NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saingan Cinta

Angin di perbukitan Gimpo berhembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Viona yang terlepas dari ikatannya. Namun, fokus wanita itu tidak goyah sedikit pun dari hamparan tanah luas yang akan menjadi mahakarya arsitekturnya.

Lahan itu masih berupa tanah merah dan bebatuan, namun di mata Viona, ia sudah bisa melihat fondasi kayu jati yang megah berdiri di sana. Kedatangannya disambut dengan sikap sangat hormat oleh pihak developer. Mereka tahu siapa Viona Skylar, arsitek muda berbakat sekaligus putri dari keluarga berpengaruh.

Namun, kehadiran pria jangkung di sebelah Viona memberikan tekanan aura yang berbeda. Noah berdiri dengan angkuh, kemejanya yang sedikit berkibar tertiup angin sama sekali tidak mengurangi wibawanya. Tanpa kata, salah satu tangan Noah melingkar posesif di pinggang ramping Viona, menariknya sedikit lebih dekat seolah sedang memamerkan pada dunia siapa pemilik wanita di sampingnya itu.

Walau Viona sedang sibuk berdiskusi serius dan sesekali membungkuk untuk mengecek kontur tanah, ia bisa merasakan betapa menjaganya Noah. Setiap kali Viona melangkah di area yang agak curam atau licin, dekapan tangan Noah di pinggangnya akan mengerat, menopang tubuhnya agar tetap stabil.

"Tolong pastikan perizinan sudah aman dan tanah ini bukan lahan hijau, kan?" tanya Viona sekali lagi dengan nada tegas, matanya menatap tajam sang developer.

"Benar, Bu. Semua dokumen legalitas sudah saya bereskan dan akan segera saya kirimkan detailnya pada sekretaris Ibu sore ini juga," jawab sang developer dengan nada bicara yang sangat berhati-hati, apalagi di bawah tatapan mengintimidasi dari Noah Sebastian.

Noah yang sedari tadi diam akhirnya bersuara, suaranya rendah namun penuh otoritas.

"Pastikan juga soal akses alat berat. Saya nggak mau istri saya harus turun tangan sendiri ke lapangan cuma gara-gara masalah teknis yang nggak becus ditangani di awal."

Sang developer mengangguk cepat sambil menyeka keringat dingin di dahinya. "Baik, Pak. Tentu, Pak Noah. Kami akan pastikan semuanya lancar."

Viona melirik suaminya dari sudut mata. Ada rasa geli sekaligus bangga melihat bagaimana Noah menggunakan sisi "Dosen Killer"-nya untuk melindunginya di dunia bisnis. Ia yang tadi merasa lelah karena urusan kampus, kini merasa memiliki energi tambahan.

"Puas jadi bodyguard?" bisik Viona pelan saat mereka sedikit menjauh dari kerumunan pekerja.

Noah menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Viona hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napasnya. "Gue nggak cuma jadi bodyguard, Vio. Gue lagi memastikan kalau nggak ada satu pun kerikil di tanah ini yang berani bikin kaki istri gue lecet."

Viona tertawa kecil, ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu kokoh Noah di tengah hamparan tanah Gimpo. Di bawah langit sore itu, Viona menyadari satu hal: memiliki Noah artinya memiliki perlindungan yang tak kasat mata namun sangat terasa.

———

Langit Gimpo yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu pekat. Kilat menyambar di kejauhan, disusul hujan badai yang turun dengan intensitas ekstrem, membuat jarak pandang di jalanan perbukitan menjadi nol.

"Kita nggak bisa maksa balik ke Seoul, Vio. Bahaya," ujar Noah sambil memutar kemudi dengan waspada.

Akhirnya, Noah memutuskan untuk menepi di sebuah kediaman besar bergaya klasik milik kerabat jauhnya yang tinggal di area tersebut. Namun, ketenangan yang Viona harapkan justru berganti dengan hawa dingin yang bukan berasal dari hujan.

Pintu jati besar itu terbuka, menampakkan seorang gadis cantik dengan silk robe berwarna merah maroon. Namanya Lady. Begitu melihat siapa yang datang, mata Lady yang tadinya redup langsung berbinar terang.

"Noah? Ya ampun, ini beneran kamu?" pekik Lady girang. Ia hampir saja menghambur ke pelukan Noah jika Noah tidak segera bergeser untuk melindungi Viona dari cipratan air hujan.

"Malam, Lady. Maaf ganggu, hujan terlalu badai buat gue balik ke Seoul. Bisa numpang semalam?" tanya Noah dengan nada bicara yang sopan namun formal.

Lady tersenyum lebar, matanya sama sekali tidak lepas dari wajah Noah. "Tentu dong! Buat kamu, rumah ini selalu terbuka. Kamu tahu kan papa selalu nungguin kamu mampir?"

Namun, begitu netra Lady beralih pada sosok Viona yang berdiri di samping Noah, dengan baju yang sedikit lembap dan tangan yang masih digenggam erat oleh Noah ekspresinya berubah drastis. Ia menatap Viona dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menilai, sebelum akhirnya membuang muka dengan acuh tak acuh.

