Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Bestie Forever.
Di antara gelak tawa bersama kedua teman barunya, dia teringat tentang keadaannya di dunia manusia. Oma dan opa angkatnya yang paling baik di antara semua, namun tidak pernah mendetail atau kurang peka terhadap kondisinya. Itu yang sangat disayangkan.
Oma terlalu menutup mata dan percaya pada puteri sulungnya. Andai oma lebih peka maka peristiwa ini (rencana pembunuhan berencana) dapat dielakan. Mereka terlalu fokus pada si bungsu, aku tidak menyalahkan. Mereka pasti sedih mendengar kabar 'kematian'ku!"
Pink dan Violet mendengarkan ceritaku dengan seksama tanpa menyela.
Selama absen oma-opa di mansion, orangtua angkatnya mengambil kesempatan untuk melampiaskan kekesalan dan kemarahan mereka yang terpendam padanya. Ditambah dengan keluarga saudari ibu angkatnya, tak kalah sadis. Mereka sengaja menyuruh maid untuk tidak mengerjakan pekerjaannya, jadi dia yang menjadi pembantu melayani anggota keluarga Ambrosia. Ditonton para pelayan yang sengaja diliburkan tapi mendapat gaji buta.
Mereka mengancam untuk tidak melaporkan kepada opa-oma kalau tidak nanti diusir. Tentu saja, Rembulan bocah dan remaja, sangat ketakutan untuk hidup di luar Ambrosia. Tak ada terlintas dalam otak sederhananya untuk hidup di luar Ambrosia.
Ribuan pikiran kekhawatiran menggelayuti otaknya bila dia merealisasikan keluar dari keluarga toxic tersebut (kecuali oma, opa dan om). Dia khawatir akan makan apa di luar sana, tidur dimana dan tidak sekolah sebab dia sangat senang membaca dan belajar. Itulah hiburan dan kesenangan satu-satunya. Takut akan orang jahat dan lain sebagainya. Begitulah pemikirannya.
Baginya, dunianya adalah Orion-Ambrosia semata, tak ada yang lain!
Untuk itu, dia rela bertahan terhadap apapun yang akan terjadi. Toh, di panti, tidak lebih baik dari mansion. Dia sudah terlatih. Yang dia takutkan, hidup di jalan tanpa tahu kepastian masa depan dan menghadapi orang asing!
Tentu saja kakek-nenek angkat tidak mengetahui kondisi sesungguhnya karena dia pandai menyembunyikannya selama bertahun-tahun. Di depan mereka, dia selalu mengenakan baju turtle neck lengan panjang dan terusan melebihi lutut guna menutupi luka di tubuhnya bahkan di saat cuaca cerah dan panas sekalipun agar tak terlihat oleh mata oma opa hingga akhirnya menimbulkan kegemparan.
Dirinya selalu menampilkan wajah ceria seolah matahari selalu bersinar terang tak tergantikan oleh malam. Menampilkan rona bahagia untuk menyamarkan kesedihan hati. Dia tak ingin opa-omanya khawatir, dicap tidak bersyukur dan membuat kecewa kedua tua renta yang telah mengangkat derajatnya, sehingga bila melaporkan dampaknya akan membenturkan orangtua dan anak.
"Bukankah darah lebih kental daripada air!?"
Dari permasalahan yang bakal terjadi, orangtua pasti akan berpihak pada anak kandung, terlepas dari benar atau salah. Itu yang dia takuti (walaupun dia yakin oma Marina dan opa Jonathan adalah manusia bijak).
"Kalau begitu yakin mereka bisa bertindak bijaksana, mengapa tidak melaporkan yang sebenarnya?" tanya Violet.
Tidak sesederhana itu! Banyak pertimbangan. Bila ibu orangtuaku di penjara, bagaimana nasib twins? Mereka masih kuliah butuh bimbingan kedua orantuanya apalagi mereka anak gadis, butuh wali ketika mereka menikah.
Dan oma opa yang baik hati pasti bersedih hati, anak sulungnya mendekam di penjara bersama suaminya, belum kesehatan keduanya yang ringkih dan putera bungsu yang memerlukan perhatian lebih akibat luka yang diderita dan merembet pada gangguan fungsi organ tubuh yang sewaktu-waktu merenggut nyawanya.
Itulah kelemahan terbesarku!
Selalu mempertimbangkan perasaan orang lain terlebih dahulu di atas kepentinganku, kenyataannya mereka 'membunuh' aku tanpa menyisakan senoktah pun rasa welas asih. Aku ditinggalkan di jalan bagai seonggok sampah dalam keadaan sekarat!
