Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penelusuran Jiwa
Banyuwangi - Bali, Perjalanan Darat dan Laut, Hari Berikutnya
Subuh masih pekat ketika Ferdy meninggalkan rumah. Mbah Harjo telah menyiapkan segalanya. Tas kulit coklat tua berperekat khusus yang dalamnya berlapis kain hitam, dengan kantong sempit yang pas untuk membungkus panjang keris.
Surat dari kelurahan yang menyatakan benda tersebut sebagai "pusaka keluarga untuk ritual adat", serta secarik kertas bertuliskan mantra pendek dari Mbah Harjo untuk ketenangan selama perjalanan.
Ibu Surti memeluknya erat, air mata diam-diam mengalir di pipinya yang keriput.
"Jaga dirimu, Nak. Ayahmu... pasti bangga padamu."
Ferdy hanya bisa mengangguk, gumpalan di tenggorokannya terlalu besar untuk bicara. Dia menaiki bus ekonomi yang akan membawanya ke pelabuhan Ketapang. Di pangkuannya, tas kulit itu terasa hangat dan berdenyut lembut, seperti jantung kedua.
Perjalanan darat singkat. Lalu penyeberangan dengan ferry yang bergoyang. Ferdy memilih duduk di geladak, angin laut menerpa wajahnya. Di sampingnya, kehadiran Dasima terasa sangat kuat hari ini. Seolah energi keris itu membuatnya lebih nyata, lebih dekat.
"Sampai di Bali, kau harus menghubungi Pak Ketut," bisik suara Dasima dalam benaknya, jelas dan penuh kelembutan. "Dia akan tahu apa yang harus dilakukan."
Ferdy mengangguk, lalu mengirimkan pesan WhatsApp ke Pak Ketut dari ponselnya: "Pak Ketut, saya sudah dapatkan yang dicari. Akan ke Besakih besok pagi. Mohon bimbingannya."
Balasan datang cepat: "Syukur. Saya tunggu di wantilan bawah sebelum pintu masuk utama. Pukul 08.00. Datanglah dengan hati bersih."
Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Pukul 07.45
Udara pagi di lereng Gunung Agung menusuk tulang dinginnya. Ferdy turun dari mobil travel yang ia sewa dari Denpasar. Ia mengenakan pakaian yang diarahkan Mbah Harjo: kain kamben putih polos (disewakan di bawah), selendang (umpal) putih melingkar di bahu, dan ikat kepala (udeng) putih.
Pakaiannya yang biasa—kaos dan celana training—terlihat mencolok di bawah busana adat ini, tapi ini adalah tata cara membawa pusaka: pakaian dalam biasa, penutup luar putih lambang kesucian. Tas kulit digantung di pundaknya, menyilang di dada.
Pura Besakih membentang megah di hadapannya, serangkaian pelinggih (bangunan suci) berundak-undak menuju ke atas, dengan latar belakang puncak Gunung Agung yang masih terselubung kabut.
Energinya hari ini terasa sangat berbeda dari kunjungan sebelumnya. Lebih berat, lebih sakral, seolah seluruh kompleks pura sedang menahan napas menunggu sesuatu.
Di wantilan (balai pertemuan) bawah, Pak Ketut sudah menunggu. Ia juga berpakaian serba putih, tapi dengan kain kamben dan udeng yang lebih halus, tanda statusnya sebagai pemangku atau kuncen. Wajahnya tampak tegang, penuh konsentrasi. Di tangannya ada sebuah bokor (wadah) perak kecil berisi bunga, air, dan dupa yang mengepul.
"Selamat datang, Mas Ferdy," sapa Pak Ketut, matanya langsung tertuju pada tas kulit di pundak Ferdy. "Sudah siap?"
"Se-siap mungkin, Pak," jawab Ferdy, suaranya bergetar karena dingin dan gugup.
"Kita akan ke Pura Penataran Agung, halaman utama. Tapi tidak ke pelinggih utama. Ada tempat khusus di sisi timur, dekat dengan sumber air suci. Energi di sana paling jernih untuk apa yang akan kita lakukan."
Pak Ketut memimpin jalan, langkahnya mantap menyusuri anak tangga batu yang sudah aus.
Mereka melewati halaman-halaman pura yang mulai ramai oleh pemangku dan beberapa umat yang datang pagi-pagi. Beberapa orang melirik Ferdy, mungkin heran melihat warga non-Bali berpakaian lengkap dengan tas kulit yang tidak biasa. Tapi tatapan mereka cepat beralih, penuh hormat pada Pak Ketut yang memimpin.
