Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
"Eh, sebentar... Mas belum selesai ngomong!" Ayyan menahan ujung mukena Namira pelan saat istrinya itu hendak menarik selimut di sofa.
Namira menoleh, matanya yang tadi pura-pura merem langsung terbuka lebar. "Apa lagi, Mas? Mau minta minum? Atau mau dibacain kitab biar makin nyenyak?"
Ayyan terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar rumah sakit yang remang-remang. "Tadi... panggilan terakhirmu itu. Bisa diulang?"
Namira mengerutkan kening, pura-pura lupa padahal hatinya sudah disko. "Yang mana? Selamat tidur? Atau... Gus Sayang?" Namira sengaja menekankan kata terakhir dengan nada menggoda.
"Iya, yang itu," jawab Ayyan singkat, wajahnya yang pucat kembali menampakkan semu merah.
"Sepertinya... lebih enak didengar daripada panggilan 'Gus Kulkas' yang sering kamu teriakan di depan santri."
Namira langsung tertawa, kali ini tawanya tertahan agar tidak ditegur suster jaga. Ia berjalan mendekat ke samping ranjang Ayyan, lalu membungkuk sedikit agar wajah mereka sejajar.
"Ciyeee, Gus Ayyan ketagihan dipanggil sayang ya? Makanya Mas, jadi orang jangan kaku-kaku banget. Kalau Mas lembut begini kan, aku jadi makin males pulang ke Jakarta, maunya nempel terus di pesantren,"
goda Namira sambil merapikan letak selimut Ayyan.
Ayyan meraih tangan Namira, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia punya. "Jangan pernah pulang ke Jakarta sendirian lagi, Namira. Tetaplah di sini, jadi 'berisik' yang Mas butuhkan."
Namira tertegun. Kalimat itu jauh lebih romantis daripada semua adegan drama yang pernah ia tonton. Ia mengangguk pelan, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. "Iya, Mas. Selama Mas nggak bosen denger aku ngomongin seblak, aku bakal terus di sini."
Keesokan Paginya
Ketenangan malam itu langsung pecah saat matahari terbit. Namira sudah kembali ke mode "Istri Siaga Seratus Juta Followers". Ia sibuk menata sarapan rumah sakit sambil sesekali memotret estetik nampan makanan Ayyan.
"Mas, senyum dikit dong! Ini buat laporan ke Umi di grup WhatsApp, biar Umi tahu kalau anak kesayangannya sudah mau makan bubur tanpa drama," perintah Namira sambil mengarahkan kamera ponselnya.
Ayyan yang baru saja selesai dibantu suster untuk duduk tegak hanya bisa pasrah. "Namira, Mas ini lagi sakit, bukan lagi syuting iklan bubur organik."
"Ih, Mas! Netizen tuh nanyain kabar 'Gus Protector'. Mereka pada kirim doa lewat DM aku ribuan jumlahnya. Mas harus kelihatan seger!"
Baru saja Namira hendak menekan tombol shutter, pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Seorang dokter muda masuk dengan membawa map hasil rontgen terbaru.
"Selamat pagi, Gus Ayyan, Ning Namira. Ada kabar baik," ucap Dokter itu ramah. "Hasil pemeriksaan pagi ini menunjukkan pemulihan yang sangat cepat. Jika sore ini tidak ada sesak napas, besok pagi sudah diperbolehkan pulang dan rawat jalan di pesantren."
Namira langsung melompat girang. "BENERAN DOK?! WAAAA! Mas, denger kan? Kita pulang! Aku udah kangen banget sama bau sambal di dapur pesantren!"
Ayyan tersenyum lega, namun matanya tetap tertuju pada Namira. "Alhamdulillah. Terima kasih, Dok."
Setelah dokter keluar, Namira langsung sibuk packing. Ia memasukkan baju-baju ke dalam koper dengan gerakan secepat kilat. Namun, gerakannya terhenti saat melihat Ayyan terus memperhatikannya tanpa bicara.
"Kenapa, Mas? Ada yang ketinggalan? Atau... Mas mau aku panggil 'Sayang' lagi ya biar semangat?" tebak Namira sambil nyengir jahil.
