NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Getaran Yang Beda

Mobil hitam yang dikendarai Arka bergerak perlahan meninggalkan gerbang besar Pesantren Al-Hadid. Di spion tengah, Arka sempat melirik sekilas bayangan bangunan pesantren yang makin menjauh, namun pikirannya tertinggal di area panahan tadi. Bayangan Zahwa yang menarik busur dengan tatapan mata yang tajam namun teduh, seolah telah menancapkan satu anak panah tak kasat mata tepat di ulu hatinya.

Suasana di dalam kabin mobil terasa sunyi sejenak, hanya ada deru mesin dan gesekan ban dengan jalanan aspal yang sedikit berlubang. Arka menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan kelegaan sekaligus kegelisahan yang baru.

"Pak Kades sepertinya sedang banyak pikiran?" suara Pak Sugeng memecah kesunyian.

Sekretaris desa yang rambutnya sudah mulai memutih itu tersenyum simpul, rasanya ia paham sekali dengan apa yang dipikirkan oleh atasannya, rona pemuda yang biasa terjadi sepulang dari pesantren Al Hadid.

Arka tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegundahannya.

"Saya hanya merasa... tenang saja, Pak Sugeng. Nasihat Kiai Hasan tadi benar-benar masuk ke hati saya. Beliau tidak bicara seperti politisi, tapi seperti orang tua yang sangat mengerti isi hati anaknya."

Pak Sugeng mengangguk-angguk takzim.

"Itulah Kiai Hasan, Pak Kades. Bapak beruntung bisa diterima sehangat tadi.. Perlu Bapak tahu, di Sukamaju ini, jabatan Bapak memang penting secara administratif, tapi Kiai Hasan adalah pemegang kunci hati warga.. Apapun perintah beliau, warga akan mendengar dan mematuhi".

Arka memutar kemudi melewati kelokan kebun teh. "Beliau memang karismatik."

"Bukan cuma karismatik, Pak Arka," lanjut Pak Sugeng dengan nada bangga.

"Hampir setiap minggu, Sukamaju ini kedatangan tamu-tamu besar. Mobil-mobil mewah dengan plat luar provinsi sering terlihat parkir di sana. Ada pejabat kementerian, petinggi partai, sampai pengusaha-pengusaha besar dari Ibu Kota. Mereka datang bukan untuk urusan proyek, tapi sowan untuk meminta nasihat, doa, dan ilmu dari Kiai."

Arka tertegun. Penjelasan Pak Sugeng membuatnya sadar betapa kecilnya ia selama ini. Ia yang datang dari kota dengan gelar mentereng dan ambisi modernisasi, ternyata baru saja bertemu dengan sosok yang jauh lebih raksasa secara spiritual. Namun, di balik rasa kagumnya pada Kiai Hasan, ada satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Zahwa.

"Dan.. Zahwa..." Arka menggantung kalimatnya, memancing Pak Sugeng untuk bercerita lebih jauh.

"Ah, Neng Zahwa," Pak Sugeng tertawa kecil, seolah tahu arah pembicaraan Arka.

"Dia itu permatanya pesantren. Putri tunggal yang sangat dijaga oleh Kiai. Banyak yang bilang, Neng Zahwa itu adalah duplikat Kiai dalam versi wanita. Pintarnya, beraninya, dan kepeduliannya pada warga itu menurun langsung dari Abahnya. Itulah kenapa warga sangat menghormatinya, bahkan sebelum tahu dia anak Kiai pun, orang sudah segan dengan karakternya."

Arka terdiam. Ada perasaan hangat yang membuncah setiap kali nama itu disebut. Ia teringat bagaimana Zahwa dengan berani mengkritiknya di Balai Desa tempo hari. Ternyata, keberanian itu bukan tanpa dasar. Zahwa dididik di lingkungan yang mengutamakan kebenaran di atas segalanya.

Namun, seiring dengan kekaguman yang tumbuh, ada secercah rasa minder yang mulai merayap di hati Arka. Ia adalah seorang laki-laki yang praktis, logis, dan sangat duniawi. Sementara Zahwa? Ia tumbuh di lingkungan yang begitu luhur, dikelilingi oleh ilmu agama yang dalam dan penghormatan yang luar biasa.

"Pak Sugeng.. Kira-kira laki-laki seperti apa yang biasanya datang untuk... ya, untuk mendekati Zahwa?" tanya Arka lirih.

Pak Sugeng terbahak, kali ini lebih keras. Ia merasa kali ini ia menjadi seorang Ayah yang sedang menghadapi anak lelakinya yang sedang jatuh cinta.

