Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Langkah Kayla memasuki rumah besar itu pagi hari ini terasa berbeda. Jika tiga hari sebelumnya hatinya ringan, penuh rasa syukur, dan semangat untuk bekerja, maka hari ini dadanya seperti ditekan batu besar yang membuat napasnya sesak. Rupanya itu feeling yang akan membuat Kayla tidak senang dan ketakutan.
Sejak melihat sosok Dalfa di ruang tamu siang tadi, sesuatu di dalam dirinya runtuh tanpa suara.
Batin Kayla bergejolak.
“Tidak! Putra sulung Bu Aisyah bukan pria itu, kan? Ini pasti salah. Ini tidak mungkin, 'kan?!” pikir Kayla berulang-ulang, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, semakin Kayla menolak, semakin jelas bayangan masa lalu itu muncul. Malam yang menghancurkan kehidupannya.
Wajah dingin Dalfa, sorot matanya yang tajam, caranya berdiri dengan aura yang menekan, semua itu mengingatkan Kayla pada seseorang yang ingin dia kubur dalam-dalam di ingatannya.
Jantung gadis itu berdegup tak beraturan dan tubuhnya bergetar, setiap kali teringat sekilas tatapan pria itu kepadanya. Kayla meremas ujung celemeknya, jari-jarinya gemetar tanpa sadar.
“Aku harus pergi! Aku harus keluar dari sini ... aku tidak bisa di sini,” batin Kayla
Keinginan untuk kabur begitu kuat, hampir membuatnya melangkah keluar dari dapur saat itu juga. Namun, wajah adik-adiknya kembali terbayang. Fattah, Fattan, dan Nayla yang tersenyum menunggu makanan di rumah.
Kontrakan kecil mereka yang sederhana. Tagihan listrik, dan biaya sekolah ketiga adiknya yang menumpuk. Semua itu menahan kakinya agar tetap berdiri di tempat.
Kayla menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Akan tetapi, rasa takut itu tidak hilang, hanya mengendap, menunggu waktu untuk meledak.
Di ruang makan, Bu Aisyah memperhatikan Kayla dengan dahi berkerut samar. Wanita paruh baya itu meletakkan sendoknya perlahan.
“Kenapa, Bu?” tanya Pak Ramlan karena istrinya terus melihat ke arah Kayla yang mondar-mandir di dekat kabinet dapur.
“Kayla, Yah,” jawab Bu Aisyah pelan.
“Kenapa dengan Kayla?” tanya Pak Ramlan berbisik, mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Ada yang berbeda dari Kayla hari ini,” jawab Bu Aisyah lirih.
“Apa cuma perasaan Ibu saja?”
Bu Aisyah terdiam. Baginya perubahan Kayla jelas terlihat. Biasanya Kayla tersenyum ramah, berbicara sopan, dan tampak hangat saat menyajikan makanan. Hari ini, gadis itu lebih banyak menunduk, menjawab singkat, dan terlihat seperti orang yang sedang menahan beban berat.
Saat Dalfa masuk ke ruang makan, suasana semakin kaku. Putra sulung mereka duduk tanpa banyak bicara, mengambil nasi, dan mulai makan dengan tenang. Namun, matanya yang tampak acuh itu beberapa kali melirik ke arah Kayla yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
Dalfa bukan tipe pria yang banyak berbasa-basi. Wajahnya dingin, garis rahangnya tegas, dan auranya selalu membuat orang lain merasa sungkan. Namun, hari ini, tatapannya pada Kayla berbeda.
Bukan sekadar pandangan sepintas. Ada sesuatu yang membuat Dalfa diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan itu. Bagaimana tangannya sedikit bergetar saat menuangkan air, bagaimana napasnya tampak tertahan saat mendekatinya, bagaimana matanya menghindari kontak langsung dengannya. Dalfa mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Setelah makan siang selesai, Kayla buru-buru membereskan meja. Suara piring dan gelas beradu memenuhi dapur yang luas.
