Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Dengan sedikit tergesa-gesa, Ivy turun dari lantai dua menuju lantai satu. Setelah mencapai anak tangga terakhir, berlari kecil menuju pintu. Sudut bibirnya melengkung ke atas, membentuk sebuah senyum begitu melihat Yasa. "Yas," panggilnya, berjalan cepat menghampiri Yasa yang berdiri bersandar body mobil hitamnya. Jika ia girang, lain halnya dengan Yasa. Laki-laki yang mengenakan celana jeans dan hoody putih tersebut terlihat jengkel.
Yasa mendengus kesal, "Gak tahu waktu," gerutunya.
Ivy berdiri selangkah tepat di depan Yasa, senyum masih belum lekang dari bibirnya. "Kirain anak Mami gak boleh keluar malem."
"Malem?" Yasa memutar bola matanya malas. "Dini hari kali," ralatnya.
"Hehehe, iya. Ya udah masuk yuk, dingin di luar."
"Masuk? Emang ada orang di dalam?"
"Gak ada, emang kenapa?" Ivy mengerutkan kening, namun beberapa saat kemudian, tawanya meledak. "Takut gue ituin ya?"
"Gak takut sama lo, tapi takut dosa," Yasa mendengus kesal. "Padahal bawa mobil sendiri, tapi kenapa malah telepon gue. Ini terakhir kali lo ngerepotin gue, selanjutnya, jangan harap," membuang pandangan ke arah lain.
"Yah... padahal pengen ngerepotin sekali lagi."
"Ngelunjak! Kuota habis," lagi-lagi Yasa mendengus kesal. Ia lalu membuka pintu mobil, "Yuk gue anter pulang."
"Lapar, Yas," Ivy mengusap perut, tak lupa memasang mimik menyedihkan, mirip orang kelaparan setelah 3 hari tak makan.
"Otak lo isinya makan mulu."
"Tapi beneran deh Yas, gue lapar. Di deket sini ada yang jual penyetan bebek yang enak banget. Kesana yuk!"
"Mimpi? Jam segini mau nyari warung bebek buka."
"Buka Yas, biasanya jam 3 atau 4 pagi baru tutup. Ayo!" menarik lengan Yasa.
Yasa menatap Ivy kesal, tak bergerak sedikitpun meski lengannya ditarik-tarik.
"Yas, gue ngidam. Lo mau, anak kita ileran?"
"Ck, alesan."
"Suerrr.... " membentuk jarinya menjadi huruf V.
Yasa menghela nafas panjang, "Ya udah ayo. Buruan masuk mobil!"
"Jalan aja."
Kening Yasa seketika mengkerut, "Lo yakin?"
Ivy mengangguk, "Iya, deket kok."
Akhirnya Yasa mengangguk, menuruti kemauan Ivy. Melangkah beriringan melewati trotoar yang sepi. Kendaraan masih ada yang berlalu lalang, meski tidak banyak. Dan setiap ada kendaraan melaju kencang, anginnya membuat dua orang itu makin kedinginan, terutama Ivy yang hanya memakai celana bahan yang dipadukan dengan kemeja lengan 3 per 4.
Beberapa kali, Yasa melirik Ivy yang terlihat menggigil. Ingin meminjamkan hoodie, tapi antara iya dan tidak, ragu-ragu. Sampai akhirnya, sebuah mobil mobil begitu kencang sekali melaju, sampai Ivy yang kedinginan, memeluk tubuhnya sendiri.
"Nih!" Yasa yang baru melepas hoodie, mengangsurkan pada Ivy.
"Gak usah Yas, kuota gue udah habis."
"Maksudnya?" Yasa mengernyit bingung.
"Kata lo tadi, kuota ngerepotin gue udah habis."
Yasa mendengus kesal, menahan tangan Ivy agar berhenti lalu memakaikan hoodie oversize nya pada wanita itu. "Dasar, tukang ngerepotin!"
Ivy terkekeh pelan, memasukkan lengannya pada hoodie lalu merapikan rambut. "Kalau lo kedinginan, bilang sama gue, nanti gue peluk," merentangkan kedua lengan, maju ke arah Yasa.
"Heisss!" Yasa menahan kening Ivy menggunakan telapak tangan sambil mundur sedikit. "Bukan mahram." Menarik kembali tangannya, jalan lebih dulu.
Sambil berjalan cepat mengejar Yasa, Ivy tertawa cekikikan.
Langkah yang awalnya ringan, lama-lama berat juga. Rasanya sudah lumayan lama, jarak yang ditempuh sudah jauh, tapi entah kenapa, warung yang dimaksud belum juga kelihatan hilalnya, "Vy, kok belum nyampai-nyampai, kata lo deket."
"Bentar lagi nyampek."
Sedikit lega Yasa mendengar itu, namun sampai lumayan jauh, kenapa masih belum nyampek juga. "Vy, kata lo bentar lagi nyampek. Mana sih warungnya? Jangan-jangan udah tutup, kita kelewatan," ia celingukan, melihat warung dan toko-toko sudah pada tutup.
"Belum Yas, bentar lagi.'
"Bentar mulu, tapi gak nyampek-nyampek," gerutu Yasa. "Lo ngerjain gue ya, katanya deket."
"Emang deket, jaraknya cuma 2."
"Maksudnya?"
"2 kilo, hehehe."
