
"Lambat."
Dia tidak menghindar. Sebaliknya, dia melangkah maju.
Tangan kanannya bergerak secepat kilat, bukan menangkis gada, melainkan menangkap batang besi gada itu di udara.
Grab!
Si preman gada terbelalak. Gada besinya berhenti mendadak seolah menabrak tembok. "B-bagaimana..."
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Lin Xiao menyalurkan sedikit Api Roh Ungu ke telapak tangannya.
Serrr!
Dalam sekejap mata, batang besi gada itu berubah warna menjadi merah menyala karena panas ekstrem.
"PANAS!"
Preman itu menjerit, melepaskan gadanya. Telapak tangannya melepuh hebat, kulitnya terkelupas dengan bau daging hangus.
Gada yang merah membara itu jatuh ke tanah, mendesis saat menyentuh lumpur.
Lin Xiao tidak berhenti. Dia berputar, menghindari jegalan kaki preman kedua, lalu menempelkan telapak tangannya yang masih berasap ke dada preman itu.
Telapak Api Hantu.
BUK!
Tidak ada suara tulang patah, tapi preman kedua itu terlempar mundur lima meter. Jubah di bagian dadanya terbakar habis, meninggalkan cetakan telapak tangan merah di kulitnya. Dia jatuh pingsan karena guncangan panas yang menyerang jantung.
Hening. Pasar Hantu yang bising menjadi sunyi senyap.
Dua kultivator Tingkat 7 dikalahkan dalam satu napas? Dan cara dia memanaskan besi dalam sekejap... itu menunjukkan kontrol api yang menakutkan!
Si pemimpin berparut wajah mundur selangkah, keringat dingin mengucur di punggungnya. Dia sadar dia telah menendang pelat besi.
"K-Kau... Kau seorang Kultivator Elemen Api Tingkat Tinggi?" gagap si pemimpin. "Siapa kau? Murid inti mana?"
Lin Xiao menepuk-nepuk tangannya yang tidak terluka sedikit pun.
"Aku hanya pedagang yang ingin jualan dengan tenang," suara Lin Xiao disamarkan menjadi berat dan serak. "Tapi kalian merusak daganganku. Botol-botol pecah itu nilainya 20 Batu Roh. Ganti rugi, atau..."
Lin Xiao mengangkat jarinya. Api ungu kecil menari di ujung telunjuknya.
"...Atau aku akan membakar rambutmu sampai botak."
Si pemimpin menelan ludah. Nyalinya ciut. Dia buru-buru merogoh kantongnya, mengeluarkan semua Batu Roh yang dia punya.
"I-Ini! Ada 30 Batu Roh! Ambil kembaliannya! Maafkan kami, Senior!"
Si pemimpin melempar kantong itu, lalu menyeret dua anak buahnya yang terluka lari terbirit-birit menembus kerumunan. Fraksi Pedang Darah yang ditakuti baru saja lari seperti anjing yang dipukul.
Lin Xiao memungut kantong itu dengan santai. Dia membereskan lapaknya.
Kerumunan menatapnya dengan pandangan hormat dan takut. Tidak ada lagi yang berani menawar atau berniat jahat. Dalam dunia kultivasi, kekuatan adalah mata uang tertinggi.
"Alkemis Jubah Hitam..." bisik seseorang. "Dia pasti ahli hebat yang menyamar."