Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
“Pertama dia bisa menggunakan sihir Magic Hole, lalu dengan santainya mengeluarkan monster ranking S… siapa sebenarnya orang itu?” gumam wanita berambut pink itu pelan. Tatapannya mengikuti punggung Wakasa yang perlahan menghilang menuruni tangga, hatinya dipenuhi rasa penasaran yang tak biasa.
Ruang bawah tanah itu terasa jauh lebih sunyi dan dingin. Cahaya obor di dinding bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di lantai batu. Saat Wakasa melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada seorang pria bertubuh gagah yang berdiri tegak di tengah ruangan. Aura kuat terpancar dari dirinya, membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Pria itu menoleh perlahan, menatap Wakasa dengan mata tajam namun tenang.
“Namaku Baron Voldi. Kau bisa memanggilku Baron,” ucapnya dengan suara dalam dan berwibawa.
Wakasa sedikit terkejut, namun segera menenangkan diri. Ia melangkah maju satu langkah dan membalas dengan senyum tipis.
“Namaku Wakasa.”
Untuk sesaat, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Dua pasang mata saling menatap, seakan mengukur kekuatan masing-masing. Tanpa disadari Wakasa, pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
(Ilustrasi Baron)
Baron :
“Aku mendengar dari para pegawaiku… kau ingin menjual monster yang tidak biasa.”
Nada suaranya tenang, namun sorot matanya tajam menilai.
Wakasa :
“Hahaha… Anda terlalu melebih-lebihkan.”
Wakasa mengangkat tangannya perlahan.
Sebuah lingkaran hitam pekat terbuka di udara—Magic Hole.
Dalam sekejap, hawa dingin dan tekanan berat menyelimuti ruangan.
Lantai bergetar pelan.
Kepala Serikat Baron refleks mundur setengah langkah, wajahnya menegang saat tubuh raksasa itu perlahan keluar sepenuhnya.
Dummm—!
Seekor monster ular raksasa tergeletak di aula bawah tanah.
Baron :
“B-benar… ini…”
(keringat dingin mengalir di pelipisnya)
“SEMILSNAKE…”
SEMILSNAKE — monster peringkat S.
Tubuhnya membentang sepanjang 20 meter, dengan diameter mencapai 2,5 meter. Sisik hitamnya masih memancarkan sisa-sisa mana pekat, membuat udara terasa menekan.
Baron menelan ludah.
Baron :
“Bagaimana… bagaimana kau bisa mengalahkan monster sekelas ini?”
Wakasa :
“Ah… aku hanya menyerangnya dengan sihir petir.”
Baron terdiam.
Tidak mungkin.
Sihir petir biasa tak akan mampu menembus sisik SEMILSNAKE.
Jika monster ini mati oleh petir… maka kekuatan sihir pemuda ini berada di tingkat yang mengerikan.
Wakasa :
“Jadi… apakah monster ini bisa dijual, Pak Baron?”
Baron menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum kaku.
Baron :
“Tentu saja. Monster ini sangat berharga. Serikat akan membelinya.”
“Kau bisa mengambil pembayaranmu di lantai atas.”
Beberapa saat kemudian…
Petugas 01 :
“Ini adalah hasil penjualan monster Anda.”
“Totalnya… 100 ribu koin emas.”
Wakasa membeku.
Sa… satu juta!?
Itu jumlah yang bahkan tak bisa dikumpulkan petualang biasa seumur hidup…
Wakasa :
“A-apa tidak salah…? Monster tadi… semahal ini?”
Petugas 01 :
“Tidak ada kesalahan. Itu monster peringkat S.”
Wakasa terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.
Wakasa :
“Baik… terima kasih.”
Ia menyimpan koin emas itu ke dalam Magic Hole, lalu menghampiri wanita berambut pink yang masih menunggunya.
Wakasa :
“Maaf membuatmu menunggu.”
“Ini uang yang kupinjam. Terima kasih banyak.”