"Busyet!" Yasa berdecak sambil garuk-garuk kepala. 2 kilo kalau emang deket kalau ditempuh dengen kendaraan, tapi kalau jalan kaki, ya jauhhhh. Menoleh pada Ivy, mendelik kesal.
"Gak sampai 2 kilo sih, hampir," ralat Ivy. "Jangan ngambek gitu dong," sambil ketawa, menepuk pelan pipi Yasa. "Kamu makin ganteng kalau ngambek, nanti gue jatuh cinta."
Yasa mendengus kesal, kembali menatap ke arah depan. Orang gila mana yang dini hari jalan kaki 2 kilo cuma buat makan nasi bebek, keterlaluan emang si Ivy. Dari kejauhan, terlihat sebuah warung tenda dengan lampunya yang sangat terang. Mungkin terlihat sangat terang efek sebelah-sebelahnya tutup, hanya warung itu yang buka.
Tampak beberapa pembeli, tidaklah ramai sangat. Tapi bagus sih, karena mereka jadi mendapatkan tempat untuk duduk. Pasalnya hanya ada 4 meja agak panjang disana, dengan pelengkapnya kursi plastik yang sebagian terlihat ditumpuk dua karena kakinya patah. Warung yang sangat sederhana, namun aroma bebek gorengnya sangat wangi, mampu membuat siapapun yang mencium serasa tersihir, ingin mencicipi rasanya.
Selain dua porsi bebek goreng dan dua gelas jeruk hangat, Yasa memesan secangkir kopi hitam panas.
Ternyata Ivy tidak bohong untuk urusan rasa. Selain bebeknya yang gurih, sambalnya juga enak pol. Ada bumbu kuning khas yang membuat penyetan bebek tersebut terasa makin nikmat.
"Nambah aja kalau kurang, gue traktir kali ini," Ivy tersenyum melihat Yasa makan dengan lahap.
"Ya emang harus lo yang bayar, kan kuota ngerepotin lo udah habis," Yasa mengangkat tangan, meminta penjual memberinya satu potong ayam goreng, pengen nyobain rasa ayamnya juga.
"Yas, gue minta kopi lo dikit ya, ngantuk," keluh Ivy setelah beberapa kali menguap hingga mengeluarkan air mata.
"Bumil gak boleh minum kopi," Yasa menjauhkan kopinya dari jangkauan Ivy.
"Kata siapa?" Ivy lagi-lagi menguap saking ngantuknya.
"Kata gue."
"Sumpah, gue gak tahan banget ini."
"Ya udah, lo tidur aja disini."
"Lha terus elo? Lo ngambil mobil buat jemput gue?"
"Ngarep! Ya gue tinggallah," Yasa nyengir. "Biar diambil Mamangnya, diangkat anak."
"Ya gue gak papa kalau Mamangnya mau. Kayaknya dia juga lebih baik daripada bokap gue. Tapi masalahnya," Ivy mendekatkan mulutnya ke telinga Yasa. "Yang itu tuh," menunjuk dagu pada laki-laki muda, pegawai di warung tersebut. Pemuda berbadan kurus yang rambutnya disisir klimis. "Dari tadi ngeliatin gue. Gimana kalau gue diperkosa dia?"
Yasa mendorong kening Ivy agar menjauh darinya. "Yang ada malah kebalikannya."
"Ya enggaklah Yas," Ivy kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Yasa. "Gue doyannya yang ganteng doang, yang kayak elo," ujarnya sambil cekikikan.
"Sial!" umpat Yasa. "Katanya good looking menyelesaikannya setengah dari masalah hidup, tapi kenyataannya malah bikin nambah masalah gue."
Sepanjang jalan kembali ke kantor, Yasa terus menggerutu. Bagaimana tidak, udahlah capek, kenyang, masih juga ditambahin beban hidup. Ia terpaksa menggendong Ivy di punggung karena sudah dua kali wanita itu hampir terjungkal saat jalan saking ngantuknya. Kalau saja posisinya tidak hamil, bodo amat Ivy terjatuh, kecemplung got juga ia tak akan peduli. "Jangan tidur lo, keenakan!" omel Yasa saat lama tak mendengar suara Ivy.
"Yas... anak kita pasti bangga banget sama Papanya. Gue tahu kok, lo ngelakuin ini karena anak lo, bukan gue."
"Bagus kalau lo sadar," sahut Yasa jutek. Meski mengeluh, namun ia tetap terus berjalan, hingga samar-samar, mendengar seperti suara isakan. "Lo nangis, Vy?"
"Yas, please jangan berubah ya. Selamanya, sayangi anak kita. Sakit Yas, rasanya gak di sayang orang tua. Gue gak mau anak gue ngerasain apa yang gue rasain. Sakit," Ivy makin sesenggukan, menyandarkan kepala di bahu Yasa.
Yasa hanya diam, tak tahu harus berkomentar apa.
"Yas... jangan terlalu baik kayak malam ini ke gue. Lain kali, kalau gue ngerepotin, langsung tolak aja. Jangan pernah lagi datang kalau gue minta, dan jangan gendong gue kayak gini. Gue takut, Yas. Gue takut jatuh cinta."
hasilnya buat wewek gombel ,,, jangan mau Vi jadi rampok di tempat mertua mending usaha sendiri besarin tu skincare mu ya,,
berapa bulan sih?? aku 2 bulan aja udah sesak pake rok span kerja...terpaksa pake celana panjang aja
krn wkt ngidam mama makan nya pecel🤭