Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
22
Embun pagi masih betah menggantung di ujung-ujung daun mawar pelindung saat Anjeli memulai aktivitasnya. Suasana Desa Sukamaju perlahan mulai terbangun, ditandai dengan suara sapu lidi yang beradu dengan tanah dan kepulan asap dari dapur para tetangga. Namun, di rumah Anjeli, ada sebuah ketenangan yang berbeda. Pagi ini bukan sekadar pagi biasa tapi pagi ini adalah hari di mana jahe merah hasil eksperimen pertamanya akan mulai dipanen.
Anjeli berjongkok di petak tanah yang berada di bawah naungan pohon jati. Ia menyentuh permukaan tanah yang lembap, merasakan energi yang tersimpan di bawah sana. Rimpang-rimpang jahe itu sudah mulai menyembul ke permukaan, kulitnya yang merah tua kontras dengan warna tanah hitam yang subur.
"Njel, sudah mau mulai panen jahe merahnya, Nak?" suara berat namun lembut itu mengejutkan Anjeli.
Anjeli menoleh dan melihat Ayahnya, Pak Burhan, berdiri di pintu belakang. Ayah sudah mengenakan kaos oblong bersih dan celana panjang kain. Di tangannya, ia memegang sebuah cangkul kecil. Tanpa tongkat, Ayah melangkah perlahan menuju kebun. Setiap langkahnya terlihat sangat hati-hati, namun kestabilannya jauh lebih baik daripada kemarin.
"Iya, Ayah. Jahe-jahe ini sudah cukup tua dan siap untuk dipanen. Aromanya juga sudah sangat tajam kalau tanahnya sedikit digali," jawab Anjeli sambil bangkit untuk membantu Ayahnya duduk di sebuah bangku kayu kecil di pinggir bedengan.
"Baiklah, biarkan Ayah bantu, Njel. Ayah ingin merasakan kembali bagaimana rasanya memanen hasil bumi dengan tangan sendiri," ucap Pak Burhan. Matanya berbinar, sebuah semangat yang sempat padam selama setahun kini menyala kembali dengan hebatnya.
Anjeli menyerahkan sekop kecil kepada Ayahnya. Bersama-sama, mereka mulai menggali perlahan. Saat rimpang jahe pertama terangkat, aroma pedas yang segar langsung menyeruak ke udara. Ukurannya sangat besar, jauh lebih besar dari jahe merah yang biasa ditemukan di pasar desa.
Di tengah kegiatan mereka, sebuah motor bebek tua berhenti di depan gerbang. Ternyata itu Gani, sang jurnalis. Ia datang dengan tas kamera yang masih menggantung di bahunya, namun raut wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Ia membawa beberapa eksemplar majalah Warta Tani edisi terbaru yang memuat kisah Anjeli.
"Selamat pagi, Pak Burhan. Pagi, Anjeli," sapa Gani sambil berjalan masuk setelah Anjeli membukakan pagar.
"Pagi, Mas Gani. Mari, silakan masuk. Kami sedang memanen jahe merah pertama di kebun kami," ajak Pak Burhan dengan ramah.
Gani meletakkan majalah-majalah itu di atas meja teras belakang, lalu ikut berjongkok melihat hasil panen tersebut. "Luar biasa! jahe-jahe ini tampak sangat sehat. Anjeli, artikel itu sudah tersebar luas di kota. Bahkan di kantor redaksi, banyak yang bertanya-tanya tentang lokasimu. Tapi saya memegang janji saya, saya tidak membocorkan alamat tepatnya."
"Terima kasih, Mas Gani. Saya menghargai itu," ujar Anjeli tulus.
Gani kemudian menarik napas panjang. "Namun, Anjeli, ada hal lain yang harus kamu ketahui. Artikel itu menarik perhatian banyak pihak, bukan hanya petani. Beberapa kolektor tanaman dan pengusaha herbal mulai mencari tahu siapa gadis mawar ini. Dan saya melihat mobil sedan hitam yang sama lagi di balai desa pagi ini. Pria yang kamu temui tempo hari sepertinya sedang mengumpulkan informasi tentang pendapatan kebunmu."
Anjeli terhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menatap Ayahnya. Pak Burhan juga terdiam, tangannya yang menggenggam jahe sedikit mengeras.
"Mereka sedang mencari tahu berapa uang yang kami hasilkan dari kebun kami ini?" tanya Pak Burhan.
"Sepertinya begitu, Pak. Dalam kasus hak asuh, kemampuan finansial adalah poin utama. Jika mereka bisa membuktikan bahwa pendapatan Anjeli tidak stabil atau mencurigakan, mereka akan menyerang dari sana," jelas Gani.
Anjeli menghela napas, namun ia mencoba tetap tenang. "Biarkan saja, Mas Gani. Hasil tanah ini nyata. Kami tidak mencuri, kami bekerja dengan giat. Mas Gani, bolehkah saya minta tolong? Jika ada yang bertanya secara resmi, bisakah Mas Gani memberikan kesaksian bahwa pertanian ini adalah hasil kerja keras alami?"
"Tentu, Anjeli. Itu memang tujuan saya menulis artikel itu. Saya ingin melindungi keaslian kerja kerasmu," jawab Gani mantap.
Tak lama setelah Gani membantu mereka menimbang jahe yang ternyata mencapai bobot dua puluh kilogram hanya dari satu petak kecil mobil Pak Hendra muncul di depan rumah. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Pak Hendra turun bersama asistennya yang membawa sebuah koper kecil.
"Selamat siang semuanya! Wah, aromanya sampai ke depan jalan!" seru Pak Hendra dengan gaya bicaranya yang ceria.