Air kran mengalir deras saat dia mencuci satu per satu bekas makanan. Bau sabun bercampur dengan aroma sisa seafood yang tadi dia masak.
Kayla berusaha fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya terus melayang. Bayangan masa lalu kembali menghantui. Dadanya semakin sesak. Tanpa dia sadari, langkah kaki mendekat dari belakang.
“Permisi.” Suara rendah itu membuat tubuh Kayla tersentak hebat.
Piring yang sedang dipegangnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Kayla terlonjak ke belakang, napasnya terengah.
“Ya Allah, astaghfirullah,” desis Kayla panik.
Dalfa berdiri tak jauh darinya, wajahnya tetap datar, tetapi matanya sedikit melebar melihat reaksi Kayla yang begitu ketakutan.
Kayla menunduk cepat, berusaha memunguti pecahan piring. Namun, tangannya gemetar.
“Aduh—” desis Kayla tertahan ketika salah satu pecahan tajam menggores telapak tangannya. Darah langsung mengalir, menetes di lantai dapur.
Dalfa menghela napas pendek. Tanpa banyak bicara, dia berbalik dan berjalan keluar dapur. Beberapa detik kemudian, dia kembali dengan sebuah kotak P3K di tangan. Dia meletakkannya di atas meja dekat Kayla.
“Obati lukamu,” ucap Dalfa singkat, suaranya rendah dan dingin.
Kayla menatap kotak itu, lalu menatap tangannya yang terluka. “Te-terima kasih ...,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Dalfa tidak menjawab. Dia hanya berdiri sebentar, memperhatikan Kayla yang membersihkan lukanya dengan hati-hati, lalu berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun lagi.
Kayla menghembuskan napas panjang begitu Dalfa menghilang dari pandangannya. Dadanya berdenyut bukan hanya karena luka, tetapi karena perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Sore harinya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, Kayla bersiap untuk pulang. Langit mulai berubah jingga, angin sore berhembus lembut menerpa halaman luas rumah itu.
Kayla berjalan keluar dengan langkah pelan, membawa tas kecilnya. Di gerbang, dia melihat Ashabi sudah menunggunya.
Pria itu tersenyum hangat begitu melihatnya.
“Kamu sudah mau pulang, Kayla?” sapanya ramah.
“Iya,” jawab Kayla, berusaha membalas senyumnya.
Namun, Ashabi langsung menyadari sesuatu. Senyum itu tidak secerah biasanya. Matanya tampak lelah, ada bayangan ketakutan yang samar.
“Ada apa? Kamu kelihatan pucat,” ujar Ashabi lembut.
Kayla menggeleng cepat. “Tidak, aku baik-baik saja,” balasnya dengan nada suara bergetar.
Ashabi menatapnya lebih lama, penuh perhatian. Tatapan itu membuat Kayla merasa terlihat, seolah pria itu bisa membaca kegelisahan di hatinya.
“Kamu yakin?” tanya Ashabi lagi, kali ini lebih pelan.
Kayla terdiam.
Angin sore berdesir di antara mereka. Di kejauhan, suara burung pulang ke sarang terdengar samar.
“Aku cuma capek sedikit,” jawab Kayla akhirnya, menghindari kebenaran.
Ashabi mengangguk perlahan, tetapi hatinya tidak tenang. Ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya pada wajah Kayla, tetapi pada auranya, seolah perempuan itu membawa beban berat yang tidak berani dia ceritakan.
“Ayo, aku antar kamu pulang!” ucap Ashabi sambil memberikan helm.
“Apa kamu tidak capek? Kan, baru pulang kerja,” tanya Kayla.
“Tidak, kok. Sekalian ingin bertemu sama anak-anak,” jawab Ashabi.
Selama dalam perjalanan, hati Ashabi bertanya-tanya, “Apa yang terjadi padamu hari ini, Kayla?”
Tanpa dia sadari, rasa khawatir itu perlahan berubah menjadi keinginan yang lebih kuat untuk melindungi perempuan di depannya.
up LG Thor