Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Hilang
Jarum jam di dinding kelas bergerak lambat, seolah mengejek kegelisahan yang merayap di dada Aaron. Pelajaran Matematika sudah berlangsung setengah jam, namun kursi di samping jendela—tempat biasa Lunaris duduk—masih kosong.
Dan kegelisahan Aaron semakin besar saat melihat bangku Bracia dan teman-temannya juga kosong.
Aaron tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang ke kejadian di UKS tadi, dan dia khawatir jika Bracia akan melakukan hal yang tidak diinginkan pada Lunaris.
Aaron memang marah, ia memang kecewa karena Lunaris terus menolaknya, tapi membiarkan gadis itu sendirian dengan kondisi kaki seperti itu adalah kesalahan.
"Permisi, Pak. Saya izin ke toilet," Ucap Aaron tiba-tiba, memotong penjelasan guru di depan. Tanpa menunggu jawaban, ia menyambar ponselnya dan melangkah keluar kelas dengan tergesa.
Tujuannya bukan toilet, melainkan UKS.
Namun, sesampainya di sana, ia hanya menemukan dokter Sarah yang sedang membereskan peralatan medis.
"Dok, Lunaris masih di sini?" Tanya Aaron tanpa basa-basi, napasnya memburu.
Dokter Sarah menoleh, keningnya berkerut bingung. "Lho? Dia sudah kembali ke kelas sejak bel istirahat, Aaron. Aku sudah memintanya untuk tetap beristirahat di sini tapi dia bilang mau ganti baju seragam. Memangnya dia tidak ada di kelas?"
Darah Aaron berdesir dingin. Jarak dari UKS ke kelas Lunaris tidak sampai sepuluh menit, bahkan dengan kaki pincang sekalipun.
"Nggak ada, Dok. Dia bahkan gak balik ke kelas."
"Apa? Kemana dia? Kamu sudah coba cek di ruang ganti atau perpustakaan. Mungkin saja dia ada di sana." Saran dokter itu, meski nada suaranya juga terdengar cemas.
Aaron mengangguk kaku, lalu berlari keluar. Firasat buruk yang sedari tadi ia tekan kini meledak menjadi alarm bahaya di kepalanya.
Sementara itu, di dalam sebuah toko bunga, Nyonya Lyn tidak sengaja menyenggol cangkir tehnya hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.
Prang!
Cairan teh panas menggenang di lantai, nyonya Lyn menatap pecahan cangkir tehnya yang berserakan di lantai dengan kening mengerut.
Tangannya mencengkeram dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.
Di luar jendela, puluhan burung gagak yang biasanya hanya hinggap tenang, kini terbang berputar-putar rendah di atas atap rumahnya, bersuara riuh dan gelisah.
Kaaak! Kaaak! Kaaak!
Nyonya Lyn menatap kawanan burung itu dengan wajah pucat pasi. Ia menyentuh kalung batu rubi di lehernya yang kini terasa panas membakar kulit.
"Ada apa ini?" bisik Nyonya Lyn gemetar. "Kenapa perasaanku jadi tidak menentu seperti ini?"
Sementara di salah satu sudut toilet lantai tiga yang sunyi dan terlupakan.
Di dalam toilet terkunci itu, tubuh Lunaris tergeletak tak bergerak di atas lantai keramik yang dingin dan kotor. Kulitnya yang pucat kini penuh lebam ungu dan biru, sisa-sisa kebiadaban yang baru saja terjadi.
Namun, Lunaris tidak benar-benar sendirian.
Di celah-celah ventilasi udara yang sempit dan berkarat di bagian atas dinding, bertengger tiga ekor burung gagak. Mata hitam mereka yang tajam menatap ke bawah, ke arah tubuh gadis itu.
Mereka sudah ada di sana sejak awal. Mereka melihat saat Lunaris diseret masuk. Mereka melihat saat kepala gadis itu dibenamkan ke air kotor. Mereka melihat saat pakaiannya dilucuti dan kehormatannya direnggut.
Mereka adalah saksi bisu yang tidak bisa bicara, namun mereka merekam setiap wajah, setiap tawa, dan setiap jeritan dalam memori kelam mereka. Kini, mereka diam menjaga tubuh itu, seolah menunggu nyawa gadis itu kembali—atau pergi selamanya.
