Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Antara Benci dan Naluri
Di dalam ruang kerjanya yang bernuansa maskulin, Daviko masih menatap layar ponsel. Jari-jarinya sudah berhenti menggulir informasi mengenai Galaktorea.
Pikirannya berkecamuk. Sejak mengetahui bahwa kondisi Saliha adalah bentuk nyata dari kehancuran mental wanita itu, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Namun, egonya sebagai pria yang pernah dikhianati segera membungkam rasa iba itu.
"Stres? Dia stres karena pria-pria itu, bukan karena aku," gumamnya sinis sambil melempar ponsel ke meja kayu jati.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya diketuk dengan kasar. Bu Ratna dan Tari masuk dengan wajah yang lebih mendung dari cuaca di luar.
"Daviko, Ibu sudah memikirkannya baik-baik," buka Ibu Ratna tanpa basa-basi. "Ibu tidak setuju wanita itu lama-lama di sini. Jika kamu bersikeras mempertahankannya, Ibu akan membawa Kaffara tinggal bersama kami. Ibu lebih rela Kaffara minum susu formula daripada harus diasuh oleh wanita pembawa sial itu," lanjutnya menekan.
Daviko meradang. Ia bangkit dari kursi, tubuh tegapnya seolah memberikan tekanan di ruangan itu. "Kaffara adalah anakku, Bu. Hak asuhnya ada padaku. Tidak ada yang bisa membawanya keluar dari rumah ini tanpa izinku, bahkan Ibu sekalipun."
"Mas Daviko tega!" Tari menyela dengan suara melengking. "Kami melakukan ini demi kebaikan Kaffara. Bagaimana kalau wanita itu hanya berpura-pura baik?"
Daviko menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di depan ibu mertuanya. "Cukup. Kalian tenang saja, aku akan memberi batasan. Saliha hanya akan di sini sampai Kaffara berusia enam bulan. Begitu Kaffara masuk masa MPASI dan daya tahan tubuhnya kuat, aku sendiri yang akan mengantarnya keluar dari gerbang rumah ini."
Bu Ratna dan Tari saling pandang, lalu mengangguk setuju dengan berat hati. Enam bulan adalah waktu yang singkat bagi mereka, tapi bagi Saliha, itu adalah vonis mati yang baru.
Sore harinya, Daviko melangkah ke kamar bawah. Ia mendapati Saliha sedang duduk menyandar di kursi kayu sambil mendekap Kaffara. Namun, ada yang aneh. Wajah Saliha yang biasanya pucat, kini terlihat merah padam. Napasnya tersengal dan pendek-pendek.
"Dengar, Saliha," ucap Daviko dingin, mengabaikan kondisi fisik wanita itu. "Aku sudah memutuskan. Kontrakmu di sini hanya sampai usia Kaffara enam bulan. Setelah itu, kamu harus pergi dan jangan pernah muncul lagi di depanku. Kamu mengerti?"
Saliha menatap wajah Daviko redup, lalu mengangguk lemah. Kepalanya terasa berputar hebat, dan dadanya terasa seperti dihimpit batu besar yang panas. "Iya... Pak..." bisiknya parau.
Namun, keadaan memburuk dengan cepat. Sore itu juga, Bi Tita mendatangi Daviko dengan wajah cemas.
"Den Viko, mohon maaf untuk malam ini, bibi mohon izin pulang sebentar. Anak bibi yang bungsu akad nikah sore ini. Besok pagi bibi sudah kembali."
Daviko tidak punya alasan untuk menolak. Ia mengizinkan Bi Tita pergi, tanpa menyadari bahwa ia baru saja membiarkan dirinya terjebak dalam situasi yang paling ia hindari.
Sekitar pukul tujuh malam, Kaffara mulai menangis. Tangisannya tidak seperti biasanya. Daviko yang sedang berada di ruang tengah segera menuju kamar Saliha. Begitu pintu dibuka, pemandangan di depannya membuat jantungnya mencelos.
Saliha terbaring di kasur tipis dengan tubuh menggigil hebat di balik selimut lusuh. Kaffara merangkak di sampingnya, menangis karena kehausan. Namun Saliha tampak tidak berdaya untuk mengangkat bayinya.
"Saliha, apa-apaan? Kenapa kau biarkan bayiku kehausan. Bangun! Jangan malas-malasan!" Daviko mengguncang bahu Saliha. Kulit wanita itu terasa sangat panas, membakar telapak tangan Daviko.
"Ma~maaf...Pak... saya sedang sakit. Tiba-tiba saya demam, dan puting saya bengkak," rintih Saliha.
Tangannya memegang dada yang tampak membengkak kencang di balik kemeja tipisnya.
