NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Sebuah Penyesalan

     ​Malam semakin larut. Namun, lorong-lorong Rumah Sakit Anak itu, tidak menunjukkan tanda-tanda ketenangan. Di ruang perawatan intensif, ketegangan justru sedang terjadi.

     Cahaya lampu neon yang putih pucat memantul di wajah Kaffara yang kini tampak sangat lemah. Bayi itu tidak lagi menangis kencang, ia hanya merintih lemah. Sebuah suara yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun karena menunjukkan energinya yang mulai habis.

     ​Tim dokter dan perawat keluar masuk ruangan dengan langkah terburu-buru. Wajah mereka tegang. Segala jenis susu formula premium yang telah dicoba, baik yang diberikan secara perlahan melalui botol maupun yang dimasukkan lewat selang nasogastrik ke lambungnya, ditolak mentah-mentah oleh tubuh kecil itu.

     Perut Kaffara kembung, dan setiap tetes cairan asing yang masuk selalu berakhir dengan muntahan yang menyiksa.

     ​"Kondisinya semakin mengkhawatirkan, kadar cairan dalam tubuhnya terus menurun drastis," ucap dokter spesialis anak kepada Mama Davira dan Papa Arkaffa dengan nada serius.

     "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai formula, tapi tubuh pasien seolah menutup diri. Sekarang, satu-satunya harapan kami adalah mencoba susu kedelai khusus medis. Kami berharap ini bisa diterima oleh tubuhnya sebagai asupan sementara sebelum dia benar-benar dehidrasi parah."

     ​Mama Davira menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika. Ia melihat perawat mulai menyiapkan botol berisi cairan putih kecokelatan itu. Di dalam hatinya, ia terus berdoa. Ia tahu, secara medis mungkin itu usaha terakhir, tapi secara batin, ia tahu cucunya tidak sedang butuh susu kedelai.

Cucunya sedang butuh dekapan yang hilang, aroma tubuh yang ia kenali, dan aliran nyawa dari Saliha.

     ​Di ruang tunggu itu, Mama Davira duduk dengan tubuh gemetar, wajahnya yang biasanya anggun kini terlihat layu oleh kesedihan yang tak terbendung. Ia menangis tanpa henti sejak pagi, bayangan Kaffara yang kesakitan terus menghantuinya. Namun, setiap kali matanya menangkap sosok Bu Ratna dan Tari yang duduk tidak jauh darinya, kesedihannya seketika berubah menjadi bara api yang berkobar.

     ​Mama Davira berdiri, langkahnya menuju ke arah kedua wanita itu. Ia menunjuk wajah Bu Ratna dengan jari yang bergetar.

     ​"Lihat! Lihat hasil dari kerja keras kalian berdua!" bentak Mama Davira dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis. "Kaffara sedang bertaruh nyawa di dalam sana karena kalian merasa punya kuasa! Jika sampai terjadi apa-apa dengan cucuku, jika sampai Kaffara kehilangan nyawanya, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian berdua ke pihak berwajib atas tuduhan kelalaian yang disengaja!"

     ​Bu Ratna tersentak, wajahnya memucat mendengar ancaman itu. "Tunggu dulu, Jeng! Jangan bicara sembarangan! Kami ini keluarganya juga, kami ingin dia sehat!"

     ​"Ingin dia sehat?" Mama Davira tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Kalian membawanya paksa saat dia sedang butuh ibu susunya. Kalian mengusir Saliha hanya karena kalian benci padanya, tanpa peduli pada kebutuhan bayi ini. Sekarang lihat, siapa yang membunuhnya pelan-pelan? Itu ulah kalian!"

     ​Tari, yang merasa tertekan dan ketakutan melihat kondisi Kaffara yang semakin lemah, tidak mau sepenuhnya disalahkan. Ego dan rasa bencinya pada Saliha masih berusaha mencari celah untuk membela diri.

     ​"Jangan terlalu menyalahkan kami, Tante! Si Saliha itulah biang keladi dari semua kekacauan ini!" seru Tari dengan suara melengking. "Kalau memang dia sayang dan tulus menyayangi Kaffara, kenapa dia harus pergi begitu saja? Kenapa dia tidak bertahan dan memohon untuk tetap tinggal? Dia sengaja pergi supaya kita semua menderita begini. Dia wanita jahat!"

