NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Permulaan Dari Neraka

"Lun!"

"Luna!"

"Lunaris tunggu!" Di panggilan ke tiga, Aaron berhasil meraih tangan Lunaris dan membuat gadis itu berhenti.

Lunaris berhenti lalu berbalik, "Lepasin tangan gue,"

Lunaris mendongak menatap wajah Aaron yang lebih tinggi darinya. Ditatapnya wajah tampan milik Aaron. Wajah pemuda itu sudah tidak menyiratkan emosi seperti saat berhadapan dengan Bracia.

Justru saat ini Aaron menatap Lunaris dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.

Lunaris menarik tangannya yang digenggam Aaron. Dan hal itu membuat Aaron menunduk menatap gadis itu.

Saat ini keduanya berada di koridor sekolah yang menuju ke arah UKS. Koridor itu sepi, selain karena memang masih pagi, tapi juga karena memang jarang dilewati orang-orang, kecuali anak-anak yang berniat bolos ke UKS.

"Dari tadi gue panggil lo gak nyaut. Budeg lo sekarang?"

Kali ini Lunaris menatap Aaron, ada banyak emosi dalam sorot mata Lunaris yang perlahan memerah dan berkaca-kaca.

"Lo nangis?" Aaron meraih kedua pundak Lunaris, menatap gadis itu dengan pandangan dalam.

Aaron cukup tau jika air mata yang menggenangi mata coklat gelap milik gadis itu bukanlah karena rasa sedih ketidakberdayaan, melainkan amarah yang tak bisa terluapkan.

Lunaris menyingkirkan kedua tangan Aaron yang memegang pundaknya.

"Aaron, bisa gak lo jauhin gue aja?" Tanya Lunaris tanpa menghiraukan pertanyaan Aaron.

Kening Aaron mengerut, "Kenapa gue harus jauhin lo?"

"Gue mohon Aaron, mulai sekarang lo jauhin gue. Gue gak mau hidup gue makin sulit dengan lo deket sama gue."

"Sulit? Maksud lo secara gak langsung lo bilang gue mempersulit hidup lo?" Aaron menatap Lunaris tidak percaya. "Apa gara-gara Bracia terus-terusan ganggu lo?"

"Menurut lo aja gimana? Bukan cuma Bracia, tapi semua orang di sekolah ini gak suka liat gue deket sama lo." Lunaris berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes.

"Jadi gue mohon dengan sangat, jauhin gue. Atau anggep aja lo gak pernah kenal gue."

"Kalo Bracia atau yang lain gangguin lo, gue bakal selalu lindungin lo."

Lunaris menggelengkan kepalanya pelan, sorot matanya memancarkan ketidak setujuan dengan perkataan Aaron.

"Justru itu! Apa yang lo lakuin itu bukan ngelindungin gue tapi bikin Bracia makin benci sama gue. Kebencian Bracia bukan cuma bikin hidup gue sulit, tapi juga nyokap gue!"

"Udahlah, Ron." Lunaris mundur selangkah, "Gue cuma pengen sekolah dengan tenang terus cepet lulus dari sini. Jadi, gue mohon jauhin gue." Ucapannya lalu gadis itu berbalik, hendak berjalan meninggalkan Aaron yang masih terdiam seolah mencerna ucapan Lunaris yang sulit dimengerti.

"Lun, kita udah temenan dari kecil. Cuma karena orang lain gak suka liat kita deket bukan berarti pertemanan kita berakhir dan gue harus jauhin lo. Ini gak adil tau gak? Kenapa lo lebih peduli sama pandangan orang lain? Gue cukup mampu buat lindungin lo." Ucap Aaron setelah beberapa saat terdiam sembari melihat punggung Lunaris.

Lunaris memejamkan matanya berusaha meredam emosi yang hendak meluap karena perkataan Aaron.

"Lo bisa bilang apapun sesuka lo, tapi lo gak bakal bisa ngerasain apa yang gue rasa." Ucap Lunaris tanpa membalikkan badannya sedikitpun pada Aaron. Kemudian gadis itu meneruskan langkahnya untuk benar-benar meninggalkan Aaron.

Aaron tidak mengejar, pemuda hanya memandang punggung Lunaris yang semakin menjauh. Sedikit rasa kecewa hadir dalam diri Aaron saat Lunaris memintanya untuk menjauh.

Di lain tempat, tidak terlalu jauh dari koridor tempat Lunaris dan Aaron, di balik tikungan koridor Bracia berdiri tanpa sepengetahuan kedua orang itu. Mendengarkan semua perkataan Aaron dan Lunaris.

Dengan tangan terkepal Bracia menatap punggung Lunaris tajam.

Saat ini rasanya Bracia sangat ingin mengamuk dan tidak habis pikir dalam waktu bersamaan.

Aaron bisa sangat keras kepala jika itu menyangkut Lunaris. Memang apa bagusnya cewek kampungan itu? Pikir Bracia.

Sebenernya apa yang dimiliki gadis kampungan dan miskin seperti Lunaris hingga membuat Aaron sangat menggilai gadis itu.

Bahkan Aaron bisa-bisanya membandingkannya dengan gadis miskin itu. Bracia tidak terima.

Disaat dirinya seperti pengemis yang selalu berusaha mencari perhatian Aaron, tapi dengan mudahnya Lunaris mendapat seluruh perhatian pemuda yang menjadi tunangannya itu.

"Lunaris, lo liat aja. Gue bakal bener-bener buat lo berasa hidup di neraka. Gue gak bakal biarin Aaron terus-terusan ada dipihak lo."

Kemudian gadis itu pun berbalik dan berjalan pergi dengan arah yang berlawanan dengan Lunaris.

.......

.......

.......

Lunaris keluar dari toilet, seragamnya yang bau dan kotor sudah berganti dengan baju olahraga. Beruntung di lokernya masih ada baju olahraganya yang bersih, karena seragam cadangannya yang lain semuanya kotor.

Yah semoga saja guru yang mengajar nanti memperbolehkannya masuk dan mengikuti kelas dengan seragam yang berbeda.

Baru lima langkah Lunaris berjalan, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya yang terdorong secara kasar yang membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai cukup keras.

"Akh!" Ringis Lunaris saat merasakan nyeri dan ngilu pada lutut dan sikunya.

Srak!

Belum habis dari hal itu, Lunaris kembali merasakan perih karena rambutnya yang dijambak kasar. Kepala Lunaris dipaksa menengadah dan membuat Lunaris bisa melihat siapa yang menjambak rambutnya.

"B-bracia?"

Lunaris melihat Bracia dan kedua temannya yang tersenyum dengan seringai masing-masing di bibir mereka.

Bracia, mata birunya membara memancarkan kebencian. "Ini peringatan kecil dari gue, sampe gue liat lo masih deket sama Aaron, gue pastiin hidup lo gak bakal tenang."

Bracia menghempaskan kepala Lunaris begitu saja lalu pergi diikuti kedua temannya.

Meninggalkan Lunaris yang semakin tidak menentu dengan perasaannya. Bahkan rasa sakit di kepala juga sikut dan lututnya sudah tak dirasa oleh Lunaris.

.......

.......

.......

Lunaris berjalan masuk ke dalam kelas. Ternyata guru yang akan mengajar belum datang, padahal bel sudah terdengar sejak lima menit yang lalu.

Tak ada satupun yang menghiraukan Lunaris, seakan gadis itu hanyalah debu yang keberadaannya tidak terlalu penting.

Tapi tak apa, Lunaris lebih suka dia diabaikan daripada mereka terus mengganggunya. Mungkin saja mereka cukup terpengaruh oleh perkataan Aaron.

Namun, ketikan Lunaris sampai di bangkunya yang ada di barisan tengah, dia tidak langsung duduk, Lunaris berdiri menatap mejanya yang kotor dan penuh coretan bahkan kursinya yang sediki cekung tertampung cairan berwarna merah.

"Apalagi ini? Apa nyiram gue masih belum cukup buat mereka?" Batin Lunaris.

Menghela nafas panjang, Lunaris tanpa banyak bicara pun mendudukkan dirinya di kursi juga. Sensasi dingin dan basah langsung terasa ketika Lunaris duduk.

Tidak lupa dia segera membersihkan mejanya dengan lengan bajunya

Melihat Lunaris yang hanya bisa pasrah, seketika suasana kelas kembali riuh dengan tawa ejekan. Kadang Lunaris bertanya-tanya apakah hidupnya ini hanya sebuah lelucon murahan?

Beberapa ada yang mengambil video Lunaris yang duduk di atas cairan mereh dan melontarkan ejekan pada Lunaris.

Di sudut lain kelas, Bracia melihat Lunaris dengan senyum sinisnya. Terlihat puas dengan dengan apa yang dia lihat.

"Ini baru permulaan, Lunaris." Batin Bracia.

Kemudian dari arah pintu kelas, Aaron baru saja masuk dan langsung melihat bagaimana Lunaris yang sedang membersihkan mejanya. Menyadari kedatangan Aaron, seketika kelas senyap, mereka masih tidak berani pada Aaron.

Aaron rasanya ingin membantu Lunaris untuk membersikan mejanya atau menggantinya sekalian, tapi dia kembali mengingat bagaimana gadis itu memohon padanya untuk menjauh.

Tatapan putus asa itu benar-benar membuat Aaron sesak. Bahkan saat ini gadis itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari mejanya.

Maka Aaron menelan keinginannya untuk membantu, dan segera melangkah menuju bangkunya yang berada di depan, duduk dengan tenang tanpa menoleh pada Lunaris.

Sedangkan Lunaris yang tau jika Aaron sudah duduk di bangku depannya, hanya diam. Tangannya masih sibuk membersikan mejanya yang sebenarnya sudah lumayan bersih.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!