Anjeli mencuci tangannya yang berlumpur dan menyambut tamu itu. "Siang, Pak Hendra. Ini hasil jahe merahnya. Baru saja diangkat dari tanah."
Pak Hendra memeriksa rimpang jahe itu dengan mata seorang ahli. "Ini kualitas ekspor, Njel. Bu Widya dari restoran Hijau Sehat sangat tertarik setelah melihat foto-foto yang dikirim Gani. Dia ingin mengontrak seluruh lahanmu."
Anjeli dan Pak Burhan saling pandang. "Seluruh lahan?" tanya Anjeli.
"Iya. Bukan hanya jahe, tapi semua sayuran yang kamu tanam. Bu Widya ingin menjadikannya Kebun Percontohan untuk restorannya. Dia menawarkan kontrak bulanan yang tetap. Nilainya cukup untuk membayar cicilan hutangmu secara rutin dan membiayai sekolah Aris sampai SMA," jelas Pak Hendra sambil membuka koper yang ternyata berisi dokumen kontrak resmi.
Pak Burhan mengambil dokumen itu, membacanya perlahan di bawah pengawasan Anjeli. Di sisi lain, Aris yang baru pulang sekolah berlari menghampiri dan duduk di samping Ayah.
"Ayah, itu surat apa?" tanya Aris polos.
"Ini surat masa depanmu, Nak," bisik Pak Burhan sambil mengelus kepala Aris.
Anjeli merasa ada beban berat yang terangkat dari bahunya. Dengan kontrak ini, pendapatannya menjadi legal dan tercatat secara hukum. Ini adalah jawaban telak untuk pengacara ibunya yang meragukan stabilitas ekonomi mereka.
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Sore harinya, saat Pak Hendra dan Gani sudah pulang, seorang kurir motor datang membawa sebuah amplop kuning berstempel resmi pengadilan agama kota.
Anjeli yang sedang merapikan jahe ke dalam keranjang segera menghampiri kurir tersebut. Saat ia menerima surat itu, tangannya terasa dingin. Ia tahu apa isinya.
Ia masuk ke dalam rumah dan menyerahkannya kepada Ayah. Pak Burhan membukanya dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Ini surat panggilan sidangnya, Nak," ucap Pak Burhan lirih. "Sidang pertama untuk penentuan hak asuh Aris akan dilakukan minggu depan."
Aris yang sedang menggambar jahe di meja makan mendadak berhenti. Ia menatap Ayah dan Kakaknya dengan wajah cemas. "Ayah, apa Aris harus pergi?"
Pak Burhan segera mendekat dan memeluk Aris. "Tidak, jagoan. Tidak akan ada yang membawamu pergi. Ayah sudah bisa jalan, Kakak sudah punya kontrak kerja. Kita akan hadapi ini bersama-sama."
Anjeli berdiri di pintu, menatap ke arah kebun belakang yang kini mulai gelap. Ia meraba cincin di jarinya. Cincin itu terasa hangat, seolah memberikan dorongan energi.
"Ayah," panggil Anjeli. "Besok, Anjeli akan pergi ke kota untuk menemui pengacara yang disarankan oleh Pak Hendra. Kita tidak boleh datang ke sana tanpa persiapan. Jahe merah ini akan kita jual sebagian ke pasar untuk ongkos, dan sisanya untuk Bu Widya."
Malam itu, Desa Sukamaju sangat sunyi. Bu Sumi dan Pak Darmo sepertinya sedang tidak melakukan pergerakan setelah insiden mawar bergerak tempo hari. Namun, Anjeli tidak lengah. Sebelum tidur, ia masuk ke Ruang Ajaib.
Ia tidak mengambil air atau pupuk kali ini. Ia duduk di tengah kebun Padi Emas yang sedang merunduk indah. Ia memejamkan mata, mencari ketenangan di tengah badai hukum yang akan datang.
"Aku harus kuat," bisiknya pada diri sendiri. "Jika tanah ini bisa pulih, Ayah juga bisa berjalan lagi, maka keadilan pun pasti bisa berpihak pada kami."
Ia melihat rimpang jahe merah yang sengaja ia simpan di dalam Ruang Ajaib untuk dijadikan bibit super berikutnya. Jahe itu tampak bersinar redup dalam kegelapan. Anjeli menyadari bahwa kekuatannya bukan hanya pada keajaiban cincin, tapi pada bagaimana ia menggunakan keajaiban itu untuk memperkuat keluarganya.
Esok pagi, perjuangan baru akan dimulai. Bukan lagi tentang melawan hama atau tanah yang keras, tapi melawan sistem hukum dan masa lalu yang ingin merenggut kebahagiaan mereka.
Anjeli keluar dari Ruang Ajaib, menyelimuti Aris yang sudah tertidur pulas, lalu memberikan pijatan terakhir pada kaki Ayahnya dengan minyak jahe.
"Selamat istirahat, Ayah. Besok adalah langkah pertama kita menuju kebebasan yang sesungguhnya," ucap Anjeli pelan.
Pak Burhan mengangguk, menggenggam tangan putrinya. "Terima kasih, Nak. Kamu adalah akar yang membuat pohon keluarga ini tetap berdiri."
Di luar, mawar-mawar di pagar tampak semakin tegak, kelopaknya menutup rapat seolah ikut bersiap menghadapi apa pun yang akan dibawa oleh hari esok. Kebahagiaan di rumah sepetak itu kini tengah diuji di level yang lebih tinggi, namun Anjeli tahu, selama mereka bersatu, tanah tempat mereka berpijak tidak akan membiarkan mereka jatuh.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