NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cedera dan Ciuman yang Nyaris

Keriuhan di dalam GOR masih terdengar seperti guntur yang meredam di kejauhan, namun bagi Genta, dunia mendadak menyempit hanya pada rasa nyeri yang menusuk di pergelangan kaki kanannya. Kemenangan tadi memang manis, tapi kerumunan massa yang tumpah ke lapangan sesaat setelah peluit akhir berbunyi menjadi bencana bagi fisiknya. Dalam usaha para penggemar untuk menyentuh sang "Pahlawan Kampus", seseorang tanpa sengaja menginjak kaki Genta saat ia kehilangan keseimbangan, membuatnya terkilir dengan bunyi krak yang cukup mengerikan.

Genta terduduk di bangku pemain, wajahnya pucat pasi. Bukan hanya karena rasa sakit di kakinya, tapi karena monster kecemasannya kembali mengintai. Ribuan orang masih di sana, berteriak, memotret, dan mencoba mendekat.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil namun kokoh menyusup di antara kerumunan asisten pelatih dan fungsionaris BEM.

"Minggir! Minggir dulu! Petugas kesehatan mau lewat!" seru sebuah suara yang sangat familiar.

Rara muncul dengan sebuah kotak P3K di tangan kiri dan wajah yang nampak sangat otoriter. Ia tidak memakai seragam tim medis, hanya jaket organisasinya, namun auranya begitu meyakinkan hingga orang-orang di sekitar Genta refleks memberi jalan.

"Kak Genta perlu penanganan segera di ruang medis. Terlalu banyak orang di sini, dia bisa kekurangan oksigen," ucap Rara tegas pada Kania yang nampak bingung.

Tanpa menunggu persetujuan, Rara membantu Genta berdiri. Genta merangkulkan lengannya ke bahu Rara, membiarkan gadis itu menjadi tumpuan berat badannya. Di bawah pengawasan ketat Kania yang hanya bisa menatap dengan penuh kecurigaan, Rara membawa Genta keluar dari area GOR menuju gedung utama tempat UKS berada.

***

Begitu pintu UKS yang terbuat dari kayu berat itu tertutup, suara riuh festival olahraga mendadak lenyap. UKS Universitas Nusantara sore itu kosong. Aroma khas antiseptik, minyak kayu putih, dan kain seprai bersih segera menyambut indra penciuman mereka. Hanya ada suara putaran kipas angin langit-langit yang berderit pelan dan detak jam dinding yang nampak begitu keras di tengah keheningan.

Rara membantu Genta duduk di tepi salah satu ranjang pasien.

"Sakit banget?" tanya Rara, suaranya berubah menjadi jauh lebih lembut sekarang. Ia berlutut di depan Genta, melepaskan sepatu basket mahal pria itu dengan sangat hati-hati.

Genta hanya mengerang kecil sebagai jawaban. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam. Keringat masih membanjiri keningnya, membuat beberapa helai rambut hitamnya menempel di pelipis.

Rara mulai menggulung kaus kaki Genta, menampakkan pergelangan kaki yang sudah mulai membiru dan membengkak. Dengan telaten, Rara mengambil kantong es dari freezer kecil di pojok ruangan dan membungkusnya dengan handuk tipis.

"Tahan sebentar ya, Paladin," bisik Rara.

Begitu kompres dingin itu menyentuh kulitnya, Genta tersentak. Tangannya secara refleks mencengkeram seprai ranjang. Rara tidak bergerak, ia terus menekan kompres itu dengan gerakan memutar yang lembut, persis seperti seorang profesional.

Genta membuka matanya sedikit, menatap ke bawah. Ia melihat Rara yang sedang fokus sepenuhnya. Wajah gadis itu nampak sangat serius, alisnya sedikit bertaut, dan bibirnya terkatup rapat. Genta belum pernah melihat Rara sediam ini. Biasanya, gadis ini selalu punya seribu satu cara untuk menggodanya, tapi sekarang, Rara benar-benar menjadi Healer sejati.

Detak jantung Genta mulai berpacu, bukan lagi karena adrenalin pertandingan, tapi karena jarak mereka yang sangat dekat. Di dalam ruangan yang sunyi ini, Genta bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, dan ia bertanya-tanya apakah Rara juga bisa mendengarnya.

***

Setelah beberapa menit mengompres, Rara meletakkan kantong es itu di samping kaki Genta. Ia mendongak, bermaksud menanyakan apakah rasanya sudah lebih baik, namun ia tertegun saat mendapati Genta sedang menatapnya dengan intensitas yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Tangan Genta yang besar perlahan terangkat. Rara melihat tangan itu gemetar.