“Oh iya… namaku Wakasa.”
Wanita berambut pink :
“A-aku Fannisa Hana Ueno… panggil saja Fannisa.”
“E-eh!? Aku hanya meminjamkan mu 5 koin perak, kenapa kau mengembalikannya dengan 5 koin emas!?”
Wakasa :
“Tidak apa-apa.”
“Berkatmu, aku bisa mendaftar sebagai petualang.”
Ia tersenyum tipis—tulus.
Fannisa terdiam, pipinya memerah.
Fannisa :
“H-heeeh… kalau begitu… terima kasih…”
Tatapannya sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Wakasa : Baiklah… sampai jumpa. Wakasa melangkah keluar dari kantor petualang. Suasana kota terasa berbeda—lebih hidup, lebih hangat.
Namun belum sempat menikmati semua itu, perutnya tiba-tiba berbunyi pelan.
Wakasa menghela napas kecil.
Wakasa : Sepertinya tubuh ini juga butuh diisi dulu…
Tak jauh dari sana, aroma daging panggang menyeruak di udara. Seorang penjual paruh baya tampak sibuk membalik daging di atas panggangan.
Wakasa : Paman, beli dagingnya satu.
Penjual : Ayoh~ tunggu sebentar, Nak!
Tak lama, daging hangat berpindah ke tangan Wakasa. Ia menggigitnya perlahan.
Nyam…
Rasanya cukup enak—berbumbu, gurih, dan mengenyangkan.
Namun tanpa sadar Wakasa membandingkannya.
Wakasa (dalam hati) : Lumayan… tapi tetap saja, daging monster waktu itu jauh lebih lezat.
Setelah perutnya terisi, Wakasa kembali berjalan menyusuri kota. Tak lama kemudian, sebuah bangunan kayu dengan papan bertuliskan Penginapan Bulan Perak menarik perhatiannya.
Wakasa : Permisi… berapa harga per malam?
Seorang ibu penjaga dengan senyum ramah menyambutnya.
Ibu Penjaga : Selamat datang. Lima belas koin perak per malam.
Wakasa : Kalau aku menyewa selama lima belas hari?
Ibu Penjaga : Totalnya dua ratus dua puluh lima koin perak.
Tanpa ragu, Wakasa menyerahkan uangnya. Ia segera menuju kamar dan menutup pintu perlahan.
Wakasa : Ahh… akhirnya bisa tidur di kasur sungguhan.
Ia menjatuhkan diri ke atas ranjang dengan senyum puas.
Namun pikirannya kembali teringat satu nama.
Wakasa : Fannisa… siapa sebenarnya dia? Dari seragamnya, jelas dia bukan petualang biasa.
Setelah itu, ia teringat sesuatu yang lebih penting.
Wakasa : Ngomong-ngomong… apa statusku bertambah?
Wakasa : Status, open.
Kecepatan : 100/100
Pukulan : 100/100
Kekuatan Sihir : 100/100
Kemampuan Bertarung : 100/100
Pertahanan : 100/100
Teknik Berpedang : 100/100
Skill Tambahan
Mystery : - / -
Penghilang Keberadaan : 50/100
Kebal Racun : 60/100
Pemulihan Tubuh : 85/100
Mata Wakasa sedikit membesar.
Wakasa : E-eh? Skill baru?
Ia membaca satu per satu dengan penuh perhatian.
Wakasa : Penghilang keberadaan… kebal racun… pemulihan tubuh…
Senyum kecil terukir di wajahnya.
Wakasa : Sepertinya ini efek dari mengalahkan monster itu. Tapi… semuanya belum sempurna.
Ia mengepalkan tangan pelan.
Wakasa : Besok, aku akan melatihnya saat menjalankan misi.
Rasa lelah akhirnya benar-benar menghampiri.
Wakasa : Untuk sekarang… tidur dulu.
Lampu kamar meredup, dan malam di kota itu pun berlalu dengan tenang.