"Wah, kalau itu jangan ditanya, Pak Kades. Mulai dari anak Kiai-kiai besar dari luar Provinsi, lulusan Al-Azhar Kairo, sampai anak pejabat yang menjanjikan kemewahan. Semuanya datang membawa niat baik. Tapi, sejauh ini belum ada yang bisa mengetuk pintu hatinya. Neng Zahwa itu sulit, Pak. Beliau tidak melihat pangkat atau harta. Dia mencari... Apa ya.. saya juga tidak tahu apa yang dia cari."

Mendengar itu, semangat Arka yang sempat membara perlahan-lahan meredup. Rasa minder nya semakin menjadi. Ia merasa seperti seorang prajurit yang ingin memenangkan hati seorang putri raja, sementara di sekelilingnya sudah antre para pangeran dengan kuda-kuda terbaiknya.

"Apakah aku punya peluang? Aku hanya seorang kades yang baru beberapa minggu di sini. Aku bahkan sempat membuatnya kesal dengan sikapku yang kaku" batinnya.

Ia teringat betapa Zahwa sangat mencintai desa ini. Kekuatannya bukan pada kecantikan fisiknya semata, meskipun Arka harus mengakui Zahwa memang sangat manis hari ini. Arka menyadari bahwa jika ia ingin mendapatkan perhatian Zahwa, ia tidak bisa melakukannya dengan cara-cara biasa. Ia tidak bisa datang dengan jabatan atau janji-janji manis.

Mobil akhirnya sampai di halaman Balai Desa. Arka turun dengan perasaan yang lebih berat dari saat ia berangkat tadi pagi. Rasa tenang dari nasihat Kiai masih ada, namun kini bercampur dengan rasa penasaran dan tantangan besar bernama Zahwa Qonita.

"Terima kasih ceritanya, Pak Sugeng, Oya siapkan untuk rapat dengan staf, saya ke ruangan dulu.. " ucap Arka sebelum masuk ke ruangannya.

"Baik Pak " balas Pak Sugeng, lalu menyiapkan beberapa berkas dan laporan, diikuti oleh staf yang lain.

Di dalam ruangan yang sepi, Arka duduk di kursi kerjanya. Ia menatap ke arah jendela yang menghadap ke arah bukit tempat pesantren berdiri. Ia baru menyadari bahwa perjalanannya di Desa Sukamaju bukan lagi sekedar membangun jembatan fisik, melainkan membangun jembatan menuju hati seseorang yang selama ini terkunci rapat oleh prinsip dan kesahajaan.

"Zahwa... kamu benar-benar misteri yang ingin aku pecahkan," gumam Arka pelan pada kesunyian ruangan.

Sore itu, di bawah langit Sukamaju yang perlahan berubah jingga, sang Kepala Desa muda itu akhirnya mengakui satu hal, ia tidak hanya ingin menjadi pemimpin bagi desa ini, tapi ia juga ingin menjadi seseorang yang berarti bagi putri sang Kiai. Namun, jalan menuju ke sana masih tertutup kabut tebal, setebal kabut yang mulai turun menyelimuti kebun teh di luar sana.

...🌻🌻🌻...

1
Suherni 123
sip pak kades,fokus dulu untuk masyarakat sukamaju
Suherni 123
bagai simalakama ya pak kades,,,
Suherni 123
lanjut
Suherni 123
cakep kek,,,aku padamu 🥰
Suherni 123
semoga kakek ada di pihak mu ya pak kades
Suherni 123
ada benarnya juga Zahwa,, jangan sampai tidak diridhoi orang tua
Suherni 123
adakah bab yang hilang kah kak othor,
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): iya kakak, satu bab kelewat gak aku apdet, hari ini diperbaharui yaa.. maafkan 😍
total 1 replies
demoet..
hadeuhhh.. bner2 c papa pengen diserbu!!
Suherni 123
semangat Arka ....
Suherni 123
waduuh... badai mulai menerjang
Bun cie
semoga niat baik arka disambut baik juga oleh mama papanya mau merestui arka
Bun cie
bismillah semangat pak kades👍
Bun cie
cie..cie..pak kades memanfaatkan suasana..goog job pak kades👍
Suherni 123
semoga pak Bhaskara tak menghalangi niat tulus mu pak kades
Suherni 123
pak kades nembak nih😁
Suherni 123
masih anteng ka,, sebentar lagi badai datang 😁
Bun cie
goodjob pak sugeng👍
Suherni 123
yes pak Sugeng 😚
Suherni 123
aku juga uhuyyy 😁
Suherni 123
mantap pak kades,, lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!