Ketika Aaron berlari menyusuri setiap sudut sekolah. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia sudah memeriksa ruang ganti wanita—kosong.
Perpustakaan—nihil.
Kantin—tidak ada.
Bahkan rooftop tempat biasa Lunaris menyendiri pun kosong melompong.
Sekolah ini terasa seperti labirin raksasa yang menelan Lunaris bulat-bulat. Aaron merasa seperti orang gila. Ia mencoba menghubungi ponsel Lunaris, tapi ponsel itu mati.
Rasa frustrasi Aaron memuncak saat langkah kakinya membawanya ke koridor utama. Di sana, ia melihat Bracia sedang tertawa lepas bersama Emmeline dan Tessa, seolah tidak ada dosa yang baru saja mereka lakukan. Wajah Bracia terlihat segar, riasan wajahnya sempurna, kontras dengan kekacauan di hati Aaron.
Tanpa pikir panjang, Aaron menerjang ke arah mereka. Ia mencengkeram lengan Bracia dengan kasar, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Aww! Aaron, sakit! Kamu apa-apaan sih?!" Pekik Bracia, mencoba melepaskan cengkeraman Aaron.
"Di mana Luna?!" bentak Aaron, suaranya menggelegar membuat murid-murid di koridor berhenti dan menoleh. "Di mana Lunaris?! Gue tahu lo pasti ngelakuin sesuatu sama dia!"
Bracia menatap Aaron dengan mata yang dipenuhi kepura-puraan sempurna. Ia memasang wajah bingung yang meyakinkan. "Hah? Lunaris? Mana aku tahu! Aku dari tadi sama anak-anak lain di sini. Kamu jangan nuduh aku sembarangan!"
"Jangan bohong, Bracia!" Aaron mengeratkan cengkeramannya hingga Bracia meringis kesakitan. "Gue yakin pasti lo tau dimana Lunaris. Sekarang kasih tau gua Lunaris dimana?!"
"Lepasin gue, Aaron! Lo gila ya?!" Bracia mendorong dada Aaron dengan tangan bebasnya. " Kalau si pincang itu hilang, kenapa lo jadi nuduh gue?! Mau dia mati di selokan mana juga, siapa yang bakal peduli?!"
"Jaga mulut lo!" Aaron nyaris melayangkan tangannya, tapi ia menahannya di udara. Tubuhnya gemetar karena amarah yang tak terlampiaskan.
"Lo yang harusnya sadar!" Balas Bracia, kini berteriak balik, memanfaatkan situasi untuk memojokkan Aaron. "Dia tuh bukan siapa-siapa lo, Aaron! Ngapain lo sebegitunya nyariin anak pembantu yang nggak guna itu? Lo bahkan nuduh gue yang jelas-jelas tunangan lo cuma demi cewek sampah kayak dia?!"
"Kalo sampe Lunaris kenapa-napa dan itu karena lo, gue pastiin lo bakal nyesel kenal sama gua." Desis Aaron rendah, matanya menatap Bracia dengan kebencian yang mendalam.
Aaron kemudian menghempaskan tangan Bracia dengan kasar, lalu berbalik pergi meninggalkan Bracia yang terus meneriakkan nama Aaron dengan penuh kemarahan.
"Aaron, gue juga bakal pastiin lo yang bakal nyesel udah perlakuin gue kaya gini. Gue gak akan pernah maafin lo Aaron meskipun lo mohon-mohon ke gue!
Sedangkan Aaron mengabaikan perkataan Bracia, pemuda itu kembali berlari, menyusuri koridor demi koridor tanpa arah. Ia merasa lumpuh. Sekolah ini terlalu besar. Ada puluhan ruangan, gudang, dan lorong.
"Luna... lo di mana..." Gumam Aaron putus asa.
Hingga waktu seolah merangkak dengan cara yang menyiksa. Hingga matahari mulai tergelincir ke barat dan langit berubah menjadi lembayung darah, Aaron masih berlarian di koridor sekolah bak orang gila.
Namun, anehnya, ia tetap tidak bisa menemukan Lunaris. Seolah-olah semesta sengaja menciptakan dinding tak kasat mata, atau mungkin sebuah takdir kejam sedang bekerja untuk memisahkan mereka—memastikan Aaron tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkan gadis itu.