     ​Mendengar itu, Mama Davira seolah kehilangan kesabarannya. Ia mendekati Tari dengan sorot mata yang seolah ingin menembus jantung wanita muda itu. "Bisa-bisanya kamu menyalahkan orang yang sudah memberikan segalanya untuk Kaffara? Kalian yang menghinanya setiap hari. Kalian yang mengusirnya seperti sampah dari rumah anakku. Manusia mana yang akan bertahan jika setiap hari harga dirinya diinjak-injak seperti yang kalian lakukan?"

     ​"Saliha itu hanya orang asing!" teriak Bu Ratna ikut membela anaknya.

     ​"Dia orang asing yang memberikan nyawanya untuk cucuku, sedangkan kalian? Kalian adalah keluarga yang justru perlahan ingin mencabut nyawanya!" balas Mama Davira lebih keras.

     ​Perdebatan itu semakin memanas, suara mereka bergema di lorong rumah sakit, membuat para perawat harus datang untuk menenangkan.

     Namun, sebelum keadaan semakin kacau, pintu lift terbuka. Papa Arkaffa masuk bersama suami Bu Ratna yang baru saja tiba dari luar kota. Kedua pria itu segera berlari melerai istri-istri mereka yang hampir saja terlibat kontak fisik.

***

     ​Di tempat berbeda, di bawah siraman lampu jalanan yang remang-remang, sebuah mobil SUV melaju tidak tentu arah. Daviko mencengkeram setir dengan sangat kuat, matanya merah karena kurang tidur dan air mata yang terus mendesak keluar. Ia sudah berkeliling Depok, menyisir terminal-terminal kecil di Jakarta, bahkan mendatangi setiap sudut yang mungkin disinggahi Saliha.

     ​Ia telah mengerahkan semua kenalannya. Ia menghubungi rekan sejawatnya, adik-adik tingkatnya di militer, hingga teman-teman lamanya untuk membantu mencari keberadaan seorang wanita bernama Saliha. Namun, hasilnya nihil.

Saliha seolah menghilang ditelan bumi begitu saja setelah keluar dari gerbang rumahnya subuh tadi.

     ​"Bodoh... bodoh!" umpat Daviko sambil memukul setir mobil berkali-kali.

     ​Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya seolah berhenti berdetak, berharap itu adalah kabar dari orang-orang yang ia utus. Namun yang ada hanyalah laporan negatif. Ia terus-menerus menghubungi nomor Saliha, meski ia tahu hanya suara operator yang akan menjawab bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan.

    B​Daviko kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Ia mengambil ponselnya lagi, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk Bi Tita.

     "​Bi, apa ada kabar? Apa dia membalas pesan Bibi?"

     ​Tak lama, jawaban Bi Tita masuk, membuat Daviko semakin putus asa.

     "Belum ada, Den. Nomor Mbak Saliha masih tidak bisa dihubungi. Bibi sudah coba ratusan kali, hasilnya tetap sama. Kasihan Den Kaffara."

     ​Daviko menyandarkan kepalanya di setir. Pertahanannya runtuh. Di tengah kesunyian malam di dalam mobilnya, sang Kapten yang dikenal gagah itu akhirnya menangis. Air matanya menetes membasahi tangannya.

Ia terbayang bagaimana kasarnya ia pada Saliha kemarin. Bagaimana ia menatap Saliha dengan penuh hinaan, menganggapnya hanya sebagai alat kontrak yang tidak punya perasaan.

     ​"Saliha... tolong kembali... aku mohon," raungnya dalam diam. Suaranya tercekat di tenggorokan.

     ​Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya. Semua pangkat dan jabatannya saat ini, seakan tidak berguna sama sekali. Ia tidak bisa menyelamatkan anaknya sendiri.

     Bayangan Kaffara yang semakin melemah di rumah sakit terus berputar di kepalanya. Pikirannya mulai membayangkan hal-hal terburuk. Bagaimana jika Kaffara tidak bertahan? Bagaimana jika anaknya meninggal karena kesalahannya?

     ​"Kalau terjadi sesuatu pada Kaffara, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," bisiknya parau. "Aku yang membunuh anakku sendiri dengan tanganku yang penuh dosa ini."

     ​Daviko menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam, ia merasa Saliha sangat jauh, sejauh bintang yang tidak mungkin ia raih.

     Penyesalan itu kini membakar dadanya lebih panas dari api mana pun. Ia rela memberikan apa pun, melepaskan jabatannya, bahkan memberikan nyawanya sendiri, asalkan Saliha kembali dan anaknya selamat.

​ Apakah Saliha akan ditemukan, atau justru Daviko akan menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya untuk kedua kali?

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!