Dulu, setiap kali Genta gemetar, Rara tahu itu karena pria ini sedang berjuang melawan ketakutannya terhadap kerumunan atau penilaian orang asing. Tapi di UKS yang sepi ini, hanya ada mereka berdua. Tidak ada yang menilai Genta di sini. Tidak ada harapan besar yang harus ia penuhi.

Genta mengulurkan jarinya, menyentuh seuntai rambut Rara yang terlepas dari ikatannya dan menjuntai di depan wajah gadis itu. Ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Rara dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah Rara adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.

Tremor di tangan Genta terasa nyata saat ujung jarinya bersentuhan dengan kulit leher Rara. Namun, Rara tahu... getaran ini berbeda. Ini bukan getaran social anxiety. Ini adalah getaran dari seseorang yang sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengakui sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata-kata.

"Ra..." Suara Genta serak, nyaris hanya berupa bisikan. "Tadi di lapangan... kenapa kamu lakukan itu?"

Rara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Lakukan apa?"

"Meneriakkan istilah konyol itu. Membuat dirimu sendiri kelihatan aneh di depan semua orang cuma buat... buat nyelamatin aku."

Rara tersenyum tipis, tangannya tanpa sadar menyentuh tangan Genta yang masih berada di dekat wajahnya. "Karena itu tugas Healer, Genta. Aku nggak peduli orang lain anggap aku aneh, asal Paladin-ku nggak kehilangan buff-nya."

Genta tidak membalas. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga hanya tersisa beberapa sentimeter. Rara bisa merasakan hembusan napas hangat Genta di wajahnya yang kini ikut memerah.

Suasana di UKS mendadak terasa begitu panas meski kipas angin masih berputar. Genta menatap bibir Rara, lalu kembali ke matanya, seolah meminta izin tanpa suara. Tangannya kini berpindah, membelai pipi Rara dengan ibu jarinya, mencoba menenangkan getarannya sendiri.

Rara memejamkan mata perlahan, ia tidak menjauh. Ia justru membiarkan dirinya ditarik oleh gravitasi perasaan yang sudah lama ia simpan sejak pertama kali mereka bertemu di gudang logistik yang berdebu itu.

Wajah Genta semakin mendekat. Rara bisa merasakan hidung mereka bersentuhan. Sedikit lagi. Hanya butuh satu detik lagi untuk mengakhiri permainan kucing dan tikus ini menjadi sesuatu yang nyata.

BRAK!

Pintu UKS terbuka dengan kasar.

"Ya ampun! Katanya Kak Genta terkilir parah ya?" seru seorang petugas medis asli, seorang mahasiswa tingkat akhir dengan jas putih, yang masuk sambil membawa nampan berisi perban.

Genta dan Rara tersentak seperti terkena sengatan listrik. Mereka menjauh dengan kecepatan cahaya. Genta mendadak sibuk memeriksa pergelangan kakinya sendiri dengan ekspresi yang sangat serius (padahal kaki yang dia periksa terbalik), sementara Rara langsung berdiri tegak dan pura-pura sedang merapikan kotak P3K yang sebenarnya sudah rapi.

Wajah keduanya merah padam, bahkan hingga ke ujung telinga.

"Eh... iya, ini... tadi cuma pertolongan pertama," ucap Rara terbata-bata, tidak berani menatap sang petugas medis yang kini memandang mereka dengan dahi berkerut.

"Oh, oke. Terima kasih ya dek jurnalis. Sini, biar saya yang terusin perbannya," ujar petugas itu santai tanpa menyadari bahwa ia baru saja menggagalkan momen paling bersejarah dalam sejarah Universitas Nusantara.

Rara mengangguk kaku. Ia melirik Genta sekilas, yang kini sedang menatap lantai dengan tatapan kosong, seolah-olah lantai itu memiliki jawaban atas frustrasi yang baru saja ia rasakan.

"Aku... aku balik ke GOR dulu ya, Kak. Masih ada foto yang harus diambil," pamit Rara cepat-cepat.

"Iya, Ra. Hati-hati," sahut Genta pendek, suaranya masih terdengar sedikit tidak stabil.

Rara berlari keluar dari UKS dengan jantung yang masih berdegup liar. Begitu sampai di koridor yang sepi, ia bersandar ke dinding dan menutup wajahnya dengan kedua tangan yang panas. Di dalam UKS, Genta membuang napas panjang, merutuki waktu kedatangan tim medis yang benar-benar tidak tepat. Namun, di balik rasa kesalnya, Genta sadar satu hal: getaran di tangannya tadi adalah bukti bahwa baginya, Rara bukan lagi sekadar rahasia atau rekan organisasi. Rara adalah segalanya.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!