Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Malam di Kota Heiyun tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kemegahan lampion merah yang menggantung di jalan-jalan utama, tersimpan bisikan-bisikan tajam tentang kekuasaan, darah, dan pengkhianatan.
Bagi Liang Shan, udara kota ini terasa berat, seolah setiap napas yang ia hirup membawa debu dari tulang-tulang mereka yang kalah.
Ia melangkah memasuki sebuah penginapan kecil bernama "Rehat Rembulan" yang terletak di pinggiran kota yang kumuh.
Tempat ini jauh dari kemewahan, namun bagi seseorang yang membawa dendam dan racun di nadinya, kesunyian di tempat kumuh jauh lebih aman daripada kenyamanan di tempat ramai.
Begitu pintu kamar tertutup, ketenangan palsu yang ia tunjukkan di kedai tadi runtuh seketika.
Liang Shan jatuh berlutut. Tangannya mencengkeram dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum es. Wajahnya yang pucat kini berubah membiru di sekitar bibir.
Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang sedang menagih janjinya.
"Tiga jurus ..., hanya tiga jurus, dan kau sudah bergejolak seperti ini," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya parau.
Ia segera duduk bersila, mengatur napas dengan teknik yang diajarkan Tuan Agung Jin.
Liang Shan membayangkan aliran hawa murni dari Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit bergerak pelan, mencoba menjinakkan hawa beracun yang mengamuk di nadinya.
Setiap kali hawa murni itu bersentuhan dengan racun, Liang Shan merasa tubuhnya seperti medan perang. Rasa panas dan dingin bergantian menghantam kesadarannya.
Setelah satu jam berlalu, peluh dingin membasahi jubah hitamnya. Ia membuka mata. Cahaya bulan masuk melalui celah jendela, menyinari bilah Golok Sunyi yang ia letakkan di atas meja.
"Dunia ini terlalu sempit untuk kita semua, Ayah," gumamnya pelan. "Klan Murong sudah mulai merasakan getarannya. Selanjutnya adalah Klan Xu dan Klan Zhao."
Keesokan harinya, berita tentang tumbangnya tiga pengawal Klan Murong oleh seorang pemuda misterius telah menyebar seperti api yang ditiup angin kencang. Di kedai-kedai teh, para pendekar mulai berbisik-bisik.
Ada yang menyebutnya sebagai titisan iblis, ada pula yang menduga ia adalah murid dari seorang pertapa sakti yang turun gunung untuk mengacaukan Aliansi Heiyun.
Tapi Liang Shan tidak peduli semua itu. Ia kini berada di sebuah pasar gelap di sudut kota, tempat di mana informasi bisa dibeli dengan perak atau nyawa.
Liang Shan mencari seseorang bernama Si Buta Lu, seorang informan tua yang konon tahu berapa helai rambut yang ada di kepala ketua-ketua klan besar.
"Siapa yang mencari orang mati di pagi yang cerah ini?" suara serak muncul dari balik tumpukan keranjang bambu.
Seorang lelaki tua dengan mata tertutup kain hitam duduk bersandar. Tangannya yang kurus memegang sebuah tongkat kayu yang ujungnya sudah halus.
Liang Shan melemparkan sekeping perak besar ke meja di depan orang tua itu. "Aku ingin tahu tentang jamuan di kediaman Klan Zhao besok malam."
Si Buta Lu meraba perak itu dan tersenyum hingga giginya yang kuning terlihat.
"Jamuan itu bukan sekedar pesta makan, anak muda. Itu adalah panggung sandiwara. Klan Zhao adalah tuan rumah, Klan Murong membawa kekuatan, dan Klan Xu membawa kecerdikan. Tapi bintang utamanya tetap Permata Tiga Hati."
"Apa sebenarnya permata itu?" tanya Liang Shan dingin.
"Banyak yang bilang itu kunci ke sebuah kitab sakti. Tapi menurutku, itu adalah racun yang dibungkus cahaya. Barangsiapa memilikinya, ia akan menjadi sasaran seluruh dunia persilatan. Dan kau dengar, Murong Feilong sangat bernafsu memilikinya untuk membuktikan bahwa dia adalah naga sejati."
