"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: DEBUT SANG BURUNG KENARI
Cahaya lampu kristal di ruang ganti utama berpijar begitu menyilaukan, memantul pada deretan gaun desainer yang bergelantungan seperti kulit-kulit yang siap dikenakan. Arunika berdiri mematung saat tiga orang penata rias sibuk memoles wajahnya. Jemari mereka lincah, menutupi pucat di pipinya dengan perona merah muda yang segar, menyamarkan lingkaran hitam di bawah matanya dengan concealer terbaik, hingga yang tersisa di cermin adalah sosok dewi yang sempurna tanpa cela.
Namun, di balik lapisan kosmetik itu, Arunika merasa seperti sebuah porselen yang retak dan direkatkan kembali dengan paksa.
"Tuan Valerius meminta Anda mengenakan kalung ini, Nyonya," bisik salah satu penata rias dengan nada hormat yang berlebihan.
Sebuah kalung berlian zamrud dilingkarkan ke lehernya. Logamnya terasa sedingin es, mencekik kerongkongannya lebih kuat daripada borgol beludru tempo hari. Ini bukan sekadar perhiasan; ini adalah kalung anjing berlapis permata. Sebuah tanda kepemilikan yang akan dipamerkan Adrian kepada dunia malam ini.
"Cantik," sebuah suara berat bergema dari ambang pintu.
Adrian berdiri di sana, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna. Ia berjalan mendekat, menyentuh bahu Arunika yang terbuka, dan menatap pantulan mereka di cermin besar.
"Malam ini adalah debutmu, Arunika. Seluruh mata elit kota ini akan tertuju padamu. Mereka akan memujamu, iri padamu, dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa mendapatkan wanita seindah ini," Adrian membungkuk, membisikkan kata-kata itu tepat di telinganya. "Ingat Aturan No. 5: Istri harus menjaga kehormatan suami di depan publik dengan senyuman dan kesantunan yang mutlak. Jangan biarkan satu tetes pun kesedihan merusak malam kemenanganku."
Arunika memaksakan sebuah senyum tipis yang sudah ia latih berjam-jam. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Adrian. Aku tahu betapa pentingnya citra ini bagimu."
Adrian tampak puas. Ia tidak menyadari bahwa di dalam kepalan tangan Arunika yang tersembunyi di balik lipatan gaun mewahnya, terdapat kunci perak mawar yang ia temukan di balik lukisan. Kunci itu adalah satu-satunya benda yang memberinya kekuatan untuk bertahan malam ini.
Gedung Grand Ballroom itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan percakapan-percakapan palsu kelas atas. Saat Adrian dan Arunika melangkah masuk, suasana seolah membeku sesaat sebelum pecah menjadi riuh bisik-bisik kekaguman.
"Dia benar-benar membawanya keluar," bisik seorang wanita sosialita di sudut ruangan. "Kupikir Adrian Valerius akan menyembunyikan istri barunya selamanya seperti... yah, kau tahu siapa."
Arunika merasakan genggaman Adrian di pinggangnya mengeras sejenak mendengar bisikan itu, namun wajah suaminya tetap menampilkan senyum ramah yang penuh kharisma.
"Adrian! Selamat atas pernikahanmu yang... mendadak ini," seorang pria tua dengan cerutu di tangan menyambut mereka. Dia adalah Tuan Handoko, salah satu rekan bisnis lama keluarga Valerius.
"Terima kasih, Handoko. Kenalkan, ini istriku, Arunika," Adrian memperkenalkan dengan nada bangga.
"Luar biasa. Kau memiliki selera yang konsisten, Adrian. Dia mengingatkanku pada—"
"Minuman? Aku akan mengambilkanmu minuman, Sayang," potong Adrian dengan cepat, memotong kalimat Tuan Handoko sebelum nama Elena sempat terucap.
Adrian berbalik menuju bar, meninggalkan Arunika berdiri sejenak bersama Tuan Handoko di bawah pengawasan Sandra yang berdiri tak jauh dari sana. Ini adalah kesempatan yang dicari Arunika.
"Tuan Handoko," sapa Arunika dengan suara lembut yang bergetar. "Tadi Anda bilang aku mengingatkan Anda pada seseorang? Apakah itu... Elena?"
Mata pria tua itu sedikit membelalak. Ia melirik ke arah Adrian yang sedang berbicara dengan bartender, lalu kembali menatap Arunika dengan tatapan prihatin yang mendalam. "Kau cantik sekali, Nak. Tapi saranku... jangan terlalu banyak bertanya tentang masa lalu di rumah itu. Paviliun Melati adalah tempat yang indah, tapi bunga-bunganya cepat layu di sana."
Jantung Arunika berdegup kencang. Paviliun Melati. Pria ini tahu sesuatu.