Sebegitu tidak berartinya diriku bagi keluarga angkatku. Padahal mereka selalu menderma dan melakukan bakti sosial. Mereka baik pada orang lain mengapa tidak padaku. Bukankah aku telah menyelamatkan nyawa kedua orangtua mereka!?
Harta dan kekuasaan!
Itu yang mereka puja. Mereka menyangka aku dikirim musuh untuk menghancurkan mereka dan merebut kasih sayang oma Marina dan opa Jonathan, menghasut keduanya untuk mengalihkan seluruh aset atas namaku (itu yang dituduhkan si kembar padaku).
"Sungguh picik, bukan!?"
Keduanya (harta dan kekuasaan) adalah 'Tuhan' bagi mereka hingga tega menyingkirkan aku dan membuat aku 'mati' perlahan.
Makan hanya dua kali sehari, itu pun makanan sisa anggota keluarga (kalau bersisa) atau sisa pembantu yang hanya setengah piring, nasi dan sayur. Kadang mendapatkan satu kali. Tak jarang, dia harus menahan lapar tiap malam karena makanan tak bersisa atau tidak diberi makan bila melakukan kesalahan. Dan waktu istirahat (tidur) hanya empat jam. Dia harus siap-sedia melayani keluarga angkatnya 1x20 jam!
Pekerjaan dari mulai membersihkan kamar, toilet, mengepel tiga lantai, mencuci baju dengan tangan, menyetrika, memasak. Tidak jarang mereka memberikan kekerasan berupa hukuman fisik, bila pekerjaannya ada yang tidak memuaskan atau ada kehilangan barang. Dialah sasarannya. Hukuman itu berupa tamparan, tendangan, mendorong hingga jatuh dari tangga atau cambukkan. Mereka membuat aku kehabisan nafas dan kelelahan fisik!
Itulah mati perlahan!
Membunuh tanpa menyentuh!
Tesss!
Tetesan air mata tiba-tiba menyeruak dari telaga secerah madu. Dan gelak tawa serta canda pun berhenti!
"Masterrr!!!"
Keduanya pun berhamburan berlutut di depan tuannya.
"Ada apa. Apa bercanda kami keterlaluan!?" tanya mereka cemas melihat air mata menetes di pipi sang master, di tengah gelak canda ketiganya.
Rembulan merasa terharu. Belum pernah ada yang mengkhawatirkan dirinya seperti ini. Dia yang dibuang ke panti asuhan tanpa sempat mengenali keluarga kandungnya, tanpa tahu alasan dirinya dibuang (tanpa meninggalkan satu petunjuk), seperti yang dia tonton di sinetron tentang anak yang terbuang.
Hidup di panti pun tidak mendapat perlakuan yang layak (ibu panti yang baik hati meninggal saat dirinya berusia 4 tahun dan diganti kerabat yang tidak amanah). Begitu pun suaminya yang seharusnya menjadi sandaran untuknya. Sama saja. Turut menyiksanya secara verbal dan non-verbal.
Dahulu, begitu tahu bahwa dirinya adalah anak angkat dari keluarga Ambrosia yang terkenal kaya raya serta masuk dalam jajaran elit politik (anggota keluarganya ada juga selebriti terkenal), sikap teman-temannya berubah dari memuja jadi menghina. Dari mengagumi jadi menafikan. Dikira kawan ternyata lawan. Disangka menolong ternyata menipu. Tak jarang dia disindir, diolok-olok, dihina dan dibuli!
"Tidak! Aku hanya ... terharu dan merasa bahagia di sini. Bersama kalian tentunya!" ucapnya mengalihkan perhatian, di sela isakannya yang menyayat hati.
"Bersediakah kalian menjadi temanku? Bukan bawahanku?" pinta Rembulan berharap dari kedua matanya yang teduh.
"Oh bukan! Lebih dari itu. Menjadi sahabat. My bestie. Bestie selamanya."
"Bestie forever!"
"Tidak menghianatiku. Selalu ada untukku. Hingga rambutku memutih dan kulitku keriput! Hingga mataku menutup dan tidur dalam keabadian ... hik hik hik!" pintanya pilu sambil terisak pada di depan makhluk astral yang menurutnya baik hati.
Keduanya pun menggenggam kepalan tangannya yang memutih di atas pahanya. Mata keduanya mengisyaratkan kejujuran. Tak ada, kemunafikan dan tipu muslihat. Yang ada adalah ketulusan.
"Tentu saja, Master. Kami bersedia menjadi sahabatmu."
"Bestie forever!"