Tempat yang dituju adalah sebuah pelinggih kecil yang berdiri sendiri, dikelilingi pohon-pohon tinggi. Di depannya ada sebuah bale bale (balai) batu, dan di sebelahnya, air mengalir dari pipa bambu ke sebuah kolam kecil batu—air suci (tirta). Suasana di sini hening, terpisah dari area utama.
"Sekarang," kata Pak Ketut dengan suara rendah namun berwibawa, "Duduklah di bale bale itu. Letakkan pusaka di depanmu. Kita akan memulai dengan persembahyangan sederhana untuk memohon izin dan perlindungan para dewa dan leluhur."
Ferdy menurut. Tangannya gemetar sedikit saat melepas tas kulit dan meletakkannya di atas batu yang sudah dialasi daun pisang segar yang disiapkan Pak Ketut.
Pak Ketut duduk bersila di hadapannya. Ia mengambil bunga dari bokor, menaburkannya di sekitar tas, lalu memercikkan air suci ke arah tas dan ke dahi Ferdy. Asap dupa mengepul, membawa aroma khas yang menenangkan.
"Dalam nama Hyang Widhi, para dewa, dan leluhur yang suci, kami memohon izin dan perlindungan. Hari ini, kami akan membuka tabir waktu, menyambung kembali benang takdir yang terputus. Bimbinglah kami dengan kebijaksanaan-Mu."
Setelah doa singkat, Pak Ketut menatap Ferdy. "Mbah Harjo sudah memberi tahu tata cara membuka bungkusan?"
"Iya, Pak. Lepaskan tali kulit, buka kain mori lapuknya. Lalu pegang hulunya... dan tarik bilahnya keluar dengan niat membuka kebenaran, bukan dengan kekerasan."
"Baik. Lakukanlah. Saya akan menjaga."
Ferdy menarik napas dalam. Jantungnya berdegup kencang. Ia membuka perekat tas kulit, mengeluarkan bungkusan kain mori yang masih sama seperti kemarin—kasar, lapuk, dan berdebu. Dengan hati-hati, ia membuka ikatan tali rami yang sudah rapuh. Kain mori itu terbuka.
Di dalamnya, terbaringlah keris Trisula Wedha sepenuhnya.
Hulunya terbuat dari kayu sonokeling tua berwarna hitam pekat, diukir dengan pola sulur-suluran halus yang hampir aus.
Mendaknya (cincin logam di bawah hulu) dari kuningan, sudah kusam namun masih terlihat pola hiasannya. Dan yang paling memukau adalah warangkanya (sarung keris) dari kayu berukir rumit, dengan pola yang menyerupai lidah api dan pusaran air.
Tapi Ferdy tahu, intinya ada di dalam.
Tangannya membalik keris, memegang warangkanya dengan tangan kiri, dan menggenggam hulunya dengan tangan kanan. Ia merasakan getaran yang semakin kuat, hangat, dan... memanggil.
"Lakukan sekarang," bisik Pak Ketut.
Ferdy menutup mata, mengumpulkan semua niatnya. Bukan untuk kekuatan. Bukan untuk kesombongan. Tapi untuk kebenaran. Untuk penyatuan. Untuk mengakhiri penantian.
Dia menarik.
Kreeeek...
Suara bilah logam bergesekan dengan kayu warangka terdengar nyaring di keheningan pagi. Bukan suara berderit yang menjengkelkan, tapi suara yang dalam, seperti pembukaan segel kuno.
Dan saat bilah keris itu sepenuhnya terbebas dari warangkanya, dunia berhenti.
MASA LALU – Jawa, 500 Tahun Silam – Melalui Mata Raden Wijaya
Ferdy (atau kesadarannya) tidak lagi menjadi penonton. Dia MERASAKAN. Dia ADALAH Raden Wijaya.
Dia berlari, napas memburu, dada sesak oleh luka tusuk di pinggang. Darah mengalir deras membasahi kain kebesarannya yang mewah. Di belakangnya, teriakan para pemburu—orang-orang yang selama ini ia percaya, termasuk sahabat karibnya, Mahesa—mendekat.
"Bunuh dia! Jangan biarkan lolos!" Mata Mahesa yang biasanya penuh kesetiaan, kini penuh kegilaan dan ambisi.
"Ini salahmu, Kirana," dengus Raden dalam hati, merasakan racun yang mulai bekerja dari anggur yang diminumnya di jamuan "rekonsiliasi" yang ternyata jebakan mematikan. Racun itu memperlambat langkahnya, mengaburkan pandangannya.
Dia terjatuh di semak, melihat sepatu Mahesa menghampiri, pedang teracung. Tiba-tiba, serangan dari samping—para pengawal sejatinya yang tersisa, mengorbankan diri untuk memberinya waktu. Dengan sisa tenaga, Raden merangkak, menjauh, tersesat jauh ke dalam hutan lebat hingga kegelapan menyergapnya.
