Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Keluarga?
Setelah kemenangan telak atas Lu Chen, suasana di barisan kursi Keluarga Xiao berubah drastis.
Jika sebelumnya mereka duduk dengan rasa malu dan cemas, kini mereka tampak seperti pemenang lotere yang baru saja menemukan gunung emas.
Xiao Zhen, sang kepala keluarga, berdiri dengan wajah yang memerah karena antusiasme yang meledak-ledak.
Matanya yang dulu selalu memandang rendah Jian Feng, kini berbinar dengan keserakahan dan kebanggaan yang palsu.
Begitu Jian Feng melangkah turun dari arena dengan rambut hitamnya yang berkibar ditiup angin, ia segera dikerumuni oleh orang-orang yang dulu meludahi namanya.
"Luar biasa! Putraku! Aku selalu tahu kau memiliki potensi tersembunyi!" seru Xiao Zhen dengan suara keras, sengaja agar didengar oleh klan-klan di sekitarnya.
Ia mencoba merangkul bahu Jian Feng, namun Jian Feng dengan halus melangkah menyamping, membuat tangan ayahnya hanya menggantung di udara.
Xiao Zhen tidak merasa tersinggung, ia justru tertawa lebar. "Lihatlah gaya berjalannya! Benar-benar mencerminkan garis darah keluarga Xiao yang agung! Siapa yang berani bilang putraku sampah? Aku akan memotong lidahnya sendiri!"
Xiao Da, sang kakak tertua yang sebelumnya ingin membuang Jian Feng, kini mendekat dengan wajah memelas yang menjijikkan. "Xiao Feng... maksudku, Adikku! Teknikmu tadi benar-benar membuka mataku. Maafkan kakakmu ini jika dulu terlalu keras mendidikmu. Itu semua kulakukan agar kau termotivasi, dan lihat hasilnya sekarang!"
Bahkan para tetua klan yang dulu menyarankan agar Jian Feng diusir dari silsilah keluarga, kini sibuk mengipasi Jian Feng dan menawarkan pil-pil pemulihan.
"Tuan Muda Ketiga, silakan minum air suci ini. Kami sudah menyiapkan paviliun khusus yang paling mewah di kediaman kita segera setelah kita pulang nanti!" ucap salah satu tetua dengan punggung membungkuk.
Jian Feng berdiri di tengah lingkaran orang-orang munafik ini.
Di balik wajahnya yang malas, ia bisa merasakan gejolak kemuakan dari jiwa Xiao Feng yang asli di dalam batinnya.
"Lihat mereka, bocah..." batin Jian Feng berbicara pada jiwa asli di dalam dirinya. "Mereka yang dulu membiarkanmu kedinginan, kini berebut menyelimutimu dengan sutra hanya karena kau punya taring."
Jian Feng menatap ayahnya langsung ke mata. Tatapan itu begitu tajam hingga Xiao Zhen sempat tersedak kata-katanya sendiri.
"Anak luar biasa?" Jian Feng bertanya dengan nada yang sangat rendah, namun penuh tekanan. "Bukankah sebulan yang lalu kau bilang aku adalah aib yang merusak reputasimu, Ayah? Bukankah kau bilang aku tidak pantas menyentuh sumber daya keluarga?"
Wajah Xiao Zhen sedikit memucat, namun ia segera memasang topeng tawa lagi. "Ah, itu... itu hanya ujian mental dariku, Xiao Feng! Seorang pendekar hebat harus ditempa dalam kesulitan, bukan?"
Jian Feng menyeringai sinis. "Ujian mental? Kalau begitu, anggap saja penghancuran kamarku tempo hari adalah 'ujian' untuk melihat seberapa besar kesabaran kalian."
Xiao Liang, kakak kedua yang tangannya pernah dipatahkan oleh Jian Feng, berdiri agak jauh di belakang dengan tubuh gemetar. Ia tidak berani mendekat, namun Xiao Zhen menariknya maju.
"Liang! Cepat minta maaf pada adikmu dan berikan dia cincin penyimpanan cadanganmu sebagai tanda kasih sayang!" perintah Xiao Zhen tegas.
Xiao Liang yang ketakutan menyerahkan cincinnya dengan tangan gemetar. Jian Feng mengambil cincin itu tanpa ekspresi, lalu merogoh isinya di depan mereka semua—memastikan ada batu energi berkualitas di dalamnya.
"Terima kasih atas 'hadiahnya', Kakak Kedua," ucap Jian Feng. "Aku akan menggunakan ini untuk memastikan aku menang di babak berikutnya, agar kalian bisa terus merasa 'bangga' memilikiku."
Kata-kata Jian Feng penuh dengan sarkasme yang menyengat, namun Keluarga Xiao seolah menutup telinga.
Bagi mereka, selama Jian Feng menang dan membawa nama Xiao ke puncak, mereka akan menelan semua penghinaan itu sebagai harga dari kemasyhuran.
Jian Feng berbalik untuk pergi menuju area istirahat, namun ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah rombongan keluarga yang masih menatapnya dengan wajah memuja.
"Satu hal lagi," ucap Jian Feng, membuat mereka semua terdiam. "Jangan pernah menyentuh atau mendekati paviliunku tanpa izin. Dan jangan coba-coba menggunakan namaku untuk menindas klan kecil di kota ini. Jika aku mendengar kalian bertingkah karena 'kekuatanku', aku sendiri yang akan menghapus kultivasi kalian sebelum musuh melakukannya."
Ia meninggalkan mereka yang terpaku kaku. Xiao Zhen menelan ludah, menyadari bahwa putra yang ia anggap "alat" ini sekarang telah menjadi "tuan" yang sebenarnya di dalam hirarki keluarga.
Di kejauhan, Qing Laoyue melihat adegan itu dari balkon VIP dengan senyum penuh arti. Ia tahu betul bahwa Jian Feng sedang bermain-main dengan mangsanya sebelum hari penghakiman tiba.
thor lu kaya Jiang Feng