Si Buta Lu berhenti sejenak, lalu "menatap" ke arah Liang Shan dengan matanya yang buta.
"Tapi ada yang lebih menarik. Kabarnya, lima belas tahun lalu, permata itu sempat terlihat di utara, di kediaman sebuah keluarga sastrawan yang malang. Keluarga Liang."
Darah Liang Shan berdesir. Jantungnya berdegup kencang, memicu denyut perih dari racunnya. "Keluarga Liang?"
"Ya. Dan orang-orang bilang, siapa pun pemuda yang menghajar pengawal Murong kemarin, dia memiliki aura yang sama dengan kematian yang terjadi di rumah itu. Hati-hati, anak muda. Kau bukan satu-satunya yang mencari jawaban di kota ini."
Malam itu, saat Liang Shan hendak kembali ke penginapannya, ia merasakan hawa membunuh yang tajam. Jalanan menuju "Rehat Rembulan" harus melewati sebuah jembatan batu tua yang melintasi sungai kecil yang tenang.
Di tengah jembatan, seorang pria berdiri tegak. Ia mengenakan jubah biru tua dengan sulaman benang perak berbentuk awan.
Di tangannya terdapat sebuah pedang panjang yang masih tersarung, namun aura yang terpancar darinya sudah cukup untuk membuat air sungai di bawahnya berhenti beriak.
"Murong Feilong tidak suka pengawalnya dipermalukan oleh seorang gelandangan," ucap pria itu tanpa menoleh.
Liang Shan berhenti sepuluh langkah di belakangnya. "Kalau begitu, dia seharusnya mendidik anjing-anjingnya dengan lebih baik."
Pria itu berbalik. Wajahnya tegas, usianya sekitar tiga puluh tahun. Ia adalah Murong Chen, sepupu dari Murong Feilong dan salah satu dari "Tiga Pedang Murong" yang tersohor.
"Bicaramu tajam, tapi mari kita lihat apakah golokmu bisa mengikuti lidahmu," ucap Murong Chen.
SRINGG!!!
Pedang seketika terhunus. Cahayanya seperti kilat di tengah malam.
Liang Shan merasakan dadanya sesak. Ini adalah lawan yang jauh lebih tangguh dari pengawal kemarin. Ia harus berhati-hati. Setiap gerakan yang dibuat adalah langkah menuju kematian jika racunnya pecah.
WUTT!!!
Murong Chen menyerang dengan jurus Pedang Awan Mengalir. Serangannya halus namun beruntun, seperti ombak yang tidak memberi celah untuk bernapas.
Liang Shan menghadapi jurus itu menggunakan Jurus Langkah Terakhir di Jalan Tak Bernama. Ia tidak menangkis, melainkan bergeser dengan sudut yang tidak masuk akal.
Tubuhnya condong ke depan seolah akan jatuh, namun justru hal itu membuatnya berada di bawah jangkauan pedang lawan.
Murong Chen memutar pedangnya dan mengubah gaya serangannya menjadi Jurus Badai di Puncak Gunung.
Tenaga dalamnya terasa menggetarkan udara.
Pada saat itu, Liang Shan menghunus Golok Sunyi Mengoyak Langit.
SRINGG!!!
Logam beradu. Liang Shan merasakan getaran tenaga dalam Murong Chen merambat ke lengannya. Ia segera memutar pergelangan tangannya dan mengalirkan tenaga lawan ke tanah dengan Jurus Bayangan Sunyi di Balik Hujan.
"Ilmu silat yang aneh," gumam Murong Chen, matanya menyipit tajam. "Kau tidak memiliki tenaga dalam yang besar, tapi kau tahu cara meminjam tenaga lawan."
Liang Shan tidak menjawab. Napasnya mulai memburu.
Pemuda itu mengambil inisiatif. Ia melompat ke udara, namun gerakannya tidak anggun. Liang Shan tampak seperti burung yang sayapnya patah, jatuh dengan posisi yang aneh.
Lalu, dia mengeluarkan Satu Tarikan Napas, Seribu Penyesalan!
Ini adalah pertama kalinya Liang Shan menggunakan jurus tingkat tinggi di luar gunung. Goloknya tidak menebas leher, melainkan menusuk ke arah titik di bahu lawan dengan kecepatan yang luar biasa.