"Oh, bawa... sahabat kamu ya?" tanya Lady dengan nada meremehkan yang sangat kentara.

Viona yang sudah lelah karena urusan proyek, kini merasa tensinya naik. Ia tahu tipe-tipe perempuan seperti Lady; tipe yang merasa memiliki hak lebih karena "kenalan lama".

"Istri," koreksi Noah singkat dan padat. Ia tidak memberikan ruang untuk spekulasi.

"Kenalin, ini Viona."

Lady sempat mematung sejenak. Namun, sedetik kemudian ia kembali memasang wajah manisnya, hanya untuk Noah. "Oh, istri. Oke. Ayo masuk, Noah. Aku baru aja nyeduh teh herbal favorit kamu, kamu pasti kedinginan kan?"

Lady berjalan mendahului mereka, sengaja mengibaskan rambutnya yang panjang, benar-benar menganggap Viona seperti angin lalu. Bahkan saat menunjukkan kamar, Lady dengan sengaja berdiri sangat dekat dengan Noah untuk menjelaskan fasilitas rumah, membuat Viona harus menghela napas panjang menahan sabar.

Viona melirik Noah yang tampak tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) manuver Lady. "Noah," bisik Viona saat Lady sedang sibuk mengambilkan handuk ekstra.

"Hm?"

"Gue rasa gue lebih milih terjebak badai di luar daripada terjebak sama 'badai' yang ada di rumah ini," sindir Viona ketus.

Noah menoleh, menyadari rona cemburu di wajah istrinya. Ia malah tersenyum tipis, lalu menarik pinggang Viona mendekat. "Tenang aja. Seberapa besar pun badai di luar atau di dalem rumah ini, lo tetep pemegang kunci kamarnya, Vio."

Suasana di meja makan malam itu terasa kaku bagi Viona. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menegangkan. Di seberangnya, Lady duduk dengan anggun, sesekali melemparkan senyum tipis yang penuh kemenangan setiap kali ibunya, si Nyonya Rumah, mulai menyudutkan Viona.

Nyonya rumah itu meletakkan serbetnya, lalu menatap Viona dengan tatapan menyelidik yang tidak nyaman. "Sudah hampir enam bulan menikah, belum ada tanda-tanda hamil juga?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti tuntutan daripada sekadar basa-basi.

Viona hampir saja tersedak air putihnya. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Noah sudah lebih dulu menyahut dengan tenang.

"Oh iya, Tante. Kami memang lagi program aja, karena kami sama-sama lagi urus proyek besar. Kami mau semuanya terencana dengan matang," jawab Noah. Kalimat "lagi program" itu terdengar sangat meyakinkan, seolah mereka memang sudah mendiskusikannya setiap malam.

Nyonya rumah itu manggut-manggut, namun bibirnya masih menyunggingkan senyum skeptis. Ia melirik Viona dari atas sampai bawah. "Tapi tante denger-denger, istri kamu ini anak manja ya? Wanita karier yang manja."

Mendengar itu, Lady hampir tidak bisa menyembunyikan tawa kecil di balik gelas minumnya. Viona mengepalkan tangannya di bawah meja, harga dirinya tersentil. Manja? Dia yang berpanas-panasan di proyek Gimpo tadi disebut manja?

Noah meletakkan garpunya perlahan, ia menoleh ke arah istrinya sebentar, lalu menatap Nyonya rumah itu dengan tatapan dosennya yang paling berwibawa.

"Oh, soal itu... jelas, Tante. Dia memang manja," ucap Noah mantap.

Viona membelalak, ia menoleh tajam ke arah Noah. Malah dibela?! batinnya kesal. Namun, kalimat Noah selanjutnya justru membungkam semua orang di meja itu.

"Dia manja karena memang cukup banyak hal besar yang dia urusi sendiri, jadi wajar kalau dia butuh diurusi untuk beberapa hal kecil lainnya. Lagian, istri saya ini jago banget bisnis selain jadi arsitek. Omzet proyeknya aja mungkin bisa buat beli tiga rumah seperti ini dalam setahun, belum lagi posisi dirut hotel," jelas Noah dengan nada bicara yang sangat santai, namun setiap katanya terasa seperti tamparan halus.

Hening seketika. Lady langsung berhenti tersenyum, sementara ibunya tampak kikuk dan berpura-pura sibuk dengan makanannya.

"Jadi bagi saya," lanjut Noah sambil meraih tangan Viona di atas meja dan menggenggamnya erat, "Manjanya Viona itu adalah hak istimewa yang cuma boleh saya nikmati. Karena di luar sana, dia adalah singa betina yang nggak ada tandingannya."

Viona merasakan dadanya bergemuruh. Rasa kesal tadi mendadak berubah menjadi rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia menatap Noah yang masih menatap balik ke arah kerabat jauhnya itu dengan wajah menantang.

Malam itu, Viona sadar: Noah tidak hanya melindunginya dari hujan di luar, tapi juga dari badai lisan yang mencoba merobohkan harga dirinya.

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!