Ayyan terkekeh, kali ini rusuknya tidak terlalu sakit. "Bukan. Mas cuma sedang berpikir... sesampainya di pesantren nanti, sepertinya Mas harus minta Abah buat bikin syukuran besar. Bukan cuma karena Mas selamat, tapi karena Mas bersyukur Allah titipkan istri sehebat kamu."
Namira terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia melempar salah satu handuk kecil ke arah Ayyan. "Mas Ayyan! Berhenti bikin aku nangis terus! Aku tuh mau kelihatan cantik pas pulang besok, bukan kayak mata panda begini!"
Ayyan menangkap handuk kecil itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memberi kode agar Namira mendekat. Namira, meski masih sedikit cemberut dengan mata yang berkaca-kaca, melangkah perlahan menuju sisi tempat tidur.
"Sini," bisik Ayyan lembut.
"Apa lagi sih, Mas? Aku lagi beresin baju, nanti suster keburu masuk buat anter obat lho," gumam Namira, namun ia tetap membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke arah Ayyan.
Ayyan menatap wajah istrinya dengan lekat. Ada rasa syukur yang membuncah di dadanya melihat Namira masih ada di depannya. Tiba-tiba, Ayyan meraih tengkuk Namira dengan lembut, menariknya pelan hingga jarak di antara mereka hilang. Ayyan mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Namira, cukup lama, seolah sedang menyalurkan seluruh rasa terima kasihnya.
Namira mematung. Jantungnya berdegup kencang seperti sedang lari maraton. Belum sempat ia menarik napas, Ayyan sedikit bergeser dan perlahan mengecup lembut pipi Namira yang masih sedikit merah karena sisa tangis tadi.
Namira reflek sedikit menjauhkan wajahnya, kedua tangannya menahan dada Ayyan dengan malu-malu. "Mas... ih, Mas Ayyan! Ini kan rumah sakit, nanti kalau ada dokter atau perawat lewat gimana? Malu tau!" bisiknya dengan suara yang bergetar.
Ayyan tidak melepaskan genggamannya di pinggang Namira. "Pintunya sudah Mas kunci dari dalam tadi pas dokter keluar," goda Ayyan dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Namira meremang.
Namira membelalakkan matanya. "Hah? Mas beneran?! Sejak kapan Gus Kulkas pinter taktik begini?" Namira mencoba berontak kecil, wajahnya sudah semerah tomat matang. "Udah ah Mas, nanti rusuknya sakit lagi kalau banyak gerak!"
"Diam sebentar saja, Namira," ucap Ayyan dengan nada memohon yang sangat tulus.
Melihat tatapan teduh Ayyan, pertahanan Namira runtuh. Rasa malu dan gengsinya perlahan mencair. Ia berhenti menolak, meski tangannya masih meremas baju koko Ayyan dengan ragu. Ayyan kembali mendekatkan wajahnya, kali ini mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan hangat di bibir Namira.
Awalnya Namira hanya terdiam kaku dengan mata terbelalak, namun perlahan ia memejamkan matanya, menikmati momen yang begitu tenang dan penuh perasaan itu. Hanya beberapa detik, namun bagi Namira, waktu seolah berhenti berputar.
Begitu Ayyan menjauhkan wajahnya, Namira langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayyan, tak sanggup menatap mata suaminya. "Mas Ayyan nakal banget sekarang... aku aduin Umi ya nanti!"
Ayyan terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat bahagia. "Adukan saja. Paling Umi cuma senyum-senyum dan minta segera dikasih cucu."
"MAS AYYAN!!!" Namira memukul pelan bahu Ayyan, sementara wajahnya masih terasa panas membara. "Udah! Aku mau lanjut packing! Pokoknya Mas diem, jangan bikin aku salting lagi atau koper ini aku isi seblak mentah semua!"
Ayyan tertawa, kali ini tawanya benar-benar lepas. Ia merasa hidupnya kembali lengkap bukan hanya karena kesehatan yang pulih, tapi karena ia tahu istrinya benar-benar mencintainya.