ASI Saliha melimpah luar biasa, jauh melampaui apa yang sanggup diminum Kaffara. Kelenjar susunya meradang, membengkak hingga menimbulkan demam tinggi yang menyerang seluruh saraf tubuhnya.
Saliha mengerang kesakitan setiap kali Kaffara tidak sengaja menyenggol dadanya.
Daviko panik. Ia adalah seorang perwira yang biasa menghadapi musuh di medan perang, tapi menghadapi wanita yang sakit karena bendungan ASI melimpah, adalah hal yang tidak pernah ada dalam diktat militernya.
"Ya ampun, Bi Tita nggak ada. Lalu, siapa yang bisa menolongnya?"
Dalam keadaan bingung, Daviko segera merogoh ponsel, mencari tahu di google kata kunci mengenai cara mengatasi payudara bengkak dan demam pada ibu menyusui.
"Harus dikompres air hangat... dan minum parasetamol," gumam Daviko membaca instruksi itu.
Ia segera ke dapur, memeras handuk kecil dengan air hangat, dan mengambil obat dari kotak P3K. Ia kembali ke kamar Saliha dengan perasaan campur aduk.
"Saliha bangun. Kamu harus minum ini," perintah Daviko. Ia membantu Saliha duduk. Tubuh Saliha yang lemas bersandar pada lengan kokoh Daviko. Untuk sesaat, kehangatan tubuh mereka bersentuhan, memicu ingatan-ingatan masa lalu yang seharusnya sudah terkubur.
Saliha meminum obat itu dengan tangan gemetar. Setelah itu, Daviko menatap handuk hangat di tangannya, lalu menatap kancing kemeja Saliha yang tertutup rapat. Ada keraguan besar di matanya.
"Saliha, baringlah. Aku harus mengompresnya... agar bengkaknya berkurang. Jika tidak, demammu tidak akan turun," ucap Daviko dengan suara yang dipaksakan untuk tetap datar.
Saliha menggeleng lemah, air matanya menetes. "Tidak... Pak... biar saya lakukan sendiri...."
"Jangan keras kepala! Kamu bahkan tidak sanggup memegang handuk ini!" bentak Daviko, bukan karena marah, tapi untuk menutupi kecanggungannya sendiri.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Daviko mulai menempelkan handuk hangat itu di bagian yang bengkak melalui sela kemeja Saliha yang sedikit ia buka kancing atasnya.
Saliha memejamkan mata rapat-rapat, rintihan kesakitan keluar dari bibirnya yang pecah-pecah. Setiap kali handuk itu menyentuh kulit Saliha yang panas, Daviko bisa merasakan getaran di tubuh wanita itu.
Hati Daviko tersentuh, namun ia segera membentengi dirinya kembali. Ia tidak boleh goyah. Ia tidak boleh luluh pada wanita yang pernah menghancurkan mimpinya.
"Dengarkan aku baik-baik, Saliha," ucap Daviko tegas, sementara matanya tetap fokus pada kompresan itu.
"Aku melakukan ini hanya karena Kaffara. Aku tidak mau anakku kehilangan asupan ASInya hanya karena ibu susunya sedang sakit. Aku menyentuhmu hanya karena kemanusiaan, jangan pernah berpikir aku sedang melakukan perbuatan mesum atau aku mulai tertarik padamu kembali."
Daviko menatap wajah Saliha yang terpejam dengan sisa air mata di sudut matanya. "Lagipula, semua yang ada dalam dirimu sudah tidak membuatku tertarik lagi. Bagiku, kamu hanyalah raga kosong yang kebetulan memiliki apa yang dibutuhkan anakku."
Kata-kata itu seperti belati yang menusuk jantung Saliha lebih dalam daripada rasa sakit di dadanya. Saliha hanya bisa terisak tanpa suara. Ia membiarkan Daviko mengompresnya, membiarkan pria itu merawatnya dalam balutan kebencian yang nyata.
Sepanjang malam, Daviko tidak meninggalkan kamar itu. Ia duduk di kursi kayu sebelah ranjang, bergantian antara mengompres Saliha dan menimang Kaffara yang mulai tenang.
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Daviko menatap Saliha yang akhirnya tertidur karena pengaruh obat.
Ada rasa perih yang aneh saat Daviko melihat betapa kurusnya Saliha sekarang. Ia teringat sumpah yang pernah ia ucapkan.
"Kamu tidak akan bahagia. Kecuali aku memaafkanmu." Malam ini, ia melihat kutukannya bekerja begitu sempurna, namun entah kenapa, kemenangan itu terasa sangat pahit di lidahnya.
semangat ya😚