"Apa yang terjadi di Paviliun itu, Tuan? Tolong," bisik Arunika mendesak.
"Dulu, Elena sering menghabiskan waktu di sana. Dia bilang dia merasa bebas di bangunan itu karena Adrian jarang mengunjunginya ke sana. Tapi suatu malam... ada suara keributan hebat, dan setelah itu, Elena tidak pernah terlihat lagi di acara-acara publik. Adrian bilang dia sakit, lalu meninggal karena depresi," Handoko merendahkan suaranya hingga nyaris hilang ditelan musik orkestra. "Hati-hati, Nak. Jangan sampai kau berakhir di tempat yang sama."
Sebelum Arunika sempat bertanya lebih lanjut, Adrian sudah kembali dengan segelas champagne di tangannya. Senyumnya masih terpasang, namun matanya memancarkan kecurigaan yang tajam.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Adrian, suaranya terdengar seperti desis ular.
"Tuan Handoko hanya memuji dekorasi ruangan ini, Adrian," jawab Arunika cepat, hatinya mencelos.
"Benarkah? Kupikir kalian sedang membicarakan masa lalu yang membosankan," Adrian menatap Handoko dengan tatapan yang membuat pria tua itu segera pamit mundur dengan dalih ingin menyapa tamu lain.
Sepanjang sisa malam, Adrian tidak melepaskan Arunika sedetik pun. Dia membawanya berkeliling, memperkenalkannya kepada investor, menjadikannya trofi yang bersinar di tengah kegelapan obsesinya. Arunika memainkan perannya dengan sempurna. Ia tertawa pada lelucon garing para taipan, mengangguk sopan pada pujian-pujian palsu, dan tetap berdiri tegak meski kakinya terasa pegal akibat sepatu hak tinggi yang menyiksa.
Namun, di dalam benaknya, sebuah rencana mulai terbentuk. Kunci perak itu. Paviliun Melati. Rahasia Elena. Semuanya saling berkaitan. Jika Elena merasa "bebas" di sana, mungkin ada sesuatu yang Adrian lewatkan di bangunan terbengkalai itu.
Pukul dua pagi, mereka kembali ke mansion. Adrian tampak dalam suasana hati yang sangat baik. Baginya, malam ini adalah bukti bahwa ia telah berhasil menjinakkan Arunika dan memamerkannya kepada dunia tanpa masalah.
"Kau luar biasa malam ini, Arunika. Kau membuatku bangga," ucap Adrian saat mereka berada di dalam kamar. Ia mulai melepas jam tangannya dan mendekati Arunika yang sedang duduk di depan meja rias, melepas kalung berliannya.
Adrian memeluknya dari belakang, mencium pundaknya yang halus. "Mulai sekarang, kau akan lebih sering menemaniku ke acara-acara seperti ini. Dunia harus tahu siapa ratu di kerajaan Valerius."
Arunika menatap bayangan Adrian di cermin. "Aku senang bisa membuatmu bangga, Adrian. Tapi... aku merasa sangat lelah. Bolehkah besok pagi aku berjalan-jalan di taman belakang? Udara segar mungkin bisa membantu kepalaku yang pusing karena terlalu banyak mencium bau parfum di pesta tadi."
Adrian terdiam sejenak. Ia memutar tubuh Arunika agar menghadapnya. "Taman belakang sangat luas, Sayang. Pastikan kau tidak pergi terlalu jauh ke area Paviliun Melati. Bangunannya sudah tua dan lapuk, sangat berbahaya untukmu."
"Aku mengerti, Adrian. Aku hanya akan di sekitar kolam ikan," dusta Arunika, matanya menatap Adrian dengan kepatuhan yang palsu.
"Bagus. Sandra akan tetap mengawasimu dari kejauhan."
Setelah Adrian terlelap, Arunika bangkit perlahan. Ia mengambil kunci perak mawar itu dari tempat persembunyiannya. Ia menatap kunci itu di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Paviliun Melati adalah tempat yang indah, tapi bunga-bunganya cepat layu di sana.
Kata-kata Tuan Handoko terngiang di kepalanya. Jika Elena "hilang" setelah kejadian di paviliun itu, maka kunci ini mungkin bukan sekadar kunci loker. Ini mungkin adalah kunci untuk membuka tabir gelap yang selama ini menutupi kebenaran tentang istri pertama Adrian.
Arunika menyadari, ia sedang berjalan di atas tali tipis antara keselamatan dan kehancuran. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mau berakhir seperti Elena—menjadi hantu yang hanya diingat melalui bisikan ketakutan di pesta-pesta sosialita.
Esok pagi, ia akan menuju Paviliun Melati. Dan apa pun yang ia temukan di sana, ia bersumpah itu akan menjadi awal dari keruntuhan singgasana berdarah Adrian Valerius.