Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.
Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.
Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.
Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:
"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Ketika membuka mata kembali, Calvin mendapati dirinya telah keluar dari ruang batin. Telinganya menangkap suara dua orang.
“Brengsek, bocah ini diambil dari lubang kotoran mana? Disemprot air selama ini pun tidak bersih-bersih. Sudahlah, langsung saja lempar ke sel. Suruh dua narapidana membersihkannya.”
“Iya, Kak Arif. Baunya hampir membuatku muntah.”
Barulah Calvin menyadari bahwa dirinya telah kembali ke penjara. Dua petugas lapas sedang menyemprot tubuhnya dengan pompa air untuk membersihkan kotoran yang menempel.
Ia memahami bahwa setelah menandatangani Kontrak Jiwa dengan keberadaan misterius itu, tubuhnya telah mengalami perubahan besar. Fisiknya terasa lebih ringan dan kuat, saluran tubuhnya seolah dibersihkan, kekuatannya meningkat drastis, bahkan penglihatan serta pendengarannya menjadi jauh lebih tajam.
“Kenapa aku ada di sini? Di mana adikku?” tanya Calvin kepada kedua petugas itu.
Salah satu petugas mendengus dingin. “Ini Penjara Bageta. Kau di sini karena melakukan kejahatan. Soal adikmu, kami tidak tahu apa-apa.”
Petugas lainnya berkata dengan nada tak sabar, “Buat apa bicara dengannya? Bawa ke sel. Bau busuknya tidak hilang-hilang. Hei, bocah, ingat nomormu: 309. Di dalam sini, kau tidak punya nama. Nurut saja dan jalani hukumanmu.”
Calvin kemudian dibawa masuk ke sel. Kali ini ia tidak melawan. Para petugas jelas tidak tahu apa-apa, dan Penjara Bageta terkenal dengan pengawasannya yang ketat. Melarikan diri hampir mustahil.
Setelah mengenali sel bernomor 309 dan meletakkan barang-barangnya, petugas mengetuk dua sel di sebelahnya dan membuka pintu.
“307, 308. Ada tetangga baru. Kalian berdua bawa 309 ke kamar mandi. Biar sekalian kenal lingkungan.”
Begitu kata-kata itu diucapkan, tawa kasar terdengar dari beberapa sel di sekitar. Calvin langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Di kamar mandi penjara, dua pria berusia sekitar tiga puluhan berdiri di hadapannya. Yang satu berkepala plontos, yang satunya lagi berjanggut lebat. Dari tampangnya saja, sudah jelas mereka bukan orang baik.
Si Plontos memiringkan mulutnya dan berkata sinis, “Sialan. Biasanya orang lain yang memandikan aku. Sekarang aku malah disuruh memandikan bocah busuk sepertimu. Badan penuh kotoran, mau mati, ya?”
Kesedihan karena kehilangan adiknya belum juga hilang, dan kini ia harus menghadapi situasi ini. Nada suara Calvin menjadi dingin.
“Jaga mulutmu. Tidak ada yang minta kau memandikanku. Aku malah jijik disentuh tanganmu.”
Si Plontos tertegun, lalu tertawa marah. Ia menoleh ke pria berjanggut. “Jenggot, bocah sekarang makin kurang ajar. Kelihatannya belum sadar dia ada di mana. Menurutmu, pelajaran apa yang pantas untuknya?”
Pria berjanggut tersenyum penuh niat jahat. “Bocah ini memang busuk, tapi kalau sudah bersih, kulitnya halus juga. Bukankah kau suka yang begini? Kesempatan bagus. Suruh dia ambil sabun, biar tahu kenapa pantat bisa terasa sangat sakit.” Ia tertawa keras.
Si Plontos ikut menyeringai. “Ide bagus. Atau kita main bersama?”
Rasa dingin menjalar di punggung Calvin. Dua orang ini benar-benar menyimpang. Tiba-tiba, senyum aneh muncul di wajahnya. Ia mengulurkan tangan dan mendorong sabun di atas meja hingga jatuh ke lantai.
“Kalian sudah selesai bicara? Kalau begitu, silakan pilih salah satu dari kalian untuk mengambilnya.”
“Apa?” Keduanya terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak.
Wajah si Plontos berubah bengis. “Bocah kecil, kau benar-benar berhasil membuatku marah. Sekarang aku akan memberimu pelajaran paling berkesan dalam hidupmu.”
Pria berjanggut mundur sedikit sambil menonton dengan senyum puas. “Plontos, jangan terlalu keras. Masih perlu dipakai.”
“Tenang saja….”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Calvin sudah bergerak.
Satu langkah maju. Satu pukulan sederhana, menghantam langsung ke dagu si Plontos. Si Plontos refleks mengulurkan tangan untuk menangkap pukulan itu, bahkan masih sempat mengejek. Namun seketika, wajahnya berubah.
Terlalu kuat!
Kekuatan brutal mengalir dari tinju Calvin. Tangannya tidak sanggup menahan. Tinju itu mendorong telapak tangannya sendiri dan menghantam wajahnya.
Krak!
Suara tulang bergeser terdengar jelas, disusul rasa sakit yang hebat. Rahangnya terlepas, bahkan mungkin retak. Tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh keras ke lantai; tulang ekornya seolah patah.
Calvin menatapnya dengan senyum mengejek.
“Apakah ini cukup menjadi pelajaran yang tak terlupakan bagimu?”