Kesadarannya kembali di sebuah gubuk sederhana. Rasa sakit luar biasa di sekujur tubuh. Dan kemudian, sebuah wajah muncul di atasnya. Seorang perempuan muda dengan rambut hitam bergelombang, mata berwarna madu yang penuh kelembutan dan kekhawatiran. Dasima.
"Awas, Tuan. Jangan banyak bergerak," suaranya seperti musik, tangannya dingin dan terampil membersihkan lukanya. Perawatan Dasima tidak hanya fisik. Dalam kesendiriannya, dia bercerita tentang tanaman, tentang bintang, tentang filosofi sederhana kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk istana.
Raden, yang hidupnya penuh intrik, menemukan kedamaian yang belum pernah ia rasakan. Cinta tumbuh, pelan namun dalam, seperti akar yang mencengkeram bumi. Mereka berdua duduk di depan gubuk saat senja, tangan nyaris bersentuhan, tidak perlu banyak kata.
"Kau harus kembali, Raden," kata Dasima suatu malam, matanya berkaca-kaca. "Dunia luar membutuhkanmu. Takdirmu bukan di sini, bersamaku."
"Aku tak ingin takdir. Aku ingin kamu," jawab Raden, tulus.
"Kembalilah. Bereskan urusanmu. Dan jika kau masih menginginkanku... aku akan menunggu." Janji itu diucapkan dengan keyakinan yang membuat Raden percaya semuanya mungkin.
Istana. Kemegahan yang tiba-tiba terasa hambar. Wajah-wajah licik. Dan Kirana. Tunangannya. Cantik, anggun, namun matanya dingin seperti ular.
"Selamat datang kembali, Raden Wijaya. Kita akan menyatukan dua kerajaan," katanya, tersenyum manis sambil menuangkan anggur.
Raden meminumnya, demi diplomasi, demi ketaatan pada adat. Tapi di balik senyuman Kirana, ada kemenangan. Di sudut ruangan, Mahesa menatap dengan wajah tegang, cemburu karena Kirana, dan ambisi karena dijanjikan kekuasaan.
Racun bekerja cepat. Perutnya seperti terbakar. Penglihatannya kabur. Ia terjatuh dari kursi, mendengar tawa Kirana yang samar. "Ambil mahkotanya. Dan buang mayatnya."
Tapi Dasima datang. Dia menerjang masuk, mengusir para pelayan, dan memeluk tubuh Raden yang sudah kejang-kejang.
"Maaf... Dasima... janji kita..." napas Raden tersengal.
"Jangan bicara. Kita akan bersama. Selamanya." Dasima menatapnya, cinta dan keputusasaan beradu di matanya yang indah. Saat napas Raden terakhir keluar, dan matanya yang berwarna madu itu kosong, Dasima mengambil pisau kecil dari pinggangnya.
"Tunggu aku, Raden." Dan dengan tenang yang mengerikan, dia menikam jantungnya sendiri, merebahkan tubuhnya di atas tubuh Raden Wijaya. Darah mereka mengalir bersatu.
Kesadaran Dasima tidak hilang. Dia terbangun (atau lebih tepatnya, menyadari dirinya masih ada) di tempat yang sama. Seorang petapa tua berjubah putih berdiri di hadapannya, wajahnya penuh belas kasihan dan kekaguman.
"Cintamu, nak, telah mengikat jiwamu ke dunia ini. Kau menolak untuk pergi. Kau memilih menjadi penunggu, menjadi jin, demi kemungkinan untuk bertemu jiwanya lagi yang akan berinkarnasi. Tapi ingat, hidup seperti ini adalah pedang bermata dua. Kau akan kuat, tapi juga sangat kesepian."
"Berapa lama?" tanya roh Dasima.
"Sampai darahnya kembali menyentuh pusakanya. Sampai janjinya terpenuhi." Sang petapa mengulurkan tangan, menyentuh dahi energi Dasima.
"Kuberikan kau wujud dan kekuatan. Dan kau memberikanku bukti bahwa cinta manusia bisa mengalahkan bahkan maut."
Petapa itu kemudian mengangkat sebuah keris dari samping tubuh Raden—keris yang sama.
"Ini Trisula Wedha. Simbol kekuasaan sejati seorang raja bukan terletak pada mahkota, tapi pada kemampuan untuk melindungi, menyatukan, dan berkorban. Pamor pada bilahnya (pola logam campuran) bukan hanya keindahan. Ia adalah peta energi, kunci untuk mengingat siapa dirimu sebenarnya. Jagalah ini. Dan suatu hari nanti, pemilik sejatinya akan datang."