Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah untuk Sang Suami
Lampu ruang operasi yang terang benderang terasa menyilaukan bagi Katya. Ia berbaring di atas brankar tipis di ruang pengambilan darah yang terletak tepat di sebelah ruang operasi darurat. Selang transparan kini menghubungkan pembuluh darah di lengannya dengan sebuah kantong plastik yang perlahan mulai terisi cairan merah pekat.
"Anda yakin, Nyonya? Anda tampak sangat pucat. Tekanan darah Anda sedikit rendah," tanya petugas medis dengan nada khawatir.
Katya memejamkan mata, merasakan setiap tetes kehidupannya berpindah untuk menyambung nyawa pria yang beberapa jam lalu menamparnya. "Lakukan saja. Ambil sebanyak yang dia butuhkan. Jika saya pingsan, itu tidak masalah, asal dia tetap hidup."
Di dalam hatinya, Katya berdoa tanpa henti. Setiap denyut jantungnya memanggil nama Donny. Ia tidak peduli jika setelah ini Donny masih ingin menceraikannya, atau jika Donny tetap memilih Ian. Baginya, melihat Donny bernapas kembali adalah satu-satunya misi yang tersisa.
Tiga puluh menit berlalu. Kantong darah itu segera dibawa lari oleh perawat menuju meja operasi. Katya merasa dunianya berputar. Kepalanya terasa sangat ringan, dan ujung jari-jarinya mulai mendingin. Petugas medis memintanya untuk tetap berbaring selama lima belas menit lagi, namun insting pelindungnya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah di luar sana.
Dengan sisa tenaga yang ada, Katya mencabut kapas penutup luka donornya—yang membuat darah sedikit merembes ke lengan bajunya—dan turun dari brankar. Ia melangkah terhuyung-huyung, menyusuri lorong sepi di area VIP rumah sakit.
Ia tidak kembali ke ruang tunggu ICU karena ia tahu Ian dan Clarissa pasti akan mengusirnya lagi. Namun, langkahnya terhenti saat melewati kamar perawatan VIP yang seharusnya disiapkan untuk masa pemulihan Donny. Pintu kamar itu sedikit terbuka, dan ia mendengar suara gemerisik logam yang mencurigakan.
Katya menahan napas, menempelkan tubuhnya ke dinding dan mengintip melalui celah pintu.
Di dalam sana, Ian tidak sedang menangis atau berdoa. Pemuda itu sedang berlutut di depan sebuah brankas dinding kecil yang tersembunyi di balik lukisan abstrak di kamar tersebut. Itu adalah brankas portabel yang selalu dibawa asisten Donny, Zaky, setiap kali Donny bepergian jauh atau menginap di luar rumah untuk keperluan darurat.
"Sial! Di mana kodenya?" umpat Ian pelan.
Katya melihat Ian mengeluarkan sebuah alat peretas elektronik yang ditempelkan ke pintu brankas. Cahaya biru dari alat itu memantul di wajah Ian yang tampak penuh ambisi dan keserakahan. Tidak ada jejak kesedihan seorang anak yang ayahnya sedang dioperasi di sana. Yang ada hanyalah predator yang sedang berburu mangsa.
Klik.
Pintu brankas terbuka. Ian tersenyum lebar, sebuah seringai kemenangan yang membuat kuduk Katya berdiri. Ian mulai menggeledah isi di dalamnya—tumpukan mata uang asing, beberapa kunci properti, dan sebuah map kulit berwarna hitam yang terkunci dengan segel lilin merah.
Katya merasa jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya yang lemas. Ia ingin berteriak, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Ia harus melihat apa yang sedang dicari Ian.
Ian merobek segel itu dengan kasar. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas tebal dengan kop surat resmi notaris. Di bagian atas kertas itu tertulis dengan jelas: "TESTAMEN DAN PENETAPAN WARIS TERAKHIR – DONNY ADIWANGSA".
"Akhirnya... semua ini akan menjadi milikku," gumam Ian dengan napas memburu. Ia mulai membaca lembar demi lembar dengan cepat, mencari namanya di antara deretan angka dan aset bernilai miliaran tersebut.
Namun, perlahan-lahan, ekspresi kemenangan di wajah Ian memudar. Alisnya bertaut rapat, dan tangannya mulai gemetar—bukan karena sedih, melainkan karena kemarahan yang meluap. Ia membaca ulang paragraf ketiga dengan suara yang bergetar hebat.
"Apa? Tidak mungkin! Ini pasti salah!" Ian membanting kertas itu ke atas meja nakas rumah sakit.
Katya yang mengintip dari balik pintu berusaha mempertajam pendengarannya. Ia melihat Ian membalik lembaran terakhir, di mana terdapat tanda tangan Donny yang disahkan oleh dua saksi hukum sebulan yang lalu—tepat sebelum konflik Ian muncul ke permukaan.
Ian mencengkeram kertas itu hingga kusut, wajahnya memerah padam karena murka. Ia menoleh ke arah pintu, seolah bisa merasakan keberadaan seseorang di sana, namun matanya tetap tertuju pada isi dokumen yang menghancurkan harapannya.
Ian berteriak tertahan sambil memukul meja. "Tua bangka sialan! Bagaimana bisa dia memberikan semuanya pada wanita itu?!"
Ian mengangkat tinggi-tinggi surat wasiat itu, memperlihatkan kalimat yang dicetak tebal di bagian pembagian aset utama: 'Bahwa seluruh aset likuid, saham mayoritas Adiwangsa Group, dan kepemilikan penuh atas kediaman utama, dialihkan sepenuhnya kepada istri saya, Katyamarsha Adiwangsa, tanpa syarat.' Nama Ian bahkan tidak disebutkan sebagai ahli waris utama, melainkan hanya mendapatkan dana perwalian bulanan yang terbatas.
Katya membekap mulutnya sendiri, matanya membelalak tak percaya. Di saat yang sama, Ian berbalik dengan mata merah penuh kebencian dan menatap langsung ke arah celah pintu tempat Katya bersembunyi. "Aku tahu